
Setelah makan siang bersama teman-temannya. Risya kembali ke kantor dan saat mobilnya berhenti di depan kantor. Risya melihat Arga yang berbicara dengan seorang wanita yang terlihat begitu akrab.
"Siapa dia? Kenapa senyum-senyum cengengesan kayak gitu sama Arga," gumma Risya yang tampak kesal dengan wanita itu berbicara dengan senyum-senyum penuh arti.
Arga dan wanita itu memang sedang berbicara yang tidak tau ingin membahas apa.
"Kalau begitu terima kasih ya pak Arga. Bapak sangat banyak membantu saya. Saya benar-benar sangat berterima kasih dengan bantuan pak Arga," ucap wanitanya yang berpakaian merah senada dengan roknya yang seksi itu.
"Tidak perlu berterima kasih. Apa yang saya lakukan sudah semestinya," sahut Arga yang terlihat santai.
"Apapun itu pak Arga banyak membantu saya," sahut wanita itu tersenyum.
"Ehemm," tiba-tiba terdengar suara deheman yang ternyata Risya yang berdiri di samping Arga dan lihatlah wajah ketus Risya melihat wanita yang senyum-senyum itu.
"Risya kamu selesai makan siangnya?" tanya Arga. Risya menganggukkan kepalanya.
"Ini karyawan pak Arga?" tanga wanita itu.
"Sembarangan mulutnya langsung mengataiku," batin Risya kesal.
"Oh iya," sahut Arga. Mata Risya melotot mendengar pernyataan suaminya itu.
"Ini Risya dia Manager di Perusahaan ini di bagaian desain. Dia menantu tuan Dehway pemilik Perusahaan ini," lanjut Arga yang membuat Risya tidak jadi kesal dan tersenyum tipis.
"Menantu tuan Dehway. Bukannya tuan Dehway itu hanya punya 1 putra saja? Tanya wanita itu.
"Apa dia istri pak Arga?" tebak wanita itu.
"Iya aku istrinya," sahut Risya yang langsung merangkul lengan Arga dengan memamerkan dirinya dan Arga hanya tersenyum saja yang tau Risya ini lagi kesal sebenarnya.
"Ohhh, pak Arga ternyata sudah menikah," ucap wanita itu yang tampak sangat kecewa.
"Iya benar sekali saya sudah menikah dan ini istri saya," jelas Arga dengan penegasan.
"Kenapa wajahnya tampak kecewa seperti itu. Ihhhhh, jangan-jangan naksir lagi sama Arga," batin Risya dengan bergerutu yang semakin kesal melihat wanita itu.
"Hmmm, bubu sekarang kita masuk yuk," ajak Risya yang tiba-tiba memanggil Arga bubu. Arga sampai kaget dengan melihat serius Risya dengan dahinya yang mengkerut.
"Bubu," lirih wanita yang di depan Arga tampak geli dengan Risya yang nempel-nempel terus.
"Ayo bubu, aku capek berdiri terus," keluh Risya dengan manjanya yang mendesak Arga.
"Oh iya-iya. Kalau begitu saya permisi dulu!" ucap Arga yang buru-buru karena di tarik Risya.
Wanita yang berbicara dengan Arga hanya mengangguk saja melihat Arga yang di tarik paksa.
__ADS_1
"Ya. Sudah menikah ternyata. Kenapa sih orang tampan itu cepat lakunya. Mala istrinya cantik lagi. Tetapi apa seperti itu ya kalau cantik terlihat agak kurang. Kok alay sekali ngomong-ngomong bubu," gerutu wanita itu yang tampak geli dengan cara bicara Risya.
Arga masih saja di gandeng Risya dengan terlihat memaksa Arga.
"Kamu sakit ya?" tanya Arga heran dengan tingkah Risya yang mana mereka sudah masuk ke dalam lift.
"Iya sakit mata," jawab Risya kesal yang sudah melepas genggaman tangannya dari Arga dan memencet tombol lift
"Sakit mata lihat kamu kecentilan dengan wanita itu. Apa itu ngobrol sampai lama amat. Sudah berapa lama ngobrol di sana dia," oceh Risya yang marah-marah pada Arga.
Arga hanya tersenyum miring yang mengerti bahwa Risya sekarang cemburu dan pasti gara-gara wanita tadi.
"Pake senyum-senyum lagi," sahut Risya dengan kesal pada Arga. Namun Arga tersenyum dan langsung menarik pinggang Risya sampai tubuh Risya tertabrak dada Arga dengan wajah mereka yang berdekatan dan seperti biasa wajah Risya panik dan kalau sudah kesal pasti bawaannya ingin memberontak terus.
"Lepas tidak!" geram Risya dengan matanya melotot.
"Kenapa sih kerjanya marah-marah terus. Sudah pergi makan siang dan tidak tanya suaminya sudah makan apa belum. Datang-datang langsung marah," ucap Arga dengan lembut yang menatap Risya dalam-dalam dan terus memajukan wajahnya dan Risya yang memundurkan kepalanya.
"Itu karena kamu menyebalkan. Tadi aku ada rencana mau membelikan mu makan. Tapi nggak jadi. Sana minta makan sama wanita itu," kesal Risya dengan wajah galaknya.
"Jadi ceritanya sekarang cemburu!" goda Arga. Risya terdiam dan memalingkan wajahnya yang tidak mau melihat Arga.
Arga mendengus dengan tersenyum lalu memegang dagu Risya dan mensejajarkankan kembali wajah Risya.
Cup.
"Kamu!" geram Risya.
"Aku sangat suka melihat kamu cemburu seperti ini, terlihat sangat cantik dan sangat manis," ucap Arga dengan suara lembutnya yang menatap dalam-dalam Risya.
"Risya aku tidak mungkin tertarik dengan wanita manapun mau dia secantik apa dan juga punya tubuh yang perfect aku tidak akan tertarik. Karena di pikiranku dan di hatiku hanya ada kamu. Kamu adalah pemilik ku," ucap Arga yang mengeluarkan kata-kata mautnya.
Ting.
Pintu lif terbuka.
"Bohong," Ketus Risya dan mendorong Arga yang ingin keluar dari lift namun Arga menarik tangan Risya dan memegang kedua pipi Risya yang langsung mencium bibir Risya.
Risya tidak bisa menolak dengan Arga yang sudah curi strat terlebih dahulu dan mau tidak mau Risya harus menerima ciuman suaminya itu. Ciuman yang semakin dalam dan keduanya yang sama-sama bermain dalam ciuman hangat itu.
Pintu lif terbuka dan biasa ada beberapa karyawan yang menunggu di depan pintu lift dan Karyawan hanya di suguhkan dengan pasangan suami-isteri yang memiliki dunianya sendiri berciuman dengan panas dengan sama-sama menikmati.
Karyawan yang melihat adegan seperti di drama Korea itu hanya menghela napas dan pergi dari depan lift dan pintu lift yang kembali terbuka. Dan pasangan itu terus berciuman dan tidak tau sampai kapan selesai mereka berciuman.
***********
__ADS_1
Setelah tadi sempat ada adegan-adegan cemburu, kesal dan di akhiri dengan berciuman di dalam lift. Sekarang pasangan itu bukannya kerja malah romantis-romantisan di dalam ruangan Arga. Di mana sekarang Arga yang berbaring di sofa di paha istrinya.
Dengan Risya yang mengelus-elus rambut Arga. Pasangan itu sebentar lagi akan di keluarkan dari Perusahaan. Jika pekerjaannya hanya bucin terus.
"Kalau meeting atau ada pertemuan klien wanita, ajak -ajak aku," ucap Risya.
"Untuk apa?" tanya Arga.
"Ya supaya mereka tau kalau kamu sudah menikah," jawab Risya.
"Atau jangan- jangan kamu sering ngaku kali ya. Kalau kamu itu belum menikah yang artinya kamu ingin memberi peluang untuk para wanita-wanita gatal di luar sana!" tuduh Risya dengan penuh curiga.
"Kok posesif amat sih," gumam Arga melihat istrinya itu.
"Iya apa tidak?" tanya Risya.
"Ya nggak dong Risya. Buat apa ngaku aku itu belum menikah. Lagian kalau di tanya ya aku jawab apa adanya dan kalau tidak di tanya ya aku tidak mungkin promosi," jelas Arga.
"Benar?" tanya Risya ingin memastikan.
"Iya Risya, kamu ini ya," ucap Arga dengan suara yang berirama.
"Awas aja kalau kamu cari-cari kesempatan buat dekat-dekat dengan wanita lain, kamu liat aja nanti kalau itu terjadi aku itu bakal...."
"Bakal apa?" tangan Arga yang ingin tau kelanjutannya.
"Potong barang berharga kamu," jawab Risya kesal.
Arga melotot sampai kesulitan menelan salivanya dengan ancaman Risya yang mengerikan.
"Risya kamu kira-kira dong kalau ngomong," ucap Arga yang rada-rada takut.
"Ya makanya jangan bertingkah," ucap Risya.
"Iya-iya, tidak akan," sahut Arga.
"Hmmm, bye the way kamu kok tadi manggil aku bubu apa itu maksudnya?" tanya Arga mengingat yang terjadi tadi.
"Emang nggak boleh panggil suaminya bubu. Itu kan panggilan sayang kita waktu pacaran," sahut Risya membuat Arga tersenyum.
"Jadi sekarang kita manggil bubu dan bubu?" tanya Arga. Risya mengangguk.
"Yakin?" tanya Arya.
"Iya bubu," sahut Risya dengan manja. Arga hanya berdecak mendengar ucapan Risya yang kelewat kadang-kadang memang agak-agak berlebihan.
__ADS_1
Bersambung