
Tidak tau apa yang di lakukan. Anak dan ke-2 orang tuanya pada menantu kesayangan mereka. Yang hasilnya Risya berada di dalam mobil yang duduk di sebelah Arga yang sedang menyetir. Dan juga ada Dehway dan Salmah duduk di jok belakang.
Namun kondisi mobil kelihatan sangat hening. Tidak ada pembicaraan. Apa lagi Risya yang sejak tadi diam saja dengan melihat kearah jendela mobil dengan wajahnya yang tampak begitu murung.
Arga menoleh kearah istrinya dan memegang tangan sang istri. Mencium punggung tangan itu. Risya tidak merespon apa-apa dan tetap pandangannya ke luar jendela. Mungkin Risya terpaksa ikut pada Arga. Tetapi Arga juga yakin Risya sebenarnya ingin sekali bertemu dengan Hariyanto. Ingin mengetahui kondisi Hariyanto.
Melihat Risya dan Arga yang seperti itu membuat Salmah dan Dehway saling melihat. Mereka ikut sedih dengan keadaan menantu mereka.
"Risya kita mau ke Mall dulu atau mau ke rumah sakit dulu?" tanya Salmah yang mengalihkan keheningan.
"Terserah mama dan papa aja," jawab Risya.
"Hmmmm ya sudah kita ke rumah sakit aja dulu dan setelah itu baru kita ke Mall," sahut Salamah.
Risya tidak menanggapi lagi dengan apa yang di katakan Salmah.
"Papa punya keinginan untuk membelikan Mall untuk Risya," sahut Dehway.
Dia melakukan apa saja untuk membuat menantunya itu bahagia. Namun untuk sekarang itu tidak penting bagi Risya. Bahkan tidak kepikiran lagi bagi Risya. Karena sekarang pikiran Risya tidak menentu sekarang.
Arga sebagai suami sangat mengerti dengan apa yang di rasakan istrinya. Namun mempunyai orang tua yang sangat mensuport dirinya membuat Arga sangat beruntung dan merasa tidak sendirian. Melakukan yang terbaik untuk istrinya, menghibur istrinya dan meyakinkan istrinya.
Jadi Arga sangat bahagia mempunyai orang tua seperti Salmah dan Dehway. Sebenarnya Risya juga pasti tidak enak dengan eforf ke-2 orang tuanya yang seperti itu. Tetapi dia juga butuh waktu untuk kondisi hatinya yang galau.
**********
Rumah sakit.
Akhirnya mereka sampai di rumah sakit dan mereka keluar dari mobil.
__ADS_1
"Ayo sayang!" ajak Arga dengan menggenggam tangan Risya. Risya hanya mengangguk dengan menghela napasnya. Mereka menuju ruang perawatan Hariyanto. Sama dengan Salmah dan Dehway yang juga langsung menyusul.
Tiba akhirnya mereka semua sampai di depan ruang perawatan Hariyanto. Langkah Risya terhenti ketika berada di depan ruangan itu saat Arga membuka pintu ruangan itu.
"Sayang! Ayo!" ajak Arga dengan lembut. Perasaan dan hatinya tidak bisa tenang. Hanya dia dengan kegundahan hatinya yang sangat berat melangkah.
"Hey kita sudah sampai di sini dan tidak mungkin kita pulang lagi. Jadi sekarang ayo kita masuk. Papa dan mama ada di dalam. Mereka menunggu kamu," ucap Arga dengan lembut membujuk Risya.
"Ayo sayang kita masuk!" ajak Arga lagi. Salmah dan Dehway saling melihat.
"Ayo Risya kita masuk ya," ucap Salmah mengusap bahu Risya dengan lembut sampai akhirnya Risya pun mau masuk.
Jantung Risya berdetak sangat kencang saat pintu itu terbuka. Tangannya yang di genggam Arga begitu dingin. Tubuhnya sangat menolak untuk melangkah ke dalam ruangan itu.
"Risya!" lirih Tantri yang duduk di samping Hariyanto. Hariyanto yang masih dalam keadaan koma dengan semua alat medis melekat di tubuhnya.
"Papa kamu nak! Kondisinya sangat parah nak. Papa kamu sakit nak. Papa kamu tidak sadar sampai sekarang," Tantri menangis memeluk tubuh Risya yang sangat kaku. Risya diam dan tanpa membalas pelukan itu. Matanya yang kosong melihat orang yang sangat di idolakannya itu yang mengecewakan hatinya sekarang tidak berdaya di atas tempat tidur.
Tidak ada air mata yang jatuh saat melihat kondisi Hariyanto yang memprihatinkan. Mungkin hatinya yang sakit sudah tertutup karena rasa sakit yang di terimanya.
Tantri melepas pelukan itu dan melihat Risya yang hanya diam dengan wajah datarnya.
"Mama senang kamu bisa datang. Pasti papa kamu sangat merindukan kamu. Ayo nak bicara pada papa kamu!" ajak Tantri memegang tangan Risya dan membawa Risya mendekati ranjang tersebut.
Namun kali Risya tetap pada tempatnya. Tidak bergerak sama sekali seolah ada magnet yang menempel, membuat Tantri menoleh ke belakang dan melihat putrinya itu seperti orang linglung.
"Risya!" lirih Tantri yang mendapatkan penolakan dari Risya.
"Aku mau ke toilet," ucap Risya dengan suara beratnya. Melepas tangannya dari Tantri dan langsung keluar dari tempat itu.
__ADS_1
"Risya!" panggil Arga yang langsung ke luar untuk menyusul Risya. Sementara Tantri yang sedih dengan tindakan Risya.
"Mbak, sabar ya. Yang penting Risya sudah datang dan kita pelan-pelan yang membantu Risya. Kita juga jangan menekannya," ucap Salmah yang berusaha membuat Tantri mengerti.
"Iya mbak. Aku yakin ini sangat tidak mudah untuk Risya. Aku juga tidak punya hak untuk memaksanya dan aku memaklumi perasaan Risya," sahut Tantri.
"Kita semua sama-sama menguatkan Risya ya," ucap Dehway. Tantri mengangguk dan berpelukan dengan Salmah.
********
"Risya!" panggil Arga yang mengejar istrinya dan langkah Risya terhenti yang akhirnya langsung menangis dengan menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya. Arga menghela napasnya dan menghampiri istrinya itu.
"Sayang!" lirih Arga yang langsung memeluk Risya.
"Itu pasti hanya sandiwara. Bukannya selama ini dia itu menipu aku dan mama. Dia pasti hanya berpura-pura saja," Risya menangis senggugukan di pelukan Arga.
Melihat kondisi Hariyanto yang sangat parah membuat Risya pasti takut terjadi sesuatu. Tetapi rasa sakit hatinya membuatnya hanya beranggapan Hariyanto berpura-pura. Karena rasa kepercayaan Risya yang sudah hilang selama ini.
"Dia berpura-pura Arga. Aku yakin itu dia tidak sakit, dia tidak sakit," lagi-lagi kata-kata itu di keluarkan Risya dari mulutnya.
"Papa tidak berpura-pura sayang. Papa memang sakit dan dia sangat merindukan anak kesayangannya," ucap Arga.
"Aku bukan anaknya. Jika dia sayang padaku. Dia tidak akan menginginkan anak dari wanita lain. Aku bukan anaknya," ucap Risya sampai detik ini Risya tidak menerima kenyataan itu.
"Kau mengerti perasaan kamu. Papa juga menyesali semuanya dan kamu tidak boleh marah berlebihan pada papa. Semua orang punya kesalahan. Tetapi kesalahan papa mungkin sangat berat. Mama yang hidup bersamanya puluhan tahun, sebelum ada kamu dan sampai kamu sudah besar. Mama memberi pintu maaf untuk papa. Sayang mungkin maaf tidak mudah dan aku tidak memaksa kamu untuk memaafkan papa,"
"Tetapi paling tidak berada lah di sisinya. Dan dengarkan lah penjelasannya. Jika dia bangun maka jangan pergi. Kesalahan papa ga sangat besar tidak harus menutup beribu kebaikan papa ke pada kamu. Dia tetap orang tua kamu dia tetap ayah kamu dan dia tetap ayah yang kamu banggakan," ucap Arga yang berusaha membuat istrinya mengerti. Risya hanya menangis di pelukan Arga yang mengeluarkan semua apa yang masih terpendam.
Bersambung
__ADS_1