MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!

MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!
Episode 145 Rasa cemburu


__ADS_3

Boy yang melihat Angela dan Edo yang berciuman hanya menghela napasnya saja dan meninggalkan tempat itu. Tidak tau apa yang di rasakan Boy ketika Angela dan Boy berciuman di depan matanya. Dari eksperesi wajahnya terlihat ada kecemburuan. Dan mungkin apa yang di katakan Arga benar. Karena memang Arga sahabat dekat Boy dan pasti taulah bagaimana perasaan Boy terhadap Angela.


Bukan hanya Arga Syrala juga bisa melihat jika Boy menyukai Angela. Bahkan Syrala sering menggoda Boy masalah hal tersebut.


Langkah Boy terus berjalan yang semakin jauh dari Edo dan Angela yang berciuman yang ternyata Boy pun lebih memilih kembali ketenda dengan wajahnya yang lesu dan tidak bersemangat seperti orang galau.


Ada Syrala yang sedang membuat kopi di depan tenda di dekat api unggun kecil yang menghilangkan nyamuk dan sedikit menghangatkan tubuh


"Dari mana kamu Boy?" tanya Syarla yang sedang mengaduk kopinya.


"Dari sana," jawan Boy yang terlihat lesuh dan duduk di samping Syrala.


"Mau kopi nggak?" tanya Syrala.


"Boleh," sahut Boy. Syrala pun membuatkan untuk Boy juga.


"Risya dan Arga mana?" tanya Boy


"Biasalah namanya juga suami istri jadi ngapain di tanya ya pasti pacaran lah apa lagi coba," jawab Syrala.


"Oh," sahut Boy hanya menjawab dengan oh.


"Nih kopinya," ucap Syarla yang selesai memberikan kopi itu untuk Boy.


"Makasih," sahut Boy yang langsung meneguknya pasti meniupnya terlebih dahulu karena lumayan panas juga.


"Kemana sih Edo dan Angela. Anaknya malah di tinggal," keluh Syrala yang jadi bete. Karena dari tadi tidak bisa kemana-mana karena ada Putri yang tidak mungkin di tinggalnya.


"Pacaran kali," sahut Boy dengan sinis membuat Syrala melihat ke arah Boy.


"Kau tau dari mana?" tanya Syrala.


"Tadi aku lihat mereka ada di dekat sungai," jawab Boy.


"Oh jadi karena itu wajah kamu terlihat lesu seperti ini yang ternyata melihat Angela dan Edo pacaran. Atau jangan-jangan kamu sama lagi dengan aku yang tiba-tiba melihat Risya dan Arga ciuman dan kamu juga lihat mereka ya seperti itu," ucap Syrala melihat Boy dengan selidik.


Apa yang di katakan Syrala memang benar. Karena Edo menyaksikan hal itu dengan jelas.


"Iya kan Boy?" tanya Syrala lagi sangat kepo dengan menunjuk-nunjuk wajah Boy.


"Apa sih," sahut Boy dengan wajahnya yang merah dan jadi kesal dengan Syrala.


"Nggak usah bohong. Bilang aja wajah kamu bete gini karena cemburu," goda Syrala lagi.


"Jangan sok tau deh Syrala," sahut Boy mengelak.


"Siapa yang sok tau. Orang aku bisa lihat dengan jelas. Udahlah Boy semua orang juga tau kali. Kalau kamu itu suka sama Angela. Ya kamu nya sih nggak langsung gercep terakhir Risya jadi di ambil orang kan," ucap Syrala.


"Sudahlah kenapa jadi harus bahas Angela Lagian siapa juga yang suka sama Angela. Udah kamu stop keponya dan lagian dia juga sebentar lagi mau menikah. Nanti kalau Edo dengar apa yang kamu katakan membuat salah paham. Jadi stop ngecengi aku sama Angela. Dia sudah memilih jalannya sendiri," ucap Boy dengan serius dan tegas. Karena dia juga tidak ingin menimbulkan kesalahpahaman.


"Tumben banget kamu dewasa sekali dalam berpikir," ucap Syrala.

__ADS_1


"Memang selamat ini aku seperti anak kecil apa," sahut Boy.


"Ya nggak juga sih," sahut Syrala.


"Sudahlah Syrala kamu jangan berpikiran lagi. Jika aku menyukai Angela. Dan kamu juga jangan terus membahasnya di depanku," tegas Boy.


"Iya Boy. Aku hanya bercanda kok. Lagian yang tau masalah hati itu hanya kamu aja. Tapi ya sudahlah aku doakan yang terbaik saja untuk kamu dan semoga kamu bisa menemukan wanita yang tepat dan ya Angela teman kita. Kita juga hanya bisa berdoa yang terbaik untuknya," ucap Syrala dengan tersenyum. Boy hanya mengangguk saja.


"Habisin kopinya," ucap Syrala.


"Masih panas," sahut Boy.


"Syarla, Boy," sapa Angela yang tiba-tiba datang bersama Edo.


"Eh Angela," sahut Syrala.


"Kalian dari mana sih?" tanya Syrala.


"Habis dari udara segar," jawan Edo.


"Oh begitu," sahut Syrala.


"Oh iya Putri bangun tidak?" tanya Angela.


"Nggak kok aman kok," jawab Syrala.


"Aku tidur dulu ya," ucap Boy yang tiba-tiba pergi.


"Kopinya belum habis!" ucap Syrala.


"Aneh," gumam Syrala.


"Hmmm, ya sudah Angela kamu juga sebaiknya istirahat, aku tidur duluan," ucap Edo.


"Iya mas Edo," sahut Angela dengan mengangguk tersenyum dan Edo langsung masuk kedalam tenda nya menyusul Putri.


"Kenapa Boy?" tanya Angela.


"Nggak kenapa-kenapa. Memang ada apa dengannya?" tanya Syrala.


"Aku lihat wajahnya kayak bete gitu. Masih kesal karena dia ikut kemah?" tanya Angela.


"Kayaknya biasa aja deh, dia memang wajahnya suka aneh-aneh. Udahlah nggak usah di pikirin," sahut Syarla.


"Mau kopi tidak?" tanya Syrala.


"Ini aja punya Boy," jawab Angela yang meminum kopi Boy, mungkin takut mubajir.


"Oke," sahut Syrala.


***********

__ADS_1


Mentari pagi kembali tiba semua orang sudah bangun termasuk Arga dan Risya yang bahkan mereka baru pulang dari sungai yang baru selesai mandi. Pasti Arga yang menemani Risya mandi. Takut juga istrinya itu di terkam buaya. Cukup dia saja buaya darat yang menerkam Risya.


Setelah selesai mandi Arga di depan tenda yang duduk saja. Sementara Risya berdiri di depan tenda yang sedang menjemur handuknya.


"Sayang aku boleh minta tolong tidak buat ambilkan sisir!" ucap Risya.


"Minta tolong di kantor Polisi," ucap Arga.


"Isss sayang kamu ini ya," sahut Risya kesal.


"Iya-iya," sahut Arga yang langsung masuk kedalam tenda.


"Di mana Risya?" tanya Arga yang padahal sisir itu di tangannya.


"Di dalam tas makeup aku," jawab Risya.


"Nggak ada apa-apa di sini," teriak Arga dengan menyunggingkan senyumnya.


"Ihhhh, masa sih," sahut Risya yang mau tidak mau harus turun tangan untuk melihat apakah ada atau tidak dan Arga yang melihat Risya langsung menarik tangan Risya membuat Risya kaget.


"Auhhh!"


Risya yang tiba-tiba sudah berada di bawah Arga yang sedang di tindih Arga.


"Arga kamu ini ya," geram Risya yang memukul gemes dada bidang Arga.


"Kenapa marah?" tanya Arga dengan tatapan wajah yang penuh arti.


"Siapa yang tidak marah. Kamu itu bikin kaget aja bagaimana kalau terjadi sesuatu sama ba...." Risya tidak melanjutkan kalimatnya saat sadar. Jika dia hampir keceplosan.


"Sama apa?" tanya Arga yang menunggu jawaban Risya.


"Ya sama, sama aku," jawab Risya dengan terbata-bata. Namun wajah Arga menunjukkan sesuatu hal yang merasa tidak percaya pada Risya.


"Benar hanya itu?" tanya Arga.


"Iya Arga memang apa lagi," sahut Risya.


"Isss sudah kamu minggir ah. Aku mau sisiran," ucap Risya.


"Kalau aku tidak mau bagaimana?" tanya Arga dengan menatap Risya dalam-dalam.


"Kamu itu maunya apa?" tanya Risya.


"Ya kamulah apa lagi?" tanya Arga.


"Jangan aneh-aneh. Di sini banyak orang dan ada anak kecil," ucap Risya yang mengingatkan Arga.


"Kalau aku tidak peduli bagaimana?" tanya Arga.


"Isss kamu itu ya bendel, sudah awas," Risya mendorong Arga dengan tenaganya yang cukup kuat dan Arga langsung bergeser.

__ADS_1


"Kamu itu biasanya hanya mengerjai istri saja," kesal Risya yang mengambil sisir itu dari tangan Arga.


Bersambung


__ADS_2