
Syarla dan Angela yang sedang berada di salah satu kafe yang tempat biasa mereka makan yang juga sering ada Risya yang bergabung. Sekarang mereka sedang makan siang yang hanya berdua saja. Ya makan siang saat istirahat jam kerja. Walau tempat kerja yang berbeda tidak membuat ke-2 sahabat itu untuk tidak bertemu dan hal itu hal yang biasa mereka lakukan.
"Aku dengar Risya sakitnya semakin parah ya?" tanya Angela sembari mengunyah makanannya.
"Tidak tau memang kenapa? Bukannya semalam kita tinggal dia baik-baik saja," sahut Syarla yang mengaduk-aduk orens jus yang di pesannya.
"Tadi pagi aku telpon Risya ingin menanyakan kabarnya dan yang jawab Arga. Arga bilang Risya tinggi saat Arga pulang kerja dan mendapati Risya yang sakit parah," jelas Angela.
"Benarkah seperti itu?" sahut Syarla dengan wajah paniknya.
"Ya seperti itu yang di jelaskan Arga," sahut Angela.
"Seharusnya tadi malam. Kita tunggu saja Arga pulang baru kita pulang dari tempat Risya," ucap Syarla yang menjadi merasa bersalah dengan keadaan temannya yang tiba-tiba sakit parah.
"Iya kamu benar. Tetapi mau bagaimana lagi sudah seperti itu terjadi dan kita juga meninggalkan Risya dalam keadaan baik. Kalau kita tau dia sakit sedikit aja atau tiba-tiba lemas ya pasti kita tidak akan tega meninggalkannya," ucap Angela yang kuga menyesali kejadian itu.
"Iya sih. Lalu bagaimana sekarang keadaan Risya apa dia sudah baik-baik saja?" tanya Syarla.
"Arga bilang Risya sudah jauh lebih baik, Arga akan merawatnya dan lagian Dokter juga sudah memeriksanya," jawab Angela.
"Syukurlah kalau begitu aku lega mendengarnya," jawab Syarla yang bernapas lega.
"Oh iya Angela bagaimana kalau kita jenguk Risya nanti saat pulang kerja!" ajak Syarla.
"Aduh kayaknya aku tidak bisa hari ini. Aku ada acara dengan mas Edo. Jadi maaf ya Syarla aku tidak bisa menemani kamu. Mungkin bisa besok," ucap Angela menolak tawaran itu. Karena sebelumnya dia sudah ada janji dengan kekasihnya.
"Ya sudahlah kalau begitu, besok aja kita jenguk," sahut Syarla.
Angela menganggukkan kepalanya dan melihat ponselnya yang mendapatkan pesan.
"Aku jemput kamu. Kamu di mana..Ayo cari hadiah untuk Saquel," Angela tersenyum membaca pesan itu.
"Senyum-senyum baye. Pesan dari siapa?" tanya Syarla.
"Oh ini dari mas Edo. Dia ingin menjemputku untuk mencari hadiah," jawab Angela yang apa adanya.
"Kalian kamu kondangan?" tanya Syarla menduga-duga.
"Lebih tepatnya ke ulang tahun dan makanya aku tidak bisa menjenguk Risya dulu. Karena acaranya juga pasti sangat lama dan mana mungkin aku tinggal," ucap Angela.
"Seperti orangnya sangat penting sampai kamu tidak bisa tinggal," ucap Syarla.
__ADS_1
"Ya begitulah," sahut Angela.
**********
Arga masih setia merawat istrinya yang sekarang Risya yang duduk yang hanya menggunakan pakaian dalam saja. Karena Arga sedang melap-lap tubuh istrinya ala-ala memandikan. Risya merasa gatal dan kurang segar. Jadi Arga akan melakukan hal itu agar Risya merasa segar.
Dengan melap lembut tubuh mulus istirnya yang masih dapat bintik-bintik merah itu. Di wajah Risya memang mulai berkurang.
"Andainya warna ini adalah karyaku. Pasti lebih indah," ucap Arga yang mulai pembicaraan ke arah sana.
"Nanti kebablasan kebanyakan ngomong seperti itu. Awas lo pikirannya kemana-mana Nanti tidak bisa menahan diri baru tau rasa," sahut Risya dengan memberikan peringatan kepada suaminya itu.
"Siapa yang bisa menahan diri dengan kecantikan tubuh indah ini," puji Arga membuat Risya semakin malu saja dengan wajahnya yang memerah.
"Argghh, sudahlah jangan merayuku terus- menerus," sahut Risya.
"Iya-iya tidak akan merayu deh," sahut Arga yang kembali melanjutkan pekerjaannya.
Setelah itu Arga berjalan menuju lemari yang ingin mencari pakaian ganti Risya.
"Kamu mau pakai baju yang mana?" tanya Arga.
"Baiklah," sahut Arga yang mengambil salah satu pakaian tidur Risya.
"Yang ini bagaimana?" tanya Arga memperlihatkan piyama merah milik Risya yang transparan. Risya kaget melihat Arga menunjukkan pakaian kurang bahan itu dan Arga kelihatan tersenyum jahil pada Risya.
"Isss kamu itu apa-apaan sih. Simpan tidak," sahut Risya dengan kesal.
"Aku baru tau kamu punya pakaian dinas seperti ini. Lalu kenapa tidak pernah di gunakannya dan hanya di simpan di lemari. Sekali-kali di pakai kalau sedang dinas bersamaku," goda Arga dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Issss Arga. Itu bukan punyaku," sahut Risya yang membantah bahwa pakaian yang seksi itu bukan miliknya.
"Bagaimana mungkin ini bukan punya kamu. Orang ada di lemari kamu. Kamu baru beli ya dan pasti ada rencana ingin menggunakannya saat kita sedang dinas," goda Arga yang paling suka membuat Risya salah tingkah.
"Aku bilang itu bukan punyaku. Aku tidak pernah membeli pakaian seperti itu. Itu hadiah dari Syarla dan Angela. Ya mereka berdua itu otaknya memang kemana-mana. Makannya aneh-aneh saja memberiku hadiah," ucap Risya yang berusaha untuk menjelaskan agar Arga tidak menganggap dia mesum.
"Ohhh hadiah ternyata," sahut Arga dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Apa-apaan sih Arga, emang benar kok itu hadiah. Issss kamu itu menyebalkan deh," sahut Risya yang jadi kesal karena Arga menggodanya.
"Iya-iya aku percaya ini hanya hadiah deh," sahut Arga.
__ADS_1
"Ya sudah buruan ambil pakaian ku. Aku kedinginan ni," rengek Risya.
"Iya-iya," sahut Arga yang akhirnya mengambil pakaian ganti Risya dengan piyama berwarna silver dan Arga juga memakaikan pada istrinya itu.
Setelah itu Arga juga menyisir rambut Risya yang benar-benar memperlakukan Risya seperti seorang bayi.
"Sudah selesai Risya," ucap Arga.
"Makasih," sahut Risya yang tersenyum lebar.
"Ya sudah sekarang kita istirahat ya," ucap Arga. Risya menganggukkan kepalanya.
Arga mengambil posisi di samping Risya dan langsung membawa Risya kedalam pelukannya.
"Makasih ya sudah menemaniku seharian," ucap Risya dengan mengangkat kepalanya yang melihat ke arah Arga dan Arga langsung mencium keningnya.
"Sama-sama Risya. Kamu juga selalu ada di sampingku. Jika aku juga sakit," ucap Arga yang kembali mencium kening Risya.
"Apa kamu sudah merasa enakan?" tanya Arga.
"Sedikit, aku merasa lebih fress," jawab Risya.
"Syukurlah kalau begitu. Kita besok kerumah sakit untuk memeriksa kamu kembali dan semoga saja kamu besok sembuh," ucap Arga.
"Tapi tadi tubuhku masih memerah. Bagaimana jika merahnya tidak bilang?" tanya Risya dengan wajahnya yang penuh dengan kecemasan.
"Jika merahnya tidak hilang. Maka aku akan menggantinya dengan merah yang lebih besar," ucap Arga yang mulai bicara mengarah ke hal-hal yang intim.
"Kamu ini ya. Bisa tidak kalau kita itu berbicara jangan apa-apa membicarakan hal mesum," ucap Risya dengan kesal.
"Ya mau bagaimana lagi. Soalnya melihat kamu fantasiku semakin lama semakin kemana-mana," goda Arga dengan tatapan matanya yang penuh dengan arti.
"Mulai lagi deh, sudahlah jangan membahas hal itu pokoknya," tegas Risya.
"Kenapa takut tidak tahan?" tanya Arga yang selalu menggoda Risya.
"Arga aku bilang udah dong. Masih aja di bahas," ucap Risya yang lama-kelamaan kesal.
"Iya-iya Risya. Ya sudah sebaiknya kita tidur saja," ucap Arga yang mengeratkan pelukannya dan itu yang di inginkan Risya yang tertidur di pelukan suaminya.
Bersambung
__ADS_1