
Setelah selesai makan Angela memberi Edo minum dan juga memberi Edo obat.
"Harus minum obatnya," ucap Angela. Edo menelan beberapa pil itu dan Angela kembali memberi Edo minum.
"Mas istirahatlah," ucap Angela meletakkan gelas di atas nakas. Saat Angela ingin pergi Edo memegang tangannya yang tidak ingin Angela pergi.
"Kita belum selesai bicara Angela. Jadi jangan pergi dulu," ucap Edo dengan lembut membuat Angela menghela napasnya dan Angela kembali duduk di samping Edo.
"Ada apa lagi mas. Apa yang harus kita bicara?" tanya Angela.
"Aku tidak melakukan apa-apa dengan Tasya. Dia menjebakku dan aku benar-benar tidak tau apa-apa yang tiba-tiba saja semuanya seperti itu," ucap Edo menjelaskan.
"Bukannya aku mengatakan aku sudah tau. Aku tau kebenarannya. Arga dan Risya sudah menjelaskannya. Lalu apa lagi yang harus mas jelaskan," ucap Angela.
"Lalu apa kamu masih mempercayaiku?" tanya Edo.
Angela menganggukkan kepalanya, "aku percaya pada mas. Aku juga tau bagaimana Tasya dan aku juga minta maaf karena kemarin emosi. Tanpa mencari tau dulu apa yang sebenarnya terjadi," ucap Angela yang juga mengakui itu bersalah.
"Kamu tidak perlu minta maaf. Semua kesalahanku dan semua yang terjadi aku penyebabnya. Kamu mengalami hal yang sulit karena keputusan yang salah yang telah aku ambil. Tanpa aku sadari aku telah mengorbankan perasaanmu," ucap Edo.
"Mas. Aku tau kamu mengambil keputusan itu. Bukan berdasarkan keinginan kamu. Kamu melakukannya untuk Putri dan aku yakin kamu juga memikirkanku dan takut dengan hubungan kita. Ya walau apa yang sudah kami lakukan tidak membuahkan hasil. Tetapi yang penting kita sama-sama tau apa yang sebenarnya dan itu membuat kita harus lebih hati-hati," ucap Angela.
"Apa artinya kamu akan terus mendampingi ku?" tanya Edo ingin memastikan.
"Aku sudah berjanji padamu dan juga Putri. Aku tidak akan pernah pergi dari hidup kalian. Jika kalian masih membutuhkanku. Namun jika memang sudah tidak membutuhkanku. Maka aku akan pergi," ucap Angela.
"Apa yang kamu bicarakan Angela. Kamu orang yang aku butuhkan yang harus ada di sisiku. Tetapi kamu orang yang aku cintai dan ingin selalu ada di sisiku. Itu artinya sampai kapanpun kamu akan tetap ada di sisiku. Mau aku butuh atau tidak. Karena cinta yang aku miliki kepadamu sudah menjelaskan semuanya," ucap Edo dengan menatap begitu tulus Angela.
"Iya mas. Aku tau itu. Sekarang sudah ya. Kita jangan membahas hal itu lagi," sahut Angela.
Edo menganggukkan kepalanya dengan tersenyum yang meras lega mendapatkan kepercayaan kembali kepadanya.
"Oh iya mas Edo. Di mobil kamu Polisi menemukan berkas tuntutan pengadilan dari Tasya. Apa Tasya benar-benar mengajukan tuntutan itu?" tanya Angela.
"Semenjak kejadian itu. Aku tidak mengijinkannya untuk bertemu Putri dan saat itu juga aku tau semua yang di lakukannya dan membuatku juga marah dan benar-benar tidak mengampuninya atau memberinya kesempatan apa-apa dan aku yakin dia tidak akan terima dan mengancam atau tidak menepati janjinya. Dan ini terjadi dia benar-benar mengajungkan gugatan itu," jelas Edo.
"Dan itu yang membuat kamu kecelakaan?" tanya Angela.
"Mobilku mengalami rem blong dan aku tidak bisa mengendalikan emosi dan juga pemikiran ku yang akhirnya semua itu terjadi. Aku mengaku salah dan tidak memikirkan Putri yang ada di sana saat itu," ucap Edo.
"Tetapi untunglah Putri tidak apa-apa. Dia juga takut kamu kenapa-napa dan pasti mengalami trauma akibat kecelakaan itu. Karena saat aku datang dia terus menangis," ucap Angela.
"Makasih Angela. Kamu sudah ada di samping Putri dan sudah menenangkan Putri saat aku tidak ada," ucap Edo.
"Sama-sama mas. Itu memang sudah kewajibanku," sahut Angela dengan tersenyum tipis dan Edo juga tersenyum.
__ADS_1
"Oh iya mas Edo kemarin aku bicara sama Risya bilang papanya ada teman pengacara hebat. Bagaimana kalau kita pakai saja dia untuk melawan Tasya," ucap Angela memberi saran.
"Itu ide bagus. Soalnya pengacara ku. Juga sedang mengurus kasus di Luar Negri. Aku ingin pengacara fokus dengan kasusku saja. Supaya mendapatkan hasil yang baik," ucap Edo yang setuju.
"Ya sudah kalau begitu mas istirahat aja dulu. Nanti kalau sudah sembuh kita atur waktu bertemu dengan pengacara itu," ucap Angela. Edo mengangguk dengan menghela napas yang memang sangat lega sekarang.
***********
Beberapa hari kemudian Edo yang akhirnya sudah membaik dan sekarang Edo sedang pergi bersama Angela ke salah satu Restaurant yang ada Risya dan juga Arga.
"Itu mereka datang!" tunjuk Risya yang berdiri dari tempat duduknya.
"Risya Arga, maaf ya kami terlambat," ucap Angela yang merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa. Kita juga baru sampai kok. Lagian papa dan temannya juga belum datang," jawab Risya.
"Ya sudah kalian duduk dulu," sahut Arga. Angela dan Edo mengangguk dengan mereka yang mengambil tempat duduk.
"Bagaimana keadaan kamu Edo?" tanya Arga.
"Sudah mendingan dan memang jauh lebih baik," jawab Edo.
"Alhamdulillah kalau begitu," sahut Arga.
"Iya. Dia lagi jaga mamanya yang sedang sakit," jawab Risya.
"Apa ini ada hubungannya dengan masalah kemarin?" tanya Angela yang pasti kepikiran.
"Apa kalian ada masalah?" tanya Edo.
Angela kelihatan diam. Jika Syrala pergi tiba-tiba ya pasti karena semua itu berhubungan dengan apa yang terjadi pertengkaran mereka.
"Sudahlah jangan membahas Syrala dulu. Masalah itu bisa di selws belakangan. Nanti kalau kamu ada waktu kamu bisa menelpon dia dan bicara baik-baik padanyanya. Sekarang kamu fokus dulu dengan masalah Putri," ucap Risya memberikan saran.
"Benar apa kata Risya. Lagi pula suasana juga tidak tepat. Dan biarkan Syrala sendiri dulu," sahut Arga yang menambahi sedikit.
"Ya sudah. Aku telpon papa dulu entah udah di mana," sahut Risya.
"Itu papa sudah datang sayang," sahut Arga yang melihat papa mertuanya masuk kedalam Restaurant dengan pria sebaya dengan papa mertuanya itu yang mungkin itu pengacara yang di katakan papa Risya.
"Papa di sini!" Risya berdiri dengan mengangkat tangannya dan Hariyanto melihat Risya yang langsung menghampiri Risya dan yang lainnya.
"Maaf ya Risya papa lama datangnya. Soalnya macet," ucap Hariyanto.
"Nggak apa-apa kok pah. Kita juga baru sampai," sahut Risya.
__ADS_1
"Om," sahut Angela yang mencium tangan Hariyanto.
"Angela kamu apa kabar?" tanya Hariyanto.
"Alhamdulillah baik om," jawab Angela.
"Edo kamu sendiri bagaimana? Apa sudah membaik?" tanya Hariyanto.
"Sudah Om," jawab Edo.
"Ya sudah pah. Sekarang sebaiknya kita semua duduk," sahut Arga.
Hariyanto mengangguk dan mereka semua mengambil tempat duduk masing-masing.
"Ini pak Danu. Pak Danu ini pengacara yang papa ceritakan pada kami Risya," ucap Hariyanto.
"Saya Danu," sahut Danu yang memperkenalkan dirinya dan yang lain juga ikut memperkenalkan dirinya.
"Ini juga teman papa sejak SMA ya kamu berteman lama dan beliau akan membantu permasalahan Edo," ucap Hariyanto.
"Saya bisa lihat kasusnya dulu?" tanya Danu.
"Iya pak bisa," sahut Edo yang langsung menunjukkan berkas kasus tersebut yang memang sengaja di bawanya.
"Saya sangat berharap jika hal asuh Putri jatuh ketangan saya," ucap Edo.
"Ini tidak sulit. Dan 80 persen hak asuh anak bapak akan jatuh ke tangan bapak," ucap Danu sembari mempelajari sebentar kasusnya.
Perkataan Danu yang percaya diri membuat Angela, Risya, Arga dan terutama Edo lega. Ya pengacara jika yakin pasti banyak harapan dan itu akan membuat mereka bertambah semangat.
"Apa lagi ibu kandungnya tidak merawatnya dari usianya 4 tahun dan sebelum-sebelumnya juga ibu kandungnya sering meninggalkannya ke Luar Negri. Dan di sini kedekatan anak lebih pada bapaknya . Jadi sangat banyak kemungkinan hal asuh anak bapak akan sepenuhnya jatuh kepada pak Edo," ucap pengacara itu.
"Mohon bantuannya pak," ucap Edo.
"Pasti saya akan melakukan yang terbaik untuk klien saya," sahut Danu yang membuat Edo lega.
...Jangan Lupa mampir Ya. Beri vote yang banyak. Hadia. tinggalkan like koment. Semoga berkah ya....
...
...
Bersambung
__ADS_1