
Angela dan Edo mengantarkan Putri ke sekolah dengan Putri yang sekarang mencium punggung tangan Edo dan Edo pasti mencium Putri di kening dan juga di pipinya.
"Anak papa rajin belajar ya," ucap Edo mengingatkan.
"Iya pah," jawab Putri.
"Putri sayang nanti kalau ada apa-apa telpon mama ya," ucap Putri.
"Baik mah," jawab Putri.
"Oh iya mama sama papa hari ini mau kemana. Kenapa Putri lihat mama dan papa tampak rapi dan sepertinya buru-buru?" tanya Putri heran.
"Mama dan papa mau ke pengadilan sayang," jawab Edo.
"Untuk apa?" tanya Putri.
"Ada hal yang harus papa selesaikan," jawan Edo.
"Putri nggak boleh tau ya. Karena Putri masih kecil?" tanya Putri.
"Putri benar. Karena Putri masih kecil. Jadi Putri nggak boleh tau. Nanti kalau sudah waktunya mama dan papa pasti akan cerita sama Putri," sahut Angela.
"Oh begitu. Ya sudah tidak apa-apa. Lagian anak kecil memang tidak perlu untuk mengetahui urusan orang dewasa," ucap Putri.
"Itu Putri tau. Ya sudah sekarang Putri masuk kelas dan belajar yang baik itu yang terpenting," ucap Edo.
"Ya sudah pah. Putri masuk dulu papa dan mama hati-hati ya dan lancar-lancar urusan orang dewasanya," ucap Putri.
"Iya sayang. Makasih ya sayang," sahut Angela.
Putri mengangguk dan langsung memasuki kelasnya. Angela dan Edo saling melihat satu sama lain.
"Ya sudah mas. Sekarang kita sebaiknya kepengadilan," ucap Angela.
"Iya ayo kita pergi yang lain pasti sudah menunggu," sahut Edo. Angela menganggukkan kepalanya dan mereka langsung pergi memasuki mobil untuk pergi kepengadilan melanjutkan persidangan.
**********
Di dalam mobil Arga. Arga bersama Hariyanto yang duduk di sampingnya. Risya dan Tantri yang duduk di jok belakang. Mereka hari ini pasti pergi ke pengadilan untu memberikan support pada Edo untuk sidang ke-2 untuk perebutan hak asuh Putri.
Selain Edo yang sudah pasti akan di temani Angela dan Risya dan juga Arga yang pasti akan selalu mendukungnya untuk proses sidang Edo dan bahkan Hariyanto dan Tantri juga ikut. Jika kemarin Hariyanto dan dan Tantri terlambat dan maka hari ini tidak. Karena juga berangkat bersama Arga dan Risya.
__ADS_1
"Pak Danu sendiri bagaimana Arga. Apa sudah datang ke pengadilan?" tanya Tantri.
"Edo baru mengabari mah mereka baru sampai dan sedang menunggu," jawab Arga.
"Alhamdulillah kalau begitu mama senang mendengarnya. Ya semoga saja proses hari ini berjalan dengan lancar dan keputusan pengadilan yang terbaik untuk Edo dan juga mantan istrinya," sahut Tantri.
"Iya semoga saja mah. Risya juga berharap seperti itu. Setelah hal asuh Putri jatuh pada Edo ya semoga aja Tasya enyah dari kehidupan Edo. Dia pergi jauh-jauh dan tidak akan kembali lagi," sahut Risya dengan doanya yang memang sangat di inginkannya.
"Aku juga mengharapkan hal itu. Setelah dia kalah di pengadilan dia meninggalkan Negara ini dan tidak akan pernah kembali yang akan mengganggu aku dan keluargaku. Termasuk mengganggu Risya dengan ancamannya. Karena aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi," batin Hariyanto yang harus mengubah keputusannya untuk kebaikan keluarganya dan pasti tidak akan membiarkan Tasya merusak keluarganya untuk ke-2 kalinya.
"Papa memikirkan sesuatu?" tanya Tantri yang melihat suaminya tampak berpikir.
"Tidak mah papa tidak mikir apa-apa kok," jawab Hariyanto dengan tersenyum.
"Papa itu jangan kebanyakan mikir. Nanti cepat tua lo," sahut Risya dengan candaan.
"Sudah tua kok Risya," sahut Tantri.
"Iya juga sih," sahut Risya dengan tersenyum dengan candaannya. Hariyanto juga tersenyum melihat Risya dari kaca spion. Lagi dan lagi jika melihat putrinya itu membuat dirinya merasa bersalah dan takut mengecewakan Risya.
***********
Pengadilan.
"Angela!" sapa Risya.
"Iya Risya," sahut Angela.
"Maaf kami terlambat sedikit. Soalnya tadi macet," ucap Arga.
"Tidak apa-apa persidangannya belum di mulai kok. Masih ada 20 menit lagi," jawab Edo.
"Alhamdulillah kalau begitu. Berarti kita tidak terlambat," sahut Arga.
"Iya benar," sahut Angela.
"Ya sudah sekarang sebaiknya kita semua masuk," sahut Edo.
Yang lain mengangguk dan ingin masuk. Namun Tasya dan tim pengacaranya datang. Tasya kaget melihat Hariyanto dan pengacara Edo yang tetap ada yang membuat mata tasnya melotot dengan melihat Hariyanto.
"Jadi mas Hariyanto menantangku. Dia tidak menarik pengacaranya dan malah semakin mendukung Edo," batin Tasya yang tidak percaya jika Hariyanto tidak takut kepadanya.
__ADS_1
"Ada apa Tasya? Kenapa mata kamu terus melihat papa?" tanya Risya dengan tiba-tiba yang memperhatikan Tasya.
Mendengar pertanyaan Risya justru membuat Hariyanto panik dan sementara Tasya hanya tetap melihat Hariyanto yang sepertinya sengaja ingin membuat Hariyanto gelisah.
"Sudahlah kita sekarang masuk saja," sahut Edo yang mengalihkan pembicaraan dan langsung mengajak masuk yang lainnya. Hariyanto merasa lega dan akhirnya mereka semua masuk.
"Sial! Apa yang aku katakan tidak mempan. Jika semuanya seperti ini dan pengacara mereka yang kuat itu terus mendampingi Edo. Aku benar-benar akan kalah dan tidak akan mendapatkan hak asuh Putri. Tidak aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi," batin Tasya yang belum apa-apa sudah takut kalah.
"Nona mari kita masuk!" ajak Robert.
"Iya," jawab Tasya.
"Ini adalah persidangan ke-2 dan bisa saja keputusan hakim akan jatuh hati ini. Aku membayar kalian semua mahal dan aku minta untuk kalian ber-3 lebih kompeten dan jangan sampai kalah dengan 1 pengacara itu," ucap Tasya mengingatkan kepada yang lainnya.
"Baiklah Nona. Kami akan berusaha semampu kami," sahut Alex.
"Jangan hanya bicara saja. Saya ingin hasilnya," ucap Tasya.
3 pengacara itu hanya mengangguk saja. Mereka hanya pengacara yang akan berusaha untuk klien mereka.
***********
Sidang berjalan semua sudah pada tempat duduknya masing-masing. Baik Risya dan Arga yang menjadi penonton begitu juga dengan Hariyanto dan istrinya.
Pengacara saling berdebat. Edo dan Tasya saling memberi keterangan. Namun dari sidang yang di jalani terlihat Tasya yang panik dan banyak kemungkinan tidak akan menang persidangan dan Tasya sudah mulai gelisah dengan pengacaranya yang terus terjebak dengan pengacara Edo.
Hariyanto selalu mencoba untuk tenang. Agar menunjukkan kepada Tasya. Jika dia bukan laki-laki yang bisa di lawan dan Tasya bukan tandingannya.
Ting.
Tiba-tiba notif pesan masuk kedalam handphone Hariyanto dan Hariyanto langsung membuka handphone.
..."Dengan cara kamu membela Edo. Itu sama saja kamu membuatku akan terus berada di sekitarmu dan jangan salahkan aku jika istri dan anakmu tau siapa aku. Termasuk Risya yang akan mengetahui siapa aku. Aku akan mengatakan kepadanya jika aku adalah simpanan ayahnya 7 tahun lalu," tulis Tasya dengan ancamannya pada Hariyanto....
Hariyanto melihat ke arah Tasya. Di mana Tasya menunjukkan wajah sinisnya yang memberitahukan tidak akan main-main dengan apa yang di katakannya.
..."Aku sudah memperingatkan mu Tasya untuk tidak mengganggu keluargaku dan jika kau melakukan itu. Kau harus tau apa yang akan aku lakukan kepadamu. Kau juga tidak lupa bagaimana 7 tahun lalu aku menyinggirkan parasit dari keluargaku. Jadi kau salah bermain-main denganku. Masalah dirimu dan mantan suamimu tidak ada urusannya denganku. Jadi kau jangan berani mengancamku," balas Hariyanto yang tidak takut dengan Tasya....
Membaca pesan itu membuat Tasya mengepal tangannya dengan wajahnya yang penuh amarah dan kembali melihat ke arah Hariyanto.
Di mana ke-2 orang itu saling melihat dengan tatapan tajam. Ternyata Hariyanto dan Tasya yang seperti itu tertangkap oleh Arga. Dengan Arga yang memperhatikan dengan detail bagaimana mertuanya saling melihat dengan Tasya yang seperti ada sesuatu.
__ADS_1
Jelas merasa ada sesuatu. Karena tatapan itu bukan tatapan biasa. Dan seperti bukan orang yang asing yang baru mengenal.
Bersambung.