
Salmah dan Tantri yang duduk berdua yang saling menguatkan dengan tangan mereka yang saling menggenggam.
"Bukan Dokter mbak yang menentukan segalanya. Tetapi Allah yang menentukan dan memiliki hidup mati seseorang. Jangan khawatir mbak semuanya akan baik-baik saja. Bukan Risya atau bayinya yang akan pergi. Tetapi mereka berdua akan tetap selamat. Jika Allah sudah menghendaki semuanya maka semuanya akan baik-baik saja," ucap Salmah yang mencoba menjadi penguat untuk Tantri. Keduanya sama-sama menangis dengan air mata keduanya yang sama-sama keluar.
"Iya mbak benar. Saya sudah pasrah pada Allah atas semua ini dan keputusan Arga sudah yang terbaik. Saya ikhlas dengan apapun yang terjadi dan tidak akan menyalahkan siapa-siapa," ucap Tantri yang mencoba untuk tegar dan berserah diri pada illahi.
"Saya memang ibu Risya. Tetapi saya yakin. Posisi Arga jauh lebih menderita. Perasaannya yang hancur dan pilihan yang berat yang di rasakannya," ucap Tantri. Dia tidak ingin egois. Dia sangat menghargai menantunya dan dia tau bagaimana perasaan Arga.
Salmah mengangguk dan langsung memeluk Tantri dengan mereka yang kembali menguatkan satu sama lain.
"Semuanya pasti baik-baik aja. Kita harus percaya dengan keajaiban dari sang pencipta," sahut Salmah.
Tidak dapat di pungkiri jika dia juga sangat takut. Takut akan kehilangan calon cucunya dan juga menantunya. Tetapi dia hanya pasrah dan berserah pada ilahi.
***********
Ruang Operasi.
Entah keputusan apa yang di ambil Arga Yang jelasnya beberapa Dokter hari ini di dalam ruang operasi sedang mengoperasi Risya dan ada beberapa suster yang ikut membantu. Operasi besar yang di lakukan kepada Risya dan tidak atau siapa yang akan selamat. Apakah Risya dan bayinya. Namun keputusan Arga sudah di sepakati bersama dan keluarga setuju dengan keputusan Arga.
Tidak tau keputusan apa yang di ambil Arga. Yang pasti keputusan itu tidak akan mudah baginya.
Semua orang menunggu di luar ruangan Operasi dengan perasaan cemas mereka Bukan hanya ada Arga. Namun juga ada keluarga Risya seperti mamanya, Indra, Karen, Vio dan Samuel dan keluarga Arga pastinya yang ada di sana, Salmah dan suaminya yang menunggu dengan penuh perasaan cemas, takut. Semua sudah bercampur aduk.
Selain itu Syrala, Boy, Angela dan Edo juga menunggu di luar. Mereka sangat berharap jika Operasi berjalan dengan lancar. Risya maupun bayinya baik-baik saja.
Arga sejak tadi mondar mandir dengan wajah paniknya yang matanya terus melihat lampu Operasi. Apakah lampunya sudah berubah apa belum.
Salmah mendekati Arga dan memegang tangan Arga yang bergetar dan begitu dingin.
__ADS_1
"Semua akan baik-baik aja. Mama tau perasaan kamu. Kamu sebaiknya meminta pada Allah untuk keselamatan istri dan anak kamu," ucap Salmah yang memberi saran.
Arga menganggukkan kepalanya.
"Ayo Arga duduk!" ajak Boy pada sahabatnya itu. Arga menurut dan duduk di samping Boy dengan mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya.
Angela dan Syrala juga yang duduk saling menggenggam tangan. Risya adalah sahabat mereka dan mereka juga sangat takut terjadi hal buruk pada Risya.
"Angela aku ngecek Putri sebentar ya," ucap Edo.
"Iya mas. Nanti aku menyusul ya," ucap Angela.
"Tidak usah. Aku hanya sebentar saja dan akan kembali lagi. Kamu di sini saja," ucap Edo.
"Ya sudah mas," sahut Angela dengan menganggukkan kepalanya.
"Tidak akan terjadi apa-apa pada Risya atau pun bayinya," ucap Syrala.
"Nak. Kamu lihat semua orang sangat percaya pada kamu. Jika kamu wanita yang kuat dan mama juga. Jadi jangan kecewakan harapan mereka. Mama tau kamu sangat ingin mempunyai bayi. Lalu apa gunanya bayi kamu. Jika kamu tidak ada. Sayang kamu lihat suami kamu dia mengambil keputusan berat. Karena tau kamu pasti kuat. Jadi bangunlah dan berjuanglah. Agar suami kamu tidak pernah menyesal dengan keputusan yang di ambilnya," batin Tantri yang berharap kepada sang anak yang berjuang di dalam sana.
Arga sejak tadi terus memejamkan mata dan membuka kembali, menghela napas dan kembali memejamkan matanya.
Flashback of.
"Sayang kalau misalnya aku dan anak kita terjadi sesuatu. Misal kami tenggelam kamu akan tolong yang mana terlebih dahulu?" tanya Risya pada Arga. Risya dan Arga yang berada di tempat tidur. Dengan Risya yang bermanja di dada bidang Arga.
"Kamu," jawab Arga tanpa berpikir.
"Lalu kamu tidak tolong anak kita?" tanya Risya.
__ADS_1
"Anak kitakan ada di perut kamu. Jadi aku menolong kamu dan anak kita juga ikut," jawab Arga dengan jawaban yang masuk akal.
"Ihhhh bukan begitu sayang. Kamu harus memilih satu di antara kami. Anggap anak kita sudah lahir. Jadi kamu harus tentukan siapa yang terlebih dahulu," ucap Risya.
"Jangan menyuruhku memilih kamu dan anak kita sama-sama orang yang paling penting dalam hidupku. Jadi aku tidak bisa memilih," jawab Arga.
"Sayang ini hanya perempuan saja," sahut Risya.
"Tidak ada kata perumpamaan. Karena aku akan menyelamatkan ke-2nya dengan usahaku sendiri dan kalian pasti akan bersamaku," ucap Arga.
"Sayang jika terjadi sesuatu. Kamu harus menyelamatkan bayi kita terlebih dahulu. Karena bayi kita masih kecil dan aku sudah besar. Jadi aku pasti bisa selamat. Karena aku lebih kuat dari pada anak kita," ucap Risya.
"Kamu ini bicara apa. Kenapa tiba-tiba mempertanyakan hal itu yang terpenting aku akan ada untuk kamu dan anak kita," ucap Arga.
"Sayang aku hanya merekomendasikan. Pokoknya. Jika terjadi sesuatu suami ku yang tampan ini harus menyelamatkan bayi ku dulu," ucap Risya dengan tersenyum yang mencium pipi Arga.
Arga hanya menghela napas yang tidak menanggapi apa yang di katakan Risya. Karena menurutnya aneh tiba-tiba Risya membicarakan hal seperti itu.
Flashback on
Arga menghela napasnya ketika mengingat pembicaraan istrinya beberapa hari yang lalu. Sepertinya sudah ada tanda-tanda. Makanya Risya membicarakan hal itu dan sepertinya keputusan yang di ambil Arga juga merupakan saran dari Risya.
Apapun keputusan yang di ambil Arga. Dia hanya berharap jika istri dan anaknya sehat dan tidak terjadi apa-apa.
"Sayang kamu harus bertahap. Aku percaya pada kamu. Jika kamu akan kuat dan bisa melawan semua ini," batin Arga dengan menghela napasnya.
Lampu operasi hidup setelah lama berjalannya operasi.
Owe owe owe owe owe owe owe owe.
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara dari dalam kamar Operasi membuat semuanya langsung berdiri. Suara bayi yang terdengar itu sudah dapat di pastikan bayi dari Risya.
Bersambung