MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!

MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!
Episode 174 Kesepakatan


__ADS_3

Arga dan Risya sekarang sedang makan di dalam ruangan Arga. Risya sudah tidak ngambek lagi dan pasti karena Arga yang membujuknya dan membuat moodnya sudah baik.


"Kakinya masih sakit sayang?" tanya Arga sembari mengunyah makanannya.


"Masih perih sedikit," jawan Risya.


"Ya sudah nanti kalau pulang kerja. Kamu aku gendong," ucap Arga.


"Benar?" tanya Risya yang kesenangan.


"Hmmmm, iya dong sayang. Aku mana tega melihat kaki istriku bertambah sakit. Karena harus berjalan," ucap Arga.


"Yang menyebabkan kaki ku sakit siapa?" tanya Risya.


"Iya-iya sayang aku yang menyebabkannya dan aku sudah minta maaf tadi dan kamu juga bilang sudah memaafkanku," ucap Arga dengan lembut.


"Kalau begitu jangan melakukan hal itu lagi," ucap Risya.


"Lagian perasaan Novi sekretaris kamu nggak segitunya juga jadi sekretaris," cicit Risya.


"Iya-iya sayang. Aku janji tidak akan seperti itu lagi," ucap Arga janji dengan mengangkat 2 jarinya.


"Tapi kamu masih mau kan jadi sekretaris ku?" tanya Arga memastikan.


"Nggak tau," jawab Risya.


"Jangan begitu dong sayang. Kalau kamu tidak jadi sekretarisku. Nanti siapa yang bantuin aku," ucap Arga dengan wajah ingin di kasihani.


"Ya kamu usaha sendiri. Siapa suruh jahil padaku," ucap Risya.


"Tapi kan aku sudah janji tidak akan mengulanginya lagi," ucap Arga.


"Sama aja aku masih kesal," ahaut Risya.


"Ya sudahlah kalau kamu tidak mau jadi sekretarisku lagi. Novi juga masih cuti. Kalau begitu aku harus mencari sekretaris baru yang lebih dari Novi," ucap Arga dengan wajah lemasnya.


Namun Risya mendengarnya malah gelisah dengan ekspresi wajahnya yang penuh dengan pemikiran.


"Kamu cari yang bagaimana?" tanya Risya.


"Hmmmm yang enak di pandang aja sih," jawab Arga dengan santai.

__ADS_1


"Isssss kamu jangan seperti itu ya. Awas ya kalau kamu macam-macam," tegas Risya dengan wajah galaknya.


"Ya namanya juga sekretaris kan harus enak di pandang. Biasanya sih sekretaris itu penampilannya selalu menarik. Cantik udah pasti, seksi itu juga pasti," ucap Arga dengan santai yang sepertinya sengaja membuat Risya panas


"Ya udah aku tetap jadi sekretaris kamu," sahut Risya yang mau tidak mau jadi sekretaris Arga. Dari pada memberikan kesempatan pada suaminya itu untuk gatal dengan wanita lain.


"Tadi katanya nggak mau," sahut Arga menahan senyum.


"Aku tidak bilang tidak mau. Hanya tau," tegas Risya


"Jadi benar nih mau jadi sekretaris ku?" tanya Arga memastikan.


"Iyaaaa," jawab Risya dengan terpaksa.


"Tapi awas ya. Kalau kamu buat ulah lagi," ancam Risya dengan penuh penegasan.


"Iya sayang tidak akan. Galak amat sih," sahut Arga yang mencolek pipi istrinya yang semakin gembul itu.


***********


Mobil Edo baru sampai di depan rumah Edo yang mana Edo baru pulang dari kantor. Dengan bersamaan 1 mobil juga menyusul di belakang Edo. Edo yang keluar dari mobil melihat mobil itu dan pengemudinya keluar yang tak lain adalah Tasya yang membuat Edo menuang napas beratnya.


"Untuk apa lagi kamu kemari?" tanya Edo dengan datar pada Tasya yang sudah berdiri di hadapannya.


"Tasya, aku sudah memperingatkan kamu untuk tidak datang kerumah ini lagi dan apalagi malam hari yang kamu tau sendiri semua punya batasan dan waktu Putri tidak bisa di sesuaikan dengan sesuka hati kamu untuk menemuinya," tegas Edo mengingatkan mantan istrinya itu.


"Tapi aku ibu kandung Putri. Dari pagi sampai sore kamu tidak memberikan ku waktu untuk bertemu Putri dan malam aku datang kamu juga melarangku. Jadi aku harus bagaimana," ucap Tasya yang merasa paling tersakiti.


"Aku sudah memberimu banyak waktu. Tetapi kau yang tidak tau batasanmu dan melakukan semua dengan sesuakamu," tegas Edo dengan menekan suaranya.


"Dan satu lagi bukannya kamu sudah mengancam akan mengambil hak asuh Putri. Jadi sana ke pengadilan. Karena aku tidak takut dengan ancaman kamu," tegas Edo dengan tantangan.


"Mas Edo jangan menantangku. Kamu harus tau mas. Hak asuh anak di bawah umur 12 tahun. Itu jatuh pada ibu kandung dan perpisahan kita juga karena kamu dan aku punya banyak hal untuk menjadi pemenang dalam kasus ini. Jadi kamu jangan menantangku aku jamin akan menang di pengadilan. Jika aku benar-benar nekat," ucap Tasya dengan keyakinannya.


Edo terdiam seakan apa yang di katakan Tasya adalah benar. Sebenarnya untuk hak asuh Tasya punya kesempatan untuk menang. Apa lagi selama bercerai waktu Edo untuk Putri Sanga sedikit dan bisa saja Tasya bisa menang.


"Kita buktikan di pengadilan," ucap Edo dengan yakin.


"Baiklah mas. Tapi jika kamu kalah. Itu adalah perpisahan untuk kamu dan Putri. Tapi aku tau kamu sangat menyayangi Putri dan rela melakukan apapun demi Putri. Mas Edo aku ingin bernegosiasi padamu," ucap Tasya membuat Edo melihat Tasya dengan serius.


"Apa maksud kamu?" tanya Edo.

__ADS_1


"Aku akan kembali ke Luar Negri dalam waktu dekat ini dan aku tidak akan jadi mengajukan hak asuh Putri. Tetapi kamu harus memberikan ku me time bersama Putri. Tanpa batas. Ini hanya untuk beberapa hari saja. Aku harap kamu setuju dengan kesepakatan ini dari pada aku menuntut hak asuh Putri dan kamu kalah di pengadilan," ucap Tasya yang ingin negoisasi dengan Edo.


Edo terdiam dan tampak berpikir untuk hal itu. Namun tidak mudah baginya harus mengikuti kemauan Tasya. Tetapi Edo juga punya ketakutan untuk kalah di pengadilan.


"Bagaimana mas Edo. Aku rasa tawaranku sangat menguntungkan bagi kamu. Jadi kamu harus memikirkan baik-baik," ucap Tasya.


"Aku tidak ingin ada waktu untuk kamu berpikir. Karena aku hanya memberi kesempatan detik ini juga dan kamu harus memutuskannya. Sebelum aku berubah pikiran," ucap Tasya.


"Mungkin ini memang lebih baik. Aku melakukan ini untuk kebaikan Putri dan ini hanya beberapa hari saja," batin Edo yang terlihat frustasi dalam berpikir mengenai kesepakatan yang di ajukan Tasya.


"Bagaimana mas Edo?" tanya Tasya lagi yang ingin kepastian.


"Baiklah. Jika memang itu yang kamu inginkan dan kamu jangan mengingkari janji kamu dan ingat walau aku menginjinkan bersama Putri. Tetapi semua juga punya batasan," tegas Edo.


"Iya mas aku akan tau apa yang harus aku lakukan. Kamu jangan khawatir," sahut Tasya tersenyum.


Edo hanya datar saja yang sepertinya tidak senang dengan memberi keputusan itu. Namun Edo seperti tidak punya pilihan lain. Tasya yang berdiri di depan Edo melihat Angela yang ingin keluar dari rumah Edo dan Tasya langsung mengambil kesempatan untuk memeluk Edo yang membuat Edo kaget.


"Apa yang kamu lakukan Tasya," ucap Edo berusaha mendorong Tasya.


"Aku hanya berterima kasih dengan kamu yang memberikan ku kesempatan dan aku janji akan menepati janjiku. Pelukan ini adalah pelukan pertemanan di antara kita," ucap Tasya yang memeluk erat Edo sampai Edo tidak bisa melakukan apa-apa dan Angela sudah melihat adegan pelukan itu yang pasti membuatnya kaget dan cemburu.


"Ehemmmm," Angela berdehem membuat Edo kaget dan langsung mendorong Tasya sehingga Tasya menjauh darinya.


"Angela," sahut Edo panik yang takut Angela salah paham dengan barusan yang terjadi.


"Kamu sudah pulang ternyata," ucap Angela yang berusaha santai saja.


"Hmmm aku baru pulang," jawab Edo.


"Apa Putri sudah tidur Angela?" tanya Tasya.


"Iya dia sudah tidur," jawab Tasya.


"Hmmmm ya sudah kalau begitu aku akan menemuinya besok saja. Ya sudah ya mas aku pulang dulu. Terima kasih untuk semuanya," ucap Tasya dengan tersenyum mendengarnya membuat Angela mengkerutkan dahinya. Kata semuanya itu mencakup hal yang pasti membuatnya curiga.


"Aku permisi pulang ya Angela," sahut Tasya dengan tersenyum dan langsung pergi. Edo langsung melihat ke arah Angela di mana wajah Angela begitu datar.


"Angela aku ingin bicara pada kamu," ucap Edo dengan lembut.


"Bicara apa?" tanya Angela.

__ADS_1


"Ayo masuk kita bicara di dalam," jawab Edo yang langsung mengajak Angela masuk dan Angela mau saja.


Bersambung


__ADS_2