
Keinginan suaminya harus di turuti Tantri. Itu sebuah amanah. Jika Hariyanto meninggal harus mendonorkan organnya yang masih berfungsi dan tidak ada masalah untuk Putri. Hariyanto memiliki penyakit jantung dan kondisinya juga yang semakin parah.
Jika masih di beri kesempatan untuk melakukan yang terbaik. Lalu kenapa tidak. Karena ini yang terbaik dan ini yang akan di lakukannya untuk menebus dosa-dosanya. Dan Tantri harus membantu suaminya untuk memenuhi amanat suaminya sebelum Tantri Hariyanto pergi.
Seperti sekarang ini Tantri mengurus surat pendonoran. Dengan berat hati dia harus melakukannya dan berusaha untuk ikhlas. Mungkin tidak akan ada yang kuat seperti Tantri. Membiarkan suaminya memberikan organ tubuhnya untuk anak dari wanita lain yang merusak rumah tangganya. Tantri juga akan melihat kesedihan anak kesayangannya demi menyelamatkan anak lain.
Tetapi ikhlas itu harus di jalaninya dan mungkin itu yang terbaik dan harus di lakukannya dan mau bagaimana lagi. Tantri berada di ruangan Dokter yang duduk berhadapan dengan Dokter dengan pembatas meja.
"Ini Bu surat-suratnya ibu silahkan menandatanganinya!" ucap Dokter memberikan beberapa lembar kertas kepada Tantri. Tantri menganggukan kepalanya dan menerima surat tersebut.
"Terima kasih Dokter," sahut Tantri.
"Jangan di tandatangani dulu. Jika masih ragu dan masih perlu pertimbangan. Maka tidak apa-apa ibu bisa berpikir dulu, menenangkan diri dulu dan jika sudah punya keputusan baru ibu lakukan," ucap Dokter yang memberikan saran.
"Iya Dokter. Tetapi saya tidak apa-apa dan menerima semua ini dan semoga ini yang terbaik dan keputusan ini sudah kami bahas dengan suami saya dan insyallah semuanya akan berjalan sesuai dengan apa yang sudah kami bahas," ucap Tantri dengan tersenyum yang berusaha untuk ikhlas.
"Baiklah kalau begitu. Jika ibu memang sudah siap maka silahkan di tandatangani dan saya akan membicarakan semua ini untuk keluarga pasien yang membutuhkan donor tersebut," ucap Dokter.
"Baik Dokter," sahut Tantri menghela napasnya perlahan kedepan dan mengucapkan bismillah dia sanggup yang langsung menandatangani dokumen tersebut.
************
Angela dan Edo yang berjalan di koridor rumah sakit.
"Dokter ingin bertemu dengan kamu, memang ada apa?" tahta Angela.
"Mungkin membicarakan masalah Putri," jawab Edo yang juga tidak tau.
"Tapi kita belum mendapatkan donor, bagaimana ini?" tanya Angela.
"Aku juga tidak bisa berpikir apa-apa Angela. Kita doakan saja apa yang terbaik dan semoga semuanya baik-baik aja," sahut Edo lebih pasrah dengan apapun keputusan Dokter. Dia sudah berusaha banyak untuk hal ini.
"Ayo masuk!" ajak Edo mempersilahkan Angela ketika mereka berdua sudah sama-sama berada di depan ruangan Dokter. Angela menganggukkan kepalanya dan langsung memasuki ruangan itu bersama dengan Edo.
"Pak Edo, Bu Angela mari silahkan duduk," sapa Dokter dengan ramah yang mempersilahkan Edo dan Angela.
"Baik Dokter," sahut Edo dan Angela yang langsung menganggukkan kepalanya dan mereka langsung duduk.
"Ada apa Dokter memanggil kami?" tanya Edo dengan perasaannya yang tidak tenang.
__ADS_1
"Saya membawa kabar baik untuk pak Edo dan juga Bu Angela," jawab Dokter.
"Kabar baik apa itu Dokter?" tanya Edo.
"Alhamdulillah Putri akan bisa melakukan operasi secepatnya. Karena Putri sudah mendapatkan donor yang di butuhkannya," ucap Dokter yang membuat Edo kaget dan Pat tidak percaya dengan apa yang di katakan Dokter sama juga dengan Angela yang begitu terkejut mendengarkan hal itu.
"Ini sungguh Dokter?" tanya Edo yang tidak percaya.
"Iya ini benar dan kamu juga sudah mengecek apa yang ingin didonorkan dan Alhamdulillah donornya tidak ada masalah," ucap Dokter.
"Alhamdulillah," sahut Angela mengusap wajahnya dengan kedua tangannya yang sangat bersyukur atas berita baik ini.
"Mas Putri akan baik-baik aja setelah ini. Dia akan di operasi dan dia akan sembuh," ucap Angela dengan air matanya yang jatuh yang benar-benar begitu terharu.
"Kamu benar. Putri akan sembuh," sahut Edo yang juga menangis. Dokter hanya tersenyum di depan Edo dan Angela.
"Dokter siapa orang yang mendonorkan hati dan tulang sumsum utama Putri?" Tanya Edo.
"Iya Dokter kami harus menemui keluarganya. Kami harus mengucapkan terima kasih atas apa yang mereka berikan," sahut Angela.
"Yang bertanda tangan di sini adalah ibu Tantri sebagai wakil pengurus dokumennya," jawab Dokter dengan singkat.
"Tantri!" sahut Edo.
"Iya benar sekali," jawab Dokter dengan menganggukkan kepalanya.
"Lalu pasiennya siapa?" tanya Angela dengan pelan.
"Pak Hariyanto, suami dari ibu Tantri," jawab Dokter. Angela dan Edo terkejut mendengar hal itu dengan saling melihat dan mata yang sama-sama melotot benar-benar tidak percaya dengan apa yang di katakan Dokter.
"Om Hariyanto!" lirih Angela yang masih shock mendengarnya.
"Donornya pas dan tidak ada masalah. Menurut ibu Tantri, ini amanah suaminya sebelum beliau pergi. Karena belia memiliki penyakit jantung. Namun beliau sudah ikhlas dan memberikan donornya," jelas Dokter dengan singkat. Mendengar hal itu membuat Edo dan Angela masih sama-sama terkejut.
Mereka benar-benar tidak tau jika Hariyanto yang mendonorkan organ untuk Putri. Karena sepengetahuan mereka Hariyanto tidak mengakui Putri. Namun di luar dugaan Hariyanto melakukan semua ini.
***********
Setelah berbicara dengan Dokter Angela dan Edo langsung keluar dari ruangan tersebut.
__ADS_1
"Aku benar-benar kaget. Jika ternyata Om Hariyanto mendonorkan organnya untuk Putri," ucap Angela.
"Dan Tantri yang mengurus semuanya. Aku juga tidak percaya," sahut Edo.
"Lalu Risya bagaimana apa Risya tau semua ini?" tanya Angela.
"Aku nggak tau Angela," sahut Edo.
"Itu Tante Tantri!" Angela tiba-tiba melihat Tantri yang berjalan sendiri.
"Ayo menemuinya," sahut Edo yang langsung menarik tangan Angela dan Edo untuk menemui Tantri.
"Tante!" panggil Edo membuat langkah Tantri langsung berhenti dan melihat kebelakang.
"Edo, Angela," sahut Tantri.
Edo menghela napasnya dan mendekat pada Tantri yang langsung berhadapan dengan Tantri.
"Ada apa Edo?" tanya Tantri.
"Kami baru dari ruangan Dokter dan kami sangat kaget dengan apa yang di katakan Dokter jika ternyata Putri mendapatkan donor dan donor itu dari om Hariyanto. Donor yang cocok dan sehat untuk Putri," ucap Edo.
"Jadi Dokter sudah memberitahu kepada kalian?" tanya Tantri. Edo dan Angela sama-sama menganggukkan kepala mereka.
"Kami benar-benar tidak percaya. Jika Om Hariyanto mendonorkan hatinya untuk Putri," ucap Edo.
"Itu sudah keputusan suami saya dan itu pasti sudah di pikirkan dan saya hanya mengikuti dan mengurus semuanya. Jadi kalian berdoa saja. Operasinya akan lancar dan Putri bisa sembuh," ucap Tantri dengan tenang bicara.
"Tap itu artinya Tante. Jika Om Hariyanto memberikan donornya. Itu artinya dia akan pergi," sahut Angela.
"Seperti yang saya katakan tadi Angela. Itu sudah keputusan dan amanah yang harus di lakukan dan itu juga sudah melalui diskusi panjang," sahut Tantri.
"Lalu bagaimana dengan Risya?" tanya Angela.
"Pasti sangat berat untuk Risya. Jadi mau bagaimana pun Risya harus menghadapi semuanya. Dia akan ikhlas. Jangan khawatir semuanya akan baik-baik saja dan Tante yang akan menenangkan Risya. Kalian berdua fokus untuk kesembuhan Putri," jawab Tantri dengan singkat dan jelas.
"Saya permisi! masih banyak yang harus saya urus," sahut Tantri dengan tersenyum dan langsung pergi.
Bersambung
__ADS_1