MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!

MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!
Episode 121 Perkenalan pertama.


__ADS_3

Angela yang berada di dalam mobil yang duduk di samping pengemudi yang ternyata Angela tidak sendirian. Ada seorang pria tampan di sampingnya yang berkaca mata putih seperti kacamata anti radiasi atau minus ya semacam lah.


Namun pria itu sangat tidak asing yang ternyata adalah Edo. Jika mengingat Edo yang pernah kencan buta dengan Risya yang di jodohkan Syarla pada Risya.


"Mas Edo. Kira-kira Putri bakalan suka tidak ya dengan hadiah yang aku beli?" tanya Angela.


"Dia suka boneka dan aku rasa dia akan menyukainya," jawan Edo simple sembari menyetir.


"Tapikan jenis boneka itu banyak. Belum tentu Putri suka boneka kucing," ucap Angela dengan keraguan.


"Dia pasti menyukainya. Percaya padaku," ucap Edo dengan yakin.


"Ya semoga lah," sahut Angela.


"Oh maaf Edo sebenarnya aku ingin sekali mengajak kamu untuk bertemu dengan 2 teman dekatku," ucap Angela.


"Boleh. Kapan bisanya?" tanya Edo yang tidak masalah


"Tetapi mas Edo kalau misalnya bertemu dengan mereka, mengobrol atau ini dan itu mas Edo jangan terlalu banyak ikut campur ya. Hmmmm maksudnya jangan banyak protes apa yang mereka kerjakan, atau apa yang mereka makan, ya pokoknya biarkan saja lah," ucap Angela yang mengingatkan terlebih dahulu.


"Apa begitu ribet ya Angela?" tanya Edo.


"Bukan begitu mas. Ya mas Edo hanya bisa seperti itu saja kepadaku. Ya kan kita yang saling mengenal. Sementara yang lain kan tidak. Jadi kalau aku pasti bisa memahaminya. Tetapi kalau temanku pasti sulit," jelas Angela.


"Angela aku ribet. Itu karena demi kebaikan kamu. Aku tidak mau calon istriku makan sembarangan, melakukan ini sembarangan. Itu karena aku sayang sama kamu yang ingin kamu menjadi seorang wanita yang sehat. Ya kami bisa lihat jaman sekarang ini banyak wanita yang asal-asalan dalam bentuk makanan terutama, memakan yang instan..


Angela hanya menghela napas yang akhirnya mendengarkan ceramah Edo yang sampai detik ini masih banyak teori yang di ucapkannya.


Padahal topiknya hanya singkat. Tetapi sudah kemana-mana dan sekarang telinga Angela harus kuat-kuat mendengar teori Edo yang panjangnya setebal kamus.


"Mas Edo sudah hampir sampai," sahut Angela yang memotong pembicaraan itu ketika telinganya sudah sakit mendengarnya.


"Oh iya kamu benar. Sudah sampai," sahut Edo yang tersenyum mengangguk.


"Ya ampun kenapa sih aku sabar banget punya calon suami seperti ini. Arghhh entahlah," batin Angela yang hanya pasrah saja.


"Ayo Angela kita turun!" ucap Edo yang sudah membuka sabuk pengamannya dan Angela mengangguk yang akhirnya juga turun bersamaan dengan Edo.


Mereka berhenti di depan sebuah gedung yang menjadi acara ulang tahun Putri anak dari Edo. Seperti yang di ketahui Edo ini adalah seorang duda tampan dan kaca Raya.


"Papa!" teriak anak perempuan yang keluar dari gedung itu dan langsung berlari memeluk Edo yang di panggilannya papa.


Angela yang berdiri di samping Edo hanya tersenyum dengan memegang bingkisan yang di bawanya.


"Kenapa papa lama sekali datangnya?" tanya Putri dengan wajah cemberutnya.


"Maaf sayang papa tadi masih ada pekerjaan," jawan Edo.


"Selalu ada pekerjaan," ucap Putri dengan wajah kesalnya.


"Maaf ya sayang. Lain kali papa tidak akan telat lagi," ucap Edo yang merasa bersalah dan pasti berjanji pada putrinya itu.


"Ya sudah pah," sahut Putri.

__ADS_1


"Tante ini siapa?" tanya Putri yang sepertinya baru pertama kali bertemu dengan Angela.


"Oh iya Putri kenalkan ini Tante Angela," jawab Edo.


"Siapanya papa?" tanya Putri kepo.


"Hmmm, teman dekat papa," jawab Edo.


"Hay Putri!" sapa Angela dengan ramah. Biasa cari hati untuk calon anaknya. Namun tampaknya putri cuek dan bahkan tidak mempedulikan Angela dan sangat sewot pada Angela membuat Angela menghela napas saja.


"Oh iya Tante bawa kamu hadiah ulang tahun kamu," ucap Angela yang tidak menyerah dan memberikan hadiah itu pada Putri.


"Apa ini?" tanya Putri yang menerimanya.


"Ini boneka kucing kamu pasti suka," jawab Angela.


"Kenapa boneka kucing. Orang Putri punya kucing asli. Tante bagaimana sih," sahut Putri dengan cemberut yang sepertinya tidak suka.


Angela menghela napas kembali yang sepertinya salah sasaran.


"Papanya yang bagaimana. Tadi katanya anaknya bakalan suka," batin Angela yang lama-kelamaan kesal.


"Sayang kalau sudah di beri hadiah.. Seharusnya berterima kasih jangan seperti ini. Ayo bilang makasih Tante Angela," ucap Edo.


"Makasih Tante," sahut Putri tampak sangat terpaksa dan Angela tersenyum tipis menerima ucapan terima kasih yang terpaksa itu.


"Ya sudah ayo papa. Masuk papa sudah telat tadi dan pasti gara-gara jemput Tante ini," ucap Putri yang langsung menarik papanya untuk masuk kedalam.


"Ayo Angela!" ajak Edo yang tidak lupa mengajak Angela. Angela hanya mengangguk dan lagi-lagi hanya menghela napas.


************


Risya yang bangun dari tidurnya dan keluar dari kamar yang menuruni anak tangga dan Risya langsung menghampiri dapur di mana Arga ada di dapur yang sedang memasak sepertinya.


Risya tersenyum dan langsung berjalan cepat-cepat dan lari kecil-kecil yang langsung memeluk Arga dari belakang membuat Arga kaget dan menolehkan kepalanya untuk melihat Risya.


"Masih pagi sudah main-main peluk aja. Lagi rindu ya," ucap Arga.


"Memang gak boleh peluk?" tanya Risya.


"Boleh dong," sahut Arga.


"Kamu lagi masak apa?" tanya Risya.


"Masak soup ikan," jawab Arga.


Risya mengkerutkan dahinya dan melepas pelukannya itu dan melihat ke panci yang memang Arga masak soup ikan.


"Kok masak ikan. Kam aku tidak suka ikan," protes Risya.


"Ya tau," sahut Arga.


"Lalu kenapa masak ikan?" tanya Risya.

__ADS_1


"Ini untukku Risya. Aku lagi pengen makan ikan. Makanya masak ikan," jawab Arga.


"Jadi kamu memasak bukan untukku?" tanya Risya. Arga menganggukkan kepalanya dengan santai.


"Lalu makan pake apa?" tanya Risya dengan wajahnya yang mulai kesal.


"Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu," jawab Arga.


"Apa?" tanya Risya.


Arga mengarahkan kepalanya ke meja makan dan di sana terdapat roti tawar dengan berbagai selai.


"Kamu tinggal pilih selai yang kamu mau," ucap Arga.


"Jadi kamu cuma kasih aku makan roti dan kamu makan berat seperti ini. Ini tidak adil," protes Risya.


"Ya namanya kamu masih sakit. Jadi harus makan apa adanya. Bukannya kamu pernah mengatakan itu kepadaku. Di mana ya. Oh iya di mobil. Kami makan soto dan aku makan Roti," ucap Arga dengan tersenyum.


"Oh jadi lagi balas dendam ceritanya," sahut Risya mulai kesal.


"Bukan balas dendam hanya saja sesuai dengan kondisi yanga ada," ucap Arga dengan santai.


"Isss sama saja. Kamu itu menyebalkan," ucap Risya dengan kesal dengan wajahnya yang cemberut yang tidak mau melihat Arga.


Arga tersenyum dan langsung menggendong Risya untuk duduk di atas meja di dekat kompor.


"Issss turunkan aku," protes Risya.


Arga mendekati Risya dengan ke-2 tangan Arga berada di pinggir meja dan wajah Arga di majukan ke depan menghadap Risya dan Risya refleks mundur.


"Mau apa?" tanya Risya kesal.


"Lagi marah?" tanya Arga dengan tatapan yang sangat dalam.


"Bagaimana tidak marah dengan kamu yang sangat menyebalkan," ucap Risya.


"Kan kamu lagi sakit. Jadi makanannya harus di kontrol," ucap Arga.


"Aku udah enakan kok, lihat bintik-bintiknya juga sudah berkurang," ucap Risya dan Risya mengambil tangan Arga melettakkan di dahinya.


"Aku juga tidak panas lagi. Jadi aku sudah sembuh," ucap Risya.


"Oh baguslah kalau begitu. Jadi aku bisa kekantor,". ucap Arga.


"Jangan kekantor dulu. Aku belum sepenuhnya pulih. Harus kerja kalau aku benar-benar pulih," ucap Risya yang memang jiwa manja-manja nya semakin besar.


"Benarkah!" tanya Arga. Risya menganggukkan kepalanya.


"Kalau aku cium kira-kira menular tidak ya?" tanya Arga dengan alisnya yang terangkat sebelah.


"Cium kening saja," sahut Risya yang memajukan keningnya dan Arga yang tersenyum yang langsung menciumnya.


Bersambung.

__ADS_1



__ADS_2