MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!

MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!
Episode 39 Jadwal untuk mereka.


__ADS_3

Akhirnya Risya pun tinggal di rumah Arga. Pasti banyak drama di antara ke-2nya sampai akhirnya Risya sampai juga di rumah Arga. Drama belum selesai saat mereka memasuki kamar terjadi cekcok pastinya dan sampai berakhir dengan keduanya yang berada di atas ranjang yang sama-sama telungkup dengan saling berhadapan dengan Risya yang menulis sesuatu di atas lembaran kertas.


"Kau mau ngapain sih Risya?" tanya Arga heran dengan tingkah Risya.


"Aku sedang membuat jadwal untuk kita berdua. Untuk berganti tidur di atas tempat tidur ini," jawab Risya.


"Kau pikir anak sekolah harus pakai jadwal segala apa. Heh Risya kau itu jangan berlebihan," protes Arga


"Jika tidak seperti ini. Kita akan terus mempermasalahkan masalah tempat tidur dan kau tidak akan pernah mau mengalah," sahut Risya.


"Ini itu kamarku. Jadi aku yang punya kuasa atas segalanya," tegas Arga.


"Enak aja sembarangan. Eh aku sudah menikah denganmu. Jadi mau ini kamarmu atau tidak kita itu harus adil dan kau tidak bisa mengatur," tegas Risya.


"Ya ta...."


"Shutttt," sahut Risya yang tidak mau mendengarkan Arga, "jangan berisik ikuti aja solusi yang aku berikan," tegas Risya


"Terserah mu deh," sahut Arga yang mau tidak mau harus mengikuti Risya.


"Hari Senin aku, Selasa kau, Rabu aku, Kamis kau, Jumat aku sabtu kau dan Minggu aku," ucap Risya sembari menulis jadwal untuk mereka berdua.


"Eh tunggu dulu, ini itu kamarku. Aku yang 4 hari dan kau yang 3 hari. Enak aja kau mau 4 hari," protes Arga yang pasti tidak akan terima.


"Hanya beda satu hari. Apa salahnya mengalah," sahut Risya.


"Ya makanya kau yang mengalah," sahut Arga yang tidak mau kalah.


"Arga kau lah yang mengalah. Kau itu pria," sahut Risya.


"Nggak usah bawa-bawa gender kau yang mengalah. Lagian aku itu kepala keluarga dan aku yang harus mengaturnya," tegas Arga.


"Nggak usah sok ngomongin kepala keluarga. Kepala mu aja sarafnya bermasalah. Mau sok-sok jadi kepala keluarga," cicit Risya.


"Sembarangan bicara," sahut Arga mentoyor kepala Risya.


"Sakit Arga gila!" balas Risya dengan memukul Arga.

__ADS_1


Dan lihatlah mereka ribut kembali. Hanya perkara satu hari. Saling membalas pukulan keduanya.


"Stoppp!" sentak keduanya dengan serentak setelah lelah berkelahi.


"Begini saja. Untuk hari Minggu jangan ada yang tidur di tempat tidur. Kita berdua tidur di Sofa atau di lantai," tegas Arga yang mengambil jalan tengahnya.


"Oke tidak masalah itu jauh lebih baik. Berarti Dil untuk jadwalnya. Awas aja kalau kau jurang," sahut Risya yang setuju dengan keinginan Arga.


"Aku tidak akan jurang. Yang di ragukan itu hanya kau," sahut Arga.


"Sembarangan bicara," sahut Risya yang langsung duduk dan menempelkan kertas tersebut di atas nakas.


"Lihat baik-baik jadwalmu!" tegas Risya. Arga hanya berdecak kesal yang langsung duduk. Dan Risya langsung mendorong Arga sampai Arga jatuh kelantai.


"Kau apa-apaa sih Risya!" sahut Arga dengan kesal. Risya melempar bantal pada Arga.


"Hari ini aku yang tidur di ranjang dan kau di lantai," ucap Risya yang menegaskan yang memang jadwal pertamanya.


"Kau..."


"Bye," sahut Risya yang langsung membaringkan tubuhnya dan masa bodo dengan Argata yang banyak protes.


*********


Pagi-pagi seperti biasanya. Di kediaman Arga. Hari pertama untuk Risya sarapan bersama keluarga Arga.


"Risya apa kamu suka nasi gorengnya?" tanya Salmah.


"Iya mah, Risya suka kok, ini sangat enak," jawab Risya sembari mengunyah.


"Syukurlah kalau begitu. Semoga kamu betah ya tinggal di rumah ini," ucap Salmah.


"Pasti mah," sahut Risya dengan tersenyum.


"Hmmm, oh iya Risya papa ada hadiah untuk kamu," sahut Dehway tiba-tiba.


"Hadiah! Hadiah apa?" tanya Risya heran dan Arga juga langsung serius melihat ke arah sang papa.

__ADS_1


Dehway tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dari dompetnya dan memberikan Risya kartu ATM yang membuat mata Risya terbelalak dan mata Arga yang lebih melotot.


"Ini untuk kamu," ucap Dehway.


"Ya ampun pah, ini apa-apaan, kenapa harus kasih Risya ini," sahut Risya dengan wajahnya yang terkejut dengan hadiah yang wou itu.


"Risya kamu itu sudah menjadi menantu di rumah ini. Jadi sangat wajar jika papa memberikan ini untuk kamu. Limitnya tidak terbatas, jadi kamu bisa gunakan dengan sesuka kamu dan bukan untuk seperlunya saja. Tetapi terserah kamu yang tidak perlu pun boleh," ucap Dehway yang benar-benar royal pada menantunya itu.


Sebenarnya Risya tidak perlu heran, mertuanya itu memang sejak dulu adalah orang yang paling royal dan bahkan sangat menyayanginya.


"Ya ampun pah, ini sangat berlebihan," sahut Risya yang memang merasa sangat berlebihan.


"Tidak berlebihan Risya, itu memang untuk kamu. Dan mama juga setuju dengan papa," sahut Salmah dengan tersenyum.


Namun Arga menghela napas berat yang sepertinya orang yang paling keberatan dengan apa yang di berikan pada Risya.


"Pah, sebaiknya papa simpan lagi kartunya. Risya itu orangnya boros jangan memberikan hal itu pada Risya," sahut Arga yang protes.


"Ya ampun Arga, wanita itu wajar boros. Kamu ini komplain terus, Risya istri kamu. Seharusnya kamu senang papa kamu membantu kamu memenuhi kebutuhan istri kamu. Kamu malah banyak protes," sahut Salmah membela Risya.


"Tapi mah, ini itu berlebihan dan dia bisa semakin bertingkah," sahut Arga.


"Apa-apaan sih nih anak, syirik aja padaku," batin Risya dengan kesal, "ohhh mancing-mancing. Kerjai juga nih," batin Risya dengan menyinggung senyumnya yang sepertinya mendapatkan ide baru.


"Mama,pah, Risya kayaknya tidak perlu hadiah dari papa. Ini berlebihan," sahut Risya tiba-tiba dan Salmah dan Dehway pasti sedih mendengarnya. Namun Arga yang kesenangan.


"Risya tapi kan," sahut Salmah.


"Mah, Risya itu punya suami dan seharusnya suami Risya yang menafkahi Risya. Bukan papa dan Risya tau papa sangat peduli pada Risya. Tetapi Risya jauh lebih bahagia kalau suami Risya yang kasih Risya uang dan suami Risya juga bekerja dan punya penghasilan. Jadi pasti dia akan memberikan Risya yang lebih banyak lagi," ucap Risya yang melihat kearah Arga.


"Iya kan Arga?" tanya Risya dengan tersenyum dan wajah Arga langsung panik merasa ada yang tidak beres dari penolakan Risya.


"Oh, iya benar juga sih apa kata Risya. Ini itu tanggung jawab Arga untuk memberi Risya nafkah. Jadi biarkan Arga memberikan nafkah padanya," sahut Salmah yang setuju dengan kata Risya.


"Iya benar juga sih," sahut Dehway yang lebih setuju lagi dan Risya sudah tersenyum saja dan langsung mengadahkan satu tangannya pada Arga seolah ingin meminta.


"Apa?" tanya Arga panik dengan keringat dingin.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2