
"Ya kan mama pengen tau pah," sahut Tantri.
"Mah sudah," sahut Hariyanto.
"Tuh dengarin mah," sahut Risya merasa lega. Karena ada yang membelanya. Ya seperti hanya Hariyanto saja yang waras dan tidak terlalu kepo dengan pernikahan Risya dan Arga.
"Ya sudah kalian berdua di lanjutkan untuk sarapan yang banyak setelah ini kita akan pulang dan Risya kamu akan tinggal di rumah kami ya," sahut Salmah.
"Apah!" pekik Risya yang kelihatannya terkejut.
"Iya dong Risya. Kamu kan sudah menjadi istri Arga dan sudah seharusnya untuk tinggal bersama kami," ucap Dehway.
"Tapi Tante Om," sahut Risya.
"Risya kamu itu sudah menjadi menantu kami dan jangan memanggil Tante atau Om lagi. Kamu harus memanggil kami dengan sebutan mama dan papa sama seperti Arga," sahut Salmah dengan tegas
"Benar dan kamu juga Arga. Harus panggil kami berdua mama dan papa sama seperti Risya," sahut Tantri. Arga hanya mengangguk saja. Protes juga tidak ada gunanya sama sekali.
"Jadi Risya mulai sekarang kamu itu akan tinggal di rumah kami," sahut Salmah menegaskan kembali
"Tapi Tante... Eh maksud Risya mama, kenapa harus tinggal di rumah kalian?" tanya Risya .
"Risya kamu itu aneh sekali. Ya wajarlah kamu itu tinggal di rumah mereka. Karena kamu itu sudah menjadi istri Arga. Jadi kamu sebaiknya jangan protes," sahut Tantri.
"Benar Risya sebagai menantu kamu memang harus tinggal di sana dan kamu harus bisa menyesuaikan diri kamu dengan keluarga baru kamu," sahut Hariyanto.
"Issss, kenapa jadi harus tinggal bersamanya sih. Kalau begitu aku tidak akan bisa bebas dong kan bukan dirumahku," batin Risya.
"Kenapa bukan Arga saja yang tinggal di rumah Risya," sahut Risya yang mengeluarkan idenya yang tiba-tiba saja muncul.
"Ya mana mungkin lah Risya. Aku ini suami. Jadi yang ikut aku itu adalah kau," sahut Arga menegaskan.
"Apa bedanya suami dan istri," sahut Risya kesal.
"Ya bedalah. Aku itu laki-laki dan kau perempuan dan keuntungan laki-laki. Jauh lebih banyak," sahut Arga.
__ADS_1
"Sudah-sudah jangan bertengkar. Risya kamu memang seharusnya ikut dengan Arga dan itu memang sudah seharusnya dan untuk kedepannya itu urusan kalian berdua jika Kalian tiba-tiba kepikiran mau tinggal berdua dan pasti ada saatnya nanti. Namun untuk kali ini kamu tinggalah bersama mereka," ucap Hariyanto.
"Risya sayang kamu jangan khawatir. Rumah kamu tidak menyeramkan dan kamu juga mendapatkan apa yang kamu dapatkan di rumah kamu dan pasti ada di rumah kami dan yang kamu inginkan juga ada dan iya kalau kamu mau kerumah mama dan papa kamu juga tidak apa-apa. Tidak ada yang melarang. Hanya saja kamu menetap tinggal bersama Arga. Jadi tidak ada yang salah Risya," ucap Salmah.
Dan Risya memang terlihat penuh pemikiran dan keraguan untuk tinggal bersama Arga yang takut tidak bisa menyesuaikan dirinya pada keluarga Arga. Namun tidak perlu khawatir seharunya karena Risya sangat kenal dengan orang tua Arga.
"Risya sudahlah kamu jangan banyak pikiran seperti itu. Itu memang sudah seharusnya," sahut Tantri.
Risya menghela napasnya perlahan kedepan dan melihat satu persatu orang-orang yang ada di meja makan itu
"Baiklah kalau begitu, Risya mau," sahut Risya yang tidak punya pilihan lain. Hak itu membuat Salmah, Dehway, Hariyanto dan Tantri tersenyum.
"Titip anak saya ya mbak. Kalau bikin susah lapor aja pada saya," sahut Tantri.
"Mana mungkin anak seperti ini membuat masalah. Jadi jangan khawatir justru ini akan menjadi tugas baru saya dan mas Dehway untuk membuat Risya betah tinggal bersama kami," sahut Salmah.
"Kami sangat percaya itu. Jika Risya pasti nyaman berada di sana," sahut Hariyanto.
Mereka tersenyum-senyum dengan mereka yang kembali sarapan. Namun pasti tidak dengan Risya yang merasa kurang aman untuk tinggal di rumah Arga.
Arga dan Risya sama-sama keluar dari dalam hotel yang mana pasangan suami istri itu masih bertengkar dan memang tidak ada hari untuk tidak bertengkar.
"Ini semua gara-gara mu!" ucao Arga menyalahkan Risya.
"Apa katamu. Gara-gara aku. He Arga, kau itu jangan sembarang bicara ya. Apa coba salahku," sahut Risya yang pasti tidak terima di salahkah Arga.
"Bagaimana tidak salahmu. Karena kau itu berteriak-teriak dengan suara cempreng mu itu, mama dan juga Tante Tantri jadi berpikir yang aneh-aneh tentang apa yang terjadi tadi malam," ucap Arga.
"Heh kau sadar dulu Arga. Apa kau lupa jika semua itu karena kau. Jika kau tidak mendorongku, maka semua itu tidak akan terjadi," sahut Risya yang tidak mau di salahkan.
"Jadi kau menyalahkan ku," sahut Arga emosi.
"Menurutmu! Eh dengar ya!" tunjuk Risya tepat di depan Arga, "kau itu jangan mau sesuka hatimu menyalahkan ku dalam setiap apa yang terjadi. Kau lupa jika kita sudah sepakat untuk menikah dengan syarat yang sudah kita tentukan berdua dan kau seharusnya kau itu bisa profesional dalam menjalankan syaratnya. Jangan apa-apa kau mau sesukamu melakukan ini itu dan ujung-ujungnya aku yang kau salahkan," ucap Risya penuh dengan penegasan dan penekanan dalam setiap kata-katanya.
Arga langsung menepis jari Risya yang menunjuk dirinya.
__ADS_1
"Jangan sok menceramahi ku. Aku tau apa yang harus aku lakukan dan kau tidak perlu menceramahiku," tegas Arga.
"Aku itu harus memberitahumu suapaya lain kali kau itu tau dulu kesalahan mu apa baru seenaknya menyalahkan ku," sahut Risya menegaskan pada Arga.
"Lepaskan aku!" tiba-tiba suara seseorang memberontak itu di dengarkan Risya dan Arga membuat mereka yang berdebat langsung melihat ke arah suara tersebut.
"Rachel!" lirih Arga yang melihat Rachel yang di tarik paksa oleh seorang pria.
"Lepas! Lepas, sakit!" berontak Rachel yang kesakitan pada pergelangan tangannya yang sepertinya terlihat pertengkaran di antara Rachel dan pria yang sama sekali tidak tau siapa itu.
"Apa-apaan inih," sahut Arga yang kelihatannya tidak suka melihatnya dan Arga langsung menghampiri Rachel dan pria itu.
"Arga mau kemana kau?" tanya Risya yang mau tidak mau harus menyusul Arga.
"Lepaskan tangannya," sahut Arga memegang tangan Pria yang mencengkram pergelangan tangan Risya dengan menatap tajam pada Pria itu
" Arga!" lirih Risya.
"Siapa kau?" tanya Pria itu dengan suara menekankan yang tampak sangat kesal jika ada orang yang mencampuri urusannya.
"Aku rasa itu bukan urusanmu. Sekarang aku katakan lepaskan tangannya!" tegas Arga.
"Berani sekali kau memerintah ku. Kau pikir kau siapa," sahut Pria itu yang bertambah emosi dengan Arga dan bahkan menepis tangan Arga.
"Kau yang siapa yang sangat kasar pada wanita," sahut Arga.
Pria itu menyunggingkan senyumnya dan langsung menarik kasar Rachel untuk berada di sampingnya.
"Aku adalah suaminya. Kau mau apa?" jawab pria itu dengan menantang Arga dan Arga langsung terdiam yang mengetahui jika Pria itu adalah suami Rachel.
"Kau mengenalnya Rachel?" tanya Pria itu yang sekarang menatap Rachel dengan selidik.
Rachel terlihat takut-takut untuk menjawabnya.
"Dia temanku," sahut Arga yang menjawab pertanyaan itu. Membuat Pria itu mendengus kasar.
__ADS_1
Bersambung