
"Oke bagaimana susunannya cocok?" tanya Arga.
"Cocok bagus kok. Tapi kita masih perlu beberapa barang dan perabotan. Karena di rumah ini belum lengkap," ucap Risya.
"Baiklah kita akan belanja perabotan rumah kamu list aja apa-apa aja yang perlu," sahut Arga.
"Oke," sahut Risya kalau sudah soal belanja pasti semakin semangat.
"Kamu bawa kartu yang aku berikan waktu itu kan?" tanya Arga.
"Belanjanya pakai itu?" sahut Risya.
"Iya," jawab Arga santai.
"Issss sama aja," sahut Risya kesal.
"Sekali-kali tidak ada salahnya. Kapan lagi kamu mau pake uang itu," sahut Arga dengan melap keringatnya.
"Tetapi itu sudah milikku dan aku pakai untuk keperluanku. Masa iya untuk rumah juga harus pakai uang itu kan jumlahnya pasti banyak," oceh Risya yang kalau masalah uang pasti perhitungannya.
Arga menghela napasnya perlahan kedepan dengan berkacak pinggang.
"Oke-oke jangan marah. Pake uangku. Kamu itu ya apa-apa harus perhitungan. Nggak mau rugi," sahut Arga mengalah yang membuat Risya tersenyum.
"Hmmm, baiklah gitu dong," sahut Risya dengan santai yang merasa lega uangnya nggak jadi di pake.
"Alu beli cemilan ya," sahut Risya.
"Boleh," sahut Arga, "kamu beli di mana?" tanya Arga.
"Di sebrang apartemenkan ada jualan," jawab Risya.
"Ya sudah terserah kamu saja," jawab Arga.
"Baiklah aku pergi dulu," sahut Risya.
"Perlu pake uangku?" tanya Arga yang tau Risya orang yang paling tidak mau rugi.
"Udah kalau hanya untuk cemilan pake uangku saja," sahut Risya dengan santai dan langsung pergi.
"Tumben," gumam Arga yang kembali melanjutkan pekerjaannya dan Risya yang keluar apartemen untuk membeli cemilan untuk mereka makan. Karena pasti lelah juga seharian beres-beres dan tidak makan apa-apa.
Ke-2nya kadang kompak, kadang ribut. Begitulah kalau sudah kenal lama. Pasti ada saja yang mereka lakukan berdua yang kadang-kadang manis, kadang-kadang perang dan kadang-kadang juga saling mengejek satu sama lain. Itulah pernikahan yang unik.
********
Risya pun membeli beberapa cemilan dan minuman di mini market yang ada di depan Apartemen. Kalau soal makanan tidak Maslaah bagi Risya membeli pakai uangnya. Tapi kalau peralatan rumah itu sangat tidak mungkin karena pasti mengeluarkan banyak uang. Jadi Risya tidak akan mau melakukan hal itu. Namanya juga wanita jadi harus perhitungan.
Risya memilih-milih makanan dan memasukkan kedalam keranjangnya.
"Apa lagi ya yang harus di beli," gumamnya yang bingung karena semua sudah di masukkannya keandalan keranjangnya dan tidak tau harus memasukkan yang mana lagi.
__ADS_1
"Risya!" tiba-tiba ada yang menegur Risya dan suaranya sangat tidak asing membuat Risya berbalik badan dan melihat siapa yang menegurnya.
"Mama!" lirih Risya yang ternyata Salmah mama mertuanya.
"Kamu sedang apa?" tanya Salmah.
"Oh ini mah. Lagi beli beberapa makanan untuk di apartemen," jawab Risya.
"Kamu tinggal di apartemen sekarang?" tanya Salmah heran.
"Iya mah. Apartemen Arga yang di depan," jawab Risya.
"Alhamdulillah ya kamu sama Arga sudah baikan. Mama senang mendengarnya," sahut Salmah mengusap bahu Risya.
"Oh iya mama sendiri sudah pulang?" tanya Risya.
"Pulang! Maksudnya pulang dari mana?" tanya Salmah heran.
"Dari Luar Negri," jawab Risya.
Salmah mengkerutkan dahinya yang bingung dengan pertanyaan Risya.
"Siapa yang dari Luar Negri. Mama tidak dari mana-mana," jawab Salmah.
"Jadi mama tidak pergi kemana-mana?" tanya Risya memastikan.
"Tidak! Mama di rumah terus sama dengan papa dan semenjak aniversary kami kemarin. Kami belum pergi sama sekali. Memang ada rencana mau ke Luar Negri. Tetapi itu masih rencana dan rencana mau ngajak kamu sama Arga. Tetapi kan kalian lagi masih tibet hubungannya. Jadi di tunda dulu," ucap Salmah dengan santai dan apa adanya.
"Risya kamu kenapa?" tanya Salmah heran dengan perubahan ekspresi Risya.
"Tidak apa-apa kok mah, lagi pengen aja mengkulitu seseorang," jawab Risya dengan wajahnya penuh dendam.
"Maksudnya?" tangan Salmah heran.
"Tidak ada maksud apa-apa mah. Ya sudah kalau begitu Risya pergi dulu ya, soalnya sudah tidak sabar," jawab Risya mencium punggung tangan Salmah dan langsung buru-buru pergi.
"Ada apa lagi, siapa yang mau di kulitnya?" Salmah bertanya-tanya dengan kebingungan.
"Arghhh, sudahlah biarkan saja. Yang penting hubungan Risya dan Arga sepertinya sudah membaik dan itu kabar yang sangat bagus. Aku berharap anak dan menantuku itu terus akur," batin Salmah dengan penuh doa dan harapannya untuk anak dan menantunya.
***********
Akhirnya Risya kembali Apartemen dan sudah membuka pintu dan melihat Arga yang memajang foto besar. Di mana foto pernikahan mereka di dingding yang tempatnya sangat cocok.
"Eh Risya kamu sudah pulang! Coba kamu lihat Bagaimana ini cocok tidak?" tanya Arga yang memperlihatkan foto itu. Namun Risya hanya diam dengan ke-2 tangannya yang memegang kantung plastik di kiri dan kanan.
"Risya kamu baik-baik aja?" tanya Arga tanpa dosa. Melihat wajah Risya seperti orang yang kerasukan.
"Kamu seperti ketempelan. Lihat wajah kamu sangat menyeramkan. Padahal ini masih siang. Ada saja yang menempel padamu," seloroh Arga dengan enaknya tertawa-tawa kecil dan Risya sudah seperti orang yang ingin menerkam.
Namun dengan sekejap tawa Arga hilang ketika melihat memang Risya seperti orang yang terjadi sesuatu.
__ADS_1
"Kamu tidak kenapa-kenapa kan Risya?" tanya Arga heran.
"Kau sangat menyebalkan!" teriak Risya dengan suara menggelegar dan langsung menjatuhkan belanjaannya yang berjalan cepat menuju Arga dan membuat Arga panik.
Risya langsung memukul-mukul Arga dengan Arga yang berlindung dengan tangannya.
"Risya apa yang kau lakukan. Kau benar-benar kesurupan. Risya aku ini suamimu," ucap Arga yang mengatai Risya kesurupan.
"Kau yang kesurupan brengsek!"
"Tukang kibul!"
"Tukang drama!"
Risya mengoceh terus sembari memukuli Arga tanpa ampunan.
"Apa yang kau katakan Risya aku tidak mengerti siapa yang aku bohongi?" tanya Arga heran dan berusaha untuk menangkap ke-2 tangan Risya dan berhasil membuat Risya berhenti.
Wajah Arga dan rambutnya terlihat berantakan dengan napasnya yang naik turun yang sangat lelah menghadapi Risya.
"Risya tenang dulu. Kamu jangan asal-asalan main serang aja. Kami itu kenapa. Katakan kepadaku dengan baik-baik," ucap Arga dengan sesak napasnya.
"Kau itu membodohiku. Kau bilang mama dan papa ke Luar Negri tapi apa buktinya mereka tidak ke Luar Negri," ucap Risya menegaskan membuat Arga terdiam dengan menghela napas berat.
"Kau itu pembohong!" umpat Risya yang ingin marah lagi.
"Aku menemui mama di mini market," lanjut Risya.
"Eh Risya itu, mungkin mama sudah pulang," sahut Arga yang masih mengelak.
"Tapi mama dan papa tidak mengatakan ke Luar Negri!" tegas Risya dengan penuh penekanan yang sungguh emosi dengan Arga.
"Risya kamu tenang dulu!" sahut Arga yang sudah ketahuan berbohong.
"Alasan saja. Aku benar-benar membencimu!" Risya kembali menyerang Arga. Sampai Arga yang berada di pinggir sofa akhirnya terjatuh dan Risya pun ikut tertarik yang akhirnya jatuh di atas dada bidang Arga dengan wajah mereka yang saling berhadapan.
"Kau!" geram Risya yang ingin bangkit namun Arga menahannya.
"Baiklah aku jujur. Aku memang bohong. Mama dan papa tidak ke Luar Negri dan aku bohong," ucap Arga.
"Kau itu benar-benar sangat suka membohongiku," ucap Risya kesal.
"Itu karena aku ingin dekat dengan kamu. Aku tidak mau pulang dan hanya mau di rawat istriku dan makanya aku bohong," jelas Arga.
"Tetap saja kamu itu menyebalkan!"
"Memuakkan, tulang bo...mpt," mulut Risya berhenti mengoceh ketika mulutnya di bungkam Arga dengan ciuman yang membuat Risya kaget.
Ingin memberontak. Namun tidak akan di biarkan Arga dan Risya pun luluh dalam ciuman itu dengan Risya memejamkan matanya yang menerima ciuman dari Arga. ciuman pertama setelah mereka bertengkar.
Bersambung
__ADS_1