MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!

MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!
Episode 261 Bram yang panik.


__ADS_3

Risya dan Arga memakan roti yang mereka beli barusan. Mereka memakannya duduk berdua di taman.


"Apa Tasya tau hal itu?" tanya Arga.


"Maksud kamu masalah Bram tadi?" Risya kembali bertanya. Arga menganggukkan kepalanya.


"Aku rasa dia tidak mungkin tau. Jika dia tau ya aneh aja," sahut Risya.


"Kamu tidak tanya dengan Tasya?" tanya Arga.


"Aku tidak sedekat itu dengannya dan aneh juga jika tiba-tiba aku bertanya masalah itu kepadanya dan bukannya itu urusan mereka berdua ya," sahut Risya yang memang tidak mungkin tiba-tiba mempertanyakan hal itu kepada Tasya.


"Iya juga sih!" sahut Arga dengan mengunyah roti awan tersebut.


"Sayang dengan kita berdua melihat saat pertama kali bertemu dengan Edo. Kita sudah tau bagaimana dia dan kita juga sudah bisa menilai," ucap Arga.


"Itu dia sayang. Kita tidak tau apa yang terjadi antara mereka ber-2. Aku juga tidak tau bagaimana kedepannya. Karena hal seperti itu mereka yang tau dan jika Tasya tidak tau ya semoga saja dia secepatnya tau," ucap Risya.


"Kamu benar dan semoga saja ini tidak berpengaruh pada Putri. Karena kasihan Putri jika hal ini sampai melibatkannya," sahut Arga yang memikirkan Putri.


"Iya kamu benar. Aku juga berpikiran seperti itu," sahut Risya.


**********


Tasya berada di dalam kamar bersama dengan Putri.


"Mama ingin bicara dengan Putri!" ucap Tasya yang duduk di pinggir ranjang bersama Putri.


"Mama mau bicara apa sama Putri?" tanya Putri.


"Putri kamu kan tau sendiri mama sama Om Bram itu sedang dekat. Jadi mama minta sama Putri. Putri tolong ya mengerti situasi mama," ucap Tasya.


"Maksud mama bagaimana?" tanya Putri bingung.


"Mama tau kamu sayang banget sama papa kamu. Tapi mohon sama kamu. Kamu jangan suruh papa untuk datang ke Apartemen ini. Karena jika Om Bram tau dia akan sangat marah sekali," ucap Tasya.

__ADS_1


"Tapi Putri tidak menyuruh papa untuk datang ke rumah kita dan juga Putri juga tidak tau kalau papa akan datang bersama mama Angela. Putri hanya melihat dari monitor layar dan ada papa dan Putri tidak mungkin tidak membuka pintu," jawab Putri dengan apa adanya.


"Mama tau tapi jika lain kali tidak ada mama dirumah dan siapapun yang datang Putri tidak boleh membukakan pintu sembarangan. Walaupun yang datang itu papa," ucap Tasya.


"Kenapa mah?" tanya Putri.


"Jangan tanya kenapa ya sayang. Itu sudah nggak penting lagi sekarang. Yang terpenting kamu harus dengarkan apa kata mama dan semua itu demi kebaikan kamu," ucap Tasya penuh dengan penekanan dan penegasan.


"Jika Putri bersama papa. Putri juga tidak perlu mengatakan kepada papa tentang apa yang terjadi. Tentang mama yang jarang di rumah dan lain sebagainya. Pokoknya Putri tidak perlu mengatakan hal-hal seperti itu. Karena itu tidak penting," ucap Tasya mengingatkan Putri.


Putri tidak merespon ucapan dari mamanya itu. Dia hanya diam dengan pasti tanda tanya kenapa hal seperti itu harus di larang sang mama.


"Putri mengertikan apa yang mama katakan?" tanya Tasya.


"Sayang mama melakukan semua ini demi kebaikan kamu," ucap Tasya.


"Putri mengantuk mah dan mau tidur," sahut Putri mengalihkan pembicaraan. Karena dia benar-benar bingung dengan apa yang di katakan Tasya. Seolah membatasi dirinya untuk bertemu dengan Edo.


"Baiklah," sahut Tasya yang membantu Putri untuk rebahan.


"Kenapa mama melarang Putri untuk bertemu papa. Jika seperti itu Putri tidak mau tinggal sama terus dan Om Bram juga tidak suka pada Putri. Putri jadi takut,"gumam Putri.


***********


Risya Arga, Syrala dan Boy sedang makan bersama di salah satu Restaurant. Ada moment yang membuat mereka punya waktu dan makan bersama sembari ngobrol-ngobrol.


"Risya kamu nggak mengadakan 7 bulanan?" tanya Syrala.


"Tergantung mama salmah, mama dan juga papa Dehway," jawab Risya dengan santai.


"Kamu yang hamil. Kenapa jadi tergantung mereka?" tanya Syrala heran dengan sahabatnya itu.


"Acara 7 bulanan itu yang memahami hal itu adalah orang-orang dewasa dan aku tidak tau. Jadi kalau misalnya mereka mengatakan iya. Ya sudah aku hanya ikut saja," jawab Risya yang pasti jawabannya paling benar.


"Iyakan aja Syrala biar cepat," sahut Boy yang sudah paham dengan Risya dan mungkin karena Arga sering curhat padanya.

__ADS_1


"Hahhhhhhh terserah kamu aja deh," sahut Syrala yang malas juga berdebat dengan Risya dan pasti dia yang akan kalah nantinya.


Kalau Arga jangan di tanya. Sebagai yang sudah memahami istrinya dia sudah biasa dan tidak perlu ikut berdebar yang adanya nanti dia yang di salahkah.


"Bukannya itu Tasya dan Putri!" sahut Risya tiba-tiba yang melihat Tasya bersama dengan Putri yang memasuki Restaurant.


"Iya itu Putri," sahut Syrala.


"Putri!" panggil Syarla dengan mengangkat tangan Syrala. Putri dan Tasya melihat siapa yang memanggil mereka.


"Ada Tante Risya dan teman-temannya mah," ucap Putri yang kesenangan.


"Ayo sini!" ajak Risya dengan tangannya. Putri mengangguk dan ingin menghampiri Risya. Namun tangannya tertahan oleh Tasya sampai Putri tidak jadi melangkah dan mendongakkan kepalanya ke atas melihat mamanya yang seolah bertanya ada apa.


"Ada Om Bram. Jangan ya!" ucap Tasya pelan dan tidak berapa lama Bram yang ternyata juga ada di Restaurant itu menghampiri Tasya dan Putri.


"Ayo aku sudah ada bangkunya!" ajak Bram.


"Iya mas," sahut Tasya. Namun Bram melihat ke arah tempat yang terus di lihat Putri. Melihat Risya dan Arga membuat Bram kaget.


"Sial mereka ada di sini. Tidak bisa! Jangan sampai Tasya menemui mereka. Bisa kacau semuanya," batin Bram dengan panik.


"Kita jangan makan di sini!" ucap Bram tiba-tiba.


"Loh kenapa mas! Bukannya kamu sudah pesan tempatnya?" tanya Tasya bingung.


"Di sini tidak enak. Tempat lain saja," jawab Bram dengan kebohongannya.


"Ayo kita pergi!" Bram mengajak dengan buru-buru. Tasya pun tidak bertanya dan mengikut saja membawa Putri. Tasya seperti orang yang tidak mengenal Risya dan juga yang lainnya. Hal itu jelas membuat Risya dan yang lainnya kebingungan.


"Kenapa mereka langsung pergi?" tanya Syrala heran.


"Aku juga tidak tau," sahut Boy.


Risya dan Arga saling melihat. Mereka semakin yakin jika Bram itu bukan orang baik. Karena Bram terlihat seperti orang yang ketakutan yang punya kesalahan. Makanya pergi buru-buru karena ada Risya dan Arga yang mungkin bisa mempertanyakan masalah kemarin.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2