MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!

MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!
Episode 244 Pemakaman.


__ADS_3

1 Minggu kemudian.


Liu Liu Liu Liu Liu Liu Liu Liu Liu Liu Liu Liu Liu Liu Liu Liu


Suara sirena ambulan terdengar. Suara yang membuat bulu kuduk naik. Mobil ambulance yang membawa jenazah itu pelan-pelan melaju menuju pemakaman. Mobil ambulance di iringi beberapa mobil di belakangnya dan salah satunya ada Risya yang memakai pakaian putih dengan pasminah yang menutup kepalanya.


Risya yang memeluk foto Hariyanto yang berada di dalam bingkai. Menangis pelukan suaminya Arga. Tangisan itu pasti tidak berhenti kala mengantarkan jenazah sang ayah ke tempat peristirahatan terakhirnya.


Arga juga pasti sedih. Tetapi tidak mungkin menangis terisak-isak seperti itu. Jika Arga sama dengan Risya. Lalu siapa yang akan menenangkan sang istri.


Hiks-hiks-hiks-hiks-hiks-hiks.


Tangisan Risya terus berlanjut dengan Arga yang mengusap-usap punggungnya, memberikan kekuatan pada istrinya itu.


"Papa sudah tenang sayang. Kamu jangan menangis terus, nanti papa sedih," ucap Arga dengan suaranya yang menahan tangis.


"Papa seharusnya masih menemaniku di sini. Papa seharusnya tidak pergi," ucap Risya yang menangis sengugukan.


"Ini sudah ketentuan yang maha kuasa dan kamu ikhlas. Bukannya kamu sudah berjanji pada papa. Jadi ikhlas lah sayang," ucap Arga memberikan arahan pada istrinya.


"Aku tau sayang ini berat untuk kamu. Aku tau tidak mudah bagi kamu. Tetapi papa sudah berada di tempat terbaik," ucap Arga.


Risya tidak merespon lagi dan masih saja menangis di pelukan suaminya itu. Mana mungkin mudah bagi Risya untuk menerima semua ini. Hal ini adalah hal yang paling sulit bagi Risya dan kehilangan sosok ayah, cinta pertanyaan itu tidak mudah. Apalagi sebelumnya banyak yang terjadi.


Namun pasti bukan hanya Risya saja yang di balut kesedihan. Tantri istrinya almarhum Hariyanto juga menangis mengantarkan suaminya itu. Di mobil yang berbeda di pelukan Salmah besannya. Tantri menangis yang benar-benar menunjukkan kelemahannya.


Selama ini dia tegar. Namun pada nyatanya dia manusia biasa. Kehilangan suaminya. Pria dari ayah anaknya tidak mudah baginya untuk melepas begitu saja.


Namun itu yang terjadi. Kembali lagi dia di uji dengan keikhlasan atas apa yang terjadi. Harus benar-benar ikhlas dengan kepergian suaminya itu.


"Mbak yang kuat ya. Mas Hariyanto sudah tenang di atas sana," ucap Salmah.


"Bagaimana dengan Risya. Aku tidak bisa membayangkan kehancuran hatinya. Dia pasti sangat terpukul. Aku takut terjadi sesuatu pada Risya," ucap Tantri yang memikirkan mental putrinya, kesehatan Risya terutama. Risya sedang hamil dan pasti ada ketakutan terjadi hal buruk pada kandungan Risya.

__ADS_1


"Risya pasti baik-baik aja mbak. Aku, mas Dehway, Arga dan juga yang lainnya akan mendampingi Risya. Kami tidak akan pernah meninggalkannya dan membiarkan mbak sendirian yang mengurusnya. Dia akan baik-baik saja. Percayalah pada kami mbak Risya akan baik-baik saja bersama kami," ucap Salmah.


Sebagai mertua sudah kewajiban Salmah untuk ada di samping Risya. Risya bukan hanya menantu kesayangannya. Tetapi juga sudah di anggapnya sebagai putrinya. Apa yang di rasakan Risya juga di rasakan Salamah dan Salmah tidak mungkin membiarkan Rita berlarut-larut dalam kesedihan.


Tidak ada lagi yang di katakan Tantri. Dia hanya berusaha untuk kuat dan ikhlas atas kepergian suaminya itu.


*************


Pemakaman.


Akhirnya jenazah sampai ke pemakaman. Bukan hanya Risya dan Arga yang memakai pakaian putih. Semua yang mengantarkan Hariyanto ketempat peristirahatan terakhirnya juga memakai pakaian putih.


Syrala, Boy, Vio, Samuel, Salmah, Dehway, Indra, Karen ikut mengantarkan jenazah Hariyanto dengan penuh keharuan. Jenazah Hariyanto juga sudah di masukkan kedalam liang lahat. Arga turun tangan masuk kedalam liang lahat. Itu hal yang harus di lakukannya terakhir kalinya untuk ayah mertuanya itu.


Bukan hanya Arga ada juga Boy yang ikut mengambil alih. Suasana semakin hari kala terdengar suara Azand. Risya yang tidak hentinya menangis yang sekarang di tenangkan Syrala dan Vio yang juga menangis.


Mereka tau perasaan Risya. Jadi mereka hanyalah menguatkan Risya tanpa menasihati. Karena tidak pantas menasehati. Karena yang kehilangan itu Risya dan yang tau rasanya itu Risya.


"Papah!" lirih Risya saat tanah mulai masuk ke dalam kubur dan Risya semakin berat untuk melihat jenazah sang ayah untuk yang terakhir kalinya.


Tangis Risya kala semakin pecah saat memeluk mesan sang ayah. Masih berat dan tidak terima dengan kepergian cinta pertamanya. Risya seakan melupakan kesalahan terbesar sang ayah.


"Papa!"


"Papa!"


"Papa!"


Hanya itu yang terucap dari mulutnya yang menangis terisak-isak. Dan Arga pasti menenangkan istrinya. Dengan mata Arga yang bergenang mencoba menenangkan Risya dengan mengusap-usap pundak Risya.


"Papa sudah tenang sayang papa sudah berada di tempat yang indah," ucap Arga. Risya tidak merespon dan terus saja menangis. Yang lain juga beberapa kali mengeluarkan air mata dan kembali menyekanya melihat tangisan Risya yang pecah.


Tantri yang juga merasa kehilangan mendekati Risya dan Arga bergeser. Tantri memeluk erat putrinya itu dan menguatkan Risya.

__ADS_1


"Sudah jangan menangis lagi. Kamu harus ikhlas. Kamu ingat pesan papa kamu. Jangan ada air mata saat dia pergi. Ayo sayang kamu harus memberikan jalan, memudahkan jalan untuk papa kamu. Tangisan kamu hanya mempersulit jalannya," ucap Tantri yang mencoba membuat Risya mengerti. Risya hanya menangis sengugukan di pelukan mamanya itu.


Mereka sama-sama menguatkan. Ibu dan anak yang di tinggalkan kepala keluarga. Dan yang membuat mereka berdua merasa kehilangan yang kuat biasa.


Di tengah keharuan itu. Tiba-tiba datanglah Edo, Angela bersama dengan Putri. Putri yang masih di atas kursi roda dan bahkan botol infus yang masih ada yang di pegang Angela.


Putri baru selesai operasi dan kondisinya membaik. Putri memaksa untuk pergi ke pemakaman Hariyanto. Dan atas izin Dokter akhirnya Putri di ijinkan pergi.


Semua mata tertuju pada Putri, Angela dan Edo. Pasti ada ketakutan bagi mereka dengan pertemuan itu. Takut jika Risya tidak siap dan terjadi kegaduhan.


"Papa Putri mau dekat Tante Risya," ucap Putri. Edo saling melihat dengan Angela dan melihat semua orang.


"Ayo papa! Turunkan Putri," ucap Putri dengan manja.


"Baiklah Putri," sahut Edo.


Putri turun dari kursi rodanya untuk mendekati Risya. Yang lain ternyata memberikan jalan dan tidak ada yang menghalangi. Angela mengikuti Putri. Karena harus memegang botol infus Putri.


Putri yang berdiri di samping Tantri. Memegang bahu Risya membuat Risya yang di pelukan mamanya itu melihat ke arah yang memegang bahunya. Sama dengan Tantri yang juga melihat kesebelahnya yang ternyata ada Putri.


Tatapan mata Risya yang sembab, melihat wajah Putri yang sendu dan sangat polos. Tantri pun bergeser memberikan kedekatan untuk Putri dan Risya. Di mana Putri langsung berjongkok di samping Risya dan memegang tangan Risya.


"Tante Risya jangan nangis ya. Papa Tante Risya sudah berada di surga dan sekarang sedang bahagia di surga. Jadi Tante Risya nggak boleh nangis ya," ucap Putri dengan polosnya.


"Putri tau kok pasti Tante Risya sangat kehilangan papa Tante. Tetapi hanya raganya saja yang pergi dan tidak di dunia ini. Namun tetap papa Tante Risya ada di sini," ucap Putri meletakkan telapak tangan Risya di bagian dada Putri.


Air mata Risya mengalir deras kembali. Saat apa yang di katakan Putri adalah kebenarannya. Karena hati sang papa tidak ikut mati dan tertanam di hati gadis kecil yang di dekatnya itu.


"Papa Tante Risya tidak pergi kok. Akan selalu ada di hati Tante," ucap Putri dengan tersenyum.


Risya mendengar kata-kata itu langsung memeluk Putri. Dia kembali menangis memeluk anak yang berbicara kepadanya itu adalah adiknya. Hari Risya tidak sekeras itu. Dia lemah dan luluh. Pelukan itu seolah pertanda dia menerima semua takdir ini dan tidak menyalahkan Putri.


Tantri dan orang-orang yang ada di sana tersenyum terharu melihat kehangatan itu. Mereka semua juga beberapa kali menyeka air mata mereka. Karena melihat kebesaran hati Risya yang menerima semua takdir itu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2