MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!

MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!
Episode 172


__ADS_3

Acara Aniversary pernikahan itu masih lanjut dengan sekarang Tantri dan Hariyanto yang memotong kue ulang tahun pernikahan yang ke 30 tepat usia pernikahan mereka ke 30 tahun.


Walau mereka di katakan sudah tua. Tetapi masih romantis saja yang sekarang saja memotong kue dengan sama-sama memegang pisau dan memotong bersamaan dengan romantis yang membuat tamu undangan tersenyum melihat keromantisan itu bahkan memberikan tepuk tangannya.


Sama dengan Risya yang berkaca-kaca melihat pernikahan mama dan papanya yang langgeng sampai saat ini.


"Kamu kenapa?" tanya Arga melihat istrinya yang berkaca-kaca.


"Aku sangat bahagia melihat mama dan papa yang masih tetap berumah tangga. Aku sangat berharap jika pernikahan kita sama seperti mereka tetap utuh," ucap Risya dengan doanya yang tulus.


"Pasti sayang. Karena keutuhan dalam rumah tangga itu ada pada tanggung jawab suami yang menjadi tongkatnya. Dan sama seperti mama dan papa. Pernikahan mereka utuh. Itu karena papa sangat bertanggung jawab untuk kamu dan mama dan papa menjaga amanah dalam pernikahannya," ucap Arga dengan bijak.


"Kalau begitu kamu juga harus bertanggung jawab untuk pernikahan kita," ucap Risya.


"Tugasku memang itu. Aku akan menahkodai kapal ke jalan yang benar. Agar kapal kita tidak di terjang ombak," ucap Arga.


"Aku percaya itu. Sama dengan papa yang selama menikah dengan mama tidak pernah macam-macam dan bahkan dari aku kecil sampai dewasa aku tidak pernah mendengar mereka ribut ya pasti pernah ribut. Tetapi tidak pernah di depanku," ucap Risya yang merasa beruntung memiliki ke-2 orangtuanya.


"Idola kamu pasti papa kan!" tebak Arga.


Risya menganggukkan kepalanya, "papa orang yang paling aku kagumi dan memang dia adalah idolaku. Ayah terhebatku," ucap Risya.


"Dan papa juga adalah panutanku. Contoh untukku," sahut Arga yang membuat Risya tersenyum dan langsung memeluk suaminya itu dengan Arga mengelus-elus bahu istrinya itu yang sekarang sangat terharu.


Acara pesta itu masih saja berlanjut dengan acara hiburan dan yang lainnya. Boy yang terlihat jenuh dan memang tidak suka di tempat keramaian duduk saja dengan sibuk bermain handphonenya.


Sementara Syrala yang tadi mengobrol-ngobrol bareng Angela dan Edo melihat Boy yang jauh di sana yang menyendiri membuat Syrala menghela napasnya dan langsung menghampiri Boy.


"Boy!" tegur Syrala yang duduk di samping Boy.


"Hey Syrala," sahut Boy.


"Kamu jenuh?" tanya Syrala.


"Ya lumayan," jawab Boy jujur.


"Ya sudah kalau begitu sekarang kita pulang aja bagaimana," ucap Syrala.


"Kamu jenuh juga. Kayaknya tidak mungkin. Bukannya kamu itu suka sama pesta dan ini baru jam brapa jadi mana mungkin kamu jenuh," ucap Boy.


"Kita kan perginya tadinya sama dan kamu sepertinya tidak nyaman. Jadi ya aku tidak mungkin memaksa kamu. Jadi tidak apa-apa. Kalau kita pulang sekarang aja," ucap Syrala yang tidak ingin Boy jadi tidak nyaman.


"Hmmm, begitu yah," sahut Boy yang melihat di sekelilingnya.


"Tapi kamu yakin nih nggak apa-apa. Kalau kita pulang?" tanya Boy.


"Nggak apa-apa. Ayo kita pamit sama Tante Tantri dan Om Hariyanto juga Risya dan Arga," ucap Syrala yang langsung berdiri.

__ADS_1


"Sudah ayo jangan banyak berpikir," Syrala bahkan langsung menarik tangan Boy yang memaksa Boy untuk berdiri dan mereka langsung menemui yang punya acara untuk berpamitan secepatnya kepada yang punya hajat.


**********


Syrala dan Boy sudah pamit terlebih dahulu dan Angela, Edo dan Putri masih di acara pesta tersebut yang sekarang sedang makan bersama Risya, Arga, Hariyanto, Tantri, Salmah dan juga Dehway.


"Putri sekarang jelas berapa?" tanya Tantri.


"Kelas 2 Tante," jawab Putri.


"Pasti Putri anak yang pintar di sekolah ya," tebak Hariyanto.


"Tidak terlalu pintar," jawab Putri.


"Jangan merendah Putri. Putri ini sering juara lo di sekolah," sahut Angela yang pasti banyak tau.


"Issss mama jangan bilang gitu Putri jadi malu," sahut Putri yang mengundang tawa semua orang.


"Putri pasti di sekolahnya banyak temannya kan?" tanya Salmah.


"Tidak kok Tante. Bahkan tidak ada yang mau berteman dengan Putri. Karena katanya Putri itu aneh dan teman Putri hanya ada dua saja," jawab Putri yang membuat suasana jadi hening dan wajah semuanya jadi senduh.


"Putri tidak apa-apa di sekolah itu untuk belajar bukan mencari teman," sahut Edo tersenyum. Putri menganggukkan kepalanya.


"Bukan Putri yang aneh. Tetapi mereka yang aneh yang tidak mau berteman dengan gadis secantik ini," sahut Arga menghibur Putri.


"Om Arga sangat baik dan begitu sabar. Pasti Om Arga kesulitan menjalani kehidupan Om Arga sehari-hari," ucap Putri.


"Kok bilang gitu Putri," sahut Angela.


"Karena Om Arga harus merawat bayi gede yang manja melebihi anak kecil," jawab Putri dengan sindiran yang pasti pada Risya dan mengundang tawa semua orang.


"Jangan mulai yah," sahut Risya dengan kesal


"Memang iya kok, lihatlah makan aja harus pegangan tangan," sahut Putri.


"Ya terserahlah," sahut Risya.


"Issss manja," ejek Putri sewot.


"Tidak apa-apa Putri kalau Tante Risya manja. Tante Risya ini manja bukan hanya sama Om Arga. Tetapi sama Tante dan Om juga," sahut Dehway.


"Pah jangan di omongi dong," sahut Risya yang tidak mau jadi tambah di ejek lagi.


"Sama Om dan Tante juga," sahut Hariyanto yang menambahi.


"Papa juga," sahut Risya.

__ADS_1


"Dah besar juga," ejek Putri


"Tidak apa-apa Putri. Justru kalau Tante Risya manja Om jadi senang," sahut Arga yang membela istrinya membuat Risya jadi punya pegangan dan seolah sombong pada Putri dan Putri hanya menatap sewot pada Risya.


"Sudah-sudah sekarang kita lanjutkan makan. Oh iya Putri mau coba cake kacang almond tidak," sahut Tantri yang menawarkan.


"Maaf Tante. Kebetulan Putri Alergi kacang-kacangan," sahut Edo yang harus mengingatkan.


"Oh begitu. Maaf ya Tante tidak tau," sahut Tantri.


"Pasti Tante bilang Putri aneh kan," sahut Putri.


"Kenapa aneh?" tanya Tantri.


"Karena alergi kacang," jawab Putri.


"Putri alergi kacang bukan hal yang aneh. Anak Om saja Risya juga alergi kacang dan juga banyak anak-anak yang lain alergi dengan kacang," sahut Hariyanto.


"Benar Putri Tante Risya juga tidak bisa makan kacang," sahut Arga.


"Tuh dengar Putri. Jadi alergi itu bukan hal yang aneh. Jadi Putri jangan pernah merasa seperti itu," sahut Angela. Putri menganggukkan kepalanya.


"Jadi Putri tidak sendirian. Ada Tante Risya," sahut Salmah.


"Tapi tidak mau di samain sama Tante Risya," sahut Putri.


"Yang mau di samai juga siapa. Isssss," sahut Risya sewot.


"Mulai lagi deh," sahut Dehway dengan geleng-geleng kepala.


Ya lumayan ada hiburan untuk mereka dengan pertengkarana kecil antar Putri dan Risya.


Mereka masih berada di pesta dengan makan dan sembari cerita. Ternyata Syrala dan Boy juga makan. Namun bukan di tempat pesta. Tetapi mereka makan di pinggir jalan. Di nasi goreng abang-abang dengan pakaian kondangan mereka.


"Aneh banget ya kita. Pergi kondangan tetapi malah makan di sini," ucap Syrala sembari mengunyah makananya.


"Tapi makanan di sini kok jauh lebih enak ya," sahut Boy


"Wah parah. Jadi maksudnya makanan di pesta Risya itu tidak enak. Nanti aku bilang sama Risya lo," sahut Syrala.


"Hanya bercanda. Namanya juga berpendapat," sahut Boy.


"Ya makan di mana aja sama aja sebenarnya yang bikin beda itu makan dengan siapanya," sahut Syrala dengan santai membuat Boy melihat kearah Syarla cukup lama.


"Iya kan," sahut Syrala yang juga melihat Boy.


"Iya sih," sahut Boy mengangguk dan tersenyum sama dengan Syrala yang juga tersenyum dan keduanya malah tertunduk pada makanan yang sepertinya sangat malu dan tidak tau apa yang membuat mereka itu mendadak malu. Ya malu-malu gemes seperti orang pacaran saja.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2