MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!

MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!
Episode 122 Candaan.


__ADS_3

Setelah keadaan Risya yang membaik hari ini Arga dan Risya pergi kerumah orang tua Risya karena sudah lama tidak kerumahnya. Mereka yang berada di dalam mobil dengan Arga yang menyetir dengan kecepatan santai yang sekali-kali menoleh ke arah Risya dengan keduanya yang sama-sama tersenyum.


"Oh iya Arga. Kamu tau tidak kalau Angela itu mengajak kita untuk makan malam. Dia mengenalkan calon suaminya kepada kita," ucap Risya.


"Oh iya kapan?" tanya Arga.


"Belum tau sih. Masih cari waktu yang pas," jawan Risya.


"Calon suami. Apa Boy?" tanya Arga.


"Kata Syarla sih bukan. Syarla juga belum pernah ketemu," jawab Risya.


"Aku pikir Angela akan bersama Boy. Karena aku lihat-lihat mereka dekat ternyata tidak," ucap Arga.


"Aku juga sempat mikir seperti itu. Ya mungkin mereka hanya sahabatan saja dan Angela punya pilihan lain dan mungkin Boy juga kan tidak ada yang tau," ucap Risya.


"Ya siapapun itu. Itu pilihan mereka. Kita doakan saja dan kapanpun Angela mengajak bertemu bersama calon suaminya aku pasti ada waktu selagi tidak di Luar kota," ucap Arga.


"Iya aku juga mengatakan itu pada Angela. Kalau kita pasti ada saja waktunya," sahut Risya. Arga tersenyum hanya tersenyum saja


Tiba-tiba Risya memegang mulutnya yang terlihat mual dan bahkan Risya ingin maju kedepan dan Arga menahan dengan tangannya.


"Kamu kenapa Risya?" tanya Arga panik yang melihat Risya yang mual-mual dan Arga sampai meminggirkan mobilnya di pinggir jalan.


"Risya kamu baik-baik aja?" tanya Arga.


"Perutku tidak enak dan ingin muntah," jawab Risya terlihat lemas.


"Kita kerumah sakit," ucap Arga yang langsung panik.


"Nggak usah. Udah enakan kok," ucap Risya yang mengelus-elus perutnya.


"Atau jangan-jangan aku hamil ya," sahut Risya tiba-tiba membuat Arga langsung menatap Risya serius.


"Serius kamu hamil?" tanya Arga yang begitu semangat.


"Becanda," sahut Risya dengan tersenyum lebar.


"Orang aku lagi datang bulan. Bagaimana mau hamil," ucap Risya dengan candaan membuat Arga menghela napasnya panjang.


"Kamu itu ya kerjanya becanda terus," sahut Arga dengan geleng-geleng yang hanya di bencandai Risya.


Risya tersenyum dan memeluk pinggang Arga dengan manja dengan wajahnya yang mendarat di dada bidang itu.


"Kamu sudah tidak sabar ya untuk menjadi seorang ayah?" tanya Risya dengan mengangkat kepalanya menatap suaminya itu yang Arga juga melihat ke bawah melihat Risya.


"Memang kamu tidak ingin menjadi seorang ibu?" tanya Arga balik.


"Pengen juga," sahut Risya.

__ADS_1


"Tapi belum di kasih. Bagaimana dong. Hmmm ini pasti gara-gara kamu yang tidak top cer. Jadi tidak jadi-jadi deh," ejek Risya.


Membuat Arga membuang napasnya kasar.


"Kamu meremehkanku?" tanya Arga.


"Ya tidak sih. Tapikan lihat hasilnya belum ada," sahut Risya dengan tersenyum ejekan pada suaminya.


"Aku bercanda jangan cemberut seperti itu," ucap Risya memegang pipi Arga yang mulai kesal.


"Aku tidak cemberut kok. Hanya saja kalau aku lagi di tantang. Jiwa gairah ku itu naik," ucap Arga.


"Dan sayangnya kami tidak bisa menuntaskan kepadaku. Karena aku sedang datang bulan," ucap Risya.


"Iya-iya. Datang bulan juga hanya 7 hari. Awas aja kalau sudah selesai. Aku tidak akan mengampunimu dan akan aku buat sampai jadi," ucap Arga dengan penuh penegasan.


"Wiiiii takut," sahut Risya dengan wajahnya yang penuh senyum.


Arga hanya berdecak dan mengelus-elus pucuk kepala Risya dan menciumnya lembut.


"Kita lanjut lagi jalan mama dan papa sudah menunggu!" ucap Arga.


"Ya sudah nyetir aja," Icao Risya.


"Dengan keadaan kamu yang seperti ini?" tanya Arga yang mana Risya masih saja di pelukannya.


"Memang kenapa? Namanya juga masih ingin peluk suaminya," sahut Risya.


Dan bahkan Risya sangat jahil yang bolak-balik mencium pipi Arga. Risya memang sengaja dan Arga harus menahan diri dengan godaan istrinya itu.


***********


Akhirnya Risya sampai di kediaman orang tua Risya. Layaknya seperti pengantin baru pasangan itu yang memasuki rumah dengan bergandengan tangan. Kalau sedang dekat ya seperti itu dan kalau bertengkar juga akan parah. Namanya juga Risya dan Arga dua orang yang sama-sama memiliki kepribadian yang hampir sama.


"Assalamualaikum!" sapa Risya dan Arga.


"Walaikum salam," sahut Tantri dan Hariyanto.


"Loh ada Vio juga," sahut Risya yang melihat ada Vio yang berada di ruang tamu dan bahkan ada Karen dan juga Indra orang tua Vio.


"Hay Risya," sapa Vio. Risya menyapa dan memeluk Vio yang juga menyalam Karen dan Indra.


"Kamu apa kabar Risya?" tanya Indra.


"Baik-baik aja Om," jawan Risya.


"Kamu bagaimana Arga?" tanya Indra juga.


"Sama seperti Risya baik-baik aja," sahut Arga.

__ADS_1


"Bagiamana tidak baik-baik aja. Sekarang mereka tinggal berdua. Ya tidak tau juga sih apa baik-baik aja atau bagaimana. Mama sih kurang percaya juga. Kalau ada orang aja bisa-bisanya berantam dan apa lagi tidak ada orang pasti perang terus ya kalian," ucap Tantri dengan menatap Arga dan Risya secara serentak.


"Iya mah kita perang di kamar," sahut Arga yang langsung mendapat siku di perutnya dari Risya.


"Kamu itu bicara apa sih," tegur Risya.


"Ya kalau masalah perang yang tidak perlu di perpanjang ya Arga. Itu urusan kamu sama Risya," sahut Hariyanto yang tertawa-tawa kecil bersama dengan Indra.


"Sudah-sudah ayo duduk. Jangan berdiri saja," sahut Tantri.


Arga dan Risya pun akhirnya duduk bersama yang duduk bersebelahan.


Tidak lama Samuel tiba-tiba muncul dan membuat Risya dan Arga heran.


"Lama juga dari toiletnya Samuel. Tidak ke sasar kan?" tanya Tantri.


"Tidak Kok Tante," sahut Samuel.


"Loh. Samuel ada di sini juga ternyata," sahut Risya yang cukup terkejut.


"Iya Risya. Kami juga datang ingin makan malam bersama keluarga ini," jawab Risya.


"Ohhh begitu kamu sama Samuel bukannya...." Risya sangat tidak enak melanjutkan kalimatnya itu.


"Aku sama Samuel tidak jadi bercerai," ucap Vio.


"Benarkah?" tanya Risya tampak terkejut.


"Iya dan jujur semua ini karena Arga dan juga karena masalah kamu. Banyak hal yang membuat aku sama Samuel dekat belakangan ini dan bahkan kedekatan itu seperti memulai sesuatu dan sampai akhirnya kita memutuskan untuk melanjutkan pernikahan kita," jelas Vio.


"Ya ampun aku senang sekali mendengarnya," sahut Risya yang sangat bahagia.


"Iya Risya. Makasih ya Arga kamu memberi aku dan Samuel waktu untuk bersama," ucap Vio.


"Aku tidak melakukan apa-apa. Justru kalian berdua yang banyak membantuku," sahut Arga.


"Tetapi memang iya. Kalau bukan karena masalah Risya maka aku dan Vio tidak akan bisa saling memahami," sahut Samuel.


"Sudah-sudah yang penting kalian berdua sudah bersama dan sekarang ada sebaiknya kita siapkan makan malamnya," sahut Tantri.


"Masih di siapkan," sahut Vio dan Risya serentak.


"Iya kenapa?" tanya Tantri.


"Jadi belum masak dan kita ikut masak?" tanya Risya. Tantri mengangguk.


"Mama itu namanya bukan undangan makan malam. Tetapi memasak," sahut Risya dengan banyak protes.


"Sudah-sudah kamu itu jangan protes. Ayo bantu mama untuk masak dan kamu juga Vio kalian jangan jadi istri-istri yang pemalas," tegas Tantri yang membuat Vio dan Risya menghela napas yang pasti itu hal yang menyebalkan dan yang lainnya hanya tersenyum saja.

__ADS_1


Bersambung.



__ADS_2