
Risya menuruni anak tangga yang baru saja keluar dari kamarnya. Dia baru keluar dari kamarnya siang-siang seperti ini.
"Bi!" panggil Risya sembari menuruni anak tangga.
"Iya non Risya!" sahut Bibi yang langsung menghampiri Risya.
"Di mana Arga?" tanya Risya.
"Mas Arga tadi kekantor Non," jawab Bibi.
"Oh begitu. Aku kesiangan bangun. Ternyata Arga sudah pergi kekantor," gummanya yang tampak sedih.
"Non Risya sarapan ya. Tadi mas Arga sudah menyiapkan sarapan untuk Non Risya," ucap Bibi yang menyampaikan pesan Arhan.
"Iya Bi," jawab Risya mengangguk.
"Oh iya Bi mama, papa mana?" tanya Risya.
"Nyonya sama tuan lagi ke rumah sakit," jawab Bibi apa adanya. Wajah Risya datang mendengar kata rumah sakit.
"Ya sudah Bibi siapin sarapan dulu ya," ucap Bibi pamit. Risya menganggukkan kepalanya.
Tinnong, tinnong. Tiba-tiba bel rumah berbunyi.
"Biar saya aja yang buka pintu," sahut Risya menyetop Bibi yang ingin membukakan pintu.
"Baik Nona Risya," sahut Bibi yang langsung menuju dapur dan Risya langsung menuju pintu untuk membukakan pintu.
Risya membuka pintu yang terbuat kurir pengantar Bunga yang datang.
"Permisi Bu. Kediaman Nona Risya?" tanya kurir tersebut.
Risya menganggukkan kepalanya dengan wajahnya yang masih kelihatan bingung.
"Ini Bu silahkan di tanda tangan!" titah kurir tersebut yang memberikan pulpen dan nota kepada Risya. Walau penuh dengan kebingungan Risya tetap melakukannya.
"Ini Bu. bunganya dan ini," kurir itu memberikan bunga tersebut dan juga paper bag kecil dan Risya juga mengambilnya dengan penuh kebingungan.
"Terima kasih," ucap Risya.
__ADS_1
"Saya permisi!" pria itu langsung pergi.
"Bunga dari siapa ini? Arga mana mungkin memberiku bunga," batin Risya yang sudah hafal dengan suaminya itu. Hanya bunga yang tidak bisa di berikan Arga. Karena Arga alergi bunga dan mereka dulu pernah ribut besar karena Risya salah menerima bunga.
Risya melihat ada kartu ucapan di dalam boucket tersebut dan langsung membacanya.
"Tante Risya! maafkan Putri ya. Pasti kata-kata Putri Minggu lalu membuat Tante Risya marah. Putri sudah ingin minta maaf. Tetap Putri tidak berani. Jadi Putri baru minta maaf sekarang. Putri janji tidak akan bikin Tante marah lagi,"
"Semoga Tante suka bunganya. Putri beli pake uang Putri sendiri dan minta tolong Bu guru untuk membantu Putri mengirim tempat Tante. Sekali lagi Putri minta maaf ya Tante,"
Tulis Putri dengan tulisan tangannya.
Ternyata Putri yang mengirim boucket tersebut untuk meminta maaf pada Risya. Risya menghela napasnya dengan wajah senduhnya dan melihat isi paper bag tersebut.
Isinya coklat, minuman botol dan juga permen. Namanya anak-anak. Menurut Putri pasti Risya suka dan memberikannya pada Risya.
Risya masih berdiri di depan pintu dengan penuhi linglung dengan apa yang di terimanya.
Tanpa Risya saudara mobil Arga berhenti di depan rumah. Arga keluar dari rumah dan menghampiri Risya.
"Sayang kamu kenapa berdiri di sini?" tanya Arga heran.
Risya tidak menjawab dan memberikan pada Arga Boucket yang di terimanya.
"Tidak apa-apa yah. Putri masih polos dan tidak tau apa-apa. Ayo kita masuk!" ajak Arga.
Risya mengangguk dan membawa istrinya masuk kedalam. Risya pasti sulit bereksperesi karena kondisi Risya yang seperti itu. Mungkin Putri hanya anak kecil yang merasa salah dan meminta maaf tanpa iya ketahui apa kesalahannya.
**********
Tantri bersama dengan Hariyanto yang menemani Hariyanto.
"Risya belum datang juga?" tanya Hariyanto.
"Sebentar lagi pasti datang pah," jawab Tantri.
"Mama bohong?" tebak Hariyanto. Tantri terdiam yang memang benar. Jika dia sedang berbohong.
"Seharusnya papa tidak menanyakan Risya. Mana mungkin Risya mau bertemu papa. Setelah apa yang papa lakukan sudah melukai hatinya dan seharusnya papa tidak berharap Risya ada di sini," ucap Hariyanto meneteskan air matanya.
__ADS_1
"Pah jangan bicara seperti itu. Risya butuh waktu dan pasti akan menemui papa," Tantri hanya berusaha memberi semangat suaminya itu.
"Papa sudah menyakiti hatinya mah dan papa membuatnya kecewa. Ini resiko papa yang tidak akan pernah melihat Putri papa lagi. Walau keinginan papa di hari-hari terakhir papa hanya bersama Putri kesayangan papa dan sekarang semua itu tidak akan papa dapatkan," ucap Hariyanto yang pasrah dengan keadaannya yang sekarang
"Apa yang papa bicarakan. Kenapa berbicara masalah hari-hari terakhir. Apa papa pikir papa tidak akan sembuh. Jangan seperti itu pah. Papa pasti sembuh dan Risya akan datang menemui papa," ucap Tantri yang tiba-tiba takut dengan perkataan suaminya.
"Tapi papa sudah tidak punya keinginan untuk sembuh. Jika di beri kesempatan. Papa hanya ingin memeluk Risya dan memohon maaf pada Risya," ucap Hariyanto yang kelihatan begitu pasrah dengan keadaannya yang sekarang.
Tantri sebagai istri hanya berusaha untuk menguatkan suaminya itu yang sudah tidak punya semangat hidup lagi.
**********
Syrala turun dari mobil yang berhenti di rumah sakit. Namun tiba-tiba Syrala melihat, Angela, Edo dan Putri.
"Bukannya itu Angela. Mau ngapain lagi mereka," gumam Syrala yang panik dan langsung melangkah cepat menghampiri Angela.
"Angela tunggu!" panggil Syrala. Angela yang mendengar suara Syrala langsung menoleh kebelakang.
"Syrala!" sahut Angela.
"Kalian ngapain di sini?" tanya Syrala.
"Angela apa belum cukup kejadian waktu itu dan sekarang kamu ingin mengulanginya lagi. Apa kamu tidak kasihan pada Risya sampai kamu datang kembali kemari membawa Putri. Apa maksud kamu sebenarnya. Kamu ingin menyakiti Risya lagi," ucap Syrala yang marah-marah pada Angela.
"Syrala apa yang kamu bicarakan aku tidak mengerti," ucap Angela.
"Sudahlah kamu memang sengaja mencari masalah datang kerumah sakit untuk memperbesar masalah. Sejak dulu kamu sangat egois," kecam Syrala.
"Apa aku seburuk itu Syrala sampai kamu berjaya sekejam itu kepadaku. Kedatangan ku kemari untuk membawa Putri periksa pada Dokter. Hari ini adalah jadwalnya dan memang sebelum aku mengenal Edo rumah sakit dan Dokternya di sini. Aku tidak ada tujuan apa-apa kemari selain menemani Putri. Aku ada tujuan untuk hal lain," jelas Angela dengan wajah sedihnya.
Dia pasti tidak menduga jika Syrala langsung menuduhnya yang tidak-tidak.
"Benar Syrala kami datang kemari hanya untuk memeriksakan Putri bukan untuk hal lain," sahut Edo membenarkan. Syarla diam saja mendengarnya.
"Syrala aku tau kamu pasti sama dengan yang lainnya yang berpikiran. Aku berpihak dengan Edo. Tetapi aku tidak pernah berpihak pada siapapun. Dan aku tidak ada niat untuk lebih membuat Risya semakin menderita," ucap Angela.
"Aku sangat memahami Risya dan Risya adalah sahabatku. Jika dia sedih aku akan ikut sedih dan tanpa ada sedikit untuk menyakiti Risya," ucap Angela dengan wajah sedihnya yang mendapatkan tuduhan dari Syrala. Syrala masih diam saja. Dia seperti itu karena parno dan takut Risya sampah kenapa-kenapa lagi.
"Sudah Angela ayo kita pergi!" ajak Edo. Angela menganggukkan kepalanya dan pergi bersama Edo dan Putri.
__ADS_1
Syrala membuang napasnya perlahan kedepan. Dia merasa bersalah dengan menuduh Angela. Hubungannya dan Angela sebelumnya tidak baik-baik saja dan sekarang bertambah lagi. Memang Maslaah yang mereka hadapi sedang tidak baik.
Bersambung