
Tantri berada di ruangan perawatan Hariyanto dengan memberi Hariyanto makan yang duduk di samping suaminya yang menyuapi Hariyanto.
"Sudah cukup mah. Papa sudah tidak selera makan lagi," ucap Hariyanto yang menolak suapan dari istrinya.
"Kenapa selera makan papa semakin berkurang," ucap Tantri dengan menghela napasnya yang menyimpan makanan itu di atas nakas.
"Mungkin sudah waktunya," jawab Hariyanto.
"Waktunya apa maksud papa?" tanya Tantri heran. Tantri memberi suaminya itu minum.
"Dunia ini memang tidak adil dan papa juga tidak mendapatkan keadilan atas dosa-dosa papa. Menyakiti banyak orang. Seperti mama yang sangat tulus kepada papa. Menyakiti Risya dan Allah tidak menjatuhkan karma untuk papa dan makanya ada akhirat keadilan yang sesungguhnya dan mungkin Allah akan mengadili papa di sana atas semua dosa-dosa papa," ucap Hariyanto yang sangat tenang membicarakan hal seperti itu.
"Apa yang papa bicarakan. Kenapa harus membicarakan masalah akhirat. Hal itu tidak seharusnya papa bicarakan," ucap Tantri.
"Namanya sudah waktunya mah," sahut Hariyanto dengan tersenyum.
"Sudah-sudah jangan membahas hal seperti itu mama tidak mau mendengarnya," ucap Tantri. Hariyanto hanya mengangguk dengan tersenyum mendengar kata-kata istrinya itu.
"Ada yang ingin mama katakan pada papa," ucap Tantri.
"Apa itu mah?" tanya Hariyanto.
"Ini masalah Putri," jawab Tantri membuat Hariyanto melihat serius ke arah istrinya yang tiba-tiba membahas Putri. Dia sengaja tidak pernah menyinggung ke arah sana untuk menjaga perasaan istrinya. Namun sekarang malah istrinya yang mengungkit hal itu.
"Kenapa tiba-tiba membahas ke arah sana?" tanya Hariyanto.
"Putri sedang sakit," ucap Tantri.
Hariyanto diam saja yang tidak mengatakan apa-apa.
"Sakit Kanter tulang sumsum belakang dan juga kanker hati," lanjut Tantri membuat wajah Hariyanto tampak terkejut mendengar hal itu.
"Kondisinya tidak baik-baik saja dan sekarang sedang di rawat. Putri harus menjalani operasi untuk menyelamatkan keadaannya. Tetapi operasi belum bisa di laksanakan. Karena donor yang belum di dapatkan," lanjut Tantri yang mengatakan apa yang telah di dengarnya.
__ADS_1
Hariyanto sejak tadi hanya diam. Walau seakan tidak peduli dan menutup kuping atas Putri. Namun tidak bisa bohong jika dia jadi khawatir. Ada perasaan yang muncul begitu saja yang mungkin feeling seorang ayah tidak akan hilang.
"Aku tau kamu menghindar pembicaraan ini demi Risya. Tetapi ini masalahnya sudah berbeda mas. Apapun itu Putri juga anak kamu. Kamu juga punya tanggung jawab untuk memikirkan kesehatannya. Dia anak kecil yang tidak tau apa-apa dan pasti tidak menginginkan lahir dengan cara seperti ini," ucap Tantri.
"Dia juga sedang sakit dan sakitnya bukan sakit biasa. Dia sakit parah mas. Darah kamu mengalir di darah Putri. Putri tetap anak kamu mau seperti apapun itu," tegas Tantri.
Tantri memang wanita yang hebat. Mungkin rasa sakit hati sudah tidak ada lagi. Dia menjadi wanita yang bijak dan tidak menuntut suaminya untuk meninggalkan tanggung jawab yang seharusnya ada untuk Putri. Walau dia ibu Risya dan sangat menjaga perasaan Risya. Namun Tantri tidak harus membuat suaminya hanya mengakui Risya saja.
Pembicaraan Tantri dan Hariyanto yang mana Tantri menyampaikan kondisi Putri yang tidak baik-baik saja. Ternyata di dengar oleh Risya. Risya yang tadi ingin masuk kedalam ruangan papanya dan menghentikan langkahnya ketika mendengar hal tersebut.
Wajahnya terlihat sendu dengan matanya berkaca-kaca. Sekeras apapun hatinya mendengar kondisi Putri yang sangat parah mampu menggoyahkan hatinya sehingga Risya menghelai napasnya perlahan dan terlihat murung dengan terkejut mendengar keadaan Putri.
**********
Arga yang sedang mencari-cari istrinya yang tidak tau di mana. Tadi istrinya hanya pamit ke toilet namun tidak kembali membuat Arga panik dan terus mencari istrinya itu.
"Di mana sih kamu Risya," batin Arga dengan wajah paniknya yang melihat ke sekitarnya. Arga pun mengambil ponselnya untuk menelpon istrinya. Namun belum sempat menelpon sang istri tiba-tiba Arga melihat Risya yang yang duduk termenung di taman.
"Risya!" lirih Arga yang lega akhirnya menemukan istrinya dan Arga langsung menghampiri Risya.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Arga yang duduk di samping Risya dan memegang pipi Risya. Dia sangat takut istrinya itu kenapa-kenapa lagi.
"Ada apa sayang?" tanya Arga lagi.
"Ternyata Putri sakit," ucap Risya yang membuat Arga bingung.
"Maksudnya?" tanya Arga.
"Putri menderita kanker tulang sumsum belakang dan juga kanker hati," jawab Risya yang membuat Arga terkejut mendengarnya sampai matanya terbuka lebar.
"Kamu yakin?" tanya Arga yang masih shock.
"Aku tadi mendengar mama dan papa membicarakan hal itu. Kondisi tidak main-main dan ternyata dia sakit parah. Bukan hanya alergi banyak yang di alaminya," ucap Risya yang tidak bisa membendung air matanya yang akhirnya tumpah.
__ADS_1
Perasaannya yang rapuh tiba-tiba sangat sedih dan menangis karena kondisi Putri. Mungkin itu tiba-tiba saja.
"Kamu mau melihat Putri?" tanya Arga yang memberikan ide. Siapa tau Risya ingin melihat keadaan Putri supaya Risya tenang.
Namun ternyata tidak. Risya menggelengkan kepalanya yang mungkin belum sanggup bertemu dengan Putri.
"Ya sudah. Jika tidak ingin melihatnya. Maka jangan di paksakan," sahut Arga. Risya mengangguk-anggukkan kepalanya.
**********
Kondisi Putri yang tidak main-main membuat Hariyanto harus kepikiran. Bahkan Tantri menemani Hariyanto dengan mendorong kursi roda Hariyanto untuk melihat keadaan Putri yang berada di dalam ruang perawatan.
Namun Hariyanto tidak masuk dan hanya melihat dari luar saja. Di dalam ruangan itu tidak ada siapa-siapa dan Putri hanya tertidur dengan selang infus di tangannya dan alat pernapasan di hidungnya.
"Kamu tidak mau masuk mas?" tanya Tantri
"Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan. Jika aku masuk kedalam," jawab Hariyanto dengan penuh kebingungan. Dan memilih untuk berada di luar.
"Baiklah terserah kamu jika tidak ingin masuk," sahut Tantri yang tidak bisa memaksa suaminya itu.
"Tante, Om," tiba-tiba Angela dan Edo datang dan kaget melihat Hariyanto melihat Putri.
"Angela Edo," sahut Tantri.
"Om mau melihat Putri?" tanya Putri.
Hariyanto hanya diam saja yang tidak tau harus menjawab apa.
"Jika ingin melihatnya maka masuklah. Jangan menunggu di luar," sahut Edo dengan suara dinginnya dan langsung masuk kedalam ruang perawatan Putri.
Tantri, Hariyanto dan Angela diam saja dengan wajah mereka yang sangat senduh.
"Saya masuk ya Tante," ucap Angela. Tantri menganggukan kepalanya. Hariyanto tidak mengatakan apa-apa dan hanya melihat Putri kembali dari luar.
__ADS_1
Bersambung