
Syrala dan Risya Sekarang berada di luar Restauran. Mereka sudah selesai makan siang dan Boy juga sudah pulang duluan.
"Kamu ya Risya bikin malu aku aja tadi," ucap Syrala dengan kesal.
"Kok jadi nyalahin aku sih. Seharusnya sekarang aku yang introgasi kamu. Ayo cepat jujur apa yang terjadi sebenarnya. Berbohong pada teman sendiri demi makan siang dengan Boy. Pasti ada sesuatu yang tidak beres iya kan?" tanya Risya menatap Syrala dengan penuh selidik.
"Apa sih kamu. Nggak jelas," sahut Syrala yang tampak mengelak.
"Issss Syrala sudah jujur aja. Ada apa. Kenapa kamu itu nggak jujur sama aku kalau kamu itu sedang makan sama Boy. Seakan takut kalau aku akan mengganggu kalian berdua," ucap Risya.
"Bukan itu Risya maksudnya. Hanya saja ya aku..."
"Aku apa," sahut Risya memotong pembicaraan Syrala.
"Argghhh, sudahlah nggak usah di bahas," sahut Syrala yang pusing sendiri
"Apa sih kamu itu," sahut Risya geleng-geleng.
"Jangan bilang kamu sama Boy lagi ada pendekatan ya untuk melebihi hubungan pertemanan," tebak Risya mencurigai sahabatnya.
"Kalau iya kenapa memang tidak boleh," sahut Syrala yang keceplosan membuat Risya langsung tersenyum.
"Ya maksud aku," Syarla yang panik berusaha untuk melarat kata-katanya.
"Udahlah Syarla nggak usah di tutupi lagi. Aku mengerti kok maksud kamu dan memang jelas tidak ada yang salah. Hal itu wajar," sahut Risya merangkul bahu temannya itu.
Wajah Syrala jangan di tanya sudah memerah karena Risya yang akhirnya tau.
"Kamu suka ya sama Boy!" tebak Risya.
"Apa sih," sahut Syrala malu-malu.
"Begini ya Syrala. Kalau suka sama Boy itu wajar. Karena perasaan itu tidak pernah salah. Hanya saja aku memberi kamu saran untuk kamu kalau memang suka langsung di ungkapin. Jangan seperti Boy yang suka dengan seseorang. Tetapi tidak di ungkapin dan akhirnya sakit hati sendiri. Jadi jangan mengulang hal yang sama. Kalau memang suka sama Boy katakan saja padanyanya," ucap Risya yang memberi saran pada temannya itu.
Syrala mendengarnya hanya diam dengan Syarla yang pasti malu-malu. Karena Risya sangat cepat paham dengan apa yang di rasakan Syrala.
"Udahlah Risya nggak usah di bahas," ucap Syrala.
"Isss kenapa," sahut Risya.
"Yang penting Syrala aku mendoakan yang terbaik untuk kamu dan semoga saja kamu dan Boy bisa menjalin hubungan lebih dari sahabat dan pasti aku mendukung kamu," ucap Risya yang memberikan semangat dan dukungan untuk sahabatnya itu yang membuat Syrala tersenyum.
__ADS_1
"Isssss senyum-senyum. Senyum kasmaran lagi," goda Risya.
"Apa sih," sahut Syrala yang malu-malu dengan wajahnya yang memerah.
*********
Setelah bertemu dengan Syrala. Risya kembali kekantor dan langsung memasuki ruangan suaminya dengan Risya membawa kantung plastik.
Saat membuka pintu Risya melihat Arga yang duduk di Sofa dengan dasi yang di longgarkan dan kancing baju bagian atas yang terbuka yang sepertinya Arga tampak kesal plus lelah dan juga terlihat kesal dan tidak tau apa yang terjadi.
"Sayang kamu sudah selesai meetingnya?" tanya Risya masih selow saja.
"Aku bawa makanan untuk kamu," ucap Rusyd yang langsung melangkah mendekati Arga.
"Makan sore maksudnya?" tanya Arga dengan suara datarnya.
"Hah, bagaimana bisa makan sore. Ini baru jam," sahut Risya melihat jam tangan di suaminya.
Mata Risya melotot saat menunjukkan pukul setengah 4. Risya langsung melihat Arga dan Arga melihat Risya dengan mengangkat ke-2 alisnya. Risya lupa waktu karena ke asyikan mengobrol bersama Boy dan Syarla. Mereka makan siang bersama dan selesai makan bukannya Risya balik kekantor malah lanjut ngobrol sama Syarla.
"Sayang!" lirih Risya dengan wajahnya yang penuh merasa bersalah.
"Jadi sekarang mau kasih makan siang apa sore?" tanya Arga dengan wajah seriusnya.
"Ngobrol sampai lupa sama suami yang kelaparan," kesal Arga.
"Ya kamu juga kenapa tidak cari makan sendiri kalau sudah tau aku belum datang," ucap Risya yang mencari pembelaan.
"Oh iya. Jika aku melakukannya. Kamu akan ngambek sampai berhari-hari," sahut Arga.
Memang bisa saja dia lanjut makan. Karena Risya tidak datang. Masalahnya dia sudah janji dengan Risya dan kalau dia mengingkarinya Risya akan ngambek parah.
"Ya kan," sahut Risya.
"Udah nggak usah bicara lagi," sahut Arga semakin kesal.
"Sayang maafin aku jangan marah dong," ucap Risya yang merasa berdosa.
"Kamu harus mendapatkan hukuman," ucap Arga membuat Risya mengkerutkan dahinya.
"Pertama, kamu sebagai karyawan di Perusahaan ini, kembali ke kantor terlambat dan ke-2 kamu juga membiarkan suamimu tidak makan. Jadi hukuman kamu akan double," tegas Arga.
__ADS_1
"Sayang kenapa pakai di hukum segala kan aku istri kamu dan aku juga tidak sengaja," ucap Risya.
"Kali ini tidak ada toleransi untuk kamu dan kamu harus benar-benar di beri hukuman supaya kamu jera dan tidak ceroboh," ucap Arga dengan tegas.
"Ya udah hukumannya apa," sahut Risya yang mengalah.
"Untuk seminggu kedepan. Kamu harus mengerjakan pekerjaan Novi, mengatur jadwalku," ucap Arga.
"Menggantikan sebagai sekretaris?" tanya Risya.
"Iya," jawab Arga.
"Jangankan seminggu seumur hidup pun aku mau jadi sekretaris kamu," sahut Risya dengan tersenyum lebar yang menerima hukuman itu dengan berbesar hati.
"Aku serius Risya!" ucap Arga dengan wajah seriusnya.
"Aku juga serius," jawab Risya dengan santai.
"Dan untuk hukuman ke-2," sahut Arga.
"Ada lagi?" tanya Risya heran.
"Iya," jawab Arga.
"Apa?" tanya Risya.
"Hukuman sebagai istri dan itu akan kita bicarakan di rumah," ucap Arga.
Risya tersenyum mendengarnya dan menatap Arga dengan matanya yang sipit.
"Ada apa?" tanya Arga heran dengan tanggapan istrinya itu.
"Sudahlah sayang kamu itu jangan pakai bawa-bawa hukuman. Kalau memang ingin hal itu. Minta saja dengan baik. Maka akan aku berikan tidak perlu bawa-bawa hukuman yang ujung-ujungnya mengarah ke arah sana," ucap Risya dengan mengedipkan sebelah matanya yang pasti otak Arga mengarah ke arah sana.
"Aku serius Risya," sahut Arga dengan wajahnya yang tampak dingin.
"Isssss wajah kamu seperti itu sangat menyeramkan. Aku jadi takut tau," ucap Risya yang masih santai dengan menganggap Arga becanda.
Arga dengan keseriusannya memegang dagu Risya dan mendekatkan wajahnya pada Risya dengan jarak dekat.
"Aku tidak main-main Risya dengan apa yang aku katakan," ucap Arga dengan tatapannya yang begitu dalam.
__ADS_1
"Sayang kamu seperti ini sangat menyeramkan. Namun tiba-tiba membuatku dek-dekan," ucap Risya yang tersenyum dengan melihat wajah dingin Arga.
Bersambung