
Risya dan Arga yang sarapan bersama. Dengan mereka yang sama-sama begitu menikmati sarapan itu.
Arga melihat ke arah Risya dan masih melihat bekas luka Risya di wajahnya, memerah yang bekas tamparan. Padahal baru tadi malam Risya mengalami kejadian naas itu. Namun Risya sudah seperti merasa tidak terjadi sesuatu dan terlihat bahagia saja.
Arga spontan memegang pipi Risya dengan menatap Risya lirih membuat Risya melihat ke arah Arga.
"Masih sakit?" tanya Arga dengan simpatik pada Risya. Risya tersenyum dengan menggelangkan kepalanya. Yang pasti bohong.
"Tidak Arga!" jawab Risya.
"Kamu jangan bohong Risya. Jika sakit maka katakan sakit," ucap Arga yang tau Risya hanya menutupi rasa sakit itu.
"Risya, Arga," tiba-tiba Risya dan Arga di tegur dan ternyata itu adalah Tony dan Rachel yang datang tiba-tiba. Pandangan mata Risya langsung beralih kearah lain yang sepertinya mencari-cari seseorang.
"Untuk apa mereka ada di sini," batin Risya yang terlihat gelisah.
"Siapa itu Arga menegur kita," sahut Risya tiba-tiba.
Arga heran dengan Risya yang bertanya seperti itu. Padahal Risya sudah bisa melihat dan tiba-tiba malah mengatakan hal itu seolah tidak bisa melihat.
"Jadi dia belum bisa melihat, syukuran jika seperti itu. Apa yang aku khawatirkan tidak terjadi," batin Tony dengan bernapas lega.
"Kenapa suaranya tidak asing ya. Siapa dia Arga?" tanya Risya lagi yang membuat Tony dan Rachel saling melihat dan terlihat dek-dekan dengan wajah panik mereka ber-2.
"Nona Risya ini saya Tony bersama istri saya Rachel," sahut Tony dengan ramah.
"Oh ternyata kalian. Untuk apa kalian berada di sini?" tanya Risya.
"Iya benar. Kenapa kalian ada di sini dan dari mana tau kami berada di sini?" tanya Arga.
"Kami tidak tau kalian ada di sini. Kami hanya sarapan di sini juga dan tidak sengaja bertemu dengan kalian berdua," jawab Tony dengan tenang.
"Oh iya Arga. Kami minta maaf dengan kejadian yang kami juga tidak tau apa yang terjadi di rumah kemarin malam. Tetapi kamu sudah mengecek semuanya dan berharap tau apa yang terjadi pada Risya," sahut Rachel.
"Memang apa yang terjadi pada Risya?" tanya Arga membuat Tony dan Rachel saling melihat.
"Bukannya Risya terluka dan mengalami pelecehan," sahut Rachel.
"Dari mana kamu tau. Aku tidak mengatakan apapun pada kalian dan kemarin malam.. Rista sudah ada di mobil saat kita bertemu dan kalian tidak mungkin melihat Risya. Jadi dari mana kalian tau apa yang terjadi pada Risya dan bukannya kalian berdua juga tidak ada di rumah itu," ucap Arga dengan menatap 2 orang itu penuh dengan selidik.
Rachel dan Tony terlihat panik yang salah bicara sepertinya yang mereka kebanyakan bicara sampai salah sasaran dan malah keceplosan.
__ADS_1
"Hmmm, begini pak Arga," sahut Tony yang mencoba untuk tenang menaikkan lengan kemejanya dengan melipatnya dan mata Risya tiba-tiba melihat lengan Tony terdapat bekas cakaran kuku yang membuat Risya kaget.
"Saya dan istri saya jelas tau masalah yang terjadi di rumah kami karena hal itu....."
"Arga ayo pulang," sahut Risya yang tiba-tiba gemetaran dan takut dengan keringat dingin.
"Kamu baik-baik aja Risya?" tanya Arga yang panik melihat Risya.
"Ayo pulang Arga, aku tiba-tiba pusing," ucap Risya yang memegang tangan Arga dan Arga bisa merasakan tangan Risya yang bergetar hebat.
"Baiklah kalau begitu, kita pulang sekarang," ucap Arga yang tidak mau membuang waktu dan langsung mengajak istrinya untuk pulang dalam keadaan Risya yang pura-pura tidak bisa melihat.
Tanpa bicara apa-apa lagi pada Rachel dan Tony Risya dan Arga langsung pergi.
"Semua ini gara-gara mu," desis Tony mencengkram kuat tangan Rachel yang menyalahkan Rachel membuat Rachel menahan sakit.
"Kau terlalu banyak bicara sampai semua ini terjadi kau tidak lihat Arga mencurigai kita. Kau itu sok-sokan," umpat Tony yang harus melampiaskan emosinya pada Rachel. Rachel hanya menahan sakit tanpa bisa mengatakan apa-apa.
"Kau harus menyelesaikan masalah ini. Jika Arga tau aku yang melakukannya. Maka kau juga akan selesai," ancam Tony yang membuat Rachel hanya diam saja dengan menahan sakit akibat cengkraman tangan Tony.
Tony pun langsung pergi dengan melepas kasar cengkraman tangan tersebut membuat Rachel memegang lengannya yang di pastikan sudah memerah.
"Aku lagi yang kenak. Padahal dia yang tidak hati-hati," batin Rachel yang serba salah.
"Ada apa Risya?" tanya Arga yang mereka sudah berada di dalam mobil dengan Risya yang sudah mulai tenang.
"Kamu tadi juga pura-pura tidak melihat. Apa ini ada hubungannya dengan mereka?" tanya Arga. Risya langsung mengangguk-anggukan kepalanya.
"Maksud kamu?" tanya Arga dengan melihat Risya begitu serius.
"Aku tidak tau Arga. Apa ini hanya dugaan ku saja atau apa. Tetapi aku mencurigai mereka berdua dan maknanya aku pura-pura tidak bisa melihat karena ingin tau apa yang terjadi dan tadi, tadi aku, aku," Risya tampak tidak sanggup bicara dan begitu panik.
Arga yang melihat hal itu meminggirkan mobilnya dan mencoba menenangkan Risya dengan memegang ke-2 tangan Risya yang mana melihat Risya yang napasnya naik turun dengan wajahnya yang panik.
"Kamu tenang dulu. Katakan apa yang terjadi," ucap Arga dengan lembut.
"Aku melihat bekas cakaran di lengan Tony dan aku merasa Tony adalah pelakunya," ucap Risya yang membuat Arga terkejut mendengarnya.
"Kamu serius?" tanya Arga yang terkejut mendengarnya.
"Aku tidak tau. Tetapi aku merasa iya," ucap Risya yang masih mencoba menghafali suara tersebut.
__ADS_1
"Kurang ajar," umpat Arga yang kelihatan tidak terima jika apa yang di katakan istrinya benar-benar membuatnya marah dengan penuh keterkejutan.
"Aku akan memberinya pelajaran," umpat Arga yang tidak akan tinggal diam.
"Jangan dulu Arga," cegah Risya.
"Apa maksud kamu jangan jelas-jelas Tony ingin perkosa kamu dan kamu bilang jangan," ucap Arga dengan emosi.
"Tetapi percuma kamu sekarang ingin menghajar nya atau melakukan ini itu kepadanya. Tidak ada gunanya. Karena kita tidak punya bukti," ucap Risya.
"Aku sengaja pura-pura tidak bisa melihat. Karena aku mencurigai mereka berdua yang Artinya kita harus bersabar dulu. Kita harus punya rencana dan membuktikan hal itu. Arga untuk membuktikan Rachel saja yang menjebakku butuh waktu lama. Lalu bagaimana dengan masalah ini. Mereka orang-orang jahat dan kita tidak bisa hanya sembarangan saja," ucap Risya yang memberikan Arga arahan.
"Kamu benar. Memang tidak mudah untuk langsung menghajarnya. Aku pasti akan memberinya pelajaran. Suami istri itu akan berakhir di hidupku. Kaju jangan khawatir aku akan memberi mereka hal yang setimpal," ucap Arga yang meyakinkan Risya.
"Iya aku tau. Kamu akan melakukannya untukku," ucap Risya.
Arga memegang pipi Risya dengan mengelusnya dengan lembut, "seharusnya aku tidak meninggalkanmu. Kamu pasti ketakutan Risya," ucap Arga yang masih merasa bersalah.
"Tidak Arga aku tidak apa-apa. Yang penting kamu sudah datang tepat waktu dan kamu menyelamatkan ku dari mereka dan sekarang aku sudah bersamamu dan kita sama-sama mengungkapkan kejahatan yang mereka lakukan," ucap Risya.
"Baiklah. Tetapi berjanjilah kepadaku. Jika apapun yang terjadi. Kamu harus terus mengatakannya kepadaku. Aku ingin kamu berada di sisiku dan aku bisa menjagamu terus," ucap Arga.
"Pasti," sahut Risya.
"Ya sudah sekarang kita pergi ya. Kamu masih mau makan?" tanya Arga.
"Aku sudah tidak lapar lagi," jawab Risya.
"Kalau begitu aku akan mengajakmu kesuatu tempat," ucap Arga.
"Kemana?" tanya Risya dengan wajah penasarannya.
"Kamu mau apa tidak?" tanya Arga.
"Ya kemana dulu?" tanya Risya dengan dahinya yang berkerut.
"Kamu akan tau setelah ini," ucap Arga.
"Baiklah aku akan ikut kemana pun yang kamu ajak," sahut Risya dengan tersenyum.
"Baiklah kita jalan sekarang," ucap Arga. Risya mengangguk-anggukkan kepalanya dengan Risya yang kelihatan bahagia. Arga juga sangat berusaha membuatnya bahagia.
__ADS_1
Bersambung