
Arga, Risya pun duduk di ruang tamu bersama dengan Hariyanto dan Tantri.
"Mata mama kenapa sembab. Mama habis nangis ya?" tanya Risya yang melihat mata sang mama yang benar-benar menangis.
"Lagi nangis terharu aja Risya?" sahut Tantri dengan tersenyum kepada Risya.
"Memang apa membuat mama terharu. Kok tumben amat terharu?" tanya Risya heran.
"Tidak apa-apa Risya. Mama hanya merasa sedih saja. Karena Risya yang sekarang sudah sangat bahagia?" jawab Tantri.
"Memang sebelumnya Risya tidak bahagia apa. Risya itu selalu bahagia sebelum sama Arga dan juga sesudah sama Arga," jawab Risya dengan tersenyum.
"Iya sayang mama tau itu," sahut Tantri.
"Mama sama papa berpelukan dengan erat. Sangat romantis seperti pasangan muda saja," sahut Risya.
"Sayang memang tidak boleh kalau mama dan papa pelukan," sahut Arga.
"Ya boleh saja sih. Tetapi Risya melihatnya seperti mama dan papa ini mau bikin adik lagi untuk Risya," celetuk Risya dengan asal.
"Sayang kamu ini," tegur Arga.
"Bercanda," sahut Risya dengan tersenyum memeluk manja suaminya itu.
"Tapi kalau mama dan papa ada rencana mau buat asik untuk Risya. Risya tidak mau ya. Karena Risya ingin jadi satu-satunya anak mama dan papa," sahut Risya.
Mendengar hal itu Hariyanto dan Tantri saling melihat dengan mereka yang tersenyum datar. Seolah perkataan Risya tidak akan menerima. Jika nanti Risya tau semuanya dan kehadiran Putri sudah jelas akan di tolak Risya.
"Sayang kamu ini kenapa harus membicarakan hal seperti itu. Lagian mana mungkin mama dan papa punya ide atau program untuk punya anak. Yang adanya itu kita yang harus segera memberikan mereka cucu," sahut Arga.
"Iya sayang. Kenapa kamu jadi serius amat sih padahal aku hanya bercanda," sahut Risya.
"Risya. Kamu itu anak papa satu-satunya dan sampai kapanpun akan tetap jadi anak papa dan tidak akan orang lain yang akan menjadi anak papa," sahut Hariyanto menegaskan.
Tantri menoleh kearah suaminya yang mengucapkan kata-kata seperti itu.
"Aku tau mas kamu sangat menyayangi Risya dan tidak akan membuat Risya kecewa. Tetapi apa kamu sadar mas dengan kata-kata kamu yang seperti itu seolah kamu sendiri juga menolak ke hadiran Putri yang jelas darah daging kamu. Mungkin kamu melakukan semuanya untuk Risya yang akan tetap menjadi satu-satunya anak kamu. Tetapi jika Putri dewasa dan mengerti semua ini. Dia juga pasti akan sedih dan akan terluka nantinya," batin Tantri dengan wajah senduhnya yang penuh kesedihan.
__ADS_1
"Apa sebenarnya yang terjadi aku melihat mama dan papa sekarang seolah begitu sedih dan tatapan mata mereka kepada Risya seolah ada yang di sembunyikan dan seolah menakutkan sesuatu. Lalu bagaimana dengan aku. Perasaan ku yang juga mendadak tidak enak dan seolah juga takut sesuatu," batin Arga yang sejak tadi mengamati wajah ke-2 orang tuanya itu.
***********
Hari ini Hariyanto, Tantri, Risya dan Arga mengunjungi rumah sakit yang ingin menjenguk Vio.
"Kondisi kamu bagaimana Vio?" tanya Tantri.
"Sudah membaik Tante," jawab Vio.
"Alhamdulillah kalau begitu Tante senang mendengarnya," sahut Tantri.
"Iya Tante," sahut Vio.
"Hmmm mama mau ketoilet sebentar ya," sahut Tantri.
"Iya mah," sahut Risya. Tantri langsung pergi ke toilet yang kebetulan ke toilet umum. Di kamar Vio juga ada toilet. Mungkin toiletnya sedang di pakai. Jadi Tantri memilih toilet umum.
"Sayang kamu mau makan?" tanya Arga pada Risya.
"Boleh juga," sahut Vio.
"Papa juga mau makan?" tanya Risya.
"Papa baru makan sayang," jawab Hariyanto.
"Ya udah sayang aku sama Vio aja. Mau makan apa?" tanya Risya pada Vio.
"Samakan aja sama kamu dan Arga," jawab Vio.
"Ya sudah kalau begitu. Aku langsung beli aja ya," sahut Arga.
"Iya sayang," sahut Risya dan Arga langsung pergi.
Hanya tingga, Vio, Hariyanto dan Risya yang ada di ruangan itu.
"Aku ingin bertanya pada Om Hariyanto bagaimana mengenai Tasya tetapi ada Risya dan mana mungkin aku bertanya," batin Vio.
__ADS_1
*********
Tantri berada di kamar mandi yang mencuci tangannya di kloset. Namun tiba-tiba Tasya muncul yang berdiri di samping Tantri dengan Tasya yang juga mencuci tangannya. Tantri hanya menyadari keberadaan Tasya dengan melihat sebentar.
"Tumben sekali Tante tidak menyapaku?" tanya Tasya tiba-tiba.
"Kita sudah sering saling menyapa Tasya," jawab Tantri.
Tasya tersenyum dan menghadap Tantri.
"Kalau begitu saya yang akan menyapa Tante. Bagaimana kabar Tante?" tanya Tasya.
Tantri tidak menjawab dan saling melihat dengan Tasya.
"Biasanya saat bertemu dengan saya Tante sering kali memberikan saya nasehat sebagai seorang ibu. Lalu kenapa Tante tidak menasehati saya?" tanya Tasya.
"Tante sekarang tau kan. Kenapa saya begitu keras ingin mendapatkan hak asuh Putri. Karena Putri bukan anak kandung Edo. Tante mendengar semua di pengadilan dengan apa yang saya katakan. Putri itu bukan anak Edo dan mana mungkin saya membiarkan anak saya bersama orang lain," ucap Tasya.
"Jika dia bukan anak kandung dari mantan suamimu. Lalu dia anak siapa?" tanya Tantri yang sudah tau semuanya tetapi ingin tau apakah Tasya berani atau tidak mengakui di depannya.
"Dia anak pria yang saya cinta. Dan Putri juga anak hasil dari cinta kami berdua," jawab Tasya.
"Siapa pria itu?" tanya Tantri yang masih menunggu kejujuran Tasya. Suaminya bercerita jika Tasya sering mengancam untuk memberitahu dan sekarang Tantri ingin tau apakah Tasya akan memberitahu hal itu. Karena tidak ada yang menghalangi Tasya dan kesempatan yang banyak untuk memberitahu hal itu.
"Kamu tidak tau siapa ayahnya?" tanya Tantri yang menunggu jawaban Tasya.
Tasya memang diam yang sepertinya memang tidak berminat untuk memberitahu ayah dari Putri.
"Tasya kamu sudah menghiyanati suami kamu dalam pernikahan kamu. Kamu menipunya dengan kamu yang telah mengandung Putri dan setelah suami kamu memberiku cinta dan kehidupannya kepada Putri, pengorbanan yang begitu banyak. Baru kamu dengan mudahnya mengatakan jika itu bukan anaknya wanita seperti apa kamu yang hanya mementingkan diri kamu sendiri?" ucap Tantri.
"Tante kembali mengajari ku dan memberiku nasehat. Tanpa Tante tau apa yang saya rasakan selama ini. Saya mengambil hak asuh Putri karena Putri memang bukan anak dari Edo. Putri anak dari pria yang saya cintai dan saya ingin Pria itu bersama saya dan Putri dan selama pernikahan saya juga tidak mencintai Edo saya hanya mencintai Pria yang memberikan saya Putri," tegas Tasya dengan penuh penekanan.
Plakkkk.
Tiba-tiba Tasya terkejut yang mendapatkan tamparan dari Tantri. Mata Tasya sampai melotot ketika Tantri yang tiba-tiba menamparnya. Tangan Tasya masih memegang pipinya yang tertutup sebagian rambutnya dengan napasnya yang naik turun ketika mendapatkan tamparan tersebut.
Bersambung.
__ADS_1