
Syarla dan Boy masih berada di tempat semula. Di tempat awal yang sekarang bukan hanya Syrala saja yang makan. Tetapi juga Boy ikut makan dan mereka mengobrol-ngobrol sepanjang waktu sampai mereka lupa waktu.
"Astaga Boy ternyata sudah jam segini," ucap Syrala yang melihat arloji di tangannya dan ternyata sudah pukul 11 malam.
Boy juga melihat arloji di tangannya dan juga kaget dengan waktu yang menunjukkan pukul 11.
"Kita ke asyikan ngobrol sampai tidak sadar jam segini," ucap Boy geleng-geleng kepala.
"Iya kamu benar. Huhhh benar-benar ada-ada saja, begitu lah kalau ngobrol pasti ada- saja yang di bicarakan dan kita lupa waktu," ucap Syrala.
"Ya sudah bagaimana? Apa sekarang kita pulang?" tanya Boy melihat ke arah Syrala.
"Ya harus pulang tidak mungkin juga di sini," ucap Syarla.
"Baiklah kalau begitu, ayo kita pulang," ajak Boy yang langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Its oke," sahut Syrala yang menyusul berdiri dan sebelum mereka meninggalkan tempat duduk mereka. Mereka membereskan sampah dan sisa makanan yang masih ada dan mereka langsung meninggalkan tempat itu yang mana mereka langsung pergi meninggalkan tempat itu.
*********
Sesampai di parkiran yang memang mobil mereka saling berdekatan. Mereka berdua saling melihat.
"Hmmmm Boy makasih ya sudah di traktir makanan. Walau makanan itu bukan untukku awalnya. Tapi tidak apa-apa. Aku kenyang kok," ucap Syrala yang mengelus-elus perutnya yang memang sangat kenyang.
"Jangan seperti itu Syrala. Nanti kamu berpikir lagi kalau aku meneraktirmu makanan sisa," sahut Boy.
"Nggaklah aku nggak sampai kok berpikir seperti itu. Lagian aku hanya bercanda. Jadi santai aja. Semuanya aman-aman aja ko," ucap Syrala.
"Iya-iya. Aku tau kok kamu orangnya bukan seperti itu," sahut Boy.
"Ya sudah kalau begitu sekarang aku pulang dulu ya sekali lagi makasih untuk semuanya," ucap Syrala.
"Sama-sama, aku juga makasih kamu sudah baik dan mau menemaniku," ucap Syrala.
"Oke," sahut Boy.
Boy langsung membuka pintu mobil Syrala dan Syarla tersenyum yang langsung masuk kedalam mobil.
"Bye," ucap Syrala yang menurunkan kaca mobilnya dan melambaikan tangan pada Boy. Boy mengangguk dan Syrala kembali menaikkan kaca mobilnya dan langsung melajukan mobilnya yang sebelumnya membunyikan klakson dan mobil itu melaju.
Boy menghela napasnya melihat kepergiannya Syrala. Boy melihat ke arah rumah sakit dan Boy juga akhirnya memasuki mobilnya yang harus kembali juga karena sudah malam.
************
Syrala yang menyetir dengan kecepatan santai dan sangat tenang yang tiba-tiba melihat ke kaca spion.
"Bukannya itu mobil Boy," gumamnya yang menoleh ke belakang yang memastikan itu mobil temannya.
"Iya benar lagi. Apa yang di lakukannya?" gumamnya kebingungan dan Syarla mengambil ponselnya.
"Hallo Boy! Kamu lagi di belakang mobil aku?" tanya Syrala.
__ADS_1
"Iya Syrala," jawab Boy.
"Kenapa kita kan beda arah?" tanya Syrala heran.
"Mau anterin kamu pulang," jawab Boy.
"Kok gitu?" tanya Syrala heran.
"Ini sudah larut malam. Nanti kamu kenapa-kenapa lagi. Ada begal yang gangguin kamu ya walau begal nggak akan berani sih ganggu kamu," seloroh Boy membuat Syrala tertawa.
"Ada-ada aja kamu itu," ucap Syrala.
"Kamu nyetir aja yang benar. Aku akan antar kamu pulang," ucap Boy.
"Oke-oke terserah kamu deh," sahut Syrala dengan mengiyakan saja dan menutup telpon tersebut. Syrala kembali melihat ke kaca spion dan Boy masih tetap mengikutinya membuat Syarla tersenyum.
"Tumben sekali Boy seperti itu. Ya tidak apa-apa dia mengikutiku. Tetapi kalau di pikir-pikir memang ya Boy itu tidak ada pekerjaan sama sekali, dasar. Tetapi ya tumben aman ya dia perhatian," gumam Syrala yang geleng-geleng namun tetap tersenyum. Dia pasti senang dengan temannya yang mengikutinya.
************
Mentari pagi kembali tiba. Arga yang berada di depan cermin yang sedang siap-siap mau bekerja. Yang sekarang memakai jam tangannya.
Risya menghampiri Arga dan memeluk Arga dari belakang dengan manjanya Risya. Arga sudah rapi-rapi. Namun Risya masih memakai piyama dan tidak ada tanda-tanda mau bekerja.
"Ada apa sayang?" tanya Arga yang melihat istrinya dari depan cermin.
"Kita belum ke Dokter," jawab Risya.
"Untuk apa?" tanya Arga dengan mengkerutkan dahinya.
"Kamu baik-baik aja sayang?" tanya Arga.
"Mualnya kadang-kadang berlebihan dan buat aku sulit untuk aktivitas. Jadi pengen ke Dokter untuk cari obat mual, suya tidak seperti ini," ucap Risya.
"Namanya juga hamil sayang. Bukannya mama bilang memang akan mual-mual ya dan mual-mual itu hal yang sangat biasa," ucap Arga.
"Issss kamu mah langsung jawab kayak gitu. Yang merasakan itu aku, kamu enak ngomong gitu," sahut Risya yang jadi ngambek.
"Iya-iya sayang, maaf aku tidak bermaksud mengatakan hal itu. Ya sudah kita ke Dokter ya," ucap Arga mengelus-elus rambut Risya.
Risya mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Arga, "kamu kan juga harus berangkat kerja!" ucap Risya.
"Tidak apa-apa menemani kamu dulu nanti kalau urusan kamu dengan Dokter selesai aku antar kamu pulang dan baru bekerja," ucap Arga.
"Benar kamu tidak masalah?" tanya Risya.
"Nggak sayang," sahut Arga yang membuat Risya tersenyum dan langsung kembali memeluk Risya.
"Sekalian kita juga tanya Dokter. Apa janinku sudah kuat apa belum?" ucap Risya.
Arga mengekerutkan dahinya mendengarkan apa yang di katakan Risya.
__ADS_1
"Memang kenapa?" tanya Arga.
"Ya kalau janinnya sudah kuat. Kita kan bisa itu," ucap Risya senyum-senyum malu.
"Bisa apa?" tanya Arga yang pura-pura tidak mengerti.
"Isss nggak usah sok polos," sahut Risya.
"Oh jadi ceritanya kamu ini yang ternyata tidak tahan ya," goda Arga.
"Apa sih, ya nggaklah orang kamu juga yang sering kode-kode," sahut Risya.
"Kapan sayang aku kode-kode," sahut Arga.
"Nggak mau ngaku lagi," kesal Risya.
Arga hanya tersenyum saja dan memeluk lebih erat lagi.
"Iya sayang aku memang sangat merindukan kamu dan apa yang kamu rasakan sama dengan apa yang aku rasakan," ucap Arga yang mengakui dirinya yang juga ingin melakukan hubungan itu.
"Maaf ya sayang aku sudah buat kamu puasa dengan waktu yang cukup lama," ucap Risya yang merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa sayang. Itu juga karena kamu ingin menjaga bayi kita," sahut Arga.
"Suami yang sangat pengertian," ucap Risya yang membuat Arga tersenyum dengan mengusap-usap punggung Risya.
**********
Rumah sakit.
Risya dan Arga melakukan pemeriksaan untuk yang pertama kali di temani Arga dan mereka sudah melakukan periksaan dengan Dokter wanita yang sekarang duduk di depan Dokter tersebut.
"Bu Risya saya tulis resepnya ibu tinggal ambil di apotik obat mualnya," ucap Dokter sembari tangannya menulis.
"Iya Dokter," jawab Risya.
"Kandungan istri saya baik-baik aja kan Dokter?" tanya Arga.
"Alhamdulillah baik-baik aja pak Arga. Tidak ada masalah sama sekali," jawab Dokter tersebut.
"Lalu kandungan istri saya sudah kuat Dokter?" tanya Arga. Risya langsung menyenggol Arga.
Dokter yang mengerti hanya senyum-senyum saja dengan geleng-geleng kepala mendengar apa yang di katakan Arga.
"Untuk kandungan yang masih sangat muda memang sangat rentan pak Arga. Hmmm ini memang kesulitan untuk suami ya hal-hal yang sangat sulit. Tetapi Pak Arga harus bersabar ya. Jangan terlalu di buru-buru. Demi kesehatan janinnya," ucap Dokter.
"Saya selalu sabar Dokter. Istri saya yang tidak sabar," ucap Arga.
Mendengar hal itu Risya membulatkan matanya. Dokter itu kembali senyum-senyum.
"Sayang kamu ini bikin malu aja," ucap Risya pelan.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Banyak kok pasangan muda seperti kalian ini. Jadi itu sudah hal yang sangat biasa," sahut Dokter tersebut dengan senyum-senyum. Risya dan Arga pun tersenyum yang kelihatan mereka sangat bahagia.
Bersambung.