
Karena tidak mau ke Dokter Arga sendiri yang mengobati luka istrinya. Risya yang sekarang jauh lebih tenang karena ada Arga di sampingnya. Rasa sakit di tubuhnya memang luar biasa, bahkan Arga sendiri tidak sanggup melihat Risya yang seperti itu.
Air mata Risya menetes ketika menahan perih saat campuran alkohol dengan kapas dioleskan pada ujung bibirnya.
"Apa sakit?" tanya Arga dengan lembut memegang pipi Risya, mengusapnya lembut dengan menyeka air mata itu. Risya menganggukkan kepalanya yang memang begitu sakit dengan luka itu.
"Aku akan lebih pelan-pelan lagi," ucap Arga. Risya mengangguk-anggukkan kepalanya.
Luka di dahi, wajah Risya dan bahkan tangan Risya memang sangat parah. Arga pun mengobatinya dengan pelan-pelan. Agar Risya tidak kesakitan. Walau sangat sakit dan menahan rasa perih itu.
"Siapa yang melakukannya?" tanya Arga yang menatap nanar istrinya itu.
"Aku tidak tau, dia masuk kekamar tiba-tiba dan ingin melecehkan ku dan aku pikir itu kamu, untung aku cepat sadar dan aku berusaha untuk melepaskan diri dia malah memukulku," ucap Risya dengan menangis menceritakannya dengan senggugukan menceritakan begitu sesak.
"Aku hanya tertidur saat kamu pergi. Kau sangat cepat mengantuk dan belum sempat bertemu dengan Rasti dan tiba-tiba saja semuanya terjadi, aku pikir kamu dan aku menyadarinya setelah aku mencium aroma parfummu yang berbeda," ucap Risya yang menceritakan dengan sengugukan yang masih begitu takut dengan kejadian itu.
"Aku tidak akan mengampuninya, aku menemukan pelakunya, dia sudah berani melukaimu, aku akan menghabisinya. Aku akan secepatnya menemukan pelakunya. Kamu jangan Khawatir ya," ucap Arga dengan penuh dendam yang tidak terima Risya mendapatkan perlakukan buruk itu.
"Kamu jangan takut ya. Ini tidak akan pernah terjadi lagi," ucap Arga mencium lembut kening Risya dan kembali memeluk Risya dengan erat.
"Aku mau mandi. Aku merasa tubuhku sangat kotor dengan sentuhan kurang ajarnya," ucap Risya. Meski Tony tidak sempat melakukan apa-apa kepadanya. Namun pasti Tony meraba-raba tubuhnya dan bahkan sampai menciumnya dan itu di rasakan Risya sangat jijik.
"Baiklah," sahut Arga yang langsung menggendong Risya ala bridal style dan membawanya menuju kamar mandi. Sesampai di kamar mandi Arga memasukkan Risya kedalam bathub dengan perlahan.
"Kamu mandilah, aku cari pakaian kamu sebentar," ucap Arga.
"Kamu mau pergi?" tanya Risya yang memegang langsung tangan Arga.
"Hanya sebentar saja, kamu tidak mungkin istirahat dengan pakaian seperti itu," ucap Arga.
Risya geleng-geleng kepala, "jangan pergi, aku tidak mau sendirian," ucap Risya yang begitu takut di tinggalkan.
__ADS_1
"Baiklah aku tidak akan pergi, aku menunggu di depan pintu kamar mandi," ucap Arga.
Risya mengangguk-angguk kepalanya dan Arga menghela napasnya yang langsung keluar dari kamar mandi menunggu Risya di depan pintu kamar mandi.
Arga yang berdiri di depan pintu kamar mandi langsung mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya.
"Kamu pergi ke mansion Tony dan langsung kekamar kami. Aku ingin tau siapa yang melukai Risya. Dan ingat kau harus hati-hati dan jangan seperti menyelidiki sesuatu. Seperti biasalah dan temukan buktinya secepatnya," ucap Arga pada seseorang yang di telponnya yang tidak tau siapa itu.
"Satu lagi, kau suruh Novi mencari pakaian untuk Risha," ucap Arga dalam penegasannya dan langsung menutup telpon tersebut.
Arga membuang napasnya perlahan kedepan dengan mengusap kasar wajahnya, "aku benar-benar tidak akan mengampuni mu. Berani sekali kau menyentuh Risya," umpat Arga.
Arga mencurigai seseorang. Namun dia tidak ada bukti dan harus menyuruh salah satu anak buahnya untuk menyelidiki hal itu dengan starategi yang benar. Karena Arga pasti tau lawannya itu tidak mudah sama sekali.
*********
Setelah Risya selesai mandi dan sudah berganti pakaian dengan pakaian yang lebih baik. Risya pun berbaring di atas tempat tidur. Lukanya pun sudah di obati Arga tinggal mata Risya yang tidak tau kondisinya bagaimana. Karena sempat juga luka dan perbannya juga sudah di lepas Arga.
"Kamu istirahatlah, ini sudah larut malam, besok kita akan kerumah sakit," ucap Arga.
"Aku tidak mau tidur, nanti kamu pergi," ucap Risya.
Arga menghela napasnya dan berbaring di samping Risya dengan membawa Risya kedalam pelukannya, di mana wajah Risya mendarat di dada bidang Arga yang Arga menghadap Risya dengan Risya berbantalkan lengan Arga.
"Aku tidak akan pergi Risya," ucap Arga yang meyakinkan Risya menatap wajah Risya yang masih sangat ketakutan.
Arga mencium lembut kening Risya dan mengelus lembut pipi Risya dengan menatap penuh simpatik pada Risya.
"Arga apa kamu sedang menatapku?" tanya Risya.
"Hmmm, aku sedang melihatmu," jawab Arga dengan jujur.
__ADS_1
"Aku tidak bisa melihat dan tidak bisa mencegah saat dia kurang ajar kepadaku. Pasti sekarang kamu jijik dengan tubuhku, karena pasti ada belas cumbuan darinya kan?" tanya Risya dengan air matanya yang mengalir.
"Kenapa bicara seperti itu Risya. Aku tidak pernah jijik dengan mu," ucap Arga dengan lembut dengan suara seraknya.
"Bohong kamu sejak tadi hanya diam saja dan tidak banyak bicara. Bahkan saat aku mandi kamu malah pergi, seolah tidak ingin melihatku. Aku berani bersumpah dia tidak melakukan apa-apa kepadaku, dia hanya....."
Risya berhenti bicara saat Arga membungkam mulutnya dengan bibirnya yang tidak ingin Risya bicara apa-apa lagi. Namun hanya sebentar ciuman itu dan Arga melepasnya dengan napasnya yang naik turun menatap Risya dengan dalam dengan mengusap lembut pipi Risya.
"Jika mulutnya sempat menempel di tubuhmu. Maka aku akan membersihkannya," ucap Arga denhha suara seraknya yang kembali mencium bibir Risya dan kali ini tidak sebentar dan bahkan semakin dalam dengan Risya yang membuka mulutnya memberi cela untuk Arga.
Arga juga yang sudah berada di atas tubuh Risya, tidak hanya berciuman panas dengan Risya. Namun ciuman itu sudah turun pada leher jenjang Risya. Arga ingin menghapus semua yang di dapatkan istrinya dari Pria jahanam itu.
Pasti iya Tony sempat memegang-memegang Risya dan bahkan sempat mencium leher Risya. Dan Risya juga sadar hal itu dan merasa Arga jijik padanyanya. Padahal Arga sama sekali tidak berpikiran kesana. Dia diam saja mungkin sangat menyesal dengan apa yang di dapatkan Risya.
Karena Risya yang seperti itu karena keteledorannya. Hal yang di lakukan Arga kepada Risya semakin panas. Bahkan Arga sudah melepas kemejanya dan juga melepas piyama yang di gunakan Risya yang sebelumnya di bawa Tony.
Arga mungkin akan finis memiliki Risya malam ini. Karena sejujurnya amarhnya meningkat dengan emosinya yang tidak stabil atas apa yang terjadi pada istrinya.
Menyentuh istrinya, ciuman panas di seluruh tubuh Risya, sentuhan sana-sani yang sebenarnya sudah pernah di dapatkan Risya. Tiba-tiba Arga berhenti melakukannya dan mengangkat kepalanya mensejajarkankan dengan Risya dengan napasnya yang naik turun dengan wajahnya yang penuh dengan gairah yang berkeringat.
Risya yang juga sedang mengatur napasnya yang naik turun tiba-tiba heran dengan Arga yang berhenti di tengah jala dan Risya hanya merasakan kecupan lembut di keningnya dan juga di bibirnya.
"Kau milikku Risya dan aku tidak ingin melakukannya dengan keadaan mu seperti ini. Aku tau kamu juga terpaksa melakukannya. Tetapi aku masih punya prinsip yang tidak akan memaksamu dan menunggumu sampai sembuh dan aku tidak pernah jijik kepadamu," ucap Arga dengan suara seraknya yang tidak mau egois melakukan semua itu dalam keadaan Risya yang tidak baik-baik saja.
Risya tidak mampu berkata apa-apa lagi dan hanya diam saja. Arga menghela napasnya dan menarik Risya ke dalam pelukannya yang Arga kembali berbaring di samping Risya.
Arga menarik selimut menutup tubuh mereka yang sempat pakaian Risya lepas dan hanya tinggal pakaian dalam saja dan sama dengan Arga yang juga sudah telanjang dada
"Kita istirahat," ucap Arga kembali mencium pucuk kepala Risya dan Risya hanya mengangguk saja.
Bersambung
__ADS_1