
Liu Liu Liu Liu Liu Liu Liu Liu Liu Liu Liu
Suara sirene ambulance terdengar di rumah sakit yang berhenti di depan rumah sakit. Pada Suster, perawat langsung keluar dari dalam rumah sakit dengan membawa tempat tidur dorong mengeluarkan pasien dari rumah Ambulance tersebut.
Bukan Risya pasiennya. Itu pasien yang mengalami kecelakaan dan wajahnya penuh dengan darah. Setelah itu barulah mobil Arga berhenti dan langsung keluar dari mobil dengan buru-buru membuka pintu mobil belakang. Dia menggendong sendiri istrinya ala bridal style.
"Dokter!"
"Dokter!"
"Dokter!"
Arga berteriak di rumah sakit dengan menggendong sang istri.
"Ada apa ini?" tanya suster.
"Tolong istri saya!" ucap Arga.
"Ayo pindahkan kemari!" suster memerintahkan Arga memindahkan Adara ke atas tempat tidur dorong. Lalu mereka mendorong menuju ruang UGD.
Akhirnya sampai di UGD. Suster membawa masuk Risya.
"Bapak sama ibu silahkan tunggu di luar!" titah Suster tersebut.
"Tapi Dokter istri saya bagaimana?" tanya Arga dengan panik.
"Biar kamu yang menanganinya. Jadi silahkan tunggu di luar!" titah Suster yang memaksa Arga dan Salmah untuk keluar. Setelah itu Suster langsung menutup pintu UGD.
"Mah!" lirih Arga yang frustasi dan penuh ketakutan dengan melihat istrinya yang seperti itu.
"Kamu harus sabar. Semoga Risya tidak apa-apa. Risya pasti baik-baik aja," ucap Salamah dengan memeluk Arga yang menguatkan Arga.
Arga pasti menyesal dan menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada Risya. Dia tidak tau berapa lama Risya di kamar mandi dan mungkin saja sejak Risya memasuki kamar mandi. Arga menyalahkanmu kebodohannya dan kelalaianya sebagai suami.
*************
Setelah Risya di tangani oleh Dokter. Arga dan Salmah masih menunggu di depan ruangan UGD dengan kepanikan dan penuh ketakutan. Tiba-tiba Dokter keluar dari ruangan UGD.
"Dokter bagaimana istri saya?" tanya Arga yang langsung menghampiri Dokter.
"Kondisi Bu Risya masih dalam keadaan kritis. Pendarahannya luar biasa," jawab Dokter.
"Dokter tolong selamatkan istri saya," ucap Arga semakin panik.
__ADS_1
"Kami harus melakukan tindakan besar. Maka dari itu saya dan pak Arga harus bicara," ucap Dokter. Mendengar kata-kata Dokter membuat Arga takut dan sepertinya akan ada hal baru.
"Apa terjadi sesuatu Dokter?" tanya Salamah.
"Saya akan bicarakan nanti. Pak Arga ayo ikut saya!" ajak Dokter Arga menganggukkan kepalanya. Dokter pergi terlebih dahulu.
"Pergilah Arga!" ucap Salmah. Arga mengangguk dan langsung pergi menyusul Dokter.
"Ya Allah semoga Risya tidak apa-apa dan bayinya juga baik-baik saja," batin Salmah yang hanya bisa berdoa untuk menantunya dan calon cucunya. Sebagai mertua Salmah juga sangat takut. Apa lagi pendarahan Risya begitu banyak.
"Mbak Salmah," sahut Tantri yang akhirnya sampai juga kerumah sakit.
"Mbak Tantri!" sahut Salmah.
"Bagaimana Risya? Apa yang terjadi?" tanya Tantri dengan wajahnya yang panik memegang tangan Salmah yang begitu dingin.
"Risya masih kritis mbak. Arga masih bicara dengan Dokter," jawab Salmah.
"Apa terjadi sesuatu pada Risya?" tanya Tantri.
"Tidak tau apa yang terjadi. Arga menemukan Risya di kamar mandi dengan keadaan terduduk dan keluar darah," jawab Salmah.
"Astagfirullah!" lirih Tantri yang ngeri mendengarnya.
"Ya Allah apa lagi ini. Tolong selamatkan Risya," ucap Tantri yang semakin panik.
"Kita sama-sama berdoa mbak. Semoga Risya tidak apa-apa," ucap Salmah. Tantri menganggukkan kepalanya dan memeluk Salamah. Mereka sama-sama menguatkan satu sama lain.
Tantri yang di kabari bahwa Risya di rumah sakit jelas sangat kaget. Bahkan Tantri tidak tau apa yang terjadi. Karena Salmah tidak menceraikan apa-apa saat di telpon. Dia langsung menuju rumah sakit dan lebih kaget lagi saat mendengar cerita Salmah dengan kondisi Risya yang sangat buruk.
Angela dan Edo berjalan yang kebetulan Risya ada di rumah sakit yang sama dengan Putri dan Tasya.
"Angela bukannya itu Tante Salmah dan Tante Tantri!" ucap Edo membuat Angela melihat ke arah tersebut.
"Iya sayang! Mereka kenapa ada di sini ya," gumam Angela dengan bingung.
"Aku juga tidak tau. Ayo kita samperin!" sahut Edo. Angela mengangguk dan mereka langsung menghampiri Salmah dan Tantri.
"Tante!" sapa Angela. Salmah dan Tantri melepas pelukan mereka.
"Angela!" sahut Tantri.
"Tante kenapa ada di sini?" tanya Angela
__ADS_1
"Siapa yang sakit?" tanya Angela
"Risya Angela! Risya ada di dalam!" jawab Tantri.
"Risya!" pekik Angela dengan wajah kagetnya.
"Apa yang terjadi pada Risya? Apa Risya baik-baik aja?" tanya Angela jadi panik. Apalagi itu ruangan gawat darurat.
"Arga menemukannya di kamar mandi dan Dokter bilang Risya mengalami pendarahan," jawab Tantri.
"Ya ampun Risya!" lirih Angela yang jadi panik dengan sahabatnya yang berada di ICU dan apalagi Risya juga sedang hamil
"Lalu Arga di mana Tante?" tanya Edo.
"Arga masih bicara dengan Dokter. Tante juga tidak tau apa yang mereka bicarakan," jawab Salmah.
"Semoga saja Risya baik-baik saja," ucap Angela dengan doanya untuk sahabatnya.
Salmah dan Tantri pasti mengharapkan hal itu.
**********
Arga sudah berada di ruangan Dokter dengan Arga yang duduk yang berhadapan dengan Dokter.
"Apa yang terjadi pada istrinya saya Dokter?" tanya Arga dengan wajah penuh ke khawatiran.
"Pak Arga bu Risya mengalami pendarahan yang kuat biasa. Kami tim Dokter harus mengambil tindakan untuk besar. Yaitu menyelamatkan bayinya yang dalam keadaan kritis. Denyut jantung bayi Bu Risya sangat lemah," ucap Dokter membuat Arga kaget mendengar apa yang terjadi pada anaknya.
"Dokter selamatkan istri dan anak saya!" ucap Arga.
"Untuk menyelamatkan ke-2nya sangat sulit dan tidak ada harapan," jawab Dokter.
"Maksud Dokter apa?" tanya Arga.
"Hanya satu yang bisa kita selamatkan. Ibu atau anak. Jika kita memaksa ke-2nya untuk di selamatkan. Maka beresiko tinggi. Yang pada akhirnya ke-2nya tidak bisa di selamatkan," ucap Dokter yang membuat Arga terkejut mendengarnya.
"Apa maksud Dokter? Apa Dokter menyuruh saya untuk memilih?" tanya Arga yang benar-benar terkejut dengan apa yang di pikirkannya.
"Hanya itu yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan salah satu dari mereka dan semua tergantung pada pak Arga. Keputusan ada di tangan pak Arga," ucap Dokter dengan menjelaskan yang membuat Arga semakin frustasi dengan menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya.
"Saya tau ini berat. Tetapi ini adalah keputusan yang harus di ambil," ucap Dokter dengan menghela napasnya. Air mata Arga sudah jatuh dengan apa yang menimpa istrinya itu.
Bersambung
__ADS_1