MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!

MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!
Episode 197 Anak siapa.


__ADS_3

Hariyanto yang berada di kantornya di ruang kerjanya yang terlihat tidak tenang yang sangat gelisah dengan napas beratnya yang beberapa kali berhembus membuat Hariyanto sejak tadi memijat kepalanya yang terasa sangat berat.


Tok tok tok tok tok tok tok


"Masuk!" titah Hariyanto yang ternyata Sekretarisnya.


"Ada apa?" tanya Hariyanto.


"Tuan tamu yang ingin bertemu," jawab wanita itu.


"Baiklah suruh masuk saja," jawab Hariyanto.


"Baik tuan," sahut sekretaris itu dan dia langsung keluar dari ruangan itu.


Sementara Hariyanto kembali memijat kepalanya dan memejamkan matanya untuk menenangkan pikirannya yang sedang tidak baik-baik saja.


Suara heels terdengar menginjak lantai yang membuat mata Hariyanto terbuka. Ke-2 bola mata itu langsung membulat sempurna ketika melihat siapa yang datang yang membuatnya terkejut yang tak lain adalah Tasya.


"Tasya!" liris Hariyanto dengan wajah terkejutnya dan langsung berdiri.


"Apa yang kau lakukan di sini? Pergi dari sini!" usir Hariyanto yang menghampiri Tasya dan bahkan menarik tangan Tasya mengusir Tasya dengan paksa.


"Maaf lepasi aku ingin bicara kepadamu!" berontak Tasya.


"Aku sudah mengatakan jangan mengganggu keluargaku dan kau berani sekali masuk kedalam ruanganku. Keluar kau!" bentak Hariyanto.


"Usir aku sampai depan pintu. Agar semua orang-orang kantor tau dan akan bertanya-tanya kenapa kamu begitu kasar kepadaku dan perdebatan kita akan di saksikan orang kantor yang bisa menilai sendiri. Jika ada sesuatu di antara kita," ucap Tasya mengancam Hariyanto.


"Apa yang kau inginkan Tasya!" ucap Hariyanto dengan menekan suaranya yang melotot di hadapan Tasya.


"Aku datang kemari jelas berkaitan dengan apa yang terjadi di pengadilan kemarin," jawab Tasya.


"Jangan kau libatkan aku dengan masalahmu dengan mantan suamimu!" tegas Hariyanto.

__ADS_1


"Semua berkaitan mas. Putri bukan anak kandung mas Edo!" tegas Tasya.


"Aku tidak peduli dan itu bukan urusanku!" tegas Hariyanto dengan penuh penekanan.


"Itu urusanmu karena Putri anak kandungmu," tegas Tasya membuat Hariyanto kaget mendengarnya.


"Tutup mulutmu Tasya!" bentak Hariyanto.


"Jika kau tidak percaya. Kau bisa melakukan tes DNA. Kau jangan lupa mas. Jika dalam keadaan hamil aku kau campakkan," ucap Tasya mengingatkan pada Hariyanto. Hariyanto yang terpancing emosi lebih parah langsung mencekik leher Tasya yang mendorong Tasya kedingding dan membuat Tasya kesakitan saat lehernya yang cekik Hariyanto yang seperti di rasuki iblis.


"Kau itu perempuan murahan dan Putri bukan anakku. Aku hanya mempunyai satu anak dari istriku yang sah kunikahi yaitu Risya dan kau perempuan yang banyak tidur dengan laki-laki. Jadi jangan melibatkan ku dengan Putri," tegas Hariyanto dengan menekan suaranya dan cekikannya semakin kuat yang membuat Tasya bisa mati.


Menyadari hal itu membuat Hariyanto melepas tangannya dari leher Tasya. Karena tidak mungkin dia akan menjadi pembunuh.


Uhuk-uhuk-uhuk-uhuk.


Tasya langsung batuk-batuk dengan memegang lehernya yang kesakitan.


Hariyanto melangkah ingin pergi dari hadapan Tasya. Namun Tasya langsung memeluk Hariyanto dari belakang membuat Hariyanto kaget.


"Aku ingin mendapatkan hak ku kali ini," ucap Tasya.


"Lepaskan apa yang kau lakukan!" Hariyanto berusaha melepaskan tangan Tasya yang begitu kuat memeluk pinggangnya.


"Aku mencintaimu mas dan kau tau aku berkorban banyak demi cintaku kepadamu. Aku juga tidak muncul di hadapan anak dan istrimu 7 tahun lalu. Itu karena aku mencintaimu dan ingin melihat mu bahagia. Kau jangan berbohong mas. Kau mengakui sendiri jika aku pernah tidur denganmu dan Putri anak kita berdua," ucap Tasya dengan air matanya keluar yang seolah ingin di kasihani.


"Hentikan omong kosong mu!" bentak Hariyanto yang melepaskan kuat tangan Tasya dari pinggangnya.


"Mas Hariyanto kau tau apa yang aku katakan adalah kebenarannya dan bukan omong kosong. Saat aku menjalani hubungan denganmu aku tidak pernah bersama laki-laki lain dan aku tau kau tau itu," ucap Tasya.


"Cukup Tasya! Jika kau mengungkit hal itu lagi. Aku akan membuatmu tidak bisa bicara!" ancaman Hariyanto.


Tasya menyeka air matanya.

__ADS_1


"Aku sudah mengalah begitu banyak untuk mu mas. Perselingkuhan yang terjadi di antara kita bukan hanya kesalahan ku dan itu juga kamu dan aku yang menjadi korbannya. Aku pergi dari hidupmu dengan membawa benih dari mu. Aku tidak menuntut apapun atas kehamilanku. Karena kau memlih keluargamu. Istri anakmu mendapatkan semuanya. Tetapi aku yang menderita dan aku tidak bisa diam saja kali ini. Putri butuh pengakuan dari ayah kandungnya," tegas Tasya.


"Jaga bicaramu. Kau pikir aku percaya dengan kata-katamu. Kau itu wanita banyak di sentuh laki-laki. Jadi jika mantan suamimu bukan ayah kandung Putri maka carilah ayah kandungnya. Jangan menuduhku," tegas Hariyanto.


"Aku akan membuktikannya kepadamu. Jika Putri adalah anakmu dan jika bukti itu benar. Kau harus mengakuinya sama seperti Risya," tegas Tasya.


"Jangan samakan Risya dengan anakmu. Risya lahir dari wanita yang suci dan wanita punya adab dan berhati luas dan sempurna," Sementara anakmu lahir dari wanita licik sepertimu yang hanya merusak kebahagiaan orang lain," tegas Hariyanto dengan menekan suaranya menunjuk tepat di wajah Tasya.


"Jika istrimu sempurna. Kau tidak akan bermain api di belakangnya sampai tidur denganku!" ucap Tasya sinis membuat napas Hariyanto naik turun.


"Kau menjebakku Tasya dan sampai detik ini kau itu penuh jebakan," tegas Hariyanto yang langsung pergi dari hadapan Tasya.


Jika Tasya tidak ingin keluar dari ruangannya. Maka dia yang akan pergi. Hariyanto menghela napasnya saat berada di luar ruangannya. Namun dia di kejutkan dengan wanita di ujung sana yang mana Risya yang sembari memegang ponselnya yang berjalan kearah ruangannya.


"Risya!" lirih Hariyanto yang langsung panik dengan melihat Tasya masih ada di ruangannya dan pasti jika Risya melihatnya. Risya akan banyak tanya dan Tasya bisa mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.


Hariyanto langsung berjalan cepat menghampiri Risya.


"Papa!" ucap Risya dengan tersenyum.


"Risya kamu ngapain di sini?" tanya Hariyanto dengan gugup.


"Mau ketemu papa," jawab Risya.


"Ayo nak kita bicara di luar!" ajak Hariyanto yang buru-buru membawa Risya.


"Tapi pah. Risya bawa makanan dan mau di makan di ruangan papa," ucap Risya.


"Kita makan di luar saja," sahut Hariyanto yang mendesak Risya untuk keluar dari ruangannya yang pastinya dia tidak ingin Risya bertemu dengan Tasya.


Hariyanto tidak akan siap dengan hal itu dan walaupun rahasia itu pasti lama kelamaan akan terbongkar. Tetapi Hariyanto belum siap untuk membuat Risya kecewa..


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2