
Mendengar suara bayi itu membuat air mata Arga menetes. Sementara yang lain terdengar terharu mendengar suara bayi yang berhasil selamat itu. Tidak tau mereka bahagia atau tidak. Yang pasti debaran jantung mereka semakin kencang.
Ada ketakutan yang akan mereka hadapi di depan mata mereka. Tidak tau apa itu. Perasaan mereka yang tidak bisa tenang dan rasa takut yang luar biasa yang tidak bisa di gambarkan.
Pintu ruang operasi terbuka dengan keluarnya Dokter dari dalam ruangan itu. Perasaan mereka semakin tidak menentu dengan debaran jantung yang semakin kuat.
"Dokter!" lirih Tantri yang langsung menghampiri Dokter.
"Alhamdulillah bayi pak Arga selamat. Bayi perempuan yang sangat cantik lahir dengan sempurna dan sangat sehat," ucap Dokter membuat semua orang tersenyum dengan mengucap syukur.
"Kalau bagaimana dengan istri saya?" tanya Arga.
Dokter diam dan menunduk sebentar kepalanya. Kalau mengangkat kembali dengan menghela napas dan membuka kacamata.
"Maaf pak Arga, kami tidak bisa menyelamatkan keduanya," jawab Dokter.
Apa yang di katakan Dokter membuat Arga terkejut dan pasti dengan semua orang juga yang terkejut dengan apa yang di katakan Dokter.
"Bu Risya sudah meninggal," lanjut Dokter lagi yang memperjelas apa yang di katakan Dokter.
Air mata salmah, Tantri, Arga, dan semua orang di sana keluar dengan refleks saat mendengar kata-kata Dokter.
"Tidak mungkin Dokter," ucap Arga yang pasti tidak terima.
"Risya," lirih Tantri yang langsung di peluk Salmah.
"Kami sudah berusaha semampu kami. Tetapi istri pak Arga tidak bisa kami selamatkan," ucap Dokter.
"Tidak mungkin itu tidak mungkin, itu tidak mungkin!" teriak Arga yang tidak menerima pernyataan Dokter.
"Risya!" Arga langsung berlari memasuki ruang operasi.
"Arga!" panggil Dehway.
Kehancuran hati Arga kehilangan istrinya. Angela dan Syrala berpelukan dengan menangis. Vio di peluk suaminya yang juga kaget dengan kabar tersebut. Kehadiran bayi yang sangat cantik membuat mereka begitu bahagia. Namun kehilangan Risya kebahagiaan itu bisa hilang. Sama dengan Arga yang sekarang sudah memasuki ruangan istrinya baru di Operasi.
Arga melihat bagaimana suster dan Dokter yang menutup wajah Risya dengan kain putih membuat Arga kaget.
__ADS_1
"Apa yang kalian lakukan. Hentikan semuanya!" teriak Arga yang langsung masuk mencegah Suster.
"Istri saya belum mati. Jangan menyentuhnya!" teriak Arga. Tidak ada yang di katakan Suster dan menghentikan apa yang mereka lakukan.
"Sayang bangun! Sayang, kamu tidak pergi seperti ini, sayang bangun!" Arga menggoyang-goyangkan tubuh Risya membangun kan Risya yang tidak bergerak sama sekali dengan tangan Risya yang sudah di lipat didanya.
"Kamu menyuruhku melakukan semua ini Risya. Kamu yang menyuruhku menyelamatkan anak kita dan kamu mengatakan. Jika kamu pasti kuat. Kamu pasti bisa menyelamatkan anak kita. Lalu apa Risya. Kamu bohong. Lihat apa yang terjadi. Kamu malah pergi. Ini bukan bercandaan Risya. Bangun!" Arga yang berteriak-teriak frustasi di membangunkan Risya.
Kembali menyalahkan dirinya atas keputusan yang sudah di ambilnya. Membuat Arga akan kehilangan wanita yang paling di cintainya.
Taman yang indah yang penuh dengan bunga, dengan kabut yang tidak terlalu tebal. Risya dengan gaun putihnya yang bergandengan tangan dengan Hariyanto. Mereka saling melihat dan tersenyum dengan langkah mereka yang berjalan pelan.
"Risya!" langkah ke-2nya terhenti ketikan mendengar suara itu membuat Risya dan Hariyanto membalikkan tubuh mereka dan mereka langsung menoleh kebelakang.
Ternyata Arga dengan kemeja putih dan juga celana putih yang barusan memanggil Risya.
"Kamu mau kemana? ayo pulang bersamaku!" ajak Arga.
"Aku mau ikut sama papa," jawab Risya.
"Aku mohon Risya jangan pergi. Jangan membuatku menyesal. Apa yang akan aku katakan pada anak kita nanti. Jadi ikutlah bersamaku. Tempat kamu bukan di sana. Tetapi bersamaku dan juga anak kit," ucap Arga yang membuat Risya diam dan tidak mengatakan apa-apa lagi.
Risya menoleh kearah Hariyanto. Dari wajah Risya memang terlihat keraguan.
"Jika ingin bersama suami kamu. Maka pergilah," ucap Hariyanto.
"Tapi pah. Risya mau ikut sama papa," jawab Risya.
"Sayang kita akan bersama. Namun belum waktunya. Kamu masih punya tanggung jawab sebagai istri dan juga anak kamu masih ada dan mama kamu masih ingin kamu di sisinya. Jadi pergi lah bersama suami kamu. Papa tidak apa," ucap Hariyanto.
"Tidak pah. Risya mau ikut sama papa," sahut Risya.
"Risya kamu harus bersamaku, aku mohon Risya!" sahut Arga yang membuat Risya hanya diam. Di sisi lain Arga terus menyuruhnya untuk bersamanya dan di sisi lain ada juga Hariyanto dan dia ingin sekali bersama Hariyanto.
"Risya bangunlah! Aku mohon Risya,"
"Jangan pergi Risya, kamu tidak boleh pergi. Jangan meninggalkan ku dan anak kita,"
__ADS_1
Suara Arga yang semakin memelan untuk membangunkan istrinya itu. Air matanya yang tidak terbendung sama sekali. Dia begitu terluka dengan apa yang di hadapinya. Istrinya ya telah pergi meninggalkannya.
Keluarga yang lainnya berdiri di depan pintu dan hanya menangis melihat Arga yang seperti itu. Mereka tidak bisa menghentikan Arga. Karena yang mengetahui semua itu hanya Arga. Arga yang tau bagaimana perasaan yang di alaminya.
"Maaf pak Arga kami harus mengurus jenazah nya. Jadi mohon untuk tinggalkan kami," ucap suster.
"Istri saya belum meninggal," sahut Arga dengan merendahkan suaranya.
Boy langsung menghampiri Arga dan memegang ke-2 bahu Arga.
"Ayo Arga kita keluar!" ajak Boy yang juga tidak bisa menahan air matanya atas kehilangan sahabatnya.
"Risya tidak mungkin pergi Boy. Kamu mengenal Risya kan. Di dalam kehidupannya. Tidak ada kata-kata serius dan Risya tidak pernah serius. Dia pasti bercanda," Arga dengan tertawa-tawa yang berbicara pada Boy.
"Aku tau perasaan kamu. Tetapi ini sudah ketentuan yang di atas. Jadi bersabarlah," ucap Boy.
"Tidak!" Arga melepas tangan Boy.
"Risya bangun. Sayang ayo bangun! Kamu harus menepati janji kamu dan bangunlah!" Arga kembali membangunkan Risya. Boy sudah tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Dia hanya menghela napas melihat Arga.
"Bangun sayang!"
"Bangunlah aku mohon!"
"Jangan tinggalkan aku dan anak kita,"
Arga masih tidak menyerah untuk membangunkan istrinya. Air matanya bahkan sampai jatuh pada wajah Risya.
"Maaf pak Arga, tolong kerja samanya," sahut Suster yang kembali memerintahkan Arga untuk keluar. Namun Arga tetap membangunkan Risya.
Saat Suster berusaha untuk membawa Arga pergi karena mereka harus mengurus jenazah Risya. Di saat itu juga tiba-tiba suara denyut jantung di monitor kembali berbunyi.
"Jantungnya berdetak!" ucap salah satu Suster yang membuat Suster yang lainnya melihat monitor jantung. Keluarga Arga dan semua orang juga kaget melihat hal itu.
"Risya!" lirih Arga yang melihat layar monitor itu yang kembar berjalan dengan napas Arga yang naik turun.
Bersambung.
__ADS_1