
Angela yang keluar dari kamar mandi yang masih ada di Mall tersebut. Angela berencana ingin pulang saja. Karena semakin melihat kebersamaan Edo hanya membuatnya sakit saja. Jadi sebaiknya dia pulang saja dengan Angela yang menghela napasnya dengan berat.
"Angela!" tiba-tiba terdengar suara yang membuat langkah Angela terhenti dan Angela membalikkan tubuhnya yang ternyata Boy yang memanggil Angela.
"Boy," sahut Angela yang heran melihat Boy dan Boy langsung mendekati Angela.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Boy.
"Oh aku tadi ada ketemu klien di sini," jawab Angela yang pasti bohong.
"Kamu sendiri ngapain di sini?" tanya Angela balik.
"Kebetulan ada urusan di sini," jawab Boy.
"Oh gitu," sahut Angela.
"Kamu sudah mau pulang belum?" tanya Boy.
"Hmmm, sudah," jawab Angela.
"Kamu bawa mobil?" tanya Boy.
"Iya bawa," jawab Angela.
"Boleh numpang tidak. Soalnya aku tadi sama teman kemari dan dia pulang duluan," jelas Boy
"Teman kamu tidak bertanggung jawab," ucap Angela.
"Ya begitulah. Jadi bagaimana aku boleh numpang apa tidak dari pada naik Taxi," ucap Boy.
"Ini kalau pedagang pasti hitungan. Ya sudah ayo," sahut Angela yang tidak masalah.
"Makasih," sahut Boy yang kesenangan.
"Tapi harus bayar ongkos ya," seloroh Angela.
"Berapa sih bayarannya," sahut Boy menantang.
"Issss sok orang kaya," sahut Angela membuat Boy tersenyum dan mereka langsung pergi. Saat ingin ke parkiran Boy melihat, Edo, Tasya dan Putri yang masih makan.
"Angela bukannya itu Edo?" tanya Boy sampai menghentikan langkahnya.
"Sudah ayo jangan di lihati," sahut Angela yang menarik tangan Boy.
"Kenapa?" tanya Boy yang tangannya masih di tarik paksa.
__ADS_1
"Ya tidak apa-apa. Sudah ayo buruan. Kamu yang nyetir," ucap Angela yang mungkin malas membahas Edo dan Boy hanya bingung saja dengan apa yang di lihatnya yang seharusnya dia tidak perlu bingung sebenarnya. Karena Angela pernah menjelaskan hal itu sebelumnya.
*******
Syrala dan Risya berada di dalam mobil yang sekarang sedang menunggu macet.
"Aduh kapan sih kota Jakarta ini tidak macet lagi," oceh Risya.
"Namanya juga Jakarta," sahut Syrala yang memang itu bukan pertanyaan dan tidak seharusnya Risya mempermasalahkan hal yang akan sulit di ubah.
"Ya paling tidak ada perubahan dong masa iya mau kayak gini terus," ucap Risya.
"Ya sudah Risya. Kamu yang jadi presidennya," sahut Syrala.
"Menanggung beban sendiri aja sulit. Masa iya menanggung beban Negara," ucap Risya.
"Ya makanya jangan komplen mulu," ucap Syrala geleng-geleng.
"Iya deh," sahut Risya, "aku chat Arga dulu dia sudah selesai kerja belum," gumam Risya yang mengambil ponselnya dan dari pada bosan menunggu macet. Mending dia menghubungi suaminya.
Dan Syrala yang melihat keluar jendela yang juga lumayan jenuh menunggu macet. Namun tiba-tiba pandangan mata Syrala melihat ke sebrang jalan ternyata ada Boy dan Angela yang makan berdua.
Makan nasi goreng abang-abang yang sering Syrala dan Boy makan. Mata Syrala tidak henti melihat Boy dan Angela yang sembari ke-2 orang itu tertawa-tawa.
"Syrala ponsel kamu bagaimana?" tanya Risya yang melihat Syrala bengong dan Risya pun melihat ke arah mana mata Syrala yang ternyata ke arah Boy dan Angela.
Risya kembali melihat ke arah Syrala yang melihat kecemburuan dengan jelas di wajah Syrala. Namun Risya tidak bisa mengatakan apa-apa karena situasi itu memang pasti sulit dan ke-3nya adalah sahabatnya.
Syrala menghela napasnya dan mengalihkan pandangannya kembali kedepan.
"Kamu tanya apa tadi?" tanya Syrala yang pura-pura tidak terjadi apa-apa.
"Sinyal," jawab Risya.
"Kamu lihat sendiri di ponselku. Aku mau tidur kalau sudah sampai rumah. Kamu banguni aku ya," ucap Syrala yang senderan pada jok mobil dan memejamkan matanya dengan ke-2 tangannya di silangkan di dadanya.
Risya hanya diam yang juga menghela napasnya.
"Aku sudah bisa menduga apa terjadi pada Boy akan terjadi pada Syrala dan mungkin ini sulitnya kalau punya perasaan yang terpendam," batin Risya yang jadi pusing harus melakukan apa untuk ke-3 sahabatnya itu.
********
Setelah mengantarkan Boy pulang Angela kembali pulang kerumahnya. Namun ada mobil yang berhenti di rumahnya membuat Angela heran dengan pria yang di kenalnya berdiri di samping mobil dengan gelisah.
"Mas Edo," gumam Angela yang melihat Edo dan Angela langsung keluar dari mobilnya.
__ADS_1
"Mas Edo!" tegur Angela membuat Edo melihat ke arah suara tersebut dan Edo tersenyum melihat ke datangan Angela. Edo langsung menghampiri Angela dan langsung memeluknya.
Pelukan itu sudah seperti pelukan yang sangat merindukan dan jujur Angela juga begitu merindukan Edo sampai memeluk Edo dengan mata Angela yang terpejam. Perasaannya memang tidak bisa bohong jika dia sangat merindukan kekasihnya itu.
Lama berpelukan akhirnya mereka saling melepas dan Edo memegang ke-2 pipi Angela dengan mencium lembut kening Angela.
"Kamu tidak mengangkat teleponku," ucap Edo dengan suara beratnya.
"Ponselku mati," jawab Angela.
"Ada apa mas. Kenapa tumben sekali datang kemari?" tanya Angela.
"Aku sangat merindukanmu Angela. Aku merasa kita tidak pernah punya waktu untuk bersama. Maafkan aku kamu pasti mengalami hal sulit belakangan ini," ucap Edo yang tau apa yang di lakukannya membuat Angela yang hanya berkorban banyak.
"Ya memang sulit dan terkadang mulai bimbang," jawab Angela jujur apa adanya dengan apa yang dirasakannya.
"Bertahanlah Angela," ucap Edo.
"Iya mas, dengan kamu yang tiba-tiba datang padahal sudah selarut ini dan aku juga tau kamu pasti capek aku sudah bahagia dan tidak ada alasanku untuk tidak bertahan," ucap Angela dengan matanya berkaca-kaca.
"Makasih Angela," ucap Edo Angela menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah ini sudah malam. Kamu sebaiknya pulang. Kasihan Putri menunggu di rumah," ucap Angela.
"Putri tidak di rumah," ucap Edo.
"Kemana? Apa dia menginap di tempat Tasya," tebak Angela. Edo menggelengkan kepalanya.
"Lalu Putri kemana?" tanya Angela.
Edo meraih tangan Angela dan mengajak Angela berjalan menuju mobil. Angela hanya bingung namun tetap mengikut dan Edo membuka pintu mobi dan Angela melihat ke dalam ternyata ada Putri yang duduk di samping kursi pengemudi.
"Putri ikut sama kamu," ucap Angela pasti kaget.
"Dia memaksa ikut saat aku bilang mau ketemu kamu. Padahal dia sangat mengantuk dan pasti capek. Tetapi dia tetap ikut dan akhirnya ketiduran di mobil. Seperti Putri Sanga merindukan kamu," ucap Edo yang membuat Angela terharu melihat Putri.
"Angela aku tidak mau membuat Putri kehilangan waktu yang sia-sia terbuang. Saat dia bangun tetapi tidak melihat kamu. Kalau kamu tidak keberatan. Apa aku boleh menginap di sini bersama Putri?" tanya Edo.
"Kamu mau menginap di sini?" tanya Angela.
"Aku dan Putri sama-sama merindukan kamu," ucap Edo.
"Baiklah," sahut Angela membuat Edo tersenyum yang merasa lega bisa menghabiskan waktu bersama Putri dan Angela.
Bersambung.
__ADS_1