
Setelah ciuman yang bisa di katakan cukup lama itu Risya pun langsung bangkit dari tubuh Arga dan duduk di samping Arga dengan Arga mengusap bibirnya dengan jarinya dan duduk menyusul Risya.
Lihat wajah Risya yang merah dengan penuh amarah yang seperti melebihi kerasukan.
"Risya maaf," bujuk Arga dengan mencolek perut Risya namun Risya langsung menghindar.
"Kau itu sangat menyebalkan, kau itu menipuku. Jangan-jangan kau tidak sakit lagi," ucap Risya yang menuduh Arga.
"Aku sakit dong Risya. Kan kamu yang mengatakan terlebih dahulu aku sakit. Dokter juga mengatakan aku sakit demam berdarah dan sekarang bintik-bintik nya juga belum semuanya hilang. Jadi aku tidak mungkin bohong Risya," ucap Arga menjelaskan.
"Lalu kenapa bilang kalau mama dan papa ke Luar Negri?" tanya Risya dengan ketus.
"Ya, itu karena aku ingin kamu yang merawatku dan pasti aku yakin. Kalau di rawat mantan kekasih yang sangat cantik ini pasti akan cepat sembuh dan terbuktikan," ucap Arga mengeluarkan jurusnya untuk merayu Risya.
"Terbukti apanya. Kau itu sangat menyebalkan dan memuakkan," geram Risya, "jangan-jangan tangamu juga tidak sakit kan!" ucap Risya dengan kesal.
"Ya ampun Risya kamu itu ya. Kalau bicara suka ada-ada saja deh. Bagaimana mungkin tanganku tidak sakit. sangat sakit Risya," sahut Arga dengan terus meyakinkan Risya.
"Bohong. Kau itu benar-benar sangat menyebalkan dan memuakkan!" geram Risya penuh dengan emosi dan Arga harus mengeluarkan semua jurusnya untuk membujuk Risya.
"Iya-iya aku minta maaf. Namanya juga trik supaya kita baik-baik aja. Itu namanya usahanya Risya dan bohong demi kebaikanmu itu tidak ada yang salah Risya," ucap Arga. Risya hanya diam dengan wajahnya yang mengkerut yang masih marah dengan suaminya itu yang apa yang di lakukan Arga membuatnya emosi.
***********
Tidak tau emosi Risya apa sudah merasa atau belum. Tetapi sekarang Arga dan Risya sedang berbelanja di Mall. Membeli beberapa perabotan rumah tangga yang sebelumnya mereka diskusikan.
Di mana pasti semua masalah apa yang di perlukan itu urusan Risya dan Arga hanya mengikut saja dan pasti masalah pembayaran juga menjadi urusan Arga.
"Risya bukannya tadi Pan seperti itu sudah di ambil?" tanya Arga yang melihat Risya memasukkan alat penggorengan ke dalam troli belanja.
"Ya beda dong," sahut Risya.
__ADS_1
"Beda bagaimana merek sama, ukurannya juga sama," protes Arga.
"Warnanya berbeda Arga. Ya pasti beda. Kamu itu bagaimana sih," ucap Risya dengan kesal yang mengumpat.
Arga menghela napas pasrah, "Ya terserah kamu deh," sahut Arga yang mau tidak mau mengalah saja.
"Lagian kamu juga bilang ambil apa saja dan ini kan keperluan rumah yang tau itu pasti wanita. Kamu malah banyak protes," kesal Risya mulai mengoceh.
"Iya-iya Risya terserak kamu saja dan ambil saja apa yang kamu mau," sahut Arga yang tidak boleh protes dan lagian supaya mood Risya baik dan Risya tidak akan marah lagi masalah bohongnya Arga dan lagian ini juga trik Arga untuk menyogok Risya agar tidak marah-marah lagi.
"Begitu dong," sahut Risya yang kembali melanjutkan belanjanya.
"Ya terserah kamu deh Risya kamu yang paling benar. Karena sejatinya wanita tidak pernah salah dan itu kodratnya dan kalau salah maka kembali kepada kodrat wanita tidak pernah salah," gumam Arga dengan pasrah.
Hari ini dia benar-benar akan di peras Risya dengan belanja yang pasti banyak dan kalau perlu semua warna walau barang itu 1 merek, 1 fungsi, 1 ukuran yang penting warna sama.
**********
Akhirnya belanja selesai dengan mereka yang menunggu antrian kasir. Arga iseng menghitung troli belanjaan istrinya.
"20," gumamnya tepuk jidat dengan banyaknya belanjaan sang istri.
"Kenapa? Ada yang salah?" tanya Risya tanpa dosa yang melihat wajah suaminya yang murung.
"Tidak ada yang salah Risya semuanya baik-baik aja," jawab Arga tersenyum palsu.
"Ohhhh," sahut Risya dengan santai dan kasir mulai menghitung belanjaan Risya.
"Aku bisa bangkrut kalau begini caranya, ini anak benar-benar kalai belanja tidak pernah kira-kira. Begini kalau di pancing dan tidak di jatah akan sangat merugikan sekali," batin Arga yang hanya bisa mengoceh di dalam hati dan tidak berani bicara pada Risya. Lama-lama Arga akan seperti suami yang takut istri.
"64 juta Bu!" sahut kasir yang sudah selesai menghitung belanjaan Risya. Risya dengan santai melihat ke arah Arga yang berdiri di belakangnya dan Arga mau tidak mau dan sangat berat hati melakukan pembayaran atas belanjaan yang bisa di katakan itu hanya barang-barang kecil.
__ADS_1
"Ternyata hanya segitu saja. Ya pantasan kita belum belanja perabotan yang besar-besar," sahut Risya.
"Itu nanti-nanti aja ya Risya," sahut Arga yang harus mencegah dulu rencana Risya.
"Kenapa tidak sekalian aja?" tanya Risya.
"Risya ini sudah sangat sore dan Mall juga sudah mau tutup. Kita belanja yang lainnya nanti saja oke," ucap Arga dengan tersenyum.
"Ya sudah kalau begitu," sahut Risya.dengan santai yang tidak masalah. Jujur kakinya juga sakit sebenarnya. Arga tersenyum dengan menghela napas.
***********
Setelah mereka selesai berbelanja. Semua belanjaan sudah di bawa ke apartemen dan belum di susun sama sekali. Sementara Risya dan Arga makan malam di luar. Karena Arga ingin mengajak Risya untuk makan malam. Ya seperti Dinner. Karena mereka sudah lama tidak diner.
Mereka makan di salah satu Restaurant romantis. Makan di tempat mereka yang sering makan dan dulu Risya juga pernah kencan di sana dan bukan dia yang menentukan tempatnya tetapi teman kencannya dan Arga juga tidak pernah membawa wanita manapun untuk makan di tempat yang menurutnya tempat itu hanya untuk dia dan Risya.
Keduanya yang duduk saling berhadapan dengan makanan yang mereka makan masing-masing.
"Rasanya tidak pernah berubah ya. Makan di sini tetap enak, suasananya sangat nyaman," ucap Arga.
"Iya kamu benar. Hmmmm sudah lama tidak makan di sini ya terakhir kali dengan dia," sahut Risya.
"Dia siapa?" tanya Arga dengan posesif.
"Oh itu teman kencanku dulu," jawab Risya sembari mengunyah makanannya.
"Kamu mengajaknya Dinner di sini?" tanya Arga mode posesif.
"Tidak bukan aku yang mengajaknya tetapi dia dan aku juga tidak tau dia suka makan di tempat ini. Ihhhh sudahlah jangan membahas dia. Tidak ada gunanya sama sekali dan lagian tidak ada apa-apa juga kok," sahut Risya.
"Iya-iya," sahut Arga yang juga tidak mau merusak makan malam mereka dengan pembahasan yang tidak penting.
__ADS_1
Bersambung