
Hari 7 bulan Risya.
Usia kandungan Risya sudah sampai 7 bulan. Risya pun mengikuti tradisi keluarga mereka yang di adakan 7 bulanan. Ada beberapa proses yang di lakukan Risya dalam acara tersebut dari siraman dan lain-lainnya.
Teman-teman Risya juga datang menghadiri acara teman mereka itu. Tema acaranya bernuansa dengan adat dan tamu yang datang juga menggunakan kebaya dan Pria menggunakan batik.
Sama dengan Risya yang menjadi topik dalam acara tersebut. Tampil sangat cantik dengan kemben yang di lilit di tubuhnya dengan kalung melati yang melingkar di bagian dada putih mulusnya yang terbuka dan juga menggunakan bando melati dengan rambut yang di urai panjang.
Arga juga sangat tampan menggunakan pakaian adat yang sekarang melakukan siraman pada istrinya. Sebagai suami memang harus Arga yang pertama melakukan siraman kepada istrinya.
Lihatlah wajah cantik Risya yang begitu bahagia sampai Risya menampung air dari siraman suaminya itu dengan ke-2 tangannya dengan senyumnya yang lebar. Jahilnya Risya juga timbul mencipratkan air ke wajah suaminya.
Arga harus sabar-sabar dengan kelakuan istrinya itu dengan Arga yang tersenyum menahan kesal pada Risya. Tantri, Salamah dan Dehway hanya geleng-geleng kepala dengan kelakuan Risya yang masih aja seperti anak kecil.
Setelah Arga melakukan siraman. Arga mengusap perut Risya dan juga mencium perut Risya. Lalu Arga mencium kening Risya dengan lembut dan tidak lupa mengecup sekilas bibir Risya.
"Selamat untuk kamu dan bayi kita," ucap Arga. Risya hanya mengangguk dengan tersenyum.
Siraman di lanjutkan dengan Tantri, kemudian Salmah dan Dehway. Mereka turut bahagia dengan acara tersebut. Sebagai calon kakek dan nenek ya siapa yang tidak bahagia. Makanya mereka begitu bahagia dengan senyuman yang merekah.
Setelah selesai melakukan siraman. Arga langsung menggendong istrinya itu apa bridal style.
"Kamu berat sekali!" ejek Arga saat Risya sudah berada di gendongannya.
"Issss kamu ini," kesal Risya yang langsung mendapatkan cubitan manja dari sang istri.
"Bercanda sayang!" sahut Arga.
"Awas kalau ngomong gitu lagi!" ucap Risya mengingatkan dengan matanya melotot.
"Iya-iya," sahut Arga.
************
Acara terus berlanjut. Rangkaian acara adat yang berjalan dengan lancar dan tidak ada hambatan. Setelah acara selesai Risya sudah berganti pakaian dan menjamu para tamu-tamu yang sekarang ada yang menikmati makanan sembari menikmati hiburan.
Risya juga menuju meja teman-temannya yang datang hari ini. Ada Angela dan Edo. Ada Syarla dan Boy dan juga sepupunya Vio bersama suaminya Samuel dan Putra mereka Delano yang sekarang sudah mulai bisa merangkak.
__ADS_1
"Bagaimana Risya Happy hari ini?" tanya Syrala.
"Ya pasti Happy. Apalagi kalian semua hadir di sini," sahut Risya dengan wajah tersenyum lebarnya.
"Ya kalau kita nggak hadir akan ada yang ngambek sampai 500 tahun," celetuk Angela.
"Hmmmm, benar itu. Jadi mending hadir walau terpaksa," sahut Boy.
"Oh jadi kalian terpaksa datang!" sahut Risya yang mulai kesal.
"Bercanda Risya. Udah nggak usah dengerin mereka," sahut Syrala.
"Ini kamu duduk aja dan makan bersama kita," sahut Vio.
"Baiklah!" sahut Risya. Arga dan Risya pun bergabung dan ikut makan bersama orang-orang yang ada di meja bulat itu.
Di tengah makan mereka. Tiba-tiba Angela salfok dengan arah masuk ke dalam acara itu.
"Putri!" ucapnya tiba-tiba yang membuat orang-orang yang ada di meja makan itu berhenti makan dan melihat ke arah pandang Angela.
"Putri!" Edo tampak senang ketika melihat Putri yang benar apa adanya. Ada Putri yang datang bersama Tasya dan juga Bram.
Angela, Risya, Arga, Boy, Syrala, Vio dan Samuel juga terharu melihat pertemuan itu dengan mereka yang juga ikut berdiri. Tidak lama dari itu Tasya dan Bram sudah bergabung dengan mereka.
"Papa kangen banget sama Putri!" ucap Edo.
"Putri juga pah," sahut Putri. Mereka saling melepas pelukan dengan Edo melihat wajah Putri.
"Putri nangis?" tanya Edo dengan melihat air mata Putri yang jatuh. Putri bahkan tidak pernah menunjukkan jika dirinya menangis. Dan tiba-tiba saja air matanya jatuh.
"Kenapa sayang?" tanya Edo. Melihat hal aneh pada Putri membuat Risya melihat kearah Tasya dan Tasya terlihat gelisah dengan Putri yang tiba-tiba mengeluarkan air mata.
"Tidak apa-apa papa. Putri hanya terharu bisa bertemu papa," sahut Putri.
"Papa juga terharu. Tapi Putri tidak boleh nangis," ucap Edo. Putri menganggukkan kepalanya. Edo berdiri dari jongkoknya dan mengusap-usap pucuk kepala Putri.
"Terima kasih Tasya kamu sudah datang!" ucap Edo.
__ADS_1
"Iya mas," sahut Tasya.
"Sebagai ayah sambung dari Putri. Aku mengijinkan Tasya dan Putri untuk datang ke acara ini dan bertemu dengan kamu," sahut Bram dengan suara dinginnya.
"Ayah sambung maksudnya?" tanya Edo dengan dahinya yang mengkerut. Orang-orang yang ada di sana juga bingung dengan apa yang di katakan Bram.
"Tasya apa mereka belum tau?" tanya Bram melihat ke arah Tasya.
"Oh iya mohon maaf jika aku tidak memberitahu atau mengabari kalian. Jika aku dan mas Bram sudah menikah," sahut Tasya yang mengejutkan semua orang termasuk Edo dengan mata Edo yang melotot.
"Apah Tasya sudah menikah dengan Bram," batin Risya yang lebih terkejut. Namun pandangan mata Risya langsung turun ke bawah melihat Putri yang memegang kuat baju Edo. Risya melihat ke anehan pada Putri seperti seseorang yang sedang berlindung.
"Kapan kalian menikah?" tanya Vio.
"Kami menikah di Luar Negri. Saat aku pergi waktu itu dan maaf aku tidak mengundang kalian. Karena memang acaranya sangat private dan aku juga tidak enak. Jika mengganggu kalian semua," sahut Tasya dengan tersenyum tidak enak pada orang-orang di sana.
"Bisa-bisanya kamu menikah begitu saja tanpa memberitahu ku Tasya," sahut Edo dengan suara dinginnya.
"Maaf! kenapa dia harus melapor padamu. Dia itu mantan istrimu dan Tasya punya hak untuk menikah dengan siapapun dan tidak perlu minta persetujuan kamu," sahut Bram dengan sinis.
"Sudah mas Bram," sahut Tasya yang mencegah situasi yang tampaknya akan memanas.
"Maaf mas Edo aku sudah mengatakan alasannya kepada semuanya dan aku harap kamu bisa mengerti," sahut Tasya berusaha membuat pengertian pada Edo.
Bagi Edo bukan masalah Tasya menikah dengan siapapun. Ya itu bukan urusannya. Dia juga tidak ada perasaan pada Tasya. Tetapi pasti Edo kecewa dengan Tasya melakukan diam-diam dan Putri ada bersama mereka.
"Untuk apa kamu minta maaf Tasya," sahut Bram yang kelihatan kesal.
"Mas sudah jangan buat keributan. Ini tempat umum," ucap Tasya pelan.
"CK!" Bram berdecak kesal dengan Tasya yang malah membela Edo.
"Hmmmm, sudah-sudah. Aku berterima kasih dengan kedatangan kalian. Memenuhi undangan mama. Makasih Tasya, Bram dan Putri sudah datang dan aku ucapkan selamat untuk pernikahan kalian," sahut Risya mencairkan suasana.
"Iya Risya sama-sama," sahut Tasya tersenyum.
"Kalian nikmati acaranya," sahut Arga. Tasya mengangguk saja.
__ADS_1
"Ya ampun kenapa aku merasa ada yang aneh. Tasya sudah menikah dengan Bram dan Putri tidak biasa seperti itu," batin Risya yang masih aja tetap kepikiran dengan hal-hal yang aneh.
Bersambung.