
Arga berada di dalam mobil yang mobilnya berhenti di depan Hotel sejahtera yang sebelumnya menemukan Risya di sana. Arga hanya melihat saja ke dalam hotel tersebut tanpa Arga melakukan apa-apa. DNA tidak malam. Samuel dan Vio keluar dari hotel dan berlari memasuki mobil Arga. Dengan mereka yang langsung duduk di belakang.
"Bagaimana?" tanya Arga.
"Ini kita dapat rekaman Cctv nya," jawab Samuel yang langsung membuka ponselnya dan menunjukkan pada Arga. Arga langsung membalikkan tubuhnya untuk melihat rekaman itu.
"Kamu lihat itu Rachel ada di hotel di hari yang sama saat kita menemukan Risya," ucap Vio yang melihat Rachel berjalan di koridor- koridor hotel dan ternyata Rachel sedang mengikuti Risya yang di antar pelayan hotel menuju salah satu kamar.
Dengan serius mereka terus melihat gerak-gerik Rachel. Ketika Risya sudah memasuki kamar tersebut Rachel yang bersembunyi di balik tembok terlihat sedang menelpon dan tidak tau siapa yang di hubunginya.
Sampai beberapa detik seorang pria bertubuh kekar yang hanya kelihatan punggungnya saja masuk ke dalam kamar yang di dalamnya sudah ada Risya.
"Stop!" cegah Arga. Samuele memberhentikan sebentar dan men zoom orang tersebut.
"Siapa dia?" tanya Vio.
"Dari postur tubuhnya dia memang seperti Tony," jawab Arga yang sudah bisa melihat dengan jelas dan sangat hafal dengan tubuh Tony.
"Tony yang kamu katakan sebelumnya?" tanya Vio.
"Iya kamu benar aku sangat yakin itu," jawab Arga.
"Kita lanjut lagi," ucap Samuel yang kembali memutar Cctv tersebut. Dan sampai beberapa menit Pria tersebut keluar dari kamar dengan buru-buru yang mana Pria itu menggunakan topi dan lagi-lagi wajahnya tidak tertangkap Cctv.
"Kita Tidka bisa jelas melihat wajahnya," ucap Vio.
"Tetapi aku yakin dia Tony dan juga ada Rachel di sana," ucap Arga.
"Apa itu maksudnya jika Rachel tau semua ini. Dia tau suaminya menginginkan Risya!" tebak Vio.
"Jika melihat gerak-gerik Rachel sangat terlihat jelas dia membantu Tony untuk menjebak Risya," jawab Vio.
Arga memejamkan matanya dengan menghela kasar napasnya dan mengusap kasar wajahnya yang mana terlihat Arga begitu frustasi dengan semua yang terjadi.
__ADS_1
Dratt-dratt-dratttt.
Tiba-tiba ponsel Vio berdering dan Vio langsung mengangkatnya.
"Hallo ada apa?" tanya Vio. Wajah Vio sangat serius mendengarkan semua yang di bicarakan dari telpon itu.
"Baiklah tolong kirim saya fotonya," ucap Vio dalam pembicaraannya di telepon tersebut dan sampai panggilan itu di tutup.
"Ada apa Vio?" tanya Samuel.
"Aku sudah mendapatkan kurir yang mengirim Risya hadiah dan kurir itu selalu sama dan mengambil bunga dari tempat yang sama. Dia juga sudah mengirim alamatnya," jawan Vio.
"Kalau begitu kesana sekarang. Kita akan tau siapa yang memesan bunga dari tempat itu dan mengirim pada Risya," ucap Samuel yang langsung bergerak cepat.
"Baiklah aku setuju," sahut Arga.
"Arga, biar aku sama Samuel aja yang pergi ke tempat itu. Kamu sebaiknya temui Risya dulu. Kamu jelas-jelas sudah tau jika Risya hanya korban dan dia tidak tau apa-apa. Ini sudah 3 hari Risya berada di rumah Tante Tantri. Ada sebaiknya kamu menemuinya dulu," ucap Vio yang memberi Arga saran.
Arga diam sebentar dengan Arga yang menghela napasnya, "baiklah jika itu memang yang terbaik. Makasih untuk kalian berdua. Kalian benar-benar banyak membantuku," ucap Arga.
"Tidak perlu berterima kasih. Ya sudah kamu pergi dulu," ucap Vio yang langsung ke luar dari mobil bersama dengan Samuel untuk melaksanakan tugas mereka.
Mereka harus berbagi tugas agar semuanya cepat selesai dan Arga harus menemui Risya yang sudah lama tidak di temuinya.
**********
Arga sudah datang kerumah Risya dan berada di ruang tamu dengan Hariyanto papa mertuanya. Tidak lama Tantri menuruni anak tangga dan Arga langsung berdiri.
"Bagaimana ma?" tanya Arga dan Tantri menggelengkan kepalanya dengan lemas.
"Risya tidak mau bertemu," jawab Tantri.
Arga membuang napasnya dengan berat. Dia sudah menebak. Jika Risya pasti tidak mau menemuinya. Lagian siapa yang tidak sakit hati dengan Arga yang begitu jahat kepadanya dan bisa di katakan Risya yang banyak mengalah dalam hubungan mereka.
__ADS_1
"Aku akan menemuinya," ucap Arga yang tidak bisa tinggal diam dan langsung menuju kamar Risya untuk menemui Risya.
Tantri dan Hariyanto tidak melarangnya dan membiarkan Arga yang menyelesaikan masalah itu.
"Semoga saja mereka baik-baik aja. Mama rasa masalah kali ini tidak main-main," ucap Tantri.
"Iya mama benar. Papa hanya bisa berharap yang terbaik saja untuk mereka berdua," ucap Hariyanto.
*********
Arga yang sudah sampai depan kamar Risya.. Sangat ragu ingin masuk dan dia tau tidak mudah bagi Risya membiarkannya untuk masuk. Saat tangan Arga ingin membuka pintu. Pintu sudah langsung di buka dan ternyata Risya yang keluar kamar dan berpapasan dengan Arga.
"Risya!" lirih Arga.
"Apa yang kamu lakukan di sini hah! pergi kamu!" usir Risya yang langsung naik darah.
"Kita harus bicara," ucap Arga merendahkan suaranya.
"Aku tidak perlu bicara kepadamu, kau itu jahat!" sahut Risya mendorong dada Arga menjauh darinya.
"Risya aku sudah tau semuanya, dan aku akan menangkap orang yang melakukan semua ini," ucap Arga.
"Aku tidak peduli dan aku sudah tidak peduli dengan semua ini. Jika di dalam otakmu aku wanita seperti itu. Maka di kemudian hari nanti, jika terjadi lagi seperti ini. Pasti akan seperti ini lagi, kau akan melakukan hal itu lagi. Menuduhku, menghinaku," teriak Risya yang mengeluarkan uneg-uneg kemarahannya pada Arga.
"Kau itu sangat jahat Arga. Kau tidak tau apa yang terjadi pada diriku, kau itu egois. Kau tau aku begitu bahagia saat mendapatkan bunga itu yang aku pikir dari mu, dengan kata-kata permintaan maafmu yang sangat aku tunggu. Tapi itu hanya khayalan saja. Karena aku harus sadar orang seperti mu tidak mungkin meminta maaf,"
"Hubungan kita sudah baik. Tetapi pernah tidak sekali saja kau itu mengakui kesalahan mu, meminta maaf padaku. Kau tidak melakukan semua itu Arga. Kau itu sangat jahat Arga yang hanya mementingkan egomu saja," tegas Risya dengan mulutnya yang tidak berhenti merocos.
"Sekarang kau pergi dari sini. Aku sudah muak denganmu dan terserah kau mau melakukan apa? pergi kau dari sini!" Risya mendorong-dorong Arga untuk menjauh darinya dan Risya kembali memasuki kamarnya dan mengunci pintu kamarnya dia sangat tidak peduli kepada Arga.
Arga hanya diam yang pasti sadar semua ini karena ulahnya sendiri.
Bersambung.
__ADS_1