
Setelah Tantri menyampaikan apa yang ingin di sampaikannya. Akhirnya Tantri pun pulang yang meninggalkan Edo dan Angela.
"Mas Edo!" lirih Angela mengusap pundak Edo untuk menguatkan Edo. Edo langsung memeluk Angela dan tangisnya pecah di pelukan Angela.
"Apa yang harus aku lakukan Angela. Bagaimana dengan Putri. Aku tidak mau kehilangan Putri. Putri adalah anakku," ucap Edo yang terisak-isak di pelukan kekasihnya.
"Aku tau perasaan kamu mas dan tidak ada yang meminta seperti ini. Aku tau apa yang kamu rasakan. Tetapi percayalah mas semuanya pasti ada jalan yang terbaik. Apapun itu kamu adalah ayahnya Putri dan tidak akan ada yang bisa menggantikan hal itu," ucap Angela yang berusaha menguatkan suaminya itu.
"Tapi aku takut Angela, aku sangat takut akan kehilangan Putri," ucap Edo.
"Perjuangan kita belum selesai mas dan belum ada yang kalah. Putri akan bersama kamu selamanya percaya kepadaku," ucap Angela yang menguatkan Edo.
Edo tidak menjawab lagi. Dalam pikirannya hanya penuh dengan ketakutan atas apa yang terjadi pada Putri nantinya. Kenyataan Putri bukan anak kandungnya memang sangat menyakitkan.
"Bagaimana nasib Risya selanjutnya. Dia pasti sangat shock ketika mengetahui semua ini. Jika dia dan Putri adalah saudara. Risya tidak mungkin menerima semua itu. Dia juga akan sangat kecewa pada Om Hariyanto. Merasakan di khitanati. Ya Allah semoga saja orang-orang yang berkorban untuk Risya di berikan kekuatan. Orang-orang yang berusaha melindungi Risya di berikan kekuatan. Aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu pada Risya," batin Angela yang memikirkan sahabatnya Risya.
*************
Tantri dan Hariyanto berada di dalam kamar yang sedang istirahat karena sudah malam dan waktunya untuk tidur. Namun pasangan suami-isteri itu terlihat diam dengan berada di atas tempat tidur dengan jarak yang berjauhan.
Sama-sama berada di pinggir. Tantri yang membelakangi suaminya dan Hariyanto yang bersandar pada kepala ranjang yang juga tidak tidak tidur sama seperti Tantri.
Tantri yang berbaring miring membelakangi suaminya itu tampak menangis tanpa Suara dengan tangannya beberapa kali menyeka air matanya. Mungkin tangisan itu karena musibah yang di alami keluarganya. Ketakutan pada anaknya yang akan menjadi korban.
"Papa tau mah. Apa yang papa lakukan tidak akan bisa di maafkan dan mama benar. Risya anak kita yang menanggung semua ini," ucap Hariyanto.
"Kamu punya anak dari wanita lain. Anak itu masih kecil. Masih 6 tahun dan punya banyak kesamaan dengan Risya sewaktu masih kecil. Sekarang aku ingin bertanya sama kamu. Bagaimana selanjutnya. Apa kamu tidak akan mengakui anak itu?" tanya Tantri.
"Aku harus menjadi orang yang paling egois demi Risya. Aku hanya mempunyai anak dari pernikahan yang sah dan anak yang tiba-tiba ada itu bukan dari pernikahan dan hanya hubungan gelap dan hubungan yang haram dan itu tidak bisa di samakan dengan Risya," jawab Hariyanto yang sepertinya tetap pada pendiriannya yang tidak mengakui Putri sebagai darah dagingnya.
"Walau Risya tau semuanya dan akan membenci papa. Papa akan menerima hukuman apapun dari Risya dari tuhan. Tetapi Risya tetap anak papa satu-satunya," tegas Hariyanto.
Tantri hanya meneteskan kembali air matanya mendengarkan perkataan suaminya itu yang tidak ingin mengakui Putri. Memang Hariyanto begitu menyayangi Risya dan apa yang terjadi di masa lalu adalah ke khilafan yang di lakukannya yang juga merupakan jebakan Tasya yang terbawa perasaan dengan sikap Hariyanto yang berlebihan kepadanya.
**********
Mentari pagi kembali tiba. Risya yang sudah bangun keluar dari kamar dan melihat ada orang di ruang tamu yang ternyata Dehway papa mertuanya.
"Papah!" pekik Risya yang terkejut dengan wajahnya yang baru bangun tidur dan pasti wajah bantal.
"Risya," sahut Dehway.
"Ya ampun papa kapan datang," sahut Risya yang langsung mencium punggung tangan mertuanya itu.
"Barusan aja. Tuh sama mama kamu," jawab Hariyanto menunjuk ke dapur yang mertuanya sudah sibuk di dapur.
__ADS_1
"Ya ampun mama," sahut Risya yang langsung buru-buru kedapur menghampiri mertuanya yang membuatkan sarapan.
"Suami istri sudah sesiang ini baru keluar dari kamar. Gimana sih!" oceh Salmah yang mengomel.
"Namanya juga hari libur. Mama dan papa juga nggak bilang-bilang kalau mau datang Ke Apartemen kami," sahut Risya.
"Biar mama dan papa tau. Kalian ini bangunnya jam berapa dan pantes aja sering datang terlambat kekantor ternyata jam segini baru bangun," oceh Salmah. Dehway di ruang tamu yang melihat ponselnya hanya geleng-geleng saja.
"Issss mama. Orang cuma sekali-kali aja kok telatnya," sahut Risya yang membela dirinya.
"Iya-iya," sahut Tantri.
"Mama lagi masa apa?" tanya Risya.
"Mama lagi masak sup untuk kamu dan Arga," jawab Salmah.
"Hmmmmmm, pantesan aromanya enak sekali," sahut Risya yang sudah begitu selera.
"Ada mama dan papa ternyata," sahut Arga yang tiba-tiba datang dan langsung menyalim papanya dan bergantian dengan sang mama yang berada di dapur.
"Iya Arga pengen gerebek menantu dan anak," seloroh Salmah.
"Issss pakai grebek-grebek segala lagi," sahut Risya sewot.
"Siapa juga yang bau," sahut Arga.
"Ya sudah sayang kita sekarang mandi aja ayo," sahut Risya yang menggandeng lengan suaminya itu dan suaminya mengangguk yang mereka berdua berjalan menuju kamar. Namun tiba-tiba Risya menghentikan langkahnya yang memegang kepalanya yang tiba-tiba merasa pusing.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Arga heran melihat istrinya itu.
"Kamu baik-baik aja Risya?" tanya Salmah.
"Oh iya baik-baik aja kok. Hanya sedikit pusing mungkin kurang tidur," jawab Risya.
"Memang kamu begadang tadi malam?" tahta Dehway.
"Iya pah. Gara-gara Arga nih main game mulu," sahut Risya yang langsung mengadukan perbuatan suaminya itu.
"Kamu ya Arga benar-benar ya. Tuh lihat istri kamu yang jadi kurang tidur gara-gara kamu," ucap Salmah geleng-geleng dengan kelakukan Arga.
"Iya-iya maaf mah. Ya sudah sayang kamu sudah nggak apa-apa kan?" tanya Arga. Risya menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah sekarang kita kekamar dan mandi. Supaya lebih fresh," ucap Arga. Risya menganggukkan kepalanya dan mereka langsung pergi kekamar. Salmah pun melanjutkan membuatkan sarapan untuk anak dan menantunya.
*********
__ADS_1
Akhirnya Arga, Salmah, Risya dan Dehway sarapan bersama dengan sup buntut yang di masak Salmah pagi-pagi buta.
"Bagaimana Risya enak masakan mama?" tanya Salmah.
"Ya pasti sangat enak dong mah," jawab Risya.
"Kalau begitu kamu makan yang banyak ya," ucap Salmah.
"Pasti mah," sahut Risya dengan mengangguk yang makan dengan lahap dan bahkan makanan yang di piringnya sudah hampir habis.
"Papa sudah selesai makan!" sahut Dehway.
"Hmmm kalau begitu papa langsung ke apotik ya. Belikan obat mama," ucap Salmah.
"Ya ampun mah. Papa itu baru kenyang juga sudah di suruh-suruh," sahut Arga geleng-geleng.
"Dekat kok Arga apotiknya. Jalan kaki sampai kok. Orang dekat Apartemen kalian kok," ucap Salmah.
"Ya udah biar Risya aja yang beli. Risya juga sudah selesai makan kok," sahut Risya.
"Udah nggak apa-apa biar papa aja," sahut Dehway.
"Nggak apa-apa pah Risya aja. Risya ini masih muda jadi masih kuat. Kalau papa habis makan itu harus istirahat karena sudah tua," ucap Risya dengan candaannya.
Namun Salmah, Dehway dan Hariyanto hanya tersenyum dengan candaan menantunya itu.
"Ya sudah deh yang masih muda," sahut Dehway.
"Ya sudah Risya beli dulu ya obat mama yang biasa," ucap Risya yang berdiri dari tempat duduknya.
"Uangnya sayang," sahut Salmah.
"Peke uang Risya aja," sahut Risya.
"Tumben biasanya sangat perhitungan," sahut Arga.
"Ya kan nanti di ganti mama dengan perhiasan. Iya kan mah," sahut Risya dengan candaannya yang mengedipkan sebelah matanya.
"Iya-iyaa sayang," sahut Salmah.
"Ya sudah Risya pergi dulu ya," ucap Risya yang langsung pergi.
"Makasih menantuku sayang," sahut Salmah yang tidak mendapatkan jawaban dari Risya yang mungkin sudah keluar rumah
Bersambung
__ADS_1