MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!

MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!
Episode 61 Istri ngambek.


__ADS_3

Penegasan Risya jelas membuat Arga harus menanggapi dengan serius.


"Apaa maksud perkataan mu?" tanya Arga dengan alisnya yang terangkat.


"Apa kau tidak mendengar apa yang aku katakan tadi hah! jika aku tidak boleh pergi. Maka kau juga tidak boleh pergi!" tegas Risya yang kembali mengulangi perkataannya.


"Eh Risya apa gunanya ada perjalan bisnis ke Luar Negri. Kau sendiri pimpinannya tidak ikut. Semuanya tidak akan berjalan Risya!" tegas Arga.


"Masa bodo. Aku tidak peduli," sahut Risya.


"Semuanya tidak main-main Risya. Jadi kamu jangan aneh-aneh. Ini masalah pekerjaan dan aku tau niat kamu hanya untuk liburan saja. Jadi kamu jangan berulah," tegas Arga.


"Terserah kau mau bicara seperti apa. Kau memang tidak pernah membiarkan ku hidup bahagia sedikit saja. Aku sudah menyiapkan semua laporannya dan butuh waktu yang menguras otak dan tenaga. Hanya karena aku mencantumkan namaku di sana kau itu langsung komplen. Seakan-akan aku tidak berhak untuk pergi. Kau itu memang tidak pernah menghargai pekerjaan ku. Jadi terserahmu kalau kau mau pergi apa tidak. Silahkan aku tidak peduli sama sekali pergi dengan sesukamu!" tegas Risya yang langsung pergi meninggalkan ruangan Arga dengan penuh kekecewaan.


"Risya!" panggil Arga. Namun Risya tidak merespon sama sekali dan pergi saja bahkan sampai membanting pintu ruangan Arga.


"Apa sih dia!" gumam Arga yang jadi stres dengan Risya yang membuat ulah. Arga sampai membuang napasnya perlahan kedepan dengan kasar dengan memijat kepalanya yang mendadak migren gara-gara Risya.


*********


Risya yang kembali keruangannya harus mengumpat dengan penuh kekesalan dengan menghentakkan ke-2 telapak kakinya kelantai dengan wajahnya di tekuk yang benar-benar begitu kesal.


"Kenapa sih dia selalu saja tidak bisa melihatku bahagia sedikit saja. Masa iya tidak menghargaiku. Dia saja yang boleh pergi dan aku akan memegang semua pekerjaan. Dia pikir aku ini babunya apa," geram Risya yang mengoceh sendiri dengan mulutnya yang kerucut.


"Benar-benar sangat menyebalkan, sangat memuakkan. Lihat saja nanti kau akan menyesal karena sudah membuatku tidak ikut," umpat Risya dengan tetap dalam amarahnya yang penuh kekesalan.


Toko-tok-tok-tok tiba-tiba pintu ruangannya yang terbuka di ketuk dan Risya melihat kearah pintu yang ternyata Arga berdiri di sana dengan ke-2 tangan Arga di masukkan ke dalam saku celananya.


Melihat Arga ada di sana membuat Risya semakin kesal dan menghampiri Arga dan mendorong Arga, mengusirnya dari ruangan.

__ADS_1


"Untuk apa kau di sini? pergi saja!" usir Risya dengan penuh kekesalan yang mendorong Arga. Namun pertahanan Arga sangat kuat dan tidak bergerak sama sekali.


"Apa-apaan sih Risya. Aku ini bosmu berani sekali kau bertingkah seperti ini kepada bosmu," ucap Arga mengingatkan Risya dengan kepemimpinan Arga di perusahaan tersebut.


"Masa bodoh. Aku bilang kau pergi dari sini! kau itu sangat menyebalkan!" umpat Risya yang sudah tidak mendorong Arga lagi. Namun wajahnya begitu memerah dengan dadanya yang kembang kempis. Risya lelah sendiri dengan dia yang teriak-teriak dan tenaganya habis karena mendorong Arga yang sangat kuat.


"Kau marah karena aku tidak mengijinkanmu untuk pergi?" tanya Arga yang berusaha lembut bicara.


"Kau masih bertanya. Lalu menurutmu apa," sahut Risya dengan menghela napasnya kasar.


"Risya perusahaan ini punya peraturan dan selama ini peraturan itu tidak berarti untuk mu. Karena kau selalu di bela papa," ucap Arga.


"Apa yang kau katakan. Bukannya selama ini aku bekerja dengan baik. Lalu kenapa kau seakan-akan bicara. Jika aku tidak bekerja di perusahaan ini dengan kompeten. Kenapa kau tidak pernah mengakui kemampuanku. Kau menganggapku terus-menerus masuk dalam Perusahaan ini karena papa. Padahal jelas-jelas aku berusaha dengan keras dan tidak mendapatkan posisi Manager dengan instans aku banyak melalui tahapan ini dan itu. Tapi justru kau yang tidak pernah menganggapku sebagai Manager kau terus saja memperlakukan di perusahaan ini sebagai karyawan dengan pekerjaan yang seharusnya tidak aku kerjakan. Posisiku seakan tidak pernah ada di matamu. Kau pikir aku tidak capek dengan pekerjaan yang aku kerjakan. Tetapi tidak di hargai sama sekali," ucap Risya yang mengeluarkan uneg-uneg pada Arga selama ini yang di pendamnya.


Arga hanya diam mendengar keluhan Risya dan dari wajah Arga terlihat Arga juga merasakan hal yang sama yang mungkin memang benar apa yang di katakan Risya. Terkadang Arga mau suka-suka pada Risya bahkan posisi Manager tidak seharunya menyiapkannya berkas-berkas yang tidak ada hubungannya dengan Risya. Namun Arga terus saja menyuruh Risya.


Arga menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan. Lalu Arga melangkah 2 langkah agar tepat di depan Risya yang membuat jarak mereka semakin dekat.


"Jadi hanya karena tidak ikut. Kamu marah-marah seperti ini dan sekarang baru mengeluh?" tanya Arga dengan menatap Risya intens.


"Jika tidak seperti itu kau tidak akan pernah tau apa yang aku rasakan. Jika tidak semua permainan yang kau mainkan membuatkan bisa sabar," sahut Risya yang sejak tadi bicara' tidak mau melihat Arga.


"Jadi kau ingin ikut?" tanya Arga.


Risya menganggukkan kepalanya dengan raut wajahnya yang benar-benar ngambek dengan Arga.


"Baiklah kau boleh ikut," sahut Arga yang membuat Risya terkejut dan langsung melihat Arga dengan matanya yang terbuka lebar.


"Kamu bilang apa tadi?" tanya Risya yang tidak percaya.

__ADS_1


"Kamu boleh ikut," sahut Arga yang membuat Risya langsung menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya yang begitu senang dan tidak percaya jika Arga akan mengajaknya.


"Ini sungguh?" tanya Risya yang masih tidak percaya.


"Iya kamu boleh ikut," sahut Arga yang membenarkan.


"Yesss," Risya saking bahagianya yang langsung melompat dengan wajahnya yang tadi cemberut. Jadi hilang seketika. Karena Arga yang telah memberi dia izin.


"Akhirnya bisa pergi juga," ucap Risya dengan bahagianya yang melompat-lompat seperti anak kecil dan Arga hanya geleng-geleng melihat Risya yang bisa-bisanya tertawa lepas hanya karena hal itu. Saking hebohnya Risya yang terlalu bahagia yang membuat kakinya terpeleset dan hampir jatuh. Namun Arga dengan sigap langsung memegang pinggang Risya dan membuat Risya tidak jadi jatuh.


Tubuh Risya dan Arga semakin dekat dengan wajah yang dengan jarak sedikit dengan napas keduanya saling menerpa. Tatapan mata ke-2nya saling bertemu menatap penuh arti dan tangan Arga masih di pinggang Risya yang menahan Risya agar tidak jatuh.


"Kau begitu semangat sampai hampir melukai dirimu," ucap Arga dengan suara seraknya.


"Bagaimana tidak semangat kamu memberiku izin untuk pergi dengan tiba-tiba," sahut Risya.


"Dan aku tidak tau kenapa aku harus melakukan itu. Bukannya seharunya aku tidak peduli kamu mau kesal atau tidak kepadaku. Namun saat kamu keluar dari ruanganku dengan penuh kekecewaan. Membuatku harus buru-buru menghampiri mu yang tiba-tiba aku tidak bisa melihatmu kesal," ucap Arga dengan lemah lembut yang tidak berhenti menatap Risya.


Sepenjang Arga bicara Risya hanya terdiam dengan jantungnya yang pasti berdebar dengan kencang apalagi kata- Arga itu sangat manis dan membuatnya tidak mampu bicara apa-apa.


Pandangan mata Arga tiba-tiba turun pada bibir merah merona Risya dan tanpa meminta izin pada Risya Arga langsung menempelkan bibirnya. Risya tidak menolak sama sekali dan memejamkan matanya saat suaminya itu menciumnya.


"Bu Risya ini...." Risya dan Arga langsung berhenti saat karyawan masuk tiba-tiba dan melihat Risya dan Arga yang berciuman membuat karyawan itu berbalik badan. Risya dan Arga langsung salah tingkah yang ketangkap ciuman di kantor.


"Maaf Bu saya tidak melihat apa-apa kok," sahut karyawan tersebut yang masih berbalik badan.


Risya dan Arga yang gagal ciuman saling melihat dan malah saling menyunggingkan senyum masing-masing.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2