
Setelah beres-beres Risya mengangkat kopernya, meletakkan di dekat pintu.
"Akhirnya selesai juga," ucap Risya yang bernapas lega akhirnya barang-barangnya selesai juga di packing.
Krekkk.
Arga memasuki kamar dan melihat sudah ada 3 koper yang tersusun rapi di depan pintu.
"Niat sekali untuk liburannya!" sindir Arga.
"Liburan! siapa yang liburan Arga. Ini bukan liburan kan kita mau ke Jepang untuk perjalanan bisnis. Pekerjaan yang pasti sangat menyulitkan untuk kita," ucap Risya menegaskan.
"Itu memang benar untuk perjalanan bisnis. Tetapi untukmu itu hanya liburan. Lihatlah koper-koper ini sudah menjelaskan kau itu liburan. Bisa-bisanya bawa koper sampai 3 seperti itu," geram Arga.
"Arga jangan salah paham deh, ini bukan hanya koperku saja. Ini juga sebagain itu punya kamu. Kamu itu seharunya bersyukur padaku. Karena kamu tau apa. Aku sudah menyiapkan pakaian mu. Jadi kamu itu jangan ngadi-ngadi, jangan berprasangka buruk terus kepadaku. Pakaian kamu juga ada di sini," ucap Risya menegaskan. Bahwa dia bukan hanya menyiapkan pakaiannya saja. Tetapi juga Arga.
"Oh begitu asal benar saja," sahut Arga ragu.
"Isssss, nggak percayaan deh. Ya sudah kalau kamu tidak percaya. Kamu bisa cek sendiri. Bahwa aku juga sudah menyiapkan pakaian kamu," tegas Risya.
Arga tidak menanggapi lagi dan Arga langsung menuju tempat tidur.
"Eits mau kemana?" tanya Risya yang menghadang Arga dengan merenggangkan ke-2 tangannya.
"Ya mau tidur lah. Mau ngapain lagi," sahut Arga dengan geleng-geleng.
"Ini itu hari Minggu yang artinya tidak akan ada yang tidur di tempat tidur," ucap Risya menegaskan.
"Apa peraturan itu masih berlaku?" tanya Arga.
"Ya iya dong. Masa iya tidak berlaku," sahut Risya.
"Risya kita itu sudah banyak melanggar peraturan. Dari pada sibuk dengan syarat dan peraturan pernikahan kita. Mending sekarang kita fokus untuk pernikahan kita yang sesungguhnya dan tanpa ada surat-surat perjanjian," ucap Arga yang langsung menaiki ranjang dan sepertinya sangat lelah.
Mendera perkataan Arga membuat Risya heran dengan dahinya yang mengkerut yang tidak mengerti dengan apa yang di katakan Arga.
"Maksudnya bagaimana?" tanya Risya menaiki tempat tidur dan Arga bersandar pada kepala ranjang.
"Pernikahan kita tidak akan berdasarkan surat perjanjian itu," ucap Arga membuat Risya bertambah bingung.
__ADS_1
"Iya Arga aku tidak mengerti maksud kamu apa?" tanya Risya.
Arga menghela napasnya dan menarik Risya kedalam pelukannya membuat Risya kaget namun tidak berontak saat Pria itu memeluknya dengan erat dengan mengusap-usap bahunya.
Risya yang berada di bawah ceruk leher Arga yang berada dada bidang Arga menjadi gugup tiba-tiba saat perlakuan Arga yang manis.
"Kita akan tetap seperti ini. Tanpa ada batas dan surat perjanjian itu tidak akan berguna lagi," ucap Arga tiba-tiba.
"Maksudnya kita akan baikan begitu?" tanya Risya dengan mengangkat kepalanya melihat Arga dan Arga juga melihat dirinya.
"Bukannya kita sudah baikan," sahut Arga dengannya menatap Risya dengan intens. Risya menjawab dengan menggeleng-gelengkan kepalanya membuat Arga mengkerutkan dahinya.
"Kau tiba-tiba mengatakan kita baikan itu karena kau sudah tau kebenarannya. Tetapi kau tidak pernah tuh minta maaf kepadaku dan walau kita berciuman dan melakukan ini itu. Tetapi belum berarti kita itu baikan dan tidak semudah itu," tegas Risya yang ingin melepas diri dari pelukan Arga. Namun Arga semakin mengeratkan pelukannya yang tidak akan melepas Risya.
"Kau ingin mendengarkan kata maafku?" tanya Arga dengan alisnya yang terangkat.
"Memang kau harus minta maafkan kepadaku," sahut Risya.
"Lalu apa kau akan memaafkanku?" tanya Arga.
"Tidak semudah itu dan tidak mungkin aku memaafkan mu," tegas Risya membuat Arga menyunggingkan senyumnya.
"Baiklah kalau begitu untuk apa juga aku meminta maaf padamu. Jika kau tidak memaafkanku," sahut Arga.
"Sudahlah Risya jangan membahas hal itu lagi. Intinya pernikahan kita ini adalah pernikahan normal dan tidak akan ada perceraian di antara kita. Mulai sekarang kita akan tidur bersama di atas tempat tidur ini dan aku bebas melakukan apapun kepadamu. Termasuk menciummu, menyentuhmu dan oke aku tidak akan mengambil kesucianmu tanpa persetujuan ku dan aku akan memberi hak itu padamu. Tetap ingat kau dan aku itu saling memiliki yang artinya kau tidak boleh dekat dengan pria mana pun. Karena kau istriku dan tidak akan ada perceraian di antara kita seperti perjanjian kita awal yang kita akan berpisah ketikan kita menemukan pasangan kita dan sebaliknya sama dengan aku. Aku juga tidak akan dekat dengan wanita manapun. Karena aku juga milikmu," jelas Arga yang berbicara tanpa mengalihkan pandangan matanya dari Risya.
"Kenapa jadi kau yang mengatur surat perjanjian itu?" tanya Risya.
"Aku sudah mengatakan surat perjanjian itu tidak akan ada lagi. Karena kita akan selamanya menjadi suami istri," tegas Arga.
"Kalau aku tidak setuju bagaimana?" tanya Risya.
Arga mengusap lembut pipi Risya dengan mencium lembut kening Risya, " dari matamu yang berbinar sudah menjawab semua itu. Jika kamu menyetujui perubahan hubungan di antara kita," jawab Arga.
"Sok tau. Padahal aku tidak setuju," sahut Risya.
"Mana mungkin tidak setuju. Kamu tidak pernah menolak jika aku menciummu dan menyentuh tubuhmu. Aku hanya tinggal menunggu waktu kapan saatnya tiba kamu jadi akan milikku sepenuhnya," ucap Arga dengan lembut.
"Arga kamu itu jangan kepedean. Aku hanya memberikan kehormatanku untuk orang yang aku cintai dan itu belum tentu kamu," tegas Risya.
__ADS_1
"Bukannya aku pernah menjadi orang yang paling kau cintai? tanya Arga.
"Dan kita sudah lama putus. Rasa cinta itu berkurang sedikit demi sedikit dan sekarang telah habis," ucap Risya.
"Tapi aku tidak percaya," ucap Arga.
"Ya sudah kalau tidak percaya. Arghhh sudahlah aku mau tidur," sahut Risya yang ingin lepas dari pelukan Arga. Namun Arga tidak membiarkan Risya untuk pergi dan kembali memeluknya dengan erat.
"Tetap seperti ini," ucap Arga dan Risya tidak menolak dan malah tersenyum di dada bidang Arga.
"Aku hanya ingin tau Arga. Apa kamu masih mencintaiku apa tidak dan sebenarnya pernikahan kita ini di mata kamu hanya status yang kamu ubah sendiri atau kamu sungguh-sungguh ingin hidup bersamaku di dalam pernikahan ini," batin Risya yang ternyata masih menunggu Arga mengutarakan perasaannya kembali.
************
Akhirnya Risya dan Arga pun berangkat ke Jepang dan pasti sebelum berangkat mereka berpamitan dulu pada orang tua Arga. Salmah dan Dehway mengantarkan Risya dan Arga ke mobil.
"Kalian berdua hati-hati ya. Ingat Risya harus garis 2 kalau sudah pulang," ucap Salmah.
"Udah deh mah jangan mulai lagi malu tau," sahut Risya dengan wajahnya yang memerah.
"Kenapa harus malu. Wajar dong mama minta seperti itu dan kamu Arga kamu jangan lembek-lembek amat. Kamu normal tidak sih sebenarnya," ucap Salmah.
"Kenapa jadi aku jadi ikut-ikutan mama aneh deh," sahut Arga geleng-geleng.
"Ya buktinya masa nggak jadi-jadian," sahut Salmah.
"Sudah-sudah jangan membahas hal itu. Arga sama Risya harus kebandara. Nanti mereka telat. Jadi mereka harus secepatnya ke Bandara," sahut Dehway.
"Iya kita harus berangkat," sahut Arga yang langsung mencium punggung tangan mamanya begitu juga Risya mengikuti Arga.
"Ya sudah kalian hati-hati ya," ucap Salmah.
"Iya mah, dada," sahut Risya yang memasuki mobil yang sama dengan Arga. Salmah dan Dehway melambaikan tangannya saat melihat kepergian putra dan menantunya itu.
"Hati-hati di jalan," teriak Salmah saat mobil itu semakin jauh.
"Semoga kita cepat-cepat dapat cucu ya pah," ucap Salmah yang tidak sabaran.
"Iya mah. Papa juga berharap seperti itu. Kita doakan saja yang terbaik dan untuk Risya dan Arga kita juga harus mempercayakan pada mereka dan menyerahkan pada mereka. Kita hanya berdoa dan mendukung saja," ucap Dehway.
__ADS_1
"Iya pah mama mengerti," sahut Salmah yang mungkin terlihat mendesak Risya untuk buru-buru hamil. Bagaimana mau hamil membuat saja belum.
Bersambung