
Beberapa hari ini Risya sering mendapatkan hadiah. Baik itu berupa perhiasan, juga beberapa pakaian dan sepatu, semua itu selalu di barengi dengan boucket bunga. Baik itu boucket besar maupun hanya setangkai.
Hidup Risya terasa sempurna dan seperti ratu yang apa-apa sering di berikan hadiah oleh suaminya komunikasinya yang lancar dengan Arga membuat Risya semakin mencintai Arga dan pasti Risya merasa juga semakin di cinta Arga. Karena setiap kiriman yang di terimanya pasti ada kartu ucapan yang mengutarakan cinta kepadanya.
Risya dan Arga berada di Bandara di pagi ini. Di mana Risya yang menggandeng lengan Arga yang sangat manja pada Arga dan Arga sendiri yang menyeret kopernya.
"Pulangnya jangan lama-lama," ucap Risya yang sudah saling berhadapan dengan Arga.
"Iya, aku pergi 3 hari saja," ucap Arga dengan memegang pipi Risya. Jangan tanya wajah Risya begitu cemberut yang seperti takut kehilangan.
"Benar pergi hanya 3 hari saja?" tanya Risya yang tidak mau di tinggal lama-lama.
"Hey, aku itu perjalanan bisnis dan lagian kamu juga tidak mungkin ikut kan. Jadi aku di sana hanya bekerja beda dengan kamu yang pasti akan langsung liburan," ucap Arga.
"Issss bisa tidak jangan mengungkit hal itu sangat menyebalkan," geram Risya.
"Iya-iya aku tidak akan mengungkit hal itu. Ya sudah aku pergi dulu. Ingat kamu jangan macam-macam dan jangan bolos kerja. Novi akan mengawasi mu di kantor," ucap Arga menegaskan.
"Issss perhitungan sekali dengan istrinya. Hanya karena hal itu aja harus pakai di awasi," ucap Risya kesal.
"Kalau tidak di awasi akan ada yang macam-macam. Jadi aku harus mengawasinya melalui orang lain," ucap Arga tersenyum.
"Kamu juga jangan aneh-aneh di sana. Awas aja kalau macam-macam," ucap Risya dengan wajah garangnya.
"Iya-iya. Ya sudah aku pergi ya," ucap Arga yang harus pamit pada istrinya. Risya memajukan dahinya agar di cium Arga dan Arga langsung menciumnya.
"Bye," ucap Arga yang sebenarnya berat hati untuk pergi.
"Dada!" sahut Risya yang melambaikan tangan dengan tidak semangat yang melihat kepergian suaminya. Arga yang akan melakukan perjalanan bisnis dan Risya hanya melihat dengan sendu kepergian suaminya yang semakin lama semakin jauh.
Risya menghela napasnya perlahan kedepan dan akhirnya meninggalkan tempat itu. Setelah tidak melihat Arga lagi. Risya pun langsung menuju mobil yang tadi Risya dan Arga di antar oleh supir. Risya memasuki mobil yang duduk di kursi belakang. Namun tiba-tiba di bangku sebelahnya sudah ada boucket bunga.
Risya tersenyum sembari mengambil bunga tersebut.
"Kamu tetap aja seperti ini, sangat sweet. Bisa-bisanya melakukan hal itu. Padahal kamu sedang pergi, Arga, Arga," gumam Risya dengan penuh kebahagiaan dengan apa yang di dapatkannya. Boucket bunga mawar yang di yakininya dari Arga suaminya.
__ADS_1
*************
Walau Arga tidak ada di kantor. Risya tetap bekerja dengan fokus dan tidak main-main walau bosnya tidak ada. Sama seperti di ruangannya sekarang ini yang mana dia begitu fokus dan satu harian ini sudah beberapa kali Risya mendapatkan kiriman hadiah. Bahkan ruangan Risya penuh dengan bunga mawar yang di yakininya pemberian dari Arga.
Risya tiba-tiba menghentikan pekerjaannya dan mengambil ponselnya dengan bersandar pada jok bangku.
"Dia selalu mengirimku bunga tetapi kenapa dia 1 hari ini tidak ada mengabariku. Padahal apa dia tidak tau. Jika aku sangat merindukannya," ucap Risya yang melihat foto Arga yang ada di ponselnya.
"Arga ayo telpon aku, bilang kek. Besok jemput aku ya di bandara. Atau apa gitu, kamu basa-basi, deh. Jangan hanya mengirimku hadiah saja. Tetapi tidak pernah menghubungi ku," ucap Risya yang benar-benar melow karena Arga yang tidak mengabarinya yang ternyata sampai detik ini Risya Arga tidak mengabarinya.
Sudah 2 hari Arga berada di Luar Negri dan Risya pasti rindu berat pada suaminya itu.
***********
Risya yang keluar dari perusahaan yang mampir di salah satu minimarket untuk membeli minuman dan ketika mendapatkan minumannya Risya langsung keluar dari ruangan itu dan tiba-tiba Risya melihat Vio yang duduk di salah satu bangku yang ada di depan mini market.
"Vio!" sapa Risya yang membuat Vio yang tadi menyanggah dagunya melihat ke arah yang memanggilnya.
"Risya," sahut Vio.
"Lagi hilangin stress aja. Banyak sekali yang harus di pikirkan," jawab Vio.
"Memikirkan masalah kamu sama Samuel?" tebak Risya.
"Apa lagi jika bukan itu," jawab Vio.
"Kenapa harus berpisah? bukannya kamu itu sangat terobsesi ya dengannya. Kamu sangat mencintainya dan bahkan melakukan hal gila hanya untuk mendapatkannya. Lalu kenapa tiba-tiba harus berpisah. Bukankah itu hal yang sangat di sayangkan. Belum lagi kamu juga sedang hamil," Icao Risya.
"Aku juga tidak ingin berpisah. Tetapi Samuel yang sudah bertekad dan benar-benar sudah tidak peduli. Apalagi orang tuanya sudah ikut-ikutan, mama juga dan terakhirnya mama dan orang tua Samuel yang berseteru dan Samuel tidak bisa mempertahankan pernikahan kami. Mungkin kesabaran.ya sudah habis kepadaku," jelas Vio dengan wajah sendunya yang menceritakan nasibnya yang menyedihkannya.
"Aku tidak bisa mengatakan apa-apa Vio. Kalau mungkin dulu. Aku pasti bahagia dengan kabar ini dan akan mengatakan kepada kamu. Jika ini karma. Namun kali ini ternyata tidak. Aku turut prihatin dan hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kamu," ucap Risya yang memberikan dukungan pada Vio.
"Iya Risya. Makasih jika kamu memberikan semangat kepadaku. Ya sudahlah lagian sesuatu yang di ambil dengan cara yang tidak baik hasilnya juga seperti ini. Jadi ini hanya akan menjadi pelajaran bagiku untuk tidak mengambil sesuatu dengan cara yang tidak baik," ucap Vio yang sekarang jauh lebih dewasa dalam menyikapi setiap masalah.
"Aku suka kata-kata kamu," ucap Risya mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
"Oh iya kamu ngapain di sini? dan Arga mana kok tumben kamu tidak bersamanya?" tanya Vio.
"Walau Arga suamiku. Tetapi tidak mungkin kami itu pergi terus-menerus dan lagian Arga juga ada di Luar Negri," jawab Risya.
"Kami tumben tidak ikut?" tanya Vio.
"Pertanyaan kamu itu kesannya aku itu yang harus ngekor terus pada suami," ucap Risya kesal.
"Ya kan siapa tau," sahut Vio.
"Nggak juga urusan Arga ya urusannya, pekerjaannya urusan dia dan ada saatnya aku ikut dalam urusan pekerjaannya. Jadi tidak semua Arga yang mengurusinya," ucap Risya dengan apa adanya.
"Iya-iya deh," sahut Vio.
Ting.
Tiba-tiba ponsel Risya masuk notif dan Risya langsung membuka pesan tersebut.
"Sayang hari ini aku pulang, kita ketemu di hotel ya, aku menunggumu, aku kirim alamatnya, aku mencintaimu," pesan tanpa no yang tidak di kenal itu membuat Risya tersenyum.
"Arga sudah pulang baru aja di bicarakan, dia tau saja aku merindukannya," batin Risya yang begitu bahagia.
Tidak lama Risya mendapatkan Share lokasi.
"Kenapa senyum-senyum?" tanya Vio heran.
"Aku harus buru-buru pergi. Arga sedang menungguku di hotel di dekat sini," jawab Risya dengan bahagianya.
"Bukannya kamu bilang dia di Luar Negri kok sudah pulang aja?" tanya Vio.
"Aku juga tidak tau yang penting sekarang dia sedang menungguku. Ya sudah ya Vio aku pergi dulu. Semangat untuk kamu," ucap Risya yang buru-buru berdiri dari tempat duduknya dan langsung pergi dengan cepat.
"Ada-ada saja. Tapi ya sudahlah dia itu memang sangat beruntung punya Arga yang mencintainya dengan tulus. Makanya kehidupannya sangat sempurna. Berbanding terbalik denganku yang hidupnya seperti ini saja," batin Vio yang terlihat lelah dengan kehidupannya yang sekarang.
Sepupunya itu memang selalu beruntung punya orang tua yang berpikiran positif, punya suami yang sangat mencintainya dan juga punya mertua yang luar biasa menyayanginya dan semua berbanding terbalik dengannya.
__ADS_1
Bersambung