
Vio dan Samuel pulang dari rumah Risya dan mereka yang berada di dalam mobil. Wajah Vio tampak penuh dengan pemikir dan memang pasti ada yang di pikirkannya yang membuatnya beberapa kali menghela napas.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Samuel heran dengan memperhatikan istrinya kelihatan modian yang seperti memikirkan sesuatu.
"Kamu masih memikirkan suster itu?" tanya Samuel.
"Aku tidak menyangka saja dengan Suster itu yang benar-benar manipulatif dan melakukan semuanya dengan kemauannya, mengarang cerita dan sehingga aku yang salah. Aku tidak percaya. Suster seperti itu bisa melakukan hal itu kepadaku. Benar-benar memuakkan," umpat Vio dengan geram yang menghela napasnya yang tidak teratur. Karena Devi yang membuatnya terkesan bersalah.
"Sayang kamu mungkin hanya salah paham saja. Bukannya Tante Tantri sudah mengatakan. Jika dia Suster yang sudah di pilih sebelumnya dan dia juga sangat bagus dalam bekerja dan menjaga Aurora dengan baik. Lalu apa yang salah sayang. Semuanya baik-baik saja.
"Kamu nggak percaya juga sama aku," sahut Vio yang ingin memastikan suaminya itu berpihak kemana.
"Bukan begitu sayang," sahut Samuel.
"Sayang aku benar-benar serius. Jika aku merasa ada yang tidak beres dengan Suster itu," tegas Vio penuh dengan penekanan pada suaminya yang berusaha meyakinkan Samuel.
"Tidak beres dalam hal apa?" tanya Samuel.
"Jika aku tidak lewat dari kamar Arga pasti wanita itu sudah macam-macam dengan Arga dan Iya aku juga melihat sendiri, melihat dengan jelas. Jika wanita, dari wajahnya memang sangat manipulatif. Jika tidak mana mungkin dia langsung menceritakan pada Tante Tantri dan membuat cerita sehingga aku yang aku yang bersalah," ucap Vio yang masih tidak terima dengan apa yang di lakukan Suster itu.
"Dan kamu tau. Saat aku bicara pada Risya. Bisa-bisanya Risya punya pikiran. Jika Arga dan Suster itu punya hubungan dan kenapa Risya punya pikiran seperti itu. Itu karena dia bertanya pada Suster itu dan itu hasilnya!" tegas Vio.
"Dan dari semuanya. Aku bisa menyimpulkan suster itu bukan wanita baik-baik, melainkan wanitanya jahat yang punya niat jahat dan aku yakin itu," tegas Vio yang apa adanya menceritakan semua kepada suaminya .
"Anggaplah itu pemikiran kamu dan itu kebenarannya. Tapi kamu tidak punya bukti dan dari Tante Tantri yang bercerita mengenai wanita itu. Sudah jelas Tante Tantri sangat mempercayai dan misalnya penilaian kamu benar, lalu kamu bisa apa. Karena pada kenyataannya sudah terlihat Tante Tantri mempercayainya dan itu hal. Jadi kamu juga tidak akan bisa melakukan apa-apa," ucap Samuel yang mengingatkan Vio.
Vio terdiam. Apa yang di katakan suaminya itu benar. Tadi saja dia tidak di bela sama sekali dan bahkan di salahkan oleh Tantri.
"Sayang sebaiknya begini saja. Jika kamu merasa ada yang tidak beres dari Suster itu. Kamu cukup mengawasinya saja san harus hati-hati. Kamu sudah tau bagaimana dia. Jadi kamu harus lebih teliti untuk menghadapinya. Agar kamu punya bukti pada Tante Tantri. Jika wanita itu, memang bukan wanita baik-baik," ucap Samuel memberi saran istrinya itu.
"Iya kamu benar," sahut Vio yang setuju dengan apa yang dikatakan suaminya itu.
"Ya sudah kamu jangan memikirkan hal yang berlebihan. Kamu cukup fokus dan percaya padaku. Maka semuanya akan baik-baik saja," ucap Samuel meyakinkan. Vio hanya mengangguk kepalanya.
*********
Tantri yang sedang menaiki anak tangga dengan membawa nampan.
__ADS_1
"Bu!" panggil Devi yang membuat langkah Tantri terhenti.
"Iya Suster Devi!" sahut Tantri.
"Untuk makanan Bu Risya ya?" tanyanya.
"Iya benar. Saya ingin memberikan makan Risya dan setelah makan. Saya ingin mengajaknya jalan-jalan sebentar bersama Arga dan juga Aurora. Hal ini supaya Risya bisa mengingat sedikit demi sedikit tentang suami dan anaknya," jawab Tantri.
"Memang Risya akan mau di ajak jalan?" tanya Suster Devi.
"Harus mau, makanya setelah makan malam, kami ingin pergi," sahut Tantri yang sudah merencanakan hal itu.
"Hmmmm, kalau begitu biar saya saja yang mengantarkan makan malam untuk Bu Risya!" ucap Suster Naomi.
"Tidak usah Suster biar saya saja," tolak Tantri.
"Bukannya ibu mengatakan. Jika ibu mau pergi. Sebaiknya ibu siap-siap saja. Biar saya yang mengurus Bu Risya dan nanti setelah makan saya akan suruh Bu Risya langsung siap-siap," ucap Suster Devi.
"Tapi...."
"Nggak apa-apa Bu. Biar semuanya cepat selesainya," sahut Davi.
"Iya ibu pasti," sahut Suster Devi dengan menganggukan kepalanya.
"Kalau begitu saya langsung keatas dulu!" ucap Suster itu pamit. Risya Tantri menganggukkan kepalanya dan Suster Devi langsung pergi.
"Sebaiknya aku langsung siap-siap saja. Arga juga pasti sudah siap-siap dan kamu bisa jalan-jalan dan semoga Risya bisa sembuh setelah ini," gumam Tantri dengan menghela napas dan langsung bergerak.
**********
Suster Devi mengetuk pintu kamar Risya dan Risya langsung membukanya.
"Makan Bu!" ucap Suster Devi dengan ramah.
"Letakkan di meja," sahut Risya.
"Baik Bu!" sahut Suster itu langsung masuk.
__ADS_1
"Ibu silahkan langsung di makan dan minum obatnya setelah itu!" titah Suster Devi.
"Nanti saya akan makan. Kamu keluarlah!" ucap Risya yang belum ingin makan.
"Maaf Bu Risya. Tapi saya harus memastikan Bu Risya untuk memakannya," ucap Suster itu.
Risya tampak menghela napas dan lama-lama kesal dengan Suster itu.
"Paling tidak makan sesuap dan saya langsung pergi," ucap Suster itu.
Risya kembali mengenal napasnya dan menekan satu suap saja makanan itu membuat Suster Devi tersenyum.
"Kamu masih di sini?" tanya Risya.
"Baiklah saya akan pergi. Selamat makan," ucap Suster itu langsung pergi.
"Selalu saja menungguku makan. Apa dia tidak punya pekerjaan," umpat Risya dengan kesal.
**********
Akhirnya Arga, Tantri dan Aurora sudah selesai yang ingin siap-siap untuk jalan-jalan malam. Arga tampak menggendong Aurora dengan menggunakan stroller.
"Ya sudah Arga mama lihat Risya dulu ya. Siapa tau dia sudah siap," ucap Tantri.
"Iya mah," sahut Arga.Tantri menaiki anak tangga, menuju kamar Risya untuk memanggil Risya turun. Agar mereka berdua pergi.
"Pak Arga!" tiba-tiba Suster Devi datang dengan membawa botol susu Aurora.
"Ini susu Arora," ucap Suster itu yang langsung memberikan pada Arga.
"Makasih," sahut Arga dengan simple.
"Pak Arga mau kemana?" tanya Suster itu.
"Mau keluar sebentar," jawab Arga dengan singkat.
"Oh begitu ternyata," sahut Suster itu. Arga hanya mengangguk saja.
__ADS_1
Bersambung