
Di dalam kamar itu pasangan suami istri yang masih berciuman dengan panas di atas ranjang. Ciuman yang sudah turun sampai ke leher jenjang Risya dengan tangan Arga yang tidak akan diam yang menanggalkan satu persatu yang menempel di tubuh Risya.
Risya hanya menikmati dengan matanya yang terpejam. Sudah menjadi ciri khasnya yang pasti akan terbuai dengan sentuhan dari Arka. Arga yang di penuhi gairah bangkit dari tubuh Risya, melepas ciuman itu sebentar untuk membuka satu persatu kancing kemejanya dengan suara napas beratnya yang tidak beraturan.
Melihat Risya yang seperti cacing kepanasan di bawahnya. Arga melempar pakaian itu ke sembarang tempat dan melanjutkan kembali mencumbui seluruh tubuh istrinya.
"Risya kau hanya akan menjadi milikku," bisik Arga saat sudah waktunya tiba dia akan melakukan penyatuan.
Memiliki Risya seutuhnya dan wajah Risya jangan tanya, wajah memerah yang menahan begitu sakit.
"Arga stop!" ucap Risya yang tiba-tiba menahan dada Arga membuat Arga bingung.
"Ada apa Risya?" tanya Arga dengan suara beratnya yang sudah ingin melakukan harus finis.
"Kayaknya aku tidak bisa," ucap Risya yang menahan rasa sakit.
"Apa katamu?" pekik Arga dengan wajah terkejutnya.
"Sakit," keluh Risya yang belum sempurna. Sudah merasakan sakitnya.
"Risya nanti juga tidak akan sakit," ucap Arga yang harus berdebat dengan Risya di saat ingin garis finis.
"Tidak sakit bagaimana baru aja sedikit sudah begitu sakit dan kalau kamu melanjutkan. Yang adanya aku bisa mati," ucap Risya.
"Plis Arga jangan sekarang. Aku benar-benar ingin liburan di sini. Jadi jangan buat tubuhku kesakitan. Nanti-nanti aja ya," ucap Risya dengan entengnya saat Arga lagi di penuhi gairah dan bahkan tinggal sebentar lagi.
Huhhhhh, Arga sampai menghela napas berat dengan mengusap kasar wajahnya yang benar-benar frustasi dengan Risya.
"Terserahmu!" sahut Arga kesal yang langsung bangkit dari tubuh Risya.
Arga sudah bete dan begitu kesal pada Risya. Sampai tidak banyak bicara yang turun dari ranjang dan mengambil pakaiannya dan pergi kekamar mandi yang tidak memperdulikan Risya lagi.
"Apa dia marah," gumam Risya yang melihat ke pergian Arga. Siapa yang tidak marah, tidak kesal dengan ulah Risya yang melakukan hal itu dengan suka-sukanya.
Bisa-bisanya minta berhenti di saat Arga sudah sampai pucuknya. Kalau yang sebelum-sebelumnya masih di maklumi Arga. Namun sebelumnya padahal mereka sudah sama-sama sepakat untuk melakukannya dan sekarang Risya berubah.
Risya pun duduk dengan memegang selimut yang menutupi tubuh polosnya. Memang belum jadi suaminya melakukannya. Tetapi dia awal dia sudah kesakitan dan dia tidak mau merasakan sakit yang berlebihan lagi.
__ADS_1
Arga keluar dari kamar mandi yang sudah lengkap dengan pakaiannya dan dengan wajah batmoodnya Arga langsung mengambil handphonnya dan hendak pergi.
"Kamu mau kemana?" tanya Risya.
"Aku bisa gila kalau berada di sini," jawab Arga dengan ketus yang langsung keluar dari kamar tersebut.
"Dia semarah itu," ucap Risya yang merasa bersalah pada Arga. Biasannya juga Arga memang tidak marah berlebihan dengan Risya.
*************
Arga dan Risya berada di dalam mobil yang di kendarai Arga dan masih dalam suasana di Jepang dan juga masih siang hari. Semua yang di siapkan Arga sia-sia, dari penginapan di tempat yang strategis yang di sukai Risya yang ingin menghabiskan waktu berduaan semuanya sia-sia dengan Risya yang ada saja tingkahnya.
Dan marahnya Arga kali ini benar-benar besar yang sejak tadi hanya diam saja dan Risya yang berada di sampingnya juga tidak berani menegur Arga.
Tiba-tiba mobil itu berhenti di pinggir jalan yang membuat Risya bingung dan di depan mobil mereka ada dua mobil dengan beberapa Pria yang ada yang di kenal Risya. Bodyguard Arga dan juga terlihat ada Rasti salah satu karyawan kantor.
"Kau ikut dengan mereka!" pinta Arga.
"Kenapa?" tanya Risya heran.
"Aku ingin melanjutkan pekerjaannya ku yang sudah kutinggalkan hanya untuk mengurusimu. Tujuanku kemari hanya untuk proyek dan kau yang ingin liburan. Silahkan liburan mereka akan menemanimu dan mengawasimu. Jadi berhati-hatilah," ucap Arga dengan tegas tanpa melihat ke arah Risya dan dia tampak begitu sangat dingin.
"Tidak semua harus sesuai dengan keinginan mu Risya. Aku tidak pernah memaksamu untuk melakukannya dan awalnya aku sudah memintanya. Jika kau masih ragu seharusnya kau menolak. Bukan malah mempermainkanku," ucap Arga dengan serius bicara yang benar-benar sangat marah pada Risya.
"Jadi benar hanya karena itu kau sampai semarah ini. Kau sangat egois Arga," ucap Risya.
Arga menoleh ke arah Risya, "kau yang egois. Kau tidak pernah bisa memahami perasaan ku. Aku sudah berusaha dan menghargaimu. Tapi kau tetap seperti ini. Semua becandaan untukmu, hanya main-main dan tidak ada kepedulian. Jika aku egois aku sudah melakukannya dari awal tanpa harus meminta izin kepadamu. Pernikahan kita bukan kesepakatan lagi dan kita sudah sama-sama setuju itu," tegas Arga.
"Oke baiklah kalau begitu lakukan dengan sesukamu. Jika mang hanya karena tidak jadi. Kau sampai ingin menyuruhku pergi. Ya sudah lakukan dengan semaumu, aku tidak akan memberontak sama sekali," ucap Risya.
"Lihatlah ini yang ada dalam pikiranmu yang aku pastikan kau hanya berpikiran. Jika aku hanya mementingkan nafsuku saja. Kau memang tidak pernah dewasa Risya dan mengangapku hanya sebelah mata yang menjadi bahan candaan mu saja," kesal Arga.
"Arga aku...."
"Turun!" titah Arga menekan suaranya membuat Risya terdiam dengan menghela napasnya dengan kasar dan mau tidak mau akhirnya Risya pun turun dengan kesal juga.
Begitu Risya turun Arga langsung melajukan mobilnya dan Risya hanya melihat kepergian Arga dengan penuh kesetanan. Wajah Risya terlihat sendu yang pasti sangat tidak enak di cueki Arga.
__ADS_1
**********
Malam hari setelah seharian Risya dan Arga sendiri-sendiri. Ya Arga melanjutkan pekerjaannya yang tidak tau dia fokus apa tidak dan Risya yang yang memang liburan yang di awasi banyak pengawal dan tidak tau juga dia menikmati liburannya atau tidak.
Dan sekarang Risya baru pulang yang kembali ke hotel tempat dia dan Arga menginap sebelumnya.
Ceklek. Suara pintu kamar terdengar dan Risya yang masuk melihat Arga duduk di sofa dengan banyak pekerjaannya dengan dokumen-dokumen yang berserakan di atas meja dan Arga juga tampak cuek yang tidak peduli Risya ada atau tidak.
"Kamu sudah makan?" tanya Risya yang memulai obrolan. Arga diam tanpa menjawab apapun, "aku membawa makanan. Kita makan malam sama-sama yuk," ucap Risya yang berusaha untuk baikan dengan Arga.
"Aku sudah makan," jawab Arga dengan suara dinginnya.
"Tapi Arga....."
"Jangan menggangguku. Aku sudah mengatakan sudah makan. Aku masih banyak pekerjaan," ucap Arga dengan dinginnya.
Risya menghela napasnya perlahan kedepan, "ya sudah aku hanya menawarkan saja," ucap Risya yang langsung melangkahkan kakinya menuju tempat tidur. Meletakkan makanan itu di atas nakas dan Risya menuju kamar mandi untuk bersih-bersih.
**********
Kamar itu juga tampak hening. Risya yang di atas tempat tidur yang berbaring di atas ranjang dengan bersandar pada kepala ranjang dengan bermain handphone. Sementara Arga masih tetap pada posisinya yang duduk di sofa dengan kesibukannya dalam bekerja.
Sesekali Risya melihat ke arah Arga yang sama sekali tidak melihat dirinya dan tangan Risya sibuk dengan mengetik pada ponselnya.
..."Arga kayaknya sangat marah padaku. Kau bingung," Risya....
..."Ya kamu sih ada-ada aja. Siapa yang nggak marah kalau kayak begitu," Syarla....
..."Tau nih Risya. Kamu itu kebanyakan menguji. Lihat ujung-ujungnya Arga benar-benar enek sama kamu," Angela....
..."Lalu apa yang harus aku lakukan?" Risya....
..."Ya udahlah Risya kamu dekati dia dan minta maaf. Lalu bujuk. Lagian kalian memang harusnya sudah melakukan itu. Jangan sok jual mahal deh," Angela....
..."Tapikan aku sejak tadi sudah berusaha," Risya....
..."Ya coba lagi aja," Syarla....
__ADS_1
Risya yang sedang chat melalui group bersama teman-temannya yang mana Risya curhat pada teman-temannya masalah dia dan Arga.
Bersambung