MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!

MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!
Bab 240. Ikhlas itu sangat sulit.


__ADS_3

Tantri melepas pelukan itu dan melihat Risya yang masih menangis. Tantri memegang pipi Risya dengan ke-2 tangannya dan mengusap air mata putrinya itu. Risya masih menangis senggugukan yang terisak-isak dengan napasnya yang terasa sesak.


"Harus belajar ikhlas Risya. Ini mungkin sudah ketentuan yang di atas. Mama tau ini berat untuk kamu. Tetapi ini harus di jalani. Percaya sama mama semua kejadian ini pasti akan ada hikmahnya," ucap Tantri yang mencoba untuk membuat putrinya itu mengerti.


"Tapi Risya tidak mau kehilangan papa mah. Risya tidak ingin papa kenapa-kenapa. Risya tidak mau papa pergi," sahut Risya yang menolak keras jika Hariyanto akan pergi. Karena jika mendonorkan semua organ tubuhnya dalam arti. Hariyanto akan pergi untuk selama-lamanya dan itu sangat tidak di inginkannya.


"Mama paham dan sangat mengerti perasaan kamu. Tapi kamu harus belajar untuk ikhlas Risya," ucap Tantri dan Tantri kembali memeluk Risya untuk memberikan Risya ketenangan. Namun apa yang tenang Risya masih saja menangis di pelukan mamanya. Menangis terisak-isak dengan penolakan hatinya atas keputusan dari Hariyanto.


Tantri juga pasti berat dengan keputusan suaminya itu. Tapi apa daya itu sudah pilihan suaminya. Menebus dosanya kepada Putri mungkin dengan cara seperti itu dan apalagi yang bisa di lakukannya selain kembali ikhlas.


***************


Risya yang masih tidak bisa tenang, tidak terima dengan keputusan Hariyanto tersebut. Dia masih menangis dan sekarang menangis di pelukan Arga suaminya.


Arga yang memeluknya sangat erat di dalam kamar di atas tempat tidur. Merasakan tubuh bergetar sang istri. Namun Arga tidak berpendapat apa-apa. Hanya menyimak, mendengarkan keluhan dari istrinya itu. Tidak terimanya istrinya dengan keputusan suaminya.


"Jika papa melakukan semua itu. Artinya papa akan pergi selama-lamanya dan aku nggak mau papa pergi. Aku tidak mau kehilangan papa. Papa sudah janji akan selalu bersamaku," ucap Risya dengan suaranya yang sudah serak.


"Papa harus menghentikan keputusannya aku nggak mau kehilangan papa Arga, aku nggak mau Arga. Papa tidak harus bertanggung jawab untuknya. Seharusnya wanita itu yang bertanggung jawab. Semua masalah ini penyebabnya adalah dia. Dia yang mengganggu pernikahan mama. Dia yang membuat masalah," ucap Risya yang masih senggugukan yang menangis terisak-isak.


"Aku tau sayang ini berat untuk kamu. Tetapi kamu juga harus menghargai keputusan papa. Ini mungkin yang terbaik dan papa pasti melakukan semua ini dengan pemikiran yang luas," sahut Arga yang hanya bisa berpendapat singkat.


Perasaan istrinya tidak mudah di pahami dan mana ada anak yang menerima semua ini. Di saat Risya ikhlas dan memaafkan perbuatan Hariyanto. Mengalah dan menerima takdir ini dan Risya berusaha melupakan semuanya. Namun yang terjadi apa. Keputusan Hariyanto yang seperti itu dan mana mungkin Risya ikhlas dengan keputusan itu.

__ADS_1


Arga juga pasti sedih, kaget dan tidak percaya dengan keputusan Hariyanto. Namun Putri juga adalah darah daging Hariyanto. Lahir yang ternyata tidak punya kesempurnaan dan Hariyanto mungkin ingin melakukan 1 hal yang berguna untuk Putri dengan cara mendonorkan orang tubuhnya.


********


Tasya hari ini ke rumah sakit untuk melihat keadaan Putri. Saat ingin memasuki ruang perawatan Putri Tantri berhadapan dengan Edo dan Angela yang baru keluar dari ruangan itu. Mereka yang saling berhadapan diam sejenak dengan Angela yang melihat ke arah suaminya tersebut.


"Aku mau melihat keadaan Putri! Aku tau dia sedang tidak baik-baik saja, makanya aku mau melihatnya," ucap Tasya, tanpa ada yang bertanya kepadanya. Tetapi dia sudah menjelaskan maksud kedatangannya.


"Aku mendengar kondisinya sangat tidak baik. Kondisinya buruk. Jadi aku ingin bertemu dengannya! tolong jangan menghalangiku," ucap Tasya lagi dengan wajahnya yang tampak cemas.


"Dia sudah beberapa hari berada di rumah sakit. Lalu kenapa baru sekarang kamu datang?" tanya Edo dengan suara datarnya.


"Maaf mas Edo," sahut Tasya dengan menunduk salah.


"Aku benar-benar tidak ada maksud apapun atau membuat keributan seperti apa. Aku datang kemari benar-benar hanya ingin melihat keadaan Putri dan tolong jangan melarangku. Aku ibunya," ucap Tasya.


"Sakit Putri semakin parah kondisinya tidak bisa di anggap main-main lagi. Jika saat kecil dia seharusnya melakukan operasi. Keadaannya tidak akan separah ini Tasya. Tapi tidak ada gunanya membahas kebelakang. Aku tidak mau ribut dan menimbulkan percekcokan dengan kamu dan Putri sudah seperti ini," ucap Edo dengan raut wajah senduhnya.


"Maafkan aku mas. Lagi dan lagi aku penyebab Putri seperti ini. Aku akan melakukan apa yang bisa aku lakukan. Aku akan menebus semua kesalahanku pada Putri. Aku akan mendonorkan tulang sumsumku pada Putri," ucap Tasya yang sekarang baru menyadari jika dirinya tidak berguna.


"Tulang sumsum saja tidak cukup untuk Putri. Putri mengalami kanker hati dan juga butuh donor hati," ucap Edo yang membuat Tasya terkejut dengan mata Tasya yang melotot yang terbelalak kaget.


"Apa kamu bilang?" tanya Tasya dengan suara lemahnya.

__ADS_1


"Sudah aku katakan yang sebenarnya. Jika Putri butuh 2 donor. Tulang sumsum belakang dan juga hati," Edo mengulangi sekali lagi pernyataan itu.


"Tidak mungkin," lirih Tasya. Merasa tidak berguna sebagai seorang ibu. Bisa-bisanya dia tidak tau apa yang di alami Putrinya dan semua ini benar-benar sangat luar biasa membuatnya terkejut.


"Aku tidak melarang kamu untuk bertemu Putri. Silahkan melihatnya dia anakmu dan walau Putri bukan anakku. Aku pasti sangat sedih dengan semua ini dan berusaha untuk memberikan kehidupan kepada Putri," ucap Edo dengan penjelasannya kepada Tasya.


"Aku ibunya akan bertanggung jawab atas semua ini. Aku akan berusaha untuk mencarikan donor untuk Putri. Kau juga ingin Putriku bisa selamat dan sembuh," sahut Tasya dengan matanya yang bergenang.


"Semua di lakukan bukan hanya dari perkataan saja. Tetapi ada tindakan," jelas Edo.


Tidak ada yang di katakan Edo lagi. Edo langsung pergi bersama Angela meninggalkan tempat itu. Angela juga tadi tidak mengatakan apa-apa. Karena dia juga tidak ingin berkomentar yang nantinya membuat kegaduhan.


**********


Tasya yang berada di dalam ruangan Putri. Putri yang terbaring lemah dengan kondisinya yang penuh dengan alat-alat medis. Matanya masih terpejam. Tidak tau Putri tidur atau memang sedang koma.


Namun Tasya duduk di sampingnya yang memegang tangannya begitu erat. Dengan wajah Tasya yang tampak penuh kesedihan. Sepertinya kali ini Tasya benar-benar takut kehilangan Putri.


"Sayang mama akan mencarikan donor secepatnya untuk kamu. Kamu jangan khawatir. Mama pasti berusaha dan kamu pasti akan bisa hidup," ucap Tasya dengan penuh janjinya.


"Seandainya mama tidak pernah egois. Semua ini tidak akan terjadi. Kamu tidak akan mengalami penderitaan seperti ini. Maafkan mama sayang. Mama benar-benar bersalah kepada kamu. Kamu masih kecil dan harus mengalami semua ini. Maafkan mama sayang mama menjadi orang yang sangat egois dan membiarkan kamu seperti ini," ucapnya dengan penuh kesedihan.


Mungkin dia sadar jika selama ini dia tidak melaksanakan tugasnya menjadi seorang ibu dan baru sekarang dia ingin melakukan banyak hal untuk Putri menyelamatkan kehidupan Putri pastinya dengan mencarikan donor untuk Putri agar Putri tetap hidup.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2