MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!

MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!
Episode 136 Keinginan.


__ADS_3

Setelah begitu lama akhirnya Putri bisa selamat dan bahkan Putri juga sudah sadar yang sekarang sedang di suapi bubur oleh Edo papanya.


"Papa Putri kok nggak pernah lihat Tante Angela?" tanya Putri di tengah makannya yang membuat Edo melihat Putri dengan serius.


"Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan tentangnya?" tanya Edo.


"Bukannya Tante Angela itu pacar papa dan seharunya dia ada bersama papa. Lalu kenapa tidak kelihatan?" tanya Putri.


"Putri kamu seperti ini karena kecerobohannya," ucap Edo.


"Papa. Putri memang kurang suka dengan Tante Angela. Tetapi dia juga baik kok. Dia itu diamkan Putri saat Putri menangis gara-gara di jauhi teman-teman Putri. Udah itu Tante Angela juga kasih Putri mainan dan bisa main di rumah temannya, kita juga makan bersama dan walau....."


"Kamu makan makanan yang papa larang untuk di makan," sahut Edo memotong pembicaraan Putri.


"Maaf pah. Putri hanya tidak pernah melihat makanan itu ada di rumah dan makanya Putri penasaran lalu memakannya dan ternyata enak. Putri tau papa pasti marah. Kalau papa tau. Makanya Putri bilang sama Tante Angela jangan beri tau papa," ucap Putri dengan suara lembutnya yang mengakui kesalahannya.


"Dan ini yang kamu dapatkan Putri. Papa kembali hampir kehilangan kamu. Apa ini yang kami inginkan," ucap Edo.


"Tidak kok pah. Putri minta maaf sudah membuat papa marah dan kesal. Tetapi semuanya juga bukan kesalahan Tante Angela. Karena sebelum Putri makan. Tante Angela sudah tanya Putri terlebih dahulu dan Putri bilang boleh di maka. Jadi Tante Angela tidak salah pah," ucap Putri yang membela Angela.


"Papa jangan marah ya sama Tante Angela. Kalau pun harus marah itu sama Putri juga. Nanti kalau papa marah sama Tante Angela. Terus Tante Angela minta putus. Putri sama siapa dong. Nanti kalau Putri nangis yang jemput Putri siapa dan yang marahi teman-teman Putri siapa!" ucap Putri yang sepertinya sudah sangat menerima Angela.


Walau Putri terlihat ketus pada Angela dan terlihat tidak menyukai Angela. Tetapi kenyataannya Putri sayang pada Angela dan bahkan takut jika Angela dan papanya putus.


"Kamu sebaiknya makan kamu. Jangan memikirkan hal lain," ucap Edo yang tidak mau membahas Angela.


"Boleh Putri pinjam ponsel papa?" tanya Putri.


"Untuk apa?" tanya Edo.


"Mau menelpon!" jawan Putri.


"Menelpon siapa?" tanya Edo.


"Tante Angela," jawan Putri.


"Untuk apa Putri? kamu jangan memikirkan hal lain. Kamu harus fokus pada kesehatan kamu," tegas Edo.


"Bukannya papa bilang. Kalau kita salah harus minta maaf dan Putri belum minta maaf pada Tante Angela. Putri harus minta maaf pa," ucap Putri.


"Nanti saja. Kamu makan dulu," ucap Edo.


"Papa janji?" tanya Putri yang ingin kepastian. Edo hanya mengangguk dan kembali menyuapi Putri.

__ADS_1


***********


Arga yang berada di kantor di ruangannya yang berada di dalam kamar mandi yang sedang mencuci tangannya.


"Kemana Risya. Kenapa dia tidak pernah datang keruanganku. Jangan-jangan dia keluyuran lagi, makan dengan teman-temannya. Dia lupa apa punya suami satu kantor," oceh Arga yang terus mencuci tangannya.


Setelah itu Arga melap dengan tisu dan melihat dirinya di cermin yang sedang marapi-rapikan penampilannya.


"Aku sebaiknya telpon dia saja," gumam Arga yang langsung keluar dari kamar mandi yang ingin menghubungi istrinya.


Saat Arga sudah keluar dari kamar mandi dan dengan tiba-tiba muncul Risya di hadapannya.


"Dorrr!" ucap Risya yang mengagetkan Arga membuat Arga tersentak kaget dan sampai mau melompat.


"Risya kamu ini ya," geram Arga dengan mengelus-elus dadanya yang napasnya naik turun akibat ulah Risya yang sekarang tertawa ngikik melihat Arga yang kaget.


"Malah ketawa lagi. Kamu nggak tau jantungku hampir copot," ucap Arga dengan kesal.


"Masa iya sih," sahut Risya yang tetap aja tertawa dan Arga yang adanya kesal.


"Iya-iya aku minta maaf, kamu sih mukanya tegang gitu. Lama lagi di toilet. Ayo ngapain di toilet!" tunjuk Risya dengan penuh selidik pada suaminya.


"Apa sih nggak lucu!" sahut Arga kesal.


"Iya-iya aku minta maaf jangan marah gitu dong," sahut Risya.


"Ihhhh, ngeri amat kata-katanya. Amit-amit jadi janda. Tetapi kalau janda di tinggal mati nggak apa-apa sih. Kan bisa cari yang lain," seloroh Risya yang mendapat tatapan kesal dari Arga sampai Arga menaikkan 1 alisnya


"Becanda sayang," sahut Risya memegang pipi Arga, ngeri juga kalau melihat suaminya itu kesal.


"Sini aku periksa jantungnya. Apa masih copot," ucap Risya yang mendekatkan telinganya di dada Arga untuk mendengarkan detak jantung suaminya itu.


"Ini bukan getaran kaget karena ulahku. Tetapi ini getaran cinta," ucap Risya mengangkat kepalanya melihat kearah suaminya itu. Yang mana Arga juga melihatnya.


Cup


Risya langsung mencium bibir Arga, "jangan marah seperti itu, aku takut," ucap Risya yang langsung memeluk manja Arga.


Arga menghela napasnya dan merangkul Risya.


"Kamu dari tadi tidak kelihatan dan sekali kelihatan langsung membuatku jantungan. Jadi bagaimana aku tidak kesal kepadamu," ucap Arga mencium pucuk kepala Risya yang merindukan Risya.


"Aku itu di ruangan sejak tadi. Seharusnya kalau tidak melihatku dan merindukanku, kamu seharusnya masuk keruanganku. Masa iya aku terus yang datang keruanganmu," Risya.

__ADS_1


"Aku bos di Perusahaan ini dan bawahan yang harus datang keruangan bosnya," ucap Arga dengan tegas.


"Tapi aku istrimu dan jika dalam pernikahan tahta seorang istri lebih tinggi," ucap Risya yang kembali melihat suaminya.


"Sejak kapan ada aturan seperti itu," ucap Arga.


"Sejak saat ini," jawan Risya.


"Tapi itu tidak berlaku padaku," ucap Arga.


"Issss itu berarti tidak adil," ucap Risya dengan kesal dan wajahnya yang cemberut.


"Baiklah tahta seorang istri lebih tinggi," ucap Arga membuat Risya tersenyum.


Namun tiba-tiba tubuh Risya sudah terangkat saja yang di gendong Sean ala bridal style.


"Arga turunkan aku, kamu ini ya...." ucap Risya dengan panik.


"Risya juga kamu sudah berada di ruangaku. Maka ruangan ini sama dengan kamar," ucap Arga dengan tersenyum miring.


"Kamu mau apa? jangan aneh-aneh kami ini kantor," ucap Risya panik.


"Memang kamu bisa menolak," ucap Arga dengan menyungging kan senyumnya dan membuat Risya kaget di mana tubuhnya yang terangkat yang sudah di bawa ke atas Sofa yang di baringkan di atas sofa dengan Arga yang berada di atasnya.


"Arga ini masih siang," kesal Risya yang sudah tau apa yang akan di lakukan Arga kepadanya.


"Memang untuk saling meluapkan rindu harus perlu waktu," ucap Arga yang membelai-belai pipi pipi istrinya itu.


"Tidak juga Arga. Tapi jangan di sini juga," ucap Risya.


"Bukannya kita pernah melakukannya di ruangaku," ucap Arga.


"Risya kamu sadar tidak belakangan ini kamu itu dan aku terlalu sibuk. Sampai kita berdua tidak punya waktu untuk bersama dan melakukan hal wajib yang harus kita lakukan," ucap Arga menatap Risya dengan begitu intim.


"Jadi jangan biarkan aku terus merindukan mu," ucap Arga yang ingin meraih bibir Risya yang pasti ingin mencium Risya. Namun Rusyd menahan dada bidang Arga.


"Ada apa Risya?" tangan Arga yang merasa di tolak.


"Aku lapar! Ayo makan siang," ucap Risya.


"Bagaimana kita punya waktu untuk berdua. Jika hal-hal yang seharusnya kita lakukan bersama kita lewatkan begitu saja. Kita satu kantor. Tetapi kita tidak pernah makan siang belakangan ini. Kamu makan dengan klien kamu dan aku kebanyakan makan dengan Syarla dan Angela. Jadi jika ada kesempatan ayo makan bersama. Karena untuk membangun keharmonisan dalam hubungan bukan hanya masalah *** saja. Tetapi juga waktu yang banyak untuk bersama," ucap Risya yang saling menatap dengan Arga.


Arga mencium lembut kening Risya dan juga mencium pipi Risya.

__ADS_1


"Kamu benar. Keharmonisan bukan hanya karena hal itu," sahut Arga yang tersenyum dan setuju dengan istrinya.


Bersambung


__ADS_2