
Malam hari Risya yang berada di dapur yang sedang membuat susu untuk Arga agar kondisi Arga semakin membaik. Risya yang mengaduk-aduk susu putih tersebut dengan matanya yang sebenarnya sangat berat yang mengantuk parah karena Risya sepertinya juga kurang tidur.
Tak.
Tiba-tiba mati lampu membuat Risya kaget dan langsung panik dengan semua ruangan yang menjadi gelap. Saking paniknya tangannya yang bergeser langsung menyenggol gelas dan pecahannya terdengar kuat kelantai.
"Argghhh!" tariak Risya yang langsung berjongkok dan dengan menutup telinganya dengan kedua tangannya dan sudah seperti orang ketakutan dengan cepat yang tubuhnya bergetar. Hal itu memang biasa jika lampu mati. Dia sangat takut kegelapan dan napasnya juga pasti sangat sesak.
Sebuah tangan memegang pundak Risya membuat Risya langsung menepisnya.
"Pergi!" teriak Risya.
"Risya ini aku, Arga," sahut Arga yang dengan cepat datang dan berjongkok di depan Risya yang pasti tau Risya akan seperti apa kondisinya.
"Arga!" lirih Risya yang ketakutan mencari tangan Arga dan Arga langsung memeluknya untuk menenangkan Risya.
"Jangan takut, aku akan di sini. Aku tidak akan meninggalkanmu," ucap Arga yang memeluk Risya dengan erat dan Risya yang berlindung di dada bidang Arga sedikit nyaman. Walau masih begitu takut. Karena masih sangat gelap.
Tidak lama cahaya lilin menghampiri dapur yang ternyata bibi yang datang.
"Nona Risya, tuan Arga tidak apa-apa?" tanya bibi.
"Apa yang terjadi kenapa tiba-tiba mati lampu seperti ini?" tanya Arga.
"Pak Yanto masih memeriksa meteran lampu tuan," jawab Bibi.
"Ayo pergi, jangan di sini, ayo!" Risya yang ketakutan tidak mau lama-lama berada di dalam situasi itu. Meski sudah ada sedikit cahaya lilin dari bibi. Namun dadanya yang terasa sesak dan Risya tidak kuat dengan situasi itu.
"Baiklah, kita cari tempat yang terang ya," ucap Arga yang sangat paham dengan kondisi Risya.
"Kalian urus listriknya dan jika ada masalah panggil tukang dan cepat perbaiki!" titah Arga yang juga tidak ingin Risya ketakutan terus karena ruangan itu yang sangat gelap.
__ADS_1
"Baik tuan," sahut bibi.
Arga pun membawa Risya pergi untuk mencari tempat yang terang.
************
Arga juga bingung harus membawa Risya pergi kemana. Karena di luar rumah juga gelap. Karena satu komplek mati lampu yang bermasalah. Jadi butuh tukang untuk memperbaiki dan yang di perbaiki juga ada pada pusat dan bukan pada rumah perorangan.
Risya dan Arga hanya berada di dekat kolam renang dengan bantuan cahaya dari lilin dan cahaya bulan yang terlihat dari air kolam renang. Walau seperti itu. Namun Risya tetap saja ketakutan yang duduk dengan memeluk tubuhnya dan duduk di depan Arga dengan Risya yang tidak berani melihat di sekelilingnya. Paniknya semakin parah.
"Risya sebentar lagi pasti akan terang," ucap Arga dengan lembut. Tidak ada jawaban dari Risya. Dia sangat takut dan tetap tidak nyaman.
Arga pun semakin bingung harus melakukan apa. Sampai akhirnya Arga berdiri dari tempat duduknya dan terlihat memasuki rumah dan Risya yang memang sudah tidak fokus tidak bertanya dan mungkin juga tidak sadar Arga pergi. Karena dia sangat takut dengan situasi yang di hadapinya.
Setelah 10 menit Arga meninggalkan Risya sendirian. Arga kembali dan berjongkok di depan Risya dengan memegang lengan Risya.
"Ikut denganku, ada tempat yang lebih terang," ucap Arga dengan lembut. Risya mengangkat kepalanya dan melihat wajah Arga dengan Arga yang menganggukkan kepalanya yang meyakinkan Risya.
*************
Dengan tangan Arga yang mengganggap tangan Risya yang begitu erat yang melangkah yang membawa Risya ke tempat yang lebih terang yang ternyata membawa Risya ke teras paling atas rumah Risya.
Dan tempat itu memang terang. Selain cahaya bintang dan bulan dari langit yang lebih terang karena berada di ketinggian. Ada banyak lilin-lilin yang hidup yang di susun begitu indah yang mengelilingi lantai yang di tengahnya terdapat tenda kecil.
Bukan hanya indah tempat itu juga begitu terang yang membuat Risya pasti sudah jauh lebih lega sekarang.
"Bagaimana apa ini sudah bisa?" tanya Arga. Risya mengangguk dan memang rasa takutnya berkurang.
"Ayo kesana!" ajak Arga dengan tersenyum. Risya menganggukkan kepalanya dan mengikuti Arga yang mana Arga membawanya duduk di depan tenda.
"Kamu membuat semua ini?" tanya Risya dengan kepalanya yang berkeliling.
__ADS_1
"Di bantu sama Art. Mereka bilang listriknya mengalami masalah serius dan satu komplek ini kemungkinan akan mati lampu sampai subuh. Sampai petugas selesai memperbaikinya dan di perkirakan bisa sampai subuh," jelas Arga.
"Jadi aku minta bantuan mereka supaya ada terang sedikit dan kamu tidak takut. Dan tempat kecil ini dengan banyak lilin bisa mengalahkan kegelapan," ucap Arga yang begitu lembut bicara pada Risya.
Risya terdiam dan dengan memeluk kedua lututnya dan wajahnya yang menunduk
"Kenapa aku harus selalu membutuhkanmu," ucap Risya dengan pelan.
Dia harus sadar apapun yang terjadi Arga pasti ada untuknya dan itu artinya dia tidak bisa hidup tanpa Arga.
Arga tersenyum mendengarnya dan merangkul bahu Risya dengan membuat Risya bersandar padanyanya.
"Aku juga sangat membutuhkan mu Risya," ucap Arga.
"Kita berdua saling membutuhkan, kita-kita sama-sama memiliki kekurangan dan itu artinya kita saling membutuhkan," ucap Arga dengan lembut.
Arga menghadap Risya dengan mengangkat dagu Risya agar wajah Risya yang sejajar dengan Arga. Arga menggenggam ke-2 tangan itu dengan erat dengan mata mereka yang saling bertemu.
"Maafkan aku Risya. Aku tidak pernah memahami perasaan mu. Aku menuduhmu hal yang seharusnya tidak akan mungkin kamu lakukan. Aku tidak pernah belajar dari kesalahan yang lalu," ucap Arga yang mungkin ini waktunya bicara pada Risya. Karena situasi sangat memungkinkan.
"Kamu jahat Arga, kamu sangat menyakiti hati ku. Aku merasa tidak punya harga diri. Saat kamu menuduhku yang tidak-tidak," ucap Risya dengan air matanya yang jatuh. Arga langsung menyeka air mata itu.
"Maafkan aku Risya," ucap Arga.
"Maaf. Jika aku memaafkanmu. Maka kejadian ini akan kembali lagi. Akan ada hal ini lagi yang artinya kamu tidak pernah percaya kepadaku dan itu rasanya sangat sakit," ucap Risya yang belum bisa berdamai dengan hatinya karena luka dari Arga yang menyakitkan.
"Aku tidak akan memaksamu untuk memafkan ku atau tidak. Tetapi aku akan membuktikan dengan menjadi suami yang baik dan memperbaiki hubungan kita dengan memperbaiki kesalahanku," ucap Arga yang berusaha meyakinkan Risya.
Risya tidak menjawab apa-apa lagi dan Arga membawanya kembali ke dalam pelukannya. Dia hanya berusaha untuk meyakinkan Risya. Agar Risya bisa benar-benar memafkan dirinya. Sekarang Risya lebih enak di ajak bicara yang artinya ada kemajuan dalam hubungannya mereka yang mana mereka terlihat lebih santai dekat dan bicara dari hati ke hati.
Bersambung
__ADS_1