
"Jika hasil tes DNA Putri bukan anak kamu. Maka aku akan pergi. Tetapi. Jika Putri adalah anak kamu. Maka kamu harus mengakuinya di pengadilan untuk membantuku mengambil hak asuh Putri sepenuhnya dari Edo!" ucap Tasya.
"Apa kau gila Tasya. Apa yang kau katakan hanya akan membuatku mengorbankan keluarga ku!" sentak Hariyanto dengan menekan suaranya.
"Istrimu tidak akan tau dan juga Risya. Kamu hanya perlu menjadi saksi dan hanya berbicara dengan hakim dan tidak akan ada yang tau. Kamu dengar mas. Aku hanya ingin Putri bersamaku dan juga mendapatkan pengakuan darimu. Kamu harus bertanggung jawab kepadaku dan juga Putri. Setelah semuanya selesai aku akan pergi membawa Putri. Tetapi kamu harus tetap bertanggung jawab pada Putri. Walau dia tidak bersamamu!" tegas Tasya.
Hariyanto memejamkan matanya dengan menghela napasnya perlahan kedepan. Tangannya memijat pelipisnya yang pasti semua ini sangat berat baginya.
"Baiklah! Aku akan melakukan tes DNA," jawab Hariyanto yang akhirnya mengalah yang membuat Tasya tersenyum yang merasa bahagia.
"Tapi kamu dengar Tasya. Jika hasilnya negatif. Maka berhenti mengganggu keluargaku dan jika kau mengingkarinya maka aku tidak akan segan-segan menyinggirkanmu," ancam Hariyanto dengan tegas.
"Lalu jika positif," sahut Tasya.
"Kamu akan melakukan apa yang aku minta kan dan kamu juga harus menepati janji kamu," lanjut Tasya.
"Hasilnya belum keluar. Jadi jangan percaya diri dulu," sahut Hariyanto.
"Baiklah mas. Aku hanya berharap kau juga menepati janjimu dan kita sama-sama untung. Jika ingin menyelamatkan keluargamu. Maka kau juga harus menyelamatkanku!" tegas Tasya
Hariyanto tidak menjawab lagi dengan mereka yang sama-sama melihat dengan tatapan tajam. Bagi Tasya sangat bahagia yang mana Hariyanto mau melakukan tes DNA. Namun untuk Hariyanto pasti deg-dekan. Tetapi dia harus bertindak sebelum keluarganya hancur.
***********
Hariyanto dan Tasya kerumah sakit bersamaan untuk melakukan tes DNA. Untuk DNA Putri Tasya sudah memilikinya dan sekarang tinggal Hariyanto. Jadi mereka berdua kerumah sakit untuk.
Ke-2nya sama-sama keluar dari mobil dan langsung menunju ruangan Dokter yang mana Hariyanto akan melakukan tes DNA.
Tidak lama setelah pemeriksaan keduanya sama-sama keluar dari ruangan Dokter tersebut.
"Terima kasih mas. Mas sudah mau melakukan tes DNA dan Dokter itu adalah Dokter kepercayaan mas dan aku rasa kau tidak akan berpikiran. Jika aku memanipulasi hasilnya nanti," ucap Tasya.
Hariyanto memang ingin Dokter dari dirinya dan Dokter itu juga tidak di kenali Tasya. Supaya Tasya tidak punya kesempatan untuk melakukan hasilnya.
"Kita akan lihat hasilnya nanti," tegas Hariyanto yang langsung duduk di salah satu bangku. Karena mereka harus menunggu hasil tes DNAnya beberapa jam lagi.
"Baiklah. Tidak masalah. Aku juga sangat menunggu hasil tes DNA itu dan semoga saja hasilnya keluar dengan cepat dan sesuai dengan apa yang aku katakan," ucap Tasya.
__ADS_1
Hariyanto tidak menanggapi lagi ucapan Tasya. Karena percuma banyak-banyak bicara pada Tasya yang akan membuat kepala Hariyanto semakin sakit. Hariyanto memilih diam dan menunggu hasil tes DNA tersebut.
"Arga kamu jemput mama di rumah sakit. Supir kebetulan tidak bisa jemput mama," suara yang tidak asing itu terdengar membuat Hariyanto langsung melihat ke arah suara tersebut yang ternyata Salmah yang sedang menelpon.
Hariyanto membulatkan matanya sempurna ketika melihat besannya itu yang tidak jauh dari dirinya yang membuat Hariyanto panik dan pasti cemas.
Tidak ingin mendapat masalah Hariyanto langsung menarik tangan Tasya dengan cepat membuat Tasya kaget.
"Mas Hariyanto ada apa?" tanya Tasya dengan suaranya yang keras membuat Salmah yang masih menelpon melihat ke arah suara tersebut dan hanya melihat orang yang berjalan dengan membelok. Namun tidak jelas siapa yang di lihatnya. Karena hanya punggungnya saja.
"Siapa itu! kenapa aku seperti mengenali postur tubuhnya," batin Salmah yang mencoba untuk mengingat-ingat.
"Tadi suara wanita yang menyebutkan nama Hariyanto,"
"Argghh sudahlah itu juga bukan urusanku. Kenapa juga aku harus memikirkannya," gumam Salmah menghela napasnya yang tidak mau ambil pusing. Karena apa di lihatnya dan di dengarnya juga tidak jelas.
Hariyanto menarik tangan Tasya bersembunyi di balik tembok yang mana Hariyanto yang panik dengan tubuhnya yang berdekatan dengan Tasya. Tasya bahkan hampir terhimpit ke tembok dan Hariyanto yang ada di depannya yang terus melihat ke arah lain dengan wajah paniknya.
Tasya tersenyum dengan terus menatap wajah panik Hariyanto yang sangat dekat dengannya dan dengan nekat Tasya berjinjit lalu mencium pipi Hariyanto.
Cup.
"Apa yang kau lakukan Tasya!" sentak Hariyanto.
"Kamu sangat manis mas. Saat panik seperti ini," ucap Tasya dengan tersenyum.
"Perempuan gila!" umpat Hariyanto yang menjauhkan diri dari Tasya dengan mengusap kasar pipinya yang di cium Tasya.
"Kau benar-benar sakit jiwa!" umpat Hariyanto langsung meninggalkan Tasya. Tasya hanya tersenyum dengan kemarahan Hariyanto.
"Kamu sangat menggemaskan mas. Tidak heran sampai sekarang aku bisa melupakan mu. Karena hanya kamu yang membuatku nyaman dan tidak bisa mencintai laki-laki lain. Semakin kamu menolakku. Aku semakin mencintai mu mas," batin Tasya yang sepertinya sudah sangat menggilai Hariyanto.
Dia bukan lagi ingin rumah tangga Hariyati hancur. Tetapi juga menginginkan Hariyanto yang tidak akan tau apakah Hariyanto akan terjebak untuk kedua kalinya atau tidak.
***********
Mobil Arga berhenti di rumah sakit dan Arga turun dari mobil. Arga ingin menjemput mamanya di rumah sakit yang sebelumnya di telpon Salmah. Saat Arga ingin memasuki rumah sakit. Arga melihat mobil Hariyanto yang membuatnya berhenti sebentar.
__ADS_1
"Bukannya ini mobil papa. Kok ada di sini!" batin Arga dengan kebingungan.
Namun Arga hanya melihat sebentar saja mobil itu dan kembali memasuki rumah sakit untuk mencari mamanya.
"Di mana mama!" gummanya yang mencoba mengirim pesan WA untuk sang mama. Arga pun melihat di sekitarnya yang siapa tau bertemu dengan mamanya.
Namun tiba-tiba Arga melihat Hariyanto yang keluar dari satu ruangan Dokter.
"Papa!" lirih Arga yang ingin memanggil Hariyanto dengan mengangkat tangannya.
Belum sempat Arga melakukan hal itu tiba-tiba Tasya keluar dari ruangan yang sama membuat Arga heran.
"Tanya!" lirih Arga dengan wajah kagetnya.
Dokter juga keluar dari ruangan itu dan terlihat memberikan amplop putih pada Hariyanto dan berbicara pada Hariyanto dan Tasya.
"Papa dan Tasya! Apa yang mereka lakukan!" batin Arga dengan penuh tanya yang melihat kejauhan ke-2 orang itu dan sampai Tasya dan Hariyanto yang pergi bersamaan.
Perasaan Arga sudah mulai tidak enak dan melanjutkan langkahnya yang berjalan menuju ruangan tersebut yang Tasya dan Hariyanto yang sudah pergi.
"Ruangan Dokter tes DNA!" batin Arga melihat ruangan yang baru saja di masuki Tasya dan Hariyanto yang ternyata ruangan untuk DNA.
"Ada apa ini. Kenapa papa dan Tasya keluar dari ruangan ini dan kenapa mereka tampak dekat," gumam Arga dengan wajahnya yang cemas.
"Ada apa sebenarnya ini. Aku harus memastikannya," gumam Arga yang ingin menyusul Hariyanto dan Tasya untuk mengetahui apa yang terjadi.
"Arga!" panggil Salmah yang menghentikan langkah Arga.
"Mah," sahut Arga.
"Kamu mau kemana?" tanya Salmah.
"Oh aku, aku, aku mencari mama," jawab Arga bohong. Karena tidak mungkin mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Oh begitu. Ya sudah ayo pulang!" ajak Salmah.
"Iya mah," sahut Arga dengan berat hati. Karena sebenarnya dia masih ingin tau ada apa sebenarnya. Tetapi Tidka mungkin juga mengatakan pada mamanya. Karena dia juga tidak tau apa yang terjadi.
__ADS_1
Bersambung