
Mereka kembali melanjutkan makan mereka dengan lahap dan sebenarnya yang lahap itu Putri. Kalau Risya, Angela dan Syarla seperti nya tidak justru eneg dengan makanan yang mereka masak.
"Masakan ini tidak ada enaknya. Tetapi kenapa Putri lahap sekali makannya," ucap Risya.
"Mungkin dia lapar kali, Angela bilang kan dia habis nangis. Mungkin aja tenaganya banyak hilang," sahut Syarla.
"Iya biarin ajalah yang penting dia mau makan dan tidak komplen dengan apa yang kita masak. Itu suatu hal yang bagus bukan," ucap Risya.
"Iya juga sih," sahut Risya yang masa bodo. Dari pada dia nanti di ceramahi.
"Kenapa sih Risya, Angela masakan kalau yang di buat orang itu jauh lebih enak. Dari pada masakan yang kita masak," ucap Syarla yang mengakui. Jika apa yang di masaknya itu sangat tidak enak.
"Aku juga tidak tau kenapa begitu," sahut Risya.
"Eh Risya. Arga tidak pernah protes apa kalau kamu itu tidak bisa masak?" tanya Syarla.
"Aku itu bisa masak Syarla dan mungkin aja masakannya kurang enak. Hanya saja kalau masak-masak yang aneh-aneh dan penuh dengan banyak menu seperti ini ya pasti hasilnya tidak ada. Tetapi pada dasarnya aku itu bisa masak dan lagian aku juga tidak pernah memasakkan Arga dengan masakan yang aneh-aneh. Selalu simpel dan Instan dan makanya cocok di lidah Arga," ucap Risya yang memang selama ini Arga tidak pernah mempermasalahkan hal itu.
"Ya kami beruntung sih. Bagaimana ya nanti dengan aku. Bagaimana kalau aku menikah terus mendapatkan laki-laki yang harus menuntut untuk masak," ucap Syarla yang kepikiran dengan nasibnya.
"Itu sih derita kamu. Makanya nanti kalau pilih calon suami itu yang benar-benar jangan sampai bermasalah dan heboh sendiri hanya karena makanan," sahut Risya yang memberikan saran.
"Iya sih," sahut Syarla.
"Kamu sendiri bagaimana Angela. Apa Edo harus menyuruh kamu untuk memasak?" tanya Syarla.
"Ngapain di tanya Syarla. Orang Edo aja maunya makan sayur terus. Jadi nggak akan ribet," sahut Risya dengan candaan.
"Iya juga sih," sahut Syarla dengan tersenyum geleng-geleng.
"Tante-tante ini malah cerita terus. Kenapa tidak makan?" sahut Putri yang protes melihat wanita-wanita yang sibuk bercerita.
"Oh iya maaf Putri," sahut Angela.
"Apa tidak pernah di ajarkan waktu kecil. Kalau makan tidak boleh cerita," ucap Putri yang membuat Risya, Syarla dan Angela terdiam yang lagi-lagi mereka di semprot anak kecil dan ke-3 wanita itu hanya diam tanpa bisa berkutik.
"Jadi makanlah. Jangan cerita terus," ucap Putri dengan tegas.
"Baik Putri," sahut Risya, Syarla, dan Angela serentak yang seakan menjadi penurut dan Putri pun melanjutkan makannya.
"Ya ampun baru kali ini aku benar-benar tidak bisa bicara apa-apa saat di ceramahi dan yang paling parah menceramahi ku adalah anak kecil," batin Risya dengan menghela napasnya.
Kalau Angela mungkin sudah biasa dan teman-temannya sepertinya juga harus biasa.
"Putri boleh tambah lagi tidak?" tanya Putri tiba-tiba.
"Boleh-boleh," sahut Syarla dengan cepat.
__ADS_1
Putri tampak senang dan langsung tambah.
"Apa makananya enak Putri?" tanya Angela.
"Putri sudah mengatakan tidak pernah makan seperti ini dan kalau Putri sejak tadi makan dan bahkan tambah itu berarti makanannya enak," jawab Putri dengan santai.
"Kenapa aku kasihan sama anak ini. Apa jangan-jangan di dalam hidupnya tidak pernah memakan makanan normal," batin Risya yang terus melihat Putri makan dengan lahap.
"Tetapi ini tidak akan menjadi masalahkan Putri?" tanya Angela.
"Maksud Tante?" tanya Putri.
"Putri dengan makanan seperti ini?" tanya Angela.
"Tidak kok! sahut Putri dengan cepat.
"Tetapi Tante jangan bilang papa ya," lanjut Putri yang membuat Risya, Syarla dan Angela heran dengan mereka bertiga saling melihat.
"Maksud putri bagaimana?" tanya Angela.
"Hmmm, ya pokoknya jangan bilang papa. Putri makan seperti ini. Kalau papa tanya Tante bilang aja Putri sudah makan bekal yang Putri makan," ucap Putri.
Risya dan 2 temannya itu sekarang paham. Jika sebenarnya Putri memang tidak pernah memakan. Makanan normal dan dia pasti ingin memakannya. Namun papanya pasti tidak mengijinkannya dengan aturan yang banyak pastinya.
"Tante Angela. Janji ya jangan beritahu papa," ucap Putri lagi.
Putri menjawab dengan anggukan kepalanya yang membuat Risya, Syarla dan Angela prihatin dengan kehidupan Putri yang tidak normal. Anak kecil itu tampak lahap makan dan walau anak itu banyak bicara dan membuat 3 wanita itu kesal. Namun kenyataannya mampu membuat Risya dan ke-2 temannya prihatin.
**********
Syarla, Angela dan Putri masih berada di Apartemen Risya. Mereka memang nongkrong di sana dan kalau sudah bertemu pasti tidak akan kenal waktu.
Mereka asyik bercerita yang pasti ada saja topik yang ingin di ceritakan dan tidak akan ada selesainya. Namun Putri juga asyik punya dunianya sendiri. Tetapi Putri belajar ya. Karena ada tugas sekolah yang harus di selesaikan nya.
"Angela Edo tidak akan mencari anaknya?" tanya Risya.
"Aku sudah mengatakan dia bersamaku dan aman-aman aja. Edo juga nanti akan menjemput kami kok. Kalau sudah pulang kerja," jawan Angela.
"Begitu rupanya," sahut Risya.
"Arga belum pulang Risya?" tanya Syarla.
"Nggak tau sih. Kadang dia pulang sore dan kadang juga malam. Aku belum menelponnya sih," jawan Risya dengan santai yang melihat ponselnya dan belum ada notif dari suaminya mengabari tentang hari ini.
"Tante," tiba-tiba Putri memanggil.
"Ada apa Putri?" tanya Angela melihat ke arah Putri.
__ADS_1
"Gatal," sahut Putri yang terlihat menggaruk-garuk tangannya.
"Kamu kenapa?" tanya Angela yang mendekat Putri dan Angela terkejut melihat anak kecil itu penuh dengan merah-merah, bintik-bintik yang bernanah.
"Ya ampun Putri," pekik Angela.
"Ada apa Angela?" tanya Risya dan Syarla yang mendekati Angela dan melihat kondisi Putri yang mengerikan.
"Astaga Putri!" pekik Syarla dan Risya serentak.
"Tante gatal! Tante!" keluh Putri yang terus menggaruk tangannya, punggungnya dan wajahnya.
"Bagaimana ini? kenapa bisa seperti ini?" tanya Angela panik.
"Aku juga tidak tau," sahut Syarla yang juga ikutan panik dengan kondisi Putri.
"Sebaiknya kita bawa kerumah sakit saja," sahut Risya yang panik dan langsung cepat bertindak.
"Ya sudah buruan ayo!" ajak Angela dan membantu Putri untuk berdiri.
Tidak tau apa yang terjadi dengan Putri yang tiba-tiba kulitnya aneh, Putri juga menagis dengan keluhan, gatal, sakit yang membuat Risya, Syarla dan Angela panik dan mereka dengan cepat-cepat membawa Putri kerumah sakit.
************
Rumah sakit.
Akhirnya Putri sedang di tangani oleh Dokter dan Risya, Syarla dan Angela menunggu di luar dengan wajah mereka yang panik dan pasti takut terjadi sesuatu pada Putri.
"Apa yang terjadi. Kenapa Putri tiba-tiba seperti itu?" tanya Risya dengan cemas.
"Aku juga tidak tau," jawab Angela yang lebih panik lagi.
"Apa sebelumnya Putri pernah mengalami hal seperti ini?" tanya Syarla.
"Setauku tidak pernah. Aduhhhh aku jadi bingung," sahut Angela dengan kepanikan.
"Dokter juga lama sekali," sahut Risya.
"Semoga saja Putri tidak apa-apa," ucap Syarla.
"Bagaimana dengan Edo? Apa kamu sudah menghubunginya?" tanya Risya.
"Aku sudah menelponas Edo dan sudah mengatakan Putri di rumah sakit. Aku tidak mengatakan apa-apa dan langsung saja menyuruhnya datang. Karena aku juga bingung harus bilang apa," jawan Angela.
"Ya semoga saja semuanya baik-baik saja," sahut Risya yang hanya bisa berdoa yang terbaik. Dia juga panik dan pasti juga takut terjadi sesuatu pada Putri.
Mengingat bagaimana kondisi Putri tadi. Namun Angela pasti lebih panik. Ini pertama kali Putri bersamanya dan semuanya baik-baik aja sebelumnya. Namun dengan ada kejadian ini membuat Angela panik yang takut Edo marah karena tidak bisa menjaga Putri dengan baik.
__ADS_1
Bersambung