MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!

MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!
Bab 242 Permintaan maaf.


__ADS_3

Setelah kepergian Tantri. Angela dan Edo saling melihat.


"Tante Tantri tampak tenang berbicara. Namun wajahnya tidak bisa bohong jika dia sebenarnya sangat sedih dan berat hati untuk melepas semua ini. Sebagai seorang istri semua ini benar-benar tidak mudah dan dia sangat ikhlas melakukan semuanya,"ucap Angela.


"Kamu benar. Aku tidak menduga jika Om Hariyanto akan mendonorkan orang tubuhnya untuk Putri dan Tante Tantri memberi izin semuanya. Dia bahkan mengurus semuanya. Hal itu pasti tidak mudah dan pasti sangat berat," ucap Angela dengan wajah senduhnya.


"Tante Tantri memang orang yang berhati begitu luas. Perasaannya sangat besar. Begitu ikhlas dan sangat baik. Risya sangat beruntung memiliki seorang ibu seperti itu. Tetapi sayang kebahagiaan keluarga mereka. Harus di hancurkan Tasya yang penuh dengan keserakahan," ucap Edo yang menambahi atas apa yang dia lakukan.


"Semua yang terjadi pasti akan ada hikmahnya," sahut Angela.


"Lalu kita harus bagaimana? Apa harus menemui Om Hariyanto untuk membicarakan semua ini. Karena semua ini berhubungan dengan nyawa?" tanya Angela yang membutuhkan saran.


"Jika beliau sudah mendonorkan kepada Putri. Kita harus membicarakan semuanya," sahut Edo.


"Ya sudah kalau begitu," sahut Angela. Kemudian mereka langsung pergi meninggalkan tempat tersebut yang pasti akan langsung menemui Hariyanto.


Ternya pembicaraan mereka semua sebelumnya saat ada Tantri. Ada Tasya yang mendengar pembicaraan itu. Dengan raut wajahnya yang terlihat sendu dan pasti shock ketika tau bahwa Hariyanto memberikan donornya kepada Putri dan Tantri yang mengurus semuanya.


Wajah Tasya memperlihatkan hal yang tidak menduga. Wajah seperti orang yang penuh dengan penyesalan dan rasa yang bersalah dengan apa yang di dengarnya.


"Kenapa mas Hariyanto ingin memberikan Putri kehidupan dan Tante Tantri yang dengan tulus mau melakukan semua itu. Bukankah seharusnya dia tertawa dengan apa yang terjadi. Seharusnya dia bahagia melihat Putri seperti ini. Lalu kenapa malah tidak dendam kepadaku dan dia terlihat sangat ikhlas dengan semua yang terjadi dan malah membantu ku," batin Tasya.


Mungkin Tasya akan berpikiran dia yang sudah menghancurkan rumah tangga Tantri dan Hariyanto akan mendapatkan kutukan terbesar dan Putri mungkin juga kutukan dari Tantri. Namun Tantri tidak pernah dendam. Dia justru ingin membantu Putri. Hal seperti itu sungguh membuat Tasya benar-benar tidak percaya dengan apa yang barusan saja di dengarnya.


*************

__ADS_1


Tantri keluar dari rumah sakit. Namun saat Tantri memasuki mobil. Tiba-tiba berhadapan dengan Tasya yang menghalangi jalannya. Keduanya saling melihat dengan tatapan yang tidak terbaca.


"Ada apaa Tasya?" tanya Tantri.


"Saya ingin berbicara sebentar," jawab Tasya.


"Tapi saya buru-buru," sahut Tantri.


"Sebentar saja,"


"Jika pembicaraan kamu hanya mengenai apa yang terjadi dan kamu masih berusaha untuk mengganggu Risya. Lebih baik kita jangan bicara. Saya tidak ingin mendengar kata-kata kamu yang selalu merasa korban dan ingin mendapatkan keadilan. Kamu yang terus-menerus meminta keadilan kepada suami saya. Suami saya ada di dalam sana, sedang sakit. Anak saya sedang menata hatinya. Jadi saya minta sama kamu berhenti mengganggu saya dan juga anak saya," tegas Tantri yang tidak ingin basa-basi dan Tasya yang akan menjadi pengacau lagi yang menimbulkan kegaduhan


"Tapi saya ingin bicara dengan Tante, bukan karena itu. Saya ingin membicarakan masalah mas Hariyanto yang ingin mendonorkan tulang sumsumnya dan Hatinya pada Putri," ucap Tasya.


"Lalu?"


"Lalu kenapa Tante ingin melakukan semua ini. Kenapa harus menolong Putri. Padahal Putri adalah benalu yang merusak kebahagiaan Risya?" tanya Tasya.


Tantri tersenyum mendengarnya, "bukan Putri yang menjadi benalu untuk Risya. Tapi kamu Tasya. Putri tidak salah apa-apa pada Risya. Justru kamu yang menjadi benalu dalam keluarga kami. Jadi apa yang di lakukan suami saya bukan untuk kamu. Tetapi untuk Putri dan Putri saja," tegas Tantri.


"Lalu Tante kenapa harus mau melakukannya yang artinya Tante akan kehilangan suami Tante?" tanya Tasya.


"Semua itu titipan Tasya. Sama seperti suami saya. Suami saya adalah titipan untuk saya. Dan ini adalah jalan yang sudah di goreskan. Lalu apa yang bisa Saya lakukan jika ini sudah menjadi takdirnya. Pendonoran yang di lakukan sudah keputusan kami dan kamu sudah tau pendonoran itu. Jadi saya minta sama kamu berhenti meminta pengakuan. Karena ini sudah pengakuan yang di lakukan suami saya,"


"Gunakan kesempatan ini untuk kamu memperbaiki diri kamu. Untuk kamu yang tidak pernah menjalankan tugas kamu sebagai seorang ibu. Kamu seharusnya masih bersyukur dengan banyak kesempatan yang di berikan kepada kamu. Jadi bertaubatlah perbaiki diri kamu dan jika semuanya sudah selesai. Saya harap kamu tidak akan mengulangi perbuatan kamu. Kamu tidak akan mengulangi pada orang lain lagi," tegas Tantri yang memberikan nasehat pada Tasya.

__ADS_1


Nasehat itu tampaknya di cerna dan di dengar baik oleh Tasya. Wajahnya yang penuh kesedihan juga terlihat penuh penyesalan dan mungkin malu dengan perbuatannya selama ini dan di balas dengan kebaikan yang tidak terduga.


"Saya rasa sudah cukup berbicara dengan kamu dan ini pembicaraan terakhir saya untuk kamu. Jadi mari untuk menghentikan semua ini. Saya permisi!" ucap Tantri yang menundukkan kepalanya dan langsung pergi meninggalkan Tasya.


"Saya minta maaf!" langkah Tantri berhenti ketika mendengar kata maaf dari Tantri. Sangat tidak terduga kata maaf itu bisa keluar dari mulutnya.


Tasya menghela napasnya dan kembali menghadap Tasya dengan berdiri di depan Tantri dengan matanya yang bergenang.


"Maafkan saya yang sudah menghancurkan rumah tangga kalian. Maafkan saya dengan semua yang terjadi. Maaf dengan apa yang saya lakukan. Saya benar-benar egois, saya sangat serakah. Saya menginginkan hal orang lain. Saya tidak peduli dengan apapun. Tidak peduli dengan perasaan istrinya dan juga tidak peduli dengan anak yang akan terluka. Saya sungguh sangat menyesali semua ini. Saya mohon maaf," Tasya dengan penuh penyesalannya meminta maaf dengan menyatukan ke-2 tangannya yang memang begitu menyesal dengan air matanya yang jatuh.


"Saya sangat malu dengan semua yang saya lakukan. Saya benar-benar malu. Maafkan saya. Saya mohon maaf. Saya sebagai seorang ibu tidak bisa melakukan apa yang Tante lakukan. Namun Tante melakukan hal yang luar biasa saya tidak pernah menduga-duga masalah ini akan seperti ini. Dengan keegoisan saya yang hanya menginginkan keadilan. Risya harus menderita. Tanpa rasa malu seolah saya sangat bangga mengumumkan perbuatan kejam saya kepada semua orang. Saya benar-benar sangat menyesal," lanjut Tasya lagi dengan penuh penyesalan yang tidak terduga sama sekali.


"Tolong maafkan saya," ucapnya dengan suara terisak-isak.


"Jika kamu merasa bersalah dan ingin meminta maaf. Maaf saya sudah memaafkan kamu sebelum kamu minta maaf dan jika permintaan maaf kamu begitu tulus. Maka bertaubatlah Tasya dan perbaiki lah diri kamu. Karena itu yang paling terpenting," ucap Tantri.


"Minta maaf bukan hanya di ucapkan dari perkataan saja. Jadi berhenti mengatakan ini dan itu. Kamu hanya perlu bertaubat dan memperbaiki diri kamu dengan kamu yang benar-benar menyesal dengan apa yang kamu lakukan," ucap Tantri.


"Saya harus pergi Tasya masih banyak yang harus saya urus. Jadi permisi," ucap Tantri dengan menundukkan kepalanya dan Tantri langsung pergi.


Tasya masih terisak di tempatnya yang benar-benar tidak menduga-duga dengan apa yang terjadi. Jika orang yang di hatinya justru orang yang membantu dirinya dan juga menyelamatkan Putri.


"Jika aku tidak egois. Semua ini tidak akan terjadi. Maafkan aku yang sudah begitu jahat dan menyakiti kalian. Aku juga pasti akan menebus dosa-dosa ku dengan apa yang sudah aku lakukan yang tidak akan mungkin mendapatkan maaf.


Jangan Lupa untuk mampir para readers.

__ADS_1



Bersambung


__ADS_2