
Edo dan Angela yang berada di dalam mobil yang mana tadi Edo menjemput Angela saat Angela sedang makan bersama Risya dan Syrala.
"Kamu nggak bilang kalau ibu kandung Putri datang," ucap Angela tanpa melihat ke arah Edo.
"Kamu bertemu dengannya?" tanya Edo yang melihat ke arah Angela.
"Hmmm, saat aku mengantarkan Putri pulang. Aku tidak sengaja bertemu dengannya," jawab Angela.
"Lalu kalian berkenalan?" tanya Edo.
"Hanya berkenalan nama saja," jawab Angela singkat.
"Kemarin Tasya baru pulang dari Bangkok dan minta izin buat ketemu sama Putri. Aku juga tidak tau dia akan datang tadi. Soalnya dia juga tidak mengabariku kalau mau datang kerumah," jelas Edo singkat.
"Ohhh, begitu," sahut Angela yang menanggapi dengan santai saja.
"Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Edo.
"Nggak! Memang harus kenapa?" tanya Angela balik.
"Angela aku dan Tasya hanya masa lalu. Tapi aku juga tidak bisa menghilangkan Tasya dari kehidupan aku dan Putri. Dia ibu kandung Putri dan selama ini mereka hanya berkomunikasi lewat telpon dan aku belum mengijinkan Tasya menemui Putri. Sampai aku memberinya kesempatan karena aku tidak berhak menjauhkan Putri dari ibunya," jelas Edo agar Angela tidak salah paham.
"Jadi Putri dan mantan istri kamu tetap berkomunikasi selama ini. Bukannya kamu mengatakan ya waktu itu saat kalian bercerai Putri dan mantan istri kamu tidak pernah berhubungan lagi," ucap Angela yang mengingat hal itu.
"Bukan tidak pernah berhubungan. Tetapi tidak pernah bertemu. Namun mereka beberapa kali pernah saling memberi kabar. Makanya Putri mengingat siapa ibunya," jelas Edo.
Angela diam dan tidak tau mau bicara apa lagi. Dia mengingat jelas Edo mengatakan Putri semenjak di tinggal usia balita. Mantan istrinya tidak pernah berhubungan dengan Putri dan makanya Angela heran. Begitu Putri bertemu Tasya. Putri langsung kenal.
"Are you Oke?" tanya Edo yang melihat Angela hanya diam saja.
"Iya aku baik-baik aja. Aku hanya sedikit kaget saat pertama kali bertemu dengan ibu Putri dan selebihnya tidak ada masalah sebenarnya," ucap Angela yang tersenyum tipis.
Edo meraih tangan Angela dan menggenggam tangan itu, mencium punggung tangan itu dan meletakkan di atas pahanya.
"Angela jangan berpikiran apa-apa. Aku mencintai kamu dan kamu ibu untuk Putri. Tasya hanya masa laluku dan apa yang terjadi yang mungkin membuat kamu tidak nyaman. Aku minta maaf. Aku hanya merasa tidak perlu menceritakan hal yang tidak penting. Karena memang bagiku. Masa lalu itu tidak penting," ucap Edo dengan lembut yang mencoba untuk membuat Angela paham.
"Iya aku mengerti kok. Ya sudahlah kita jangan bahas hal itu lagi. Lagian aku juga tidak memikirkan hal itu," sahut Angela yang tersenyum tipis membuat Edo lega dengan Angela yang tidak mempermasalahkan hal itu.
***********
__ADS_1
Malam hari Edo pulang kerumahnya dan tadi dia juga sudah mengantarkan Angela. Edo keluar dari mobil dan masih melihat mobil Tasya yang ada di sana yang membuat Edo menghela napasnya dan memasuki rumahnya.
Terdengar suara Tasya yang tertawa-tawa dari dalam kamar dan Edo langsung membuka pintu kamar yang ternyata Putri bermain bersama Tasya.
"Gambaran kamu salah, jadi harus di coret," ucap Tasya.
"Ihhhh, mama jangan. Punya mama yang sangat jelek," sahut Tasya yang langsung mencoret gambar mamanya dengan tertawa-tawa.
"Anak bandel," Tasya langsung membalas.
"Putri!" tegur Edo yang sejak tadi berdiri di depan pintu.
"Papa," sahut Putri yang langsung menghampiri sang papa dan langsung memeluk papanya.
"Papa baru pulang?" tanya Putri.
"Iya sayang. Kamu sudah makan?" tanya Edo.
"Hmmm, sudah tadi makan di buatin sama bibi. Karena mama bilang tidak bisa memberi Putri makan. Karena takut salah," jawab Putri. Edo melihat ke arah Tasya yang juga sudah turun dari ranjang.
"Aku tidak akan mengulang kesalahan yang sama. Jadi aku lebih memilih untuk tidak sok tau," ucap Tasya.
"Ya sudah Putri. Sekarang Putri istirahat ya. Putri simpan bukunya dan langsung tidur ini sudah malam!" titah Edo dengan lembut sembari membelai rambut Putri.
"Papa masih ada 20 menit lagi biar pukul 9. Boleh tidak Putri telpon Tante Angela. Soalnya sejak tadi Tante Angela tidak menelpon Putri," ucap Putri.
"Ya sudah boleh. Tetapi setelah itu kamu istirahat ya," ucap Edo.
"Baik pah," sahut Putri dengan senangnya dan langsung menuju tempat tidurnya untuk membereskan buku-bukunya.
"Biar mama bantu Putri," sahut Tasya.
"Putri biasa melakukannya sendiri. Jadi biarkan saja," sahut Edo dan Tasya tidak jadi membantu Putri.
"Baiklah kalau begitu," sahut Tasya.
"Ini juga sudah malam. Kamu sebaiknya pulang," ucap Edo yang mengusir secara halus dan keluar dari kamar Putri terlebih dahulu.
Rasya menghela napasnya dan melihat ke arah Putri yang sibuk beres-beres.
__ADS_1
"Putri mama pulang ya," ucap Tasya berpamitan.
"Baik mama," jawab Putri dengan mengangguk kepalanya dan Tasya langsung keluar dari kamar Putri.
*********
Edo berdiri di ruang tamu dengan ke-2 tangannya yang di masukkan kedalam saku celananya. Suara langkah kaki Tasya terdengar yang menuruni anak tangga dan sampai pada lantai bawah dengan Edo yang membelakanginya.
"Terima kasih sudah memberiku ijin untuk menemui Putri," ucap Tasya.
Edo membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah Tasya.
"Aku menginjinkan mu Minggu lala dan seharunya jika ingin bertemu beritahu aku dulu. Jangan langsung datang kerumah dan seharian bersamanya," ucap Edo yang sepertinya memberi teguran pada Tasya.
"Maaf Edo aku tidak bermaksud untuk tidak mengabari mu tadi siang. Aku hanya terlalu semangat untuk menemui Putri. Jadi aku langsung datang kerumah ini dan aku juga lupa waktu karena terlalu bahagia bermain bersama Putri yang sudah beberapa tahun aku tidak bersamanya," ucap Tasya memberikan penjelasannya.
"Baiklah. Kali ini aku memaafkanmu dan lain kali tolong hargai privasi Putri, waktunya dan lain-lainnya," ucap Edo dengan tegas.
"Iya aku mengerti," sahut Tasya.
"Hmmm, jadi kamu akan menikah?" tanya Tasya tiba-tiba membuat Edo melihatnya dengan serius.
"Aku mendengar cerita dari Putri dan aku juga sempat bertemu dengan calon istrimu," ucap Angela.
"Tasya jangan mempertanyakan masalah orang dewasa kepada anak kecil. Itu sangat tidak pantas dan semua itu masalah pribadi ku yang tidak harus aku umumkan atau perlu aku ceritakan," ucap Edo.
"Maaf Edo aku bukan bermaksud ikut campur. Tetapi aku senang kok. Jika kamu menemukan ibu untuk Putri," ucap Tasya tersenyum tipis.
"Bukan ibu untuk Putri. Tetapi juga pendampingku untuk selamanya," sahut Edo dengan suaranya yang penuh tekanan.
"Iya kamu benar. Kalau begitu aku ucapkan selamat untuk kamu dan dia," ucap Tasya.
Edo tidak mengatakan apa-apa lagi pada Tasya.
"Hmmm, baiklah kalau begitu aku permisi dulu. Aku harus kembali ke hotel untuk beristirahat. Makasih sekali lagi. Karena kamu sudah memberiku kesempatan untuk menemui Putri aku benar-benar sangat bahagia," ucap Tasya. Edo hanya menjawab dengan anggukan.
"Baiklah aku pulang dulu. Selamat malam," ucap Tasya yang akhirnya pamit.
Edo bahkan tidak menjawab apa yang di katakan Tasya dan Edo hanya menghelai napasnya dengan perlahan kedepan. Lalu Edo menaiki anak tangga yang mungkin juga ingin istirahat di kamarnya.
__ADS_1
Bersambung