
"Risya!"
"Risya!"
"Risya!"
Semua orang melihat layar monitor dan mendengar suara mesin jantung yang kembali berdetak. Membuat semua orang kaget.
"Mohon semuanya untuk menunggu di luar dulu," sahut Suster yang langsung menyuruh pihak keluar untuk keluar.
"Kami akan menangani pasien. Mohon untuk keluar sebentar,"
"Pak Arga. Tolong silahkan menunggu di luar," Suster juga berusaha untuk membawa Arga.
"Istri saya Suster. Tolong selamatkan istri saya. Suster tolong!" ucap Arga.
"Beri kami kesempatan untuk memeriksanya. Jadi silahkan menunggu di luar," sahut Dokter. Akhirnya keluarga Arga turun tangan untuk membawa Arga keluar dari ruangan UGD tersebut. Pintu ruangan UGD langsung di tutup. Risya kembali di periksa oleh Dokter. Alat-alat yang sudah sempat di buka kembali di pasang.
"Ayo Risya pulang bersama ku," ucap Arga.
Wajah Risya tampak ragu yang tidak ingin pulang bersama Arga. Dia bimbang antara memilih Arga atau papanya.
"Sayang ayo!" ajak Arga lagi.
Risya menggelengkan kepalanya dan melihat Hariyanto yang sepertinya dia ingin pergi bersama Hariyanto.
"Risya!" lirih Arga saat perlahan Risya membalikkan tubuhnya.
Owe owe owe owe owe owe owe owe owe
Tiba-tiba terdengar suara tangis bayi membuat Risya tidak jadi melanjutkan langkahnya dan kembali menoleh ke belakang.
"Kamu dengar Risya. Anak kita sangat membutuhkan kamu. Jadi mari pulang bersamaku," sahut Arga.
"Pergi lah Risya!" titah Hariyanto. Mendengar suara bayi itu akhirnya membuat Risya melangkah berjalan menuju Arga.
************
Keluarga masih menunggu di luar. Menunggu Dokter memeriksa Risya yang tidak tau bagaimana kondisi Risya. Namun pasti mereka mengharapkan hal baik.
"Ya Allah semoga saja Risya bisa tertolong," ucap Angela yang sejak tadi memegang tangan Syrala. Tangan keduanya sama-sama dingin yang sangat mengharapkan Risya bisa bangun dan sadar.
"Risya pasti akan baik-baik aja. Dia wanita yang kuat," sahut Salmah dengan keyakinannya.
__ADS_1
"Kita berdoa saja. Semoga Risya bisa melewati masa kritisnya," sahut Dehway yang membuat semua orang mengangguk setuju.
Tidak lama akhirnya Dokter keluar dari ruangan Risya.
"Dokter bagaimana istri saya?" tahta Arga yang langsung menghampiri Dokter.
"Istri saya baik-baik saja kan Dokter?" tanya Arga lagi.
"Dokter tidak terjadi sesuatu pada istri saya kan?"
Arga dengan cemas terus bertanya mengenai apa yang terjadi pada istrinya.
"Pak Arga mohon tenang. Alhamdulillah Bu Risya masih selamat," jawab Dokter.
"Alhamdulillah!" lirih semuanya yang mengucap syukur atas keselamatan Risya. Mereka bahagia dan pasti terharu mendengarnya.
"Tapi....." kata tapi dari Dokter membuat mereka kembali melihat Dokter.
"Tapi apa Dokter?" tanya Arga yang cemas.
"Bu Risya belum siuman dan kemungkinan akan koma. Kita berdoa saja. Semoga Bu Risya bisa secepatnya siuman," sahut Dokter yang membuat keluarga kembali senduh.
"Kamu tim Dokter akan melakukan sebaik mungkin. Kami pasti berusaha untuk Bu Risya," ucap Dokter.
"Dokter mohon untuk dampingi Putri saya. Tolong selamatkan dia," ucap Tantri.
"Kalau begitu saya permisi dulu!" ucap Dokter pamit dan langsung pergi.
"Arga kamu harus percaya. Jika istri kamu pasti baik-baik aja," sahut Salmah mengusap-usap pundak Arga.
"Iya mah," sahut Arga dengan menganggukkan kepalanya. Dia merasa lega dengan Risya yang masih bisa di selamatkan. Walau kesenangannya tidak sepenuhnya. Karena istrinya masih koma. Namun dengan adanya kemajuan pada istrinya sudah membuatnya jauh lebih baik.
***********
Risya sudah di pindahkan ke dalam ruang perawatan. Meski selamat. Namun masih belum sadarkan diri. Alat-alat medis masih menempel di tubuhnya. Baik selang infus, alat pernapasan di mulut, oksigen dan lainnya.
Arga terus menemani sang istri dengan duduk di samping istrinya. Dengan memegang tangan Risya dan memebelai- belai rambut Risya.
"Sayang kamu harus cepat bangun. Anak kita sangat cantik. Dia mirip sekali dengan kamu. Tadi dia menangis aku yakin dia ingin sekali di gendong ibunya. Jadi bangunlah sayang," Arga mengajak Risya berbicara. Dia tau Risya tidak bangun. Namun dia yakin apa yang di sampaikannya akan di dengar oleh Risya.
"Sayang aku mencintai kamu aku sangat takut sayang dengan apa yang terjadi. Aku sangat takut. Jika kamu benar-benar pergi dan tidak bersamaku. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu Risya. Bagiku. Hanya kamu satu-satunya yang ada di dalam hidupku. Kamu memberiku kebahagiaan dan kebahagian ku bertambah dengan kehadiran Putri cantik kita. Sayang kamu harus bangun ya," ucap Arga dengan matanya bergenang. Bahkan air matanya keluar yang tidak tahan dengan kesedihannya.
"Arga!" sahut Tantri yang datang keruangan itu.
__ADS_1
"Mah!" sahut Arga.
"Kamu makan dulu ya. Dari tadi kamu belum makan," ucap Tantri.
"Aku belum lapar mah," jawab Arga.
"Bagaimana mungkin kamu belum lapar. Mama tau kamu mencemaskan Risya. Tetapi jika kamu sakit. Bagaimana dengan anak kalian nanti. Jadi kamu harus makan, supaya ada tenang," ucap Tantri mengingatkan menantunya itu.
"Ma, maafkan aku ya. Aku telah memilih untuk menyelamatkan bayi kamu terlebih dahulu di bandingkan Risya. Aku melakukan ini. Bukan aku tidak mencintainya. Aku sangat mencintainya dan sangat percaya kepada-nya," ucap Arga yang merasa bersalah atas keputusannya.
"Jangan meminta maaf. Mama tau keputusan yang kamu ambil sangat berat. Dan karena kamu yakin dan sekarang keputusan kamu tidak salah. Karena Risya pasti akan baik-baik aja," ucap Tantri. Arga menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah sekarang kamu makan ya. Kamu harus mempunyai tenaga," ucap Tantri.
"Iya mah," sahut Arga. Tantri tersenyum dan menyiapkan makanan untuk Arga. Makanan yang tadi di belikan teman-teman Arga kepadanya dan sekarang mulai di makannya. Meski Arga tidak selera untuk makan. Namun dia tetap makan.
*************
Boy, Angela, Syrala, Vio, Samuel juga sedang makan di Restaurant yang ada di dekat rumah sakit.
"Aku tidak percaya. Jika Risya bisa selamat. Ini sungguh keajaiban," sahut Syrala.
"Ini memang mukjizat dari Allah dan aku yakin Risya juga akan secepatnya bangun," sahut Angela.
"Kita berdoa saja. Semoga Risya bangun. Kasihan Arga yang takut menyesal dengan tindakannya dan kasihan bayi mereka yang masih kecil dan pasti membutuhkan Risya," ucap Vio.
"Iya dia tadi juga menangis. Sepertinya ingin di gendong Risya," sahut Syrala.
"Risya wanita yang kuat. Aku yakin dia juga sekarang berjuang untuk bangun. Dia tidak akan membiarkan anak dan suaminya sedih. Kita berdoa saja. Semoga Risya cepat bangun," sahut Boy.
"Amin," sahut semuanya.
"Oh iya Angela. Bagaimana keadaan Putri? Apa dia sudah baik-baik saja?" tanya Vio.
"Kondisinya sudah sangat membaik. Mungkin akan secepatnya pulang," jawab Angela.
"Syukurlah kalau begitu," sahut Vio dengan menganggukan kepalanya.
Bersambung
...Yang mau melihat Brian dewasa. Dari Novel Pernikahan di atas surat kontrak. Atau mau melihat cerita dari istri Sholehah milik tuan pemarah. Kisah Azka dan Rachel. Dan juga masih banyak tokoh yang lainnya dari anak-anak novel-novel sebelumnya. Mari mampir ke Novel terbaru saya. Jangan lupa untuk like. Komen dan beri vote
__ADS_1
...
... sebanyak-banyaknya....