
Setelah mendapatkan penanganan dari Dokter akhirnya Tasya dan Putri sudah bisa di jenguk. Mereka berdua satu ruangan dengan ranjang yang terpisah yang berdekatan. Hanya dengan ada pembatas meja.
Edo, Angela, Risya dan Arga berada di ruangan itu untuk melihat kondisi Putri dan Tasya. Luka mereka cukup parah. Putri mengalami luka di bagian kepalanya sehingga harus di perban.
Sama dengan Tasya yang juga mengalami luka di bagian kepala dan juga tangannya. Ibu dan anak itu kondisinya memang tidak baik-baik saja. Tetapi masih untuk mereka tidak berakhir di tangan Bram.
Edo sejak tadi tidak bisa menahan kesedihannya yang duduk di samping Putri dengan memegang tangan Putri.
"Papa kenapa nangis?" tanya Putri yang melihat air mata Edo yang akhirnya jatuh.
"Maafkan papa! Papa tidak bisa menjaga kamu. Seharusnya kamu tidak seperti ini," ucap Edo yang merasa bersalah.
"Kenapa harus minta maaf. Ini bukan salah papa kok dan lagian Putri juga sekarang sudah tidak apa-apa. Putri baik-baik aja dan juga tidak sakit kok," sahut Putri yang merasa dirinya baik-baik saja.
"Ini semua salahku," sahut Tasya mengakui kesalahannya.
"Aku tidak pernah mendengarkan kamu mas. Aku terlalu egois dan menikah dengan Bram tanpa aku tau apa resikonya. Seharusnya aku tidak menikah dengannya. Seharusnya aku mencari tau dengan benar-benar seperti apa dia sebenarnya. Tetapi tidak. Kau tidak mencari tau dan menikah dengannya yang padahal aku tau dia kurang menyukai Putri dan semua terjadi karena keteledoranku, karena kebodohanku. Aku minta maaf mas atas apa yang terjadi pada Putri," sahut Tasya dengan air matanya yang keluar yang merasa bersalah pada Putri.
"Putri juga seperti ini karena menolongku. Dia melawan Bram dan Putri mendapatkan amukan dari Bram," lanjut Tasya.
"Mama sudah sering di pukul Om Bram. Putri tidak mungkin membiarkan mama di pukul lagi. Jadi Putri harus berani menolong mama. Karena Putri tidak mau mama terus di jahati Om Bram," sahut Putri.
Air mata Tasya mengalir semakin deras mendengar kata-kata Putri. Penyesalan memang selalu datang terlambat dan sama dengan orang-orang yang ada di sana juga terlihat sedih mendengar mirisnya cerita Putri dengan apa yang di alami Tasya selama ini.
"Jadikan semua ini pelajaran Tasya dan jangan seperti ini lagi. Aku tidak melarang mu untuk menikah. Tetepi lihat kamu punya Putri dan lihat yang terjadi padanya bukan hal yang mudah. Putri mengalami luka dan psikolognya pasti sudah terganggu dengan konflik antara kamu dan Bram selama ini," ucap Edo yang memberikan masukan.
"Iya mas. Aku tau itu dan aku tidak mengulanginya lagi. Aku benar-benar minta maaf. Sudah lalai dalam menjaga Putri dan aku janji tidak akan mengulangi lagi dan lebih hati-hati lagi," sahut Tasya.
__ADS_1
"Putri mama janji untuk kedepannya mama akan lebih memperhatikan kamu dan tidak akan mengabaikan kamu," sahut Tasya. Putri hanya menganggukkan kepalanya.
"Risya, Arga terima kasih kalian sudah datang membantu aku dan Putri. Aku tidak tau apa jadinya. Jika kalian tidak datang," ucap Tasya.
"Kamu tidak perlu berterima kasih. Justru kami minta maaf. Karena kamu datang terlambat sampai kamu dan Putri mengalami hal ini," sahut Arga.
"Iya Tasya yang penting kamu dan Putri sudah ada di sini dan semua ini karena kebijakan Putri yang menghubungi kami. Jadi kita semua harus bersyukur yang masih diberikan keselamatan dari Bram," sahut Risya dengan bijak.
Tasya menganggukkan kepalanya dan menjulurkan tangannya pada Putri dan Putri meraih ukuran tangan Tasya dengan mereka yang saling bergenggaman dengan saling melihat. Suasana di ruangan itu terlihat sedih dengan penuh keharuan.
Tasya yang menyesal dengan apa yang di lakukannya. Kebodohannya selama ini. Namun semua sudah terjadi. Nasi sudah menjadi bubur dan untung masih ada kesempatan untuk bisa memperbaiki dan kondisi Putri juga baik-baik saja. Walau terluka.
**********
Syarla, Boy, Vio dan Samuel hari ini kerumah sakit untuk menjenguk Putri dan Tasya. Mereka ber-4 masih berada di dalam mobil dan Boy yang menyetir.
"Mendengar cerita dari Risya tragis juga dengan apa yang di alami Tasya selama pernikahannya," sahut Vio dengan menghela napas.
"Karena memang apa yang kita tanam itu yang kita tuai. Jadi apa yang di alami Tasya adalah balasan perbuatannya di masa lalu," sahut Boy.
"Maksud kamu?" tanya Syrala.
"Dia pernah merusak rumah tangga orang lain dan kita tidak bisa melupakan siapa Tasya. Jika sekarang mengalami hal itu. Itu adalah balasan dari perbuatannya dan ternyata mendapatkan lebih parah," ucap Boy.
"Iya juga sih. Ya Tante Tantri padahal tidak ngapa-ngapain. Tidak perlu dendam dan tidak juga mengutuk. Dia bahkan ikhlas dan memaafkan Tasya. Menerima takdirnya. Namun ternyata lupa ada yang namanya hukum karma. Rasa adik yang di berikan dan Allah membalas semua ini," sahut Syrala.
"Kita bukan bahagia dengan apa yang terjadi pada Tasya. Tetapi justru ini pelajaran untuk kita juga. Jika di berikan kenikmatan. Jangan sampai kita merusak kebahagiaan orang lain. Karena Allah akan mengambil kenikmatan itu dan terlebih lagi dia juga memberikan balasannya," sahut Vio menambahi dengan bijak.
__ADS_1
"Pintar sekali istriku," sahut Samuele dengan tersenyum.
"Memang harus pintar," sahut Vio.
*********
Angela yang berasa diruangan Tasya dan Putri bersama Edo. Angela menyuapi Putri makan dan Tasya yang makan sendiri.
"Enak makannya?" tanya Angela.
"Enak mah. Makasih sudah suapin Putri," ucap Putri.
"Iya sayang kamu makan yang banyak ya," ucap Angela dengan mengusap pipi Putri. Putri menganggukkan kepalanya.
"Oh iya mama pah. Putri mau tanya sesuatu," ucap Putri tiba-tiba.
"Kamu mau tanya apa Putri?" tanya Edo.
"Kenapa Om Bram bilang kalau Putri anak haram?" tanya Putri yang membuat semua orang di dalam ruangan itu terkejut. Termasuk dengan Tasya. Dia mengingat hal itu di mana kemarahan Bram sampai mengatai Putri anak haram.
"Dia bilang Putri anak haram? Apa anak haram itu pah?" tanya Putri dengan wajahnya yang penuh dengan tanya.
Edo, Angela dan Tasya terdiam. Mereka mana tau bagaimana cara menjelaskan hal itu kepada Putri.
"Putri Om Bram itu hanya emosi dan dia mengatakan apa saja yang keluar dari mulutnya. Dan arti dari kata-katanya itu tidak ada," ucap Angela yang mencoba menjelaskan agar Putri tidak kepikiran.
"Jadi Putri jangan memikirkan apa yang di katakannya ya," lanjut Angela.
__ADS_1
Putri menganggukkan saja kepalanya. Namun tetap dia terlihat penasaran dengan maksud anak haram yang di katakan kepadanya. Dan sebagai anak kecil otak Putri pasti sangat mudah di cerna dan akan penasaran terus.
Bersambung