MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!

MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!
Episode 116 Manjanya Risya


__ADS_3

"Arga bagaimana ini, aku tidak mau seperti ini," rengek Risya dengan panik yang terus melihat dirinya di cermin dengan melihat wajahnya tersebut.


"Arga bagaimana ini?"


"Kamu jangan diam aja dong lihat wajahku sampai seperti ini,"


"Iya-iya Risya. Kamu itu tenang dulu. Kamu jangan panik. Kamu harus santai dan rilex dulu," ucap Arga yang berusaha untuk menengakan istrinya yang kepanikan seperti kebakaran jenggot itu.


"Bagaimana tidak panik sudah seperti ini," sahut Risya dengan kesal.


"Ya sudah-sudah sekarang kita ke rumah sakit ya. Kita periksa sekarang. Semoga saja ini tidak menjadi masalah besar. Semoga kamu baik-baik saja dan tidak tertular dengan penyakitku," ucap Arga yang berusaha berpikir positif.


"Ya sudah buruan ayo kerumah sakit," ucap Risya.


Arga mengangguk-angguk dan membawa Risya langsung kerumah sakit.


**********


Karena kondisi Risya yang seperti itu mau tidak mau Arga dan Risya langsung pergi kerumah sakit. Wajah Risya yang menurutnya jelek. Karena bintik-bintiknya bukan hanya di tangannya. Tetapi juga di wajahnya membuat Risya memakai pasminah menutupi wajahnya.


Mereka sudah tiba di rumah sakit dengan Risya sibuk dengan menutupi wajahnya, bukan hanya dengan memakai pasminah. Risya juga pakai kaca mata hitam yang besar dan juga memakai masker. Risya sudah seperti Intel saja dan Arga yang merangkul bahunya sejak tadi hanya pasrah. Apa lagi sedari tadi di mobil. Arga hanya mendengar rengekan Risya.


Sebelah sana!" tunjuk Arga pada ruangan yang akan mereka kunjungi. Risya menganggukkan kepalanya dan mengikut saja Arga membawanya kemana.


*********


Akhirnya Risya di periksa oleh Dokter dengan Risya berbaring di atas tempat tidur pasien dan Arga yang berdiri di sampingnya.


"Kapan kejadiannya ini?" tanya Dokter.


"Tadi pagi Dokter saat saya bangun tidur mau kemar mandi tiba-tiba saya melihat diri saya di cermin sudah seperti monster," jawab Risya menceritakan kronologinya dengan rasa ngeri-ngeri sedap.


"Apa kalian satu makanan?" tanya Dokter.


"Maksud Dokter apa?" tanya Risya.


"Saya sudah mengatakan pak Arga terkena DBD menular dan mungkin saja kalian dari gelas atau apa gitu," ucap Dokter.


Arga dan Risya saling melihat dan sama-sama menelan ludah.


"Atau jangan-jangan kalian berhubungan?" tebak Dokter melihat serius Arga dan Risya dengan bergantian.


"Jadi benar?" tanya Dokter memastikan. Risya dan Arga mengangguk pelan.


"Astaga, saya kan sudah mengatakan jangan dulu. Kondisi pak Arga masih belum sembuh dan saya sudah mengingatkan semua ini akan tertular nantinya," ucap Dokter menghela napas berat akibat pasiennya yang melarang pantangannya.


"Kalau begini jadi sulit. Atau jangan-jangan pulang dari rumah sakit ya kalian langsung melakukannya?" tanya Dokter menduga-duga.

__ADS_1


"Nggak kok dok baru kemarin," sahut Risya dan Arga serentak dan mendapat tatapan dari Dokter.


"Ya kan saya sudah merasa sembuh Dokter. Bintik-bintik juga sudah mulai hilang dan saya juga tidak merasa sakit lagi," ucap Arga yang memberikan alasannya.


"Sama aja pak Arga dan terakhirnya ini yang terjadi. Kalian baru melakukan kemarin. Tetapi efeknya sudah sampai seperti ini.


"Apa setiap hari kalian melakukannya?" tanya Dokter.


"Nggak setiap hari Dokter. Baru kemarin aja kok," sahut Risya yang menjawab.


"Tetapi kenapa bisa sampai separah ini?" tanya Dokter pusing menghadapi pasiennya itu.


"Betapa kali kalian melakukannya?" tanya Dokter.


Risya dan Arga saling melihat dan tertidur malu, "4 kali," jawab keduanya dengan serentak.


Dokter itu kaget mendengarnya dan hanya menghela napas berat ampun dengan pasiennya itu yang sangat kelewatan.


"Bisa-bisanya kalian berdua ini ya!" geram Dokter tersebut.


"Ya namanya juga kangen Dokter. Kita kan tidak tahan," celetuk Argantara dengan garuk-garuk kepala dan Dokter itu hanya geleng-geleng saja yang tidak bisa bicara apa-apa lagi dengan Risya dan Arga.


*********


Setela pulang dari rumah sakit Risya dan Arga kembali ke Apartemen dan tadi Dokter memberikan suntikan pada Risya dan juga memberikan Risya obat agar bintik-bintiknya hilang.


Risya duduk lemas di sofa dengan tidak bersemangatnya dengan apa yang terjadi kepadanya.


"Maafkan aku ya. Aku seharusnya bisa menahan diri," ucap Arga duduk di samping Risya dengan meminta maaf untuk membujuk Risya.


"Ini juga tidak sepenuhnya salah kamu kok. Aku juga kok yang salah. Aku juga tidak bisa menahan diri," ucap Risya.


"Ya sudah kamu jangan sedih lagi. Kamu mau wajahnya penuh dengan bintik-bintik atau jerawatan pun. Kamu itu tetap cantik," bujuk Arga yang harus menghibur Risya agar Risya tidak sedih lagi.


"Benar?" tanya Risya yang butuh kepastian.


"Iya Risya kamu itu sangat cantik," jawab Arga membuat Risya tersenyum dengan mulutnya yang cemberut dan langsung memeluk pinggang Arga dengan kepalanya mendarat di dada Arga.


"Kamu tidak boleh kemana-mana hari ini. Pokoknya hari menemaniku di sini. Bagaimana kalau tiba-tiba nanti aku sakit dan kamu tidak ada," ucap Risya dengan manjanya pada Arga.


"Jadi aku tidak boleh kerja?" tanya Arga dengan tersenyum.


"Tidak boleh. Aku mulai merasa meriang sepertinya aku akan demam," sahut Risya yang terlalu melebih-lebihkan.


Arga mendengus tersenyum dan memegang dahi Risya dengan punggung tangannya.


"Tapi tidak panas kok," ucap Arga.

__ADS_1


Risya mengangkat kepalanya dan melihat wajah suaminya itu.


"Panas kok, bentar lagi pasti aku sakit. Pokoknya jangan pergi," rengek Risya dengan manjanya yang tidak mau di tinggal Arga. Padahal dia tidak kenapa-kenapa.


"Jangan hanya tersenyum. Kamu 2 kali sakit aku merawatmu, aku tidak tidur, aku menyelesaikan pekerjaanmu waktu di Jepang. Aku membuat makanan, menyetir sendiri membawamu kerumah sakit, 24 jam bersamamu. Jadi sekarang harus gantian," ucap Risya mengungkit semuanya.


"Oh begitu. Jadi sekarang ceritanya tidak ikhlas nih dan ingin balas Budi. Berarti merawatku mengharapkan Budi," ucap Arga.


"Issss, bukan begitu. Tapi kan aku juga sakit. Kalau bukan kamu siapa dong yang akan menjagaku," ucap Risya dengan kesal.


"Iya-iya Risya. Aku tidak akan kemana-mana. Aku akan menemani kamu di sini terus. Aku akan terus menjaga kamu," ucap Arga.


"Benar?" tanya Risya yang masih butuh kejelasan. Arga mengangguk dan Risya tersenyum tipis dan memeluk Arga lagi.


*************


Risya sekarang berada di dalam kamar yang mana Arga sedang menyuapi Risya makan dengan Risya yang bersandar di kepala ranjang.


Arga membuatkan sup untuk Risya dan Arga sebelum memberi sop panas itu pasti meniupnya dulu. Lalu memberikan pada istrinya.


"Enak?" tanya Arga.


"Iya enak," jawab Risya, "kamu masak sendiri?" tanya Risya.


"Iya. Aku masak sendiri," jawab Arga.


"Sangat enak," jawab Risya membuat Arga tersenyum dan mengelus-elus pucuk kepala istrinya dan memegang dahi Risya.


"Kok kamu nggak panas-panas ya. Nggak jadi sakit?" tanya Arga.


"Issss kamu ini. Sakitkan bukan berarti dari suhu tubuh. Aku lemas, dan penciuman Tidka enak, lidah juga pait dan pasti sebentar aku panas tinggi karena penyakit ini," ucap Risya yang terlalu melebih-lebihkan.


"Ohhh, begitu, ya lidah terasa pait, tapi kok makan lancar-lancar aja ya," ucap Arga pelan dengan mengangguk-angguk kepala.


"Kamu bilang apa?" tanya Risya yang tidak dapat mendengar apa yang di katakan suaminya.


"Tidak apa-apa kok," jawab Arga.


"Jangan berpikir apa-apa kepadaku. Kamu harus merawatku dengan tulus. Aku juga seperti ini karena ketularan kamu. Jadi harus membantu istrinya," ucap Risya.


"Iya-iya, aku akan merawatmu dan tidak akan meninggalkanmu Risya. Jadi jangan marah-marah dan cemberut seperti itu. Kamu makan lagi. Lalu minum obat. Supaya cepat sembuh," ucap Arga.


Risya mengangguk-anggukkan kepalanya dan makan dengan lahap.


Penciuman bermasalah, lidah pahit tapi makan lancar-lancar aja. Risya memang banyak tingkah dan sangat berlebihan terlalu alay yang padahal dia tidak apa-apa sama sekali. Dia hanya mengalami bintik-bintik dan tidak panas juga. Tetapi sudah sangat parno.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2