
Tasya sudah keluar dari dalam lift dan untungnya Tasya melihat Bram yang berjalan di koridor-koridor apartemen. Tasya dengan perlahan yang mengintai Bram terus mengikuti Bram. Kemana perginya Bram. Tasya begitu hati-hati karena sangat takut ketahuan. Bahkan Tasya harus beberapa kali bersembunyi karena Bram yang mungkin merasa ada yang mengikutinya.
Tetapi untungnya Tasya aman-aman saja dan Tasya melanjutkan untuk mengikuti Bram. Sampai akhirnya Bram berdiri di depan salah satu pintu apartemen.
"Untuk apa dia ke sana!" batin Tasya yang bertanya-tanya dan memperhatikan saja. Menunggu siapa yang keluar dari Apartemen tersebut.
Tidak lama akhirnya keluar seorang wanita dari apartemen tersebut yang membuat Tasya terkejut dengan matanya melotot dan wajah kagetnya.
"Siapa wanita itu!" batin Tasya.
Hal yang lebih mengejutkan lagi ketika Bram memeluk wanita itu dan mereka cipika-cipiki yang membuat Tasya terkejut dengan dadanya yang tiba-tiba terasa sangat sesak dengan apa yang terjadi dengan air matanya yang langsung jatuh.
Wanita itu adalah wanita yang sama seperti yang di temui Risya dan Arga. tubuh Tasya bergetar hebat dengan air matanya yang mengalir melihat suaminya yang begitu romantis dengan wanita lain. Setelah itu Bram dan wanita itu memasuki Apartemen tersebut. Bagi mimpi buruk untuk Tasya yang melihat penghiyanatan dari suaminya itu.
************
Arga dan Risya yang sampai lobi gedung Apartemen yang sama dengan Apartemen yang didatangi Tasya. Mereka ada keperluan penting di Apartemen tersebut. Karena Arga sedang meeting dengan salat satu rekannya yang ada di sana.
"Ya sudah sayang kamu mau ikut apa ingin menunggu di sini?" tanya Arga pada istrinya.
"Aku nunggu di sini saja. Kamu tidak akan lama kan?" tahta Risya.
"Hanya sebentar saja sayang," jawab Arga.
"Ya sudah aku menunggu di sini aja," ucap Risya.
"Baiklah aku pergi dulu," sahut Arga. Risya menganggukkan kepalanya dan menunggu suaminya itu di Sofa. Untuk menghilangkan rasa jenuhnya. Risya melihat-lihat ponselnya. Arga mengatakan hanya sebentar. Jadi Risya lebih baik menunggu saja.
Ternyata memeng benar hanya sebentar saja Arga menemui keliennya itu. Mungkin Arga hanya mengambil dokumen. Karena saat Arga datang dia membawa dokumen di tangannya.
"Sayang!" tegur Arga membuat Risya kaget.
"Sayang kamu sudah selesai?" tanya Risya.
"Iya sudah selesai. Aku tidak kamakan," ucap Arga.
"Tidak sama sekali," jawab Risya yang berdiri dari tempat duduknya.
"Ya sudah sekarang kita pulang yuk!" ajak Arga.
"Mau makan dulu boleh?" tanya Risya.
__ADS_1
"Boleh dong sayang. Mau makan di mana?" tanya Arga.
"Di tempat biasa," ucap Risya.
"Ya sudah ayo!" ajak Arga yang membuat Risya mengangguk tersenyum.
Namun saat mereka ingin pergi. Tiba-tiba saja Risya melihat Tasya yang berjalan dengan tidak bersemangat. Seperti orang linglung dengan wajah yang penuh dengan tatapan kosong.
"Bukannya itu Tasya!" ucap Risya. Arga menoleh ke arah yang di lihat istrinya itu dan memang benar itu adalah Tasya.
"Tasya!" tegur Risya. Tasya yang berjalan bengong dengan pemikirannya sampai tidak mendengar jika Risya memanggilnya.
"Tasya!" tegur Risya lagi. Tasya tetap berjalan sampai akhirnya Risya menghampiri Tasya dan memegang lengan Tasya yang membuat Tasya kaget.
"Kamu baik-baik aja?" tanya Risya dengan melihat air mata di wajah Tasya.
"Risya!" lirih Tasya yang langsung buru-buru menghapus air matanya.
"Eh Risya. Iya aku baik-baik saja," jawab Tasya yang linglung.
"Kamu kenapa?
"Kamu nangis?" tanya Risya.
"Tidak apa-apa bagaimana kamu jelas-jelas menangis," sahut Risya.
"Benar Tasya apa yang terjadi?" tanya Arga yang juga melihat ada sesuatu dengan Tasya.
"Aku tidak apa-apa kok. Aku hanya kelilipan saja," jawab Tasya bohong yang menutupinya dengan tersenyum.
"Ya sudah aku pergi dulu!" ucap Tasya yang buru-buru pergi yang sepertinya menutupi dengan apa yang terjadi.
"Tasya tunggu!" panggil Risya. Namun Tasya tidak mendengar lagi dan langsung pergi saja.
Risya yang ingin mengejar tiba-tiba Arga menarik tangannya.
"Jangan di kejar," ucap Arga.
"Tapi sayang," sahut Risya yang tidak akan puas. Jika tidak tau apa yang terjadi pada Tasya.
"Risya sepertinya ada sesuatu padanya dan dia sepertinya tidak ingin mengatakan kepada kita. Jadi percuma saja. Jika kamu ingin mengejar," ucap Arga.
__ADS_1
"Sudahlah sayang kita sebaiknya pergi saja. Kamu jangan memikirkan Tasya. Jika dia ingin mengatakannya maka dia akan mengatakannya," ucap Arga lagi.
Risya mengangguk saja dengan apa yang di kataka suaminya itu.
"Ayo kita pergi!" ajak Arga. Risya menganggukkan kepalanya dan mereka berdua juga meninggalkan Apartemen tersebut.
***********
Sudah jam 1 malam dan barulah Bram pulang ke Apartemen. Bram menghidupkan lampu.
"Arggg!" Bram terkejut saat lampu hidup yang melihat Tasya duduk di ruang tamu. Barak sudah seperti melihat setan saja. Wajah Tasya tampak datar dengan dingin yang terlihat diam dengan penuh kemarahan yang ingin di luapkan nya.
"Tasya! Kamu kenapa ada di sini?" tanya Bram heran.
"Bukannya kamu seharusnya di luar Negri. Apa sudah selesai pekerjaan kamu. Bukannya berangkatnya tadi pagi dan kenapa pulang sekarang?" tanya Bram dengan penuh pertanyaan.
"Kamu dari mana?" tanya Tasya dengan suara dinginnya.
"Kamu malah bertanya. Kamu itu jawab pertanyaan ku dulu!" ucap Bram berdecak kesal.
"Aku tanya sama kamu. Kamu dari mana!" tegas Tasya yang tampak sangat serius.
"Apa-apaan sih kamu. Kenapa ngotot gitu. Ya aku kerjalah," sahut Bram yang malah dia yang emosi.
"Kerja apa. Kenapa pulang baru jam segini. Apa ada Perusahaan yang masih beraktivitas jam seperti ini?" tanya Tasya yang mencecar Bram.
"Apa-apaan kamu. Jadi maksud kamu. Aku tidak bekerja gitu. Eh Tasya aku itu lembur dan kamu pikir hanya pekerjaan kamu saja yang banyak," sahut Bram dengan wajah kesalnya.
"Kamu kerja di mana. Di apartemen siapa? Dan kamu menemui siapa?" tanya Tasya yang mulai menguatkan volume suaranya.
"Apa maksud kamu?" tanya Bram.
"Kamu mengikutiku?" tebak Bram yang mulai panas.
"Kamu katakan saja yang sejujurnya kamu dari mana?" sentak Tasya yang berdiri dari tempat duduknya.
"Kau berani membentakku!" teriak Bram yang tidak kalah membentak Tasya.
Tasya dan Bram terlibat cekcok mulut dan semuanya di saksikan Putri. Putri yang bersembunyi di balik tembok. Hanya bisa menangis tanpa suara mendengar pertengkaran Bram dan Tasya. Bram yang salah yang tidak mau mengakui kesalahannya dan yang di salahnya malah Tasya.
Keributan juga di akhiri dengan Bram yang pasti bermain tangan dengan Tasya. Begitulah Bram yang tidak akan puas jika tidak main tangan.
__ADS_1
Bersambung