MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!

MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!
Skakk mat.


__ADS_3

Risya yang selesai mandi terlihat begitu kesal dengan duduk di pinggir ranjang.


"Mulut wanita jadi-jadian itu memang tidak pernah berubah sangat menyebalkan dan mulutnya sangat tajam. Dia sangat bangga gitu menikah dengan Samuel terus selalu mengataiku ini itu apa dia sudah merasa paling sempurna apa," umpat Risya yang tidak berhenti mengoceh karena kesal dengan Vio.


"Kenapa sih hari-hari ku itu sangat sial semua orang sangat menyebalkan tidak Arga, dan wanita itu,"


"Argghhhh!" Citra mengacak-acak rambutnya frustasi dan berbaring di atas ranjang dengan menatap langit kamarnya, "Oga makan malam bersamanya yang ada semua rasa makanan itu tidak enak lagi. Jadi untuk apa aku harus makan malam bersama orang-orang hatinya seperti itu," batin Risya yang tidak akan mau makan malam.


"Mending aku tidur," ucap Risya memejamkan matanya. Dia tidak akan mendengarkan apa kata orang tuanya untuk turun dan mengikuti acara makan malam. Selain Arga yang sangat menyebalkan baginya ada juga Vio dan suaminya, belum lagi nanti mama Vio yang juga akan datang. Risya seakan tau apa yang terjadi. Jadi Risya memilih untuk tidak mengikuti makan malam.


**********


Akhirnya makan malam pun di adakan. Di mana orang tua Vio sudah datang. Ayah Vio merupakan adik dari papa Risya yaitu Hendra bersama dengan istrinya Karen.


Yang pasti bukan hanya Vio,suaminya dan orangtuanya yang mengikuti makan malam. Tetapi Arga dan orang tuanya juga ikut makan malam. Namun tidak terlihat Risya ada di sana.


"Apa Risya belum dari kantor mas?" tanya Hendra yang tidak melihat keponakannya.


"Risya sudah pulang dari kantor. Risya paling sebentar lagi akam turun," jawab Hariyanto.


"Soalnya heran saja tidak melihat dia makan malam bersama kita," ucap Hendra.


"Papa seharusnya tidak heran dia kan memang suka asyik sendiri yang tidak suka bergabung dengan keluarga dia kan sangat aneh," sahut Vio yang tidak puas jika tidak ada menjelekkan Risya dan tidak peduli ada orang tua Risya atau tidak.


"Vio kamu jangan bicara seperti itu," sahut Hendra.


"Biar aku panggil Risya sebentar," ucap Tantri yang ingin berdiri.


"Tidak perlu," tiba-tiba Risya datang dengan wajahnya yang tidak bersemangat yang menghampiri meja makan. Risya sudah selesai mandi dan hanya menggunakan kaos putih dengan hotpants saja.


Tidak tau apa yang membuat Risya mengubah keputusannya untuk mengikuti makan malam. Padahal sebelumnya dia sudah yakin tidak akan turun. Salmah tersenyum melihat kedatangan Risya yang wajahnya ketus namun sangat cantik. Penilaian orang berbeda-beda. Namun dari mata Salmah sangat menyukai mantan kekasih anaknya itu.


"Kamu ini kenapa lama sekali Risya, semua orang menunggu kamu," ucap Tantri.

__ADS_1


"Oh iya benarkah, suatu kehormatan bagiku jika aku harus di tungguin," sahut Risya yang duduk dengan tersenyum pada Vio. Namun Vio menanggapi dengan sinis dengan hembusan napas kasar.


"Ya sudah kamu juga makan ayo!" sahut Hariyanto. Risya mengangguk.


"Mas Dehway, mbak Salmah dan Arga kalian juga makan ya, maaf jika makanannya kurang enak," sahut Hariyanto yang menjamu dengan baik.


"Kurang enak bagaimana Om, semua makanannya sangat enak kok," sahut Arga tersenyum.


"Dasar penjilat," ucap Risya pelan yang kebetulan duduk di samping Arga dan pasti Arga mendengar cuitan Risya dan Arga hanya mengendalikan dirinya untuk tidak membalas. Maklum banyak orang. Tetapi sepertinya Arga dan Risya sudah biasa berperang di depan banyak orang.


"Hmmm, kamu tidak sedang baikan dengan Arga kan?" tiba-tiba Karen mama Vio bertanya pada Risya membuat Risya melihat sebentar wanita yang tepat di hadapannya.


"Maksud Tante apa?" tanya Risya.


"Ya melihat Arga ada di sini, makan malam bersama kita bahkan ada keluarganya, ya siapa tau kalian sedang berbaikan," jawab Vio.


"Ya nggak lah Tante. Aku datang kemari itu karena mama dan papa, bukan berarti aku balikan dengannya," sahut Arga dengan tersenyum lebar yang pasti tidak sudi balikan dengan Risya.


"Mama kok bilang syukur?" tanya Vio.


"Ya kan Arga harus mikir seratus kali untuk bersama dengan wanita yang suka berkhianat dan untung aja Samuel cepat sadar dan memilih kamu dan tidak memilih Risya. Arga keputusan kamu untuk mengakhiri dengan Risya keputusan yang sangat tepat," ucap Karen yang tega-teganya ikut-ikutan menghina keponakannya.


Risya sampai terdiam. Namun tangannya mengepal yang rasanya ingin melempar piring kewajah Tante yang sama saja dengan anaknya kalau bicara tidak pernah memikirkan perasaan orang lain dan Vio tersenyum mendengar kata-kata sang mama. Arga menoleh kearah Risya dengan ekspresi yang tidak terbaca. Namun sangat jelas terlihat kalau Arga merasa pembicaraan Tante Risya sangat kelewatan.


"Risya mungkin makanya sampai detik ini kamu itu tidak menikah itu pasti karena kamu mendapat kutukan," sahut Karen lagi dengan sinis.


"Mah!" tegur Hendra suaminya yang merasa istrinya kelewatan.


"Coba deh Risya kamu itu mandi bunga, mandi pangir, atau kembang 7 rupa, supaya aura kamu itu terlihat dan kamu bisa laku," lanjut Karen yang benar-benar menghina Risya dan begitu mempermalukan Risya di depan Arga dan keluarganya.


Arga hanya terus melihat Risya yang terlihat emosi yang tertahan. Kata-kata Karen juga membuat Salmah dan suaminya saling melihat karena merasa kata-kata itu begitu keterlaluan.


"Mampus lo emang enak di permalukan," batin Vio yang menikmati suasana itu apalagi melihat Risya yang seperti itu.

__ADS_1


"Risya apa kamu tersinggung dengan perkataan Tante?" tanya Karen.


Risya mengangkat kepalanya dengan tersenyum, "kenapa harus tersinggung Tante, itu bukannya saran yang baik. Nanti Risya akan coba saran Tante dan Tante juga dan anak Tante harus mandi kembang 100 rupa supaya pikiran kalian juga bersih dan menjadi hidup yang lebih baik. Karena tidak tau juga Tante kapan matinya. Karena sama dengan jodoh semua itu takdir dan sama dengan kematian," ucap Risya tersenyum yang membalas kata-kata Karen dengan elegan.


"Risya mama aku Tante kamu. Kamu jahat sekali menanyakan kapan dia mati, keterlaluan kamu," sahut Vio yang tidak terima dengan kata+kata Risya.


"Oh jadi kalian tersinggung dengan kata-kata ku. Ya maaf ya. Aku hanya bertanya saja soalnya, soalnya terlalu lama hidup juga tidak baik," sahut Risya santai.


Arga sampai mau tertawa mendengar kata-kata Risya namun Arga masih menahannya. Karena tidak mungkin dia ngakak di tempat umum.


"Ya ampun mbak Tantri Risya tidak pernah berubah ya, saya hanya memberi saran dan memberi ingat. Tapi dia langsung seperti itu. Risya kalau lama-lama menikah nanti kamu susah loh punya anak," ucap Karen yang tidak ada hentinya menjatuhkan Risya.


"Tante menikah itu bukan perkara punya anak atau tidak. Ada kok yang sudah menikah lama tapi belum mempunyai keturunan dan ada tanpa menikah sudah hamil dulu. Jangan jauh-jauh contohnya wanita yang di samping Tante. Hamil di luar nikah. Tante sedang tidak mengajari saya kan yang harus hamil dulu baru menikah. Karena saya jelas tidak mau salah pilih dengan laki-laki yang menghamili wanita yang ujung-ujungnya akan terpaksa menikah. Kalau tidak perut semakin membesar. Iya kan Vio," ucap Risya dengan tersenyum yang menyindir Vio dan bahkan bukan menyindir lagi nama sudah di ucapkan.


"Risya kau!" Vio yang tampak tidak terima dengan kata-kata Risya yang begitu kelewatan yang kali inu Vio hanya bisa menahan malu.


"Kenapa apa yang aku katakan salahkan. Kamu itu hamil makanya di nikahi oleh suamimu itu. Jika tidak hamil kau tidak akan menikah," sahut Risya lagi yang tidak segan-segan bicara tanpa kata-kata ampun untuk Risya.


"Keterlaluan!" umpat Vio.


Arga mendengus dengan senyuman tipis ketika mendengar hal itu. Memang Risya itu kalau sudah mengamuk tidak perlu apa-apa lagi dia langsung emosi tingkat dewa dan tidak segan-segan membuka aib yang mungkin saja Salmah dan suaminya tidak tau dan sekarang jadi tau deh.


"Hmmm, ternyata makan malamnya tidak nikmat, auranya tidak bagus. Banyak penjilat dan orang-orang sok benar di sinu. Risya mau kekamar," ucap Risya berdiri dari tempat duduknya dan langsung pergi.


"Risya!" panggil Tantri. Risya yang begitu kesal dan tidak ingin melanjutkan makan malam lagi langsung pergi dari tempat itu.


"Mas seharusnya mas itu tidak membiarkan Risya yang berbicara seperti itu. Dia itu sangat keterlaluan," ucap Karen yang tidak terima anaknya di permalukan.


"Mbuk tapi Risya hanya bicara apa adanya. Jadi saya rasa tidak ada yang salah yang di katakan Risya," ucap Salmah dengan tersenyum.


Karen sampai tidak bisa berbicara apa-apa lagi. Risya sudah menghunanya dan juga menghina anaknya dan bagaimana dia tidak emosi yang di hina seperti itu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2