
"Tidak percaya padaku?" tanya Arga. Risya menggelengkan kepalanya.
"Apa yang harus aku lakukan supaya percaya padaku?" tanya Arga dengan ke-2 alisnya yang saling bertautan.
"Apa yah," sahut Risya dengan wajahnya yang tampak berpikir dengan mengetuk-ngetuk dagunya dengan jarinya dan Arga sangat menunggu lanjutan dari perkataan istrinya. Sampai dia sudah tidak sabaran lagi dan tiba-tiba mengangkat Risya mendudukkan Risya di atas pagar jembatan yang membuat Risya terkejut.
"Arga!" pekik Risya dengan matanya melotot.
"Lama sekali berpikirnya. Jangan sok jual mahal," ucap Arga dengan mengelus-elus pipi Risya.
"Siapa yang jual mahal dan memang iya kok. Tidak mudah bagiku percaya kamu mencintaiku. Kenapa? karena tadi di awal kamu sudah ragu mengatakannya," tegas Risya.
"Itu hanya bercanda," ucap Arga.
"Nggak perduli," sahut Risya.
"Aku akan membuktikan jika aku mencintaimu dan semua yang aku lakukan bersamamu di atas ranjang itu karena cinta dan aku sungguh-sungguh masih mencintaimu," ucap Arga yang begitu tulus mengungkap perasaannya dan sebenarnya Risya percaya- percaya aja dan bahkan begitu bahagia yang ingin melompat kegirangan. Namun Risya harus tetap cool agar Arga bisa berusaha lagi untuk meyakinkannya.
"Masih tidak percaya?" tanya Arga. Risya menganggukkan kepalanya.
"Kau akan percaya setelah ini," ucap Arga yang langsung meraih dagu Risya dan mendekatkan bibir Risya pada bibirnya yang dengan cepat bibir mereka saling bertautan dan mereka saling berciuman dengan ke-2 mata mereka sama-sama tertutup.
Lagi-lagi ciuman romantis yang tidak tau sudah yang ke berapa kali dan pasti lah ada perasaan apa-apa yang mendalam di antara ke-duanya dalam ciuman itu atau bukti cinta ke-2nya yang sama-sama menikmati kebahagiaan mereka yang lebih tepatnya untuk bulan madu dan bukan perjalanan bisnis.
*********
Risya dan Arga masih berjalan-jalan bahkan sampai malam ke-2nya masih menikmati kebersamaan mereka yang mana mereka sama-sama bahagia dengan tangan yang saling bergandengan, memegang dengan erat.
"Kaki sudah mau putus sejak tadi kita jalan terus," keluh Risya melihat ke arah Arga.
"Kamu yang minta ingin jalan kaki. Bukan aku," sahut Arga.
"Ya aku pikirkan jalan-jalan tidak lama," sahut Risya dengan wajahnya yang manyun. Gara-gara lelah.
Tiba-tiba Arga menghentikan langkahnya dan berjongkok di depan Risya membuat Risya heran.
"Naiklah!" titah Arga menepuk punggungnya.
"Naik," sahut Risya sedikit terkejut.
"Bukannya kamu capek berjalan. Jadi naiklah, aku akan menggendongmu," ucap Arga dengan lembut yang begitu manis.
"Tapikan perjalanannya masih jauh dan lagian juga aku juga berat," ucap Risya yang tidak mau merepotkan Arga.
"Aku tau kamu berat. Tapi kamu juga lelah. Jadi naiklah. Dari pada kaki kamu putus itu semakin merepotkan," ucap Arga. Risya masih tampak sangat ragu untuk naik ke punggung Arga.
__ADS_1
"Ayo Risya. Sebelum aku berubah pikiran," ucap Arga dengan alisnya yang terangkat yang masih melihat Risya yang berdiri di belakangnya.
"Baiklah, kalau aku berat jangan mengejekku," sahut Risya yang akhirnya mau dan langsung naik ke punggung Arga.
"Memang sangat berat," ejek Arga dengan suara berat sembari berdiri.
"Issss, dasar suka bully," geram Risya yang memukul pelan punggung Arga.
"Kita sebagai manusia tidak boleh bohong dan memang kenyataan kamu itu berat, gendut, makanya jangan banyak makan," ejek Arga semakin lengkap.
"Isss nggak boleh body shaming tau," ucap Risya menekankan.
"Iya-iya," sahut Arga yang mulai berjalan dengan menggendong Risya yang mana pasti Risya sangat suka tuh di gendong.
"Arga ini itu mimpi atau tidak sih," ucap Risya tiba-tiba.
Arga melihat Risya menggunakan ekor matanya, "mimpi apa?" tanya Arga.
"Kita sudah putus dan saling membenci dalam rindu dan nasib kita seolah sama yang tidak punya pacar, sulit menjalin hubungan dengan lawan jenis dan sama-sama di paksa menikah dengan perjodohan dan kencan buta. Pada akhirnya kita tiba-tiba melakukan hal bodoh yang punya pikiran untuk menikah pura-pura dan pura-pura sampai sekarang sudah berubah. Aku bingung ini mimpi atau masih skenario kita," ucap Risya yang bercerita di dalam gendongan Arga.
"Lebih tepatnya skenario tuhan," jawab Arga dengan simpel.
"Dan itu sangat manis menurutku. Tidak menyangka kita bisa bersama lagi dan bahkan pelan-pelan impian kita dulu terwujud," ucap Risya.
"Aku juga tidak menyangkal. Jika kita bisa mengalahkan ego kita masing-masing," sahut Arga.
"Kita akan seperti ini selamanya dan akan membangun keluarga kecil kita, kamu aku dan anak-anak kita nanti," ucap Arga yang berbicara begitu serius yang membuat Risya tersenyum.
"Memang kamu pengen punya anak?" tanya Risya yang wajahnya itu sudah menempel di pipi Arga membuat Arga melihat kearahnya.
"Memang kamu tidak?" tanya Arga balik.
"Kita sama-sama anak tunggal dan kalau punya anak. Apa kita bisa jadi orang tua?" tanya Risya.
"Semua orang pasti bisa jadi orang tua," sahut Arga.
"Hmmm, kira-kira produksi kita tadi akan langsung jadi apa tidak ya?" tanya Risya membuat Arga mendengus kasar dengan senyuman yang pertanyaan Risya ada-ada saja.
"Kamu meragukan ke perkasaan ku?" tanya Arga dengan alisnya yang terangkat.
"Tidak juga. Kalau memang kamu topcer, seharusnya langsung jadi," ucap Risya.
"Itu tidak bisa di lakukan sekali Risya harus setiap hari," ucap Arga.
"Enak aja," sahut Risya yang langsung menyambar dan Arga hanya tersenyum yang kembali jahil pada Risya.
__ADS_1
"Awas ya Arga, kalau kamu melakukannya diam-diam," ucap Risya memperingati Arga.
"Itu tergantung dariku dan kamu tidak bisa melarangku," tegas Arga.
"Awas aja. Aku benar-benar akan memberi pelajaran," ucap Risya memberi ancaman.
"Takut," sahut Arga.
"Isssss," kesal Risya.
"Oh iya jawab jujur pertanyaan ku," ucap Risya tiba-tiba.
"Apa itu?" tanya Arga.
"Apa aku orang pertama?" tanya Risya yang sangat ingin tau jawabannya.
"Tentu tidak," jawab Arga dengan entengnya.
"Issss, kamu itu benar-benar penjajal tubuh. Ya pasti sebelumnya banyak tante-tante girang yang *****- ***** pada tubuhmu itu. Issss sangat menyebalkan harus berbagi dengan Tante girang," ucap Risya yang malah mengoceh dan Arga hanya tertawa melihat Risya yang marah-marah.
"Kamu yang nanya, kamu yang marah sendiri aneh," sahut Arga.
"Ya habisnya kamu itu menyebalkan. Apa salahnya mengatakan aku yang pertama," ucap Risya.
"Kamu ingin aku berbohong?" tanya Arga.
"Ya nggak juga. Kalau begitu katakan siapa wanita yang pertama tidur denganmu. Awas saja kalau itu Rachel," tegas Risya yang sudah kesal sendiri.
"Aku tidak pernah tidur dengannya Risya dan aku tidak pernah menyentuh wanita manapun," ucap Arga.
"Serius?" tanya Risya.
"Bagaimana mau menyentuh manapun. Jika di ingatanku hanya ada kamu," ucap Arga.
"Isssss gombal," sahut Risya yang padahal senang sendiri dengan kata-kata Arga.
Cup.
Tiba-tiba Risya mencium pipi Arga dan membuat Arga berdecak dengan tersenyum lebar.
"Aku percaya padamu. Karena aku itu wanita yang bisa memuaskanmu," ucap Risya dengan percaya dirinya.
"Nggak juga," sahut Arga mulai cari masalah.
"Issss," desis Risya kesal. Namun dia semakin mengeratkan lengannya di leher Arga dan pipinya yang semakin menempel pada Arga. Arga juga semakin mengeratkan gendongannya dan berjalan yang masih tetap menggendong Risya.
__ADS_1
Bersambung.